
Selepas Cahaya hilang di balik pintu, Gilang menutup laptopnya, dan menghela napasnya dengan sekali hentakan. Pria itu berharap kalau keputusannya untuk menikahi Cahaya sudah tepat.
Kemudian pria itu meraih ponsel dari atas meja dan mencari nama Reyna. Dia melihat nama kontak Reyna sama sekali belum dia ganti, masih tetap 'Cintaku'. Pria itu seketika langsung merubah nama kontak Reyna dengan membuat nama wanita itu sendiri.
Setelah itu, Gilang memutuskan untuk menghubungi Reyna.
"Halo, Lang!" terdengar suara lembut Reyna menyapa dari ujung telepon. Suara yang dulu selalu ingin didengarnya, yang sehari saja tidak dia dengar, berasa ada yang kurang.
"Gilang, apa kamu di sana? kalau kamu diam saja, aku akan matikan teleponnya,"
"Eh, tunggu dulu, Reyna! kamu jangan matikan teleponnya!" seru Gilang, sebelum Reyna benar-benar mematikan ponselnya.
"Ada apa, Lang?"
"Emm, apa kita bisa bertemu? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," Gilang mengungkapkan tujuannya bertemu dengan Reyna.
Untuk sepersekian detik tidak terdengar sahutan dari ujung sana. Detik berikutnya, Gilang mendengar suara helaan napas dari Reyna.
"Sepertinya tidak boleh, Lang. Karena aku yakin Dania meminta orang untuk mengawasiku. Sepertinya dia masih khawatir kalau kita masih bertemu diam-diam," tolak Reyna.
"Brengsek! umpat Gilang, kesal.
"Itulah orang yang kamu jaga perasaannya, dikasih hati malah minta jantung. Benar-benar tidak tahu diri!" Gilang kembali menggerutu.
"Sudahlah! aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Sebenarnya apa Yang ingin kamu bicarakan? apa tidak bisa dibicarakan melalui telepon saja?" ucap Reyna.
"Sebenarnya lebih enak dibicarakan secara langsung, tapi kalau begini situasinya sepertinya memang harus melalui telepon," jawab Gilang, pasrah.
__ADS_1
"Oh, jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Reyna antusias.
"Reyna, aku cuma mau bilang kalau aku akan menikah sebentar lagi," hening tidak ada tanggapan sama sekali dari Reyna.
"Reyna, apa kamu mendengarku?" kembali Gilang bersuara.
"I-iya aku masih ada di sini. Selamat ya! kapan kamu akan menikah?" ucap Reyna, berpura-pura bahagia.
"Masih belum tahu, tergantung mama dan papa, mungkin secepatnya. Tapi, aku tidak menikah dengan Dania, Reyna,"
"Apa!" pekik Reyna, benar-benar kaget. "Kalau bukan dengan Dania, dengan siapa kamu akan menikah?" sambungnya kembali.
"Aku akan menikah dengan Cahaya. Aku rasa kamu sudah pernah bertemu dengan Cahaya,"
"Cahaya? maksudmu Cahaya pembantu baru di rumahmu?" tanya Reynaldi memastikan.
"Iya,dia orangnya." sahut Gilang, lugas.
"Kamu kan tahu sendiri kalau aku tidak pernah mencintai Dania. Aku benar-benar bingung bagaimana caranya menghadapi kelakuannya yang benar-benar egois,"
"Tapi tidak harus sampai menikahi Cahaya, Gilang," protes Reyna, menghela napas tidak terima.
"Aku menikahinya karena dia adalah anak perempuan dari laki-laki yang sudah berusaha mengeluarkanku dulu dari kobaran api, Reyna, hingga membuat pria itu akhirnya meninggal setelah berhasil menyelamatkanku," jelas Gilang dengan lirih.
"Maksudmu, kamu menikahinya karena hanya balas budi? apa kamu kira hal seperti itu baik? apa dia yang memintamu untuk menikahinya dengan membawa-bawa kematian papanya itu? kalau iya, licik sekali dia. Benar-benar tidak sesuai dengan wajahnya yang sepertinya polos itu," tukas Reyna dengan nada yang berapi-api. Sepertinya gadis itu benar-benar kesal sekarang.
"Kamu salah! dia bahkan belum tahu kalau aku adalah anak laki-laki yang diselamatkan papanya itu. Aku yang memintanya untuk menikah denganku, dan dia juga menolak mentah-mentah. Aku__"
__ADS_1
"Gilang, jangan membuat aku semakin bingung. Tolong kamu jelaskan sedetail mungkin, bagaimana kamu bisa ingin menikah dengannya," sela Reyna memotong ucapan Gilang.
Gilang akhirnya menceritakan semua apa yang terjadi, dengan detail tanpa menambahi dan tanpa mengurangi sedikitpun.
"Bagaimana? apa menurutmu keputusan yang aku ambil salah? aku melakukan ini, supaya dia tidak curiga aja, kalau nantinya kami tiba-tiba berubah baik padanya. Makanya aku tega, melakukan cara seperti itu, meminta dia menikahiku dengan membawa-bawa anak-anak panti, makam dan rumah kedua orang tuanya yang sudah dijual oleh Om dan tantenya. Padahal tanpa menikah denganku pun sebenarnya aku sudah punya niat untuk itu."
Terdengar helaan napas berat dari Reyna.
"Kamu tidak salah sama sekali. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar dan aku mendukungmu. Hanya saja aku tidak tahu apa yang bakal terjadi pada Dania bila tahu kalau kamu sudah menikahi Cahaya. Aku takut dia nekad lagi untuk mengakhiri hidupnya,"
"Mudah-mudahan itu tidak terjadi. Aku hanya butuh dukunganmu saja, supaya nanti kamu tidak merasa kecewa padaku. Aku tidak mau kamu menganggap aku sudah mempermainkan kalian berdua, dan membuat kamu merasa pengorbananmu sia-sia," ucap Gilang masih dengan nada yang lirih.
"Aku akan tetap mendukungmu, Lang selama yang kamu lakukan itu baik. Aku hanya bisa berharap semoga semuanya baik-baik saja ke depannya,"
"Maafkan aku Reyna. Sebenarnya kemarin-kemarin aku masih berharap kalau kita masih bisa bersatu, tapi sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Aku sudah mengatakan pada Cahaya, kalau aku tidak tidak akan menceraikannya karena aku tidak mau mempermainkan pernikahan. Aku berharap, suatu saat kamu bisa menemukan pria yang mencintaimu dan yang kamu cintai juga," tutur Gilang. Jujur saja hatinya sangat sakit saat mengucapkan perkataannya yang terakhir.
"Amin! aku harapnya juga seperti itu." sahut Reyna, tersenyum walaupun Gilang tidak akan melihat senyumannya.
"Oh ya, Lang. Sudah dulu ya, ada sesuatu yang penting yang harus aku kerjakan," lanjut Reyna kembali dengan suara yang sedikit bergetar.
"Oh iya, aku juga ada yang harus aku kerjakan," ujar Gilang, gugup. "Oh ya, kalau boleh, tolong jangan sampai Dania tahu akan hal ini. Aku takut dia nekad untuk mencelakai Cahaya," sambungnya kembali mengingatkan Reyna.
"Sipp, kamu tenang aja!" panggilan akhirnya terputus dan Gilang langsung meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Pria itu meletakkan tangannya ke atas kepala dan menggusak rambutnya dengan kasar. Ingin rasanya dia berteriak untuk melegakan hati dan pikirannya.
Sementara itu, hal yang sama juga terjadi di tempat lain. Reyna menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segala sesak di dadanya.
"Aku harus kuat. Hidup harus tetap berjalan walaupun aku dan Gilang tidak ditakdirkan untuk bersama," tekad Reyna sembari menyeka air matanya.
__ADS_1
Tbc
Mohon dukungannya dong. Sekarang hari Senin, kalau boleh vote rekomendasi.yang dikasih sama sistem, dibagi ke karya ini. Kalau boleh sih, kalau tidak mau kasih juga tidak apa-apa, karena aku tidak akan memaksa. Kasih like dan komen aja aku sudah sangat berterima kasih 😍🥰