
Denis dan Bella saling silang pandang dan memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan Dania. Pasangan suami istri itu memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu dengan apa yang baru saja terjadi.
Tok tok tok
Denis mengetuk daun pintu. Walaupun sudah terbuka lebar, tidak ada salahnya kan untuk tetap mengetuk pintu? karena itu juga merupakan suatu tindakan yang memiliki adab.
"Boleh kami masuk?" tanya Denis basa-basi.
"Eh, te-tentu saja boleh, Pak, Bu." sahut Sandi dengan gugup.
Denis dan Bella tersenyum dan mengayunkan kaki, melangkah masuk.
"Dokter Sandi kenapa anda bisa ada di sini? bukannya seharusnya hari ini anda libur?" Denis masih tetap berpura-pura tidak tahu. "Dan ini?" Denis menunjuk ke arah mamanya Sandi dengan sopan.
"Emm,ini mamaku,Om eh Pak. Ma, ini Pak Denis, papanya Dania dan ini Ibu Bella mamanya Dania," Sandi memperkenalkan Denis dan Bella pada mamanya. Denis dan Bella tersenyum ramah dan menyambut uluran tangan mamanya Sandi.
"Pak, a-aku ke sini untuk mencegah Dania pergi dari sini . Aku mau dia tetap berada di sini," sahut Sandi, dengan tegas memutuskan untuk jujur.
"Kenapa dia harus di sini? bukannya dia sudah sembuh dan sudah seharusnya kembali masuk ke dalam penjara?" Bella buka suara.
__ADS_1
"Itu, karena aku tidak mau jauh darinya, Bu. Aku sudah jatuh cinta pada Dania dan ingin menjadikan dia pendamping hidupku," ucap Sandi tegas tanpa ada keraguan sama sekali.
Denis dan Bella diam dan menoleh ke arah Dania yang menundukkan kepala.
"Dokter Sandi, kami sangat menghargai niat kamu. Kami juga berterima kasih karena kamu mau menerima Dania apa adanya. Bukannya kami tidak setuju, tapi kami rasa hal seperti ini tidak boleh diputuskan dengan terburu-buru. Lagian, kami tidak mau mengikat kamu dengan sebuah hubungan yang tidak pasti. Kamu tahu sendiri, kalau Dania masih berstatus seorang tahanan dan harus menjalankan hukumannya yang tidak sebentar. Kami benar-benar tidak mau kamu lama menunggu Dania," tutur Denis panjang lebar tanpa jeda.
"Benar kata mama dan papaku, Dok. Sepertinya kamu memang harus melupakan perasaan kamu, karena aku tidak mau kamu hidup dalam penantian yang sangat lama," Dania buka suara, menimpali ucapan papanya.
Sandi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan embusan yang keras dan sekali hentakan.
"Sekarang aku mau tanya, apa kamu memiliki perasaan yang sama denganku?" Dania terdiam tidak menjawab pertanyaan Sandi yang tiba-tiba.
"Kenapa kamu diam, Dania?" kembali Sandi bersuara, tapi wanita itu masih tetap diam.
Denis dan Bella bergeming dan saling silang pandang. Keduanya bukannya merasa tidak bahagia karena masih ada yang mencintai putri mereka dengan tulus tanpa melihat masa lalu Dania, tapi jujur saja, mereka hanya tidak ingin membuat Sandi terikat.
"Emm, Dokter Sandi sekali lagi kami mau mengucapkan terima kasih. Begini saja, biarkanlah waktu yang menjawab semuanya. Kalian bisa saja Teti berhubungan tanpa perjanjian dan ikatan apapun. Biarkan Dania menyelesaikan hukumannya dulu. Bila nanti setelah Dania keluar dari penjara dan perasaan kamu masih sama padanya, baru masalah kelanjutannya bisa kita bicarakan. Sekali lagi, aku tekankan, kami bukan tidak merestui, tapi kami hanya memikirkanmu dan Dania. Sebagai orang tua kami tidak mau nantinya Dania kecewa dan kembali depresi, apabila di tengah jalan kamu tidak kuat menunggu Dania lagi, kamu berubah pikiran dan mencintai wanita lain," tutur Denis panjang lebar tanpa jeda.
"kalau begitu, izinkan aku menikahinya sekarang juga!" semua yang berada di ruangan itu, terkesiap kaget mendengar ucapan Sandi yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Dokter Sandi, kamu jangan bercanda! pernikahan bukanlah hal yang main-main," ucap Denis.
"Aku sama sekali tidak bercanda, Pak. Aku sangat serius. Aku benar-benar ingin menjadikan Dania istriku ,hari ini juga. Kalau Bapak dan Ibu mengizinkan, biarkan kami menikah di catatan sipil dulu, dan untuk pestanya bisa kami laksanakan setelah Dania keluar dari penjara," ucap Sandi tegas dan berwibawa.
"Tapi, Dokter Sandi, Dania masih __"
"Aku mohon, Pak! izinkan aku menikahi putrimu! aku tidak peduli kalau dia akan kembali ke dalam penjara. Yang jelas, aku mau agar dia sudah menjadi istriku sebelum dia kembali ditahan di sel," Sandi menyela ucapan Denis sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada Denis.
"Pak Denis, Buk Bella, benar kata anak saya. Aku selaku mamanya Sandi sama sekali tidak keberatan, seandainya Sandi ingin menjadikan Dania istrinya hari ini juga," mamanya Sandi yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya buka suara kembali menimpali permohonan putranya itu.
Denis memejamkan matanya sekilas dan menghela napas dengan sekali hentakan.
"Baiklah, kalau memang itu keinginanmu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sekarang, aku akan menghubungi Darell putraku dan memintanya untuk segera membawakan berkas-berkas Dania ke sini. Aku juga akan mencarikan orang yang bisa dijadikan saksi dari pihak Dania. Aku harap kamu juga melakukan hal yang sama," pungkas Denis akhirnya pasrah.
"Siap, Pak!" sahut Sandi dengan wajah yang berbinar bahagia.
"Mulai sekarang kamu jangan panggil aku Pak dan istriku ibu. Kamu boleh memanggil kami, papa dan mama, karena mau tidak mau kamup akan jadi menantu kami," pungkas Denis dengan menyelipkan senyuman pada bibirnya.
Tbc
__ADS_1
Buat teman-teman yang merayakannya.🙏🏻🤗🤗