Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Bella marah


__ADS_3

Reynaldi menepikan mobilnya di depan rumahnya. Di saat bersamaan terdengar suara lenguhan dari mulut Reyna. Sepertinya pengaruh obat tidur mulai hilang dari tubuh putrinya itu.


"Kamu sudah bangun, Nak?" Nayla tersenyum sumringah.


Reyna tidak menjawab sama sekali. Wanita itu memijat kepalanya, sembari berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.


"Ma,Pa, kenapa aku bisa bersama dengan kalian berdua? bukannya tadi aku ada di hotel tante Bella bersama ...." Reyna menggantung ucapannya karena tiba-tiba dia teringat kalau tadi dirinya tiba-tiba merasa sangat mengantuk.


"Ma,apa yang terjadi padaku? tadi aku sepertinya tiba-tiba mengantuk dan aku langsung tidak ingat apa-apa lagi," tanya Reyna dengan wajah panik.


"Nanti mama dan papa akan jelaskan. Kita turun dulu," ucap Nayla sembari membuka pintu mobil dan turun. Reynaldi dan Reyna juga melakukan hal yang sama. Kemudian ketiga orang itu, melangkah masuk ke dalam rumah.


"Ma, Pa, sekarang tolong kasih tau aku, apa yang sebenarnya sudah terjadi?" desak Reyna yang memang sudah tidak sabar lagi


Nayla dan Reynaldi tidak langsung menjawab. Mereka berdua duduk dia sofa terlebih dulu.


"Tadi pria yang bersamamu, hendak menjebakmu dengan memasukan obat tidur ke makananmu," terang Reynaldi dengan raut wajah dingin, benar-benar marah membayangkan jika seandainya tidak ada yang menolong putrinya.


"Apa? obat tidur?" pekik Reyna tersentak kaget.


"Iya. Sekarang papa mau tanya, bagaimana kamu bisa kenal dengan pria bejat seperti itu? dan kenapa kamu bisa makan malam dengannya di hotel Bella?" tanya Reynaldi dengan tatapan menyelidik.


"Aku baru pagi ini kenal dengannya karena dikenalkan Dania, Pah. Dania datang menemuiku bersama dengan pria itu ke rumah sakit, karena ingin meminta maaf atas kejadian di kantor Gilang. Kalau masalah makan malam di hotelnya tante Bella, aku sama sekali tidak ada rencana makan malam dengan pria itu. Dania yang mengajakku makan malam di sana, tapi setelah aku sampai di hotel, Dania menghubungiku, bilang kalau dia tidak bisa datang, tapi meminta pria itu menggantikan dia untuk makan malam denganku. Aku merasa tidak enak untuk menolaknya, Pa." tutur Reyna menjelaskan.


"Brengsek! Dania lagi, Dania lagi." umpat Reynaldi sembari mengepalkan kedua tangannya. "Kenapa sih anak itu selalu saja menjadi trouble maker dari kecil? Dia selalu saja mau menang sendiri. Papa yakin kalau dia melakukannya dengan sengaja, karena dia merasa kalau ini salah satu cara untuk membuat kamu bisa jauh dari Gilang," sambung Reynaldi kembali dengan mata yang berkilat-kilat, marah.


"Jangan su-udjon dulu, Sayang. Mungkin saja memang Dania ada hal yang tidak bisa ditinggal makanya tidak bisa datang," Nayla menimpali ucapan Reynaldi. Wanita yang terkenal bijaksana itu masih berusaha untuk tetap berpikir positif, walaupun sebenarnya hatinya membenarkan ucapan sang suami.


"Aku bukan su'udjon, Sayang. Aku sudah sangat yakin itu. Kalau bukan karena dia anaknya Denis, dari dulu aku akan melarang Reyna berteman dengannya. Dia itu terlalu dimanja oleh Denis,"


Nayla dan Reyna saling silang pandang. Ibu dan anak itu sudah tidak berani menyangkal ucapan Reynaldi lagi, karena memang kenyataannya begitu.


"Mulai sekarang, kamu jangan pernah lagi berhubungan sama Dania!" tegas Reynaldi tidak terbantahkan.


"Tapi, Pa?"


"Tidak ada tapi-tapi! bukan berarti papa memintamu untuk memusuhinya, tapi lebih baik kamu menghindarinya. Mulai sekarang, kamu harus tegas dan berhenti mengalah padanya,"

__ADS_1


Reyna mengembuskan napasnya, pasrah. Dia tahu kalau kali ini papanya sangat serius dan ketika sudah serius, jangan sampai ada yang membantahnya.


Tiba-tiba Reyna teringat sesuatu, tentang kejanggalan bagaimana orang tuanya bisa membawanya kembali ke rumah, dan apakah pria yang bernama Danar itu berhasil mengambil harta berharganya atau tidak.


"Ma, Pa. Bagaimana kalian berdua bisa membawaku pulang dan apakah pria itu sudah ...." Reyna diam tidak sanggup untuk menanyakan sesuatu yang baginya menyakitkan itu.


"Pria itu tidak berhasil menjebakmu, karena ada nak Randi yang mendengar rencananya dan akhirnya menolongmu, sebelum kamu dibawa masuk ke dalam kamar," Nayla buka suara.


"Randi? siapa Randi, Ma?" Reyna mengrenyitkan keningnya.


"Dia seorang dosen dan CEO dari perusahaan papanya. Kebetulan dia ada di sana karena ada urusan membicarakan kerja sama dengan the sky group. Untung dia tidak langsung pulang selesai membicarakan kerja sama itu, Nak. Kalau tidak, mungkin kamu sekarang sudah ... ah,mama tidak sanggup mengatakannya," terang Nayla panjang lebar tanpa jeda.


"Dia membawamu pulang ke rumahnya karena dia takut kalau kamu dibawa masuk ke dalam kamar hotel, akan timbul fitnah dan pria bejat itu datang lagi. Jadi, papa yang berinisiatif untuk menjemputmu ke rumahnya," Reynaldi menimpali ucapan Nayla.


Reyna seketika merasa penasaran dengan sosok Randi. "Pa, bisa kasih tahu aku di mana alamatnya? aku ingin berterima kasih padanya,"


"Boleh! kebetulan orang tuanya ternyata teman mamamu dulu di rumah sakit,"


"Sekaligus cinta pertama papamu," Nayla ikut menimpali ucapan Reynaldi dengan nada meledek.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Bella dengan kedua alis yang bertaut.


"Ibu, ini mengeluh tidak nyaman menginap di hotel kita, Bu. Dia bilang dia sangat ketakutan tadi," jelas salah satu pegawai hotel.


"Bu, boleh kita bicara sebentar di ruanganku? soalnya nggak enak kalau jadi bahan perhatian banyak orang," ucap Bella dengan sopan.


Tamu wanita yang protes itu pun mengiyakan karena melihat sikap Bella yang lembut.


Tidak berselang lama,mereka pun akhirnya sampai di ruangan Bella.


"Silakan duduk dulu, Bu!" ucap Bella kembali dengan sopan.


"Sekarang, boleh ibu jelaskan keributan yang,Ibu maksud?"


"Tadi aku mau keluar dari kamar untuk makan malam, tiba-tiba di depan kamarku ada dua orang pria yang sedang berkelahi dan ada satu orang perempuan yang tidak sadarkan diri,Bu. Aku benar-benar takut akan ada terjadi pembunuhan," terang wanita itu menjelaskan dengan sedikit gemetar. Kejadian apa lagi yang dimaksud tamu wanita itu kalau bukan pertengkaran Randi dan Danar.

__ADS_1


Bella mengrenyitkan keningnya, karena ini pertama kalinya ada kejadian seperti itu di hotelnya.


"Hmm, kalau boleh tahu, di lantai berapa kamar, Ibu dan nomor berapa?" kali ini Darell yang buka suara.


Tamu wanita itu pun memberitahukan apa yang diminta oleh Darell.


"Baik, Ibu, Terima kasih buat infonya. Nanti kami akan cek ya. Sekarang sebagai permintaan maaf atas ketidaknyamanan Ibu, kami akan menggratiskan biaya penginapan Ibu," ucap Bella disertai dengan senyuman.


"Apa aku boleh minta kamarku dipindahkan? aku benar-benar takut, karena aku sangat trauma melihat hal-hal seperti itu," mohon Ibu itu,dan Bella menganggukkan kepalanya, memperbolehkan.


Bella akhirnya menelepon ke lobby dan meminta agar mengatur kamar yang baru pada tamu wanita itu. Kemudian dia juga meminta agar IT datang ke ruangannya sembari membawa video rekaman CCTV di lantai yang disebutkan tamu wanita tadi.


Setelah menunggu sekitar 15 menit dan tamu wanita tadi sudah keluar dari ruangannya, seorang pria yang merupakan IT masuk ke dalam ruangan Bella.


"Mana video rekamannya?" tanya Bella tanpa basa-basi.


Pria itu langsung membuka laptop dan menunjukkan hasil rekaman CCTV. Mata Bella membesar ketika melihat wajah wanita yang tidak sadarkan diri itu.


"Darrel, bukannya itu Reyna? dan bukannya pria ini Danar anaknya klien papa?" Bella menunjuk ke arah dua orang yang disebutkannya tadi.


"Iya, Ma. Apa yang terjadi pada kak Reyna? dan apa yang dilakukan Danar padanya?" jawab Darrell dengan kening yang berkerut.


"Mama harus menelepon Nayla sekarang. Mama mau tanya, apakah pemuda yang membawa Reyna pergi itu, benar-benar menolong Reyna atau tidak?" ucap Bella dengan raut wajah khawatir.


"Hallo!" sapa Nayla dari ujung sana.


"Halo,Nay. Aku melihat di rekaman CCTV kalau Reyna di__"


"Iya, itu benar!" Nayla langsung memotong ucapan Bella.


"Dan yang membuat ini bisa terjadi karena ulah putrimu Dania yang membohongi Reyna. Aku mohon, tolong nasehati putri kamu, agar tidak selalu membuat orang dalam kesusahan," Hian Nayla yang berbicara, melainkan Reynaldi yang tadi merampas handphone dari tangan Nayla. Selesai mengatakan ucapannya, panggilan langi terputus secara sepihak.


"DANIAAAA!" pekik Bella dengan raut wajah yang sangat marah.


"Ada apa, Ma?" Darell mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Kakakmu itu berbuat sesukanya lagi. Dia yang mengenalkan Danar pada Reyna. Aku yakin kalau dia ingin menjauhkan Reyna dengan Gilang. Dasar anak tidak tahu diuntung. Ini semua salah papamu, dan ini tidak bisa dibiarkan lagi. Sekarang temani mama menemui mereka berdua!" ucap Bella dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan yang amat sangat.

__ADS_1


Tbc


Marhaban ya Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin! Selamat menunaikan ibadah puasa buat kalian semua yang menjalankannya. Semoga ibadah puasanya lancar sampai bertemu hari yang Fitri nanti. Amin


__ADS_2