
Mobil yang dikemudikan oleh Gilang, melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan raya. Sepanjang jalan terjadi keheningan di antara sepasang suami istri yang masih mencari makna kebersamaan mereka.
Cahaya mengrenyitkan keningnya begitu merasa mengenal jalan yang sedang mereka lalui.
"Mas, bukannya jalan ini menuju makam papa dan mama?" tanya Cahaya memecah keheningan yang sempat tercipta.
Gilang tersenyum tipis dan menoleh sekilas ke arah Cahaya.
"Iya, kamu benar! sekarang kita akan ke makam mama dan papa,"
"Mama dan papa? kamu memanggil mereka papa dan mama?" Cahaya terkesiap kaget.
"Lho apa salahnya? kedua orangtuaku juga kamu panggil mama dan papa kan? jadi apa salahnya kalau aku juga menyebut orang tuamu papa dan mama? orang tuamu juga orang tuaku kan?"
Cahaya tercenung, merasa terharu dengan ucapan Gilang.
"Mas, tolong kamu jangan terlalu baik padaku terus," ucap Cahaya dengan lirih.
Gilang mengrenyitkan keningnya dan menoleh lagi ke arah Cahaya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? bukannya seharusnya kamu mengharapkan hal seperti itu ya?". Gilang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut. Cahaya.
"Memang. Tapi kalau kamu selalu baik padaku, aku bisa-bisa jatuh cinta padamu. Aku ingin kamu bersikap biasa saja, agar aku sulit untuk jatuh cinta. Karena kalau aku jatuh cinta padamu, rasanya akan sangat sakit kalau jatuh cinta sendirian sedangkan hatimu buat orang lain," ucap Cahaya dengan lirih.
Gilang seketika tertegun mendengar ucapan Cahaya. Pria itu seketika tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bukannya tidak mau menjawab, tapi dia tidak mau memberikan harapan yang belum tentu bisa dia penuhi nantinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mata Cahaya berkilat-kilat karena dipenuhi dengan cairan bening yang siap untuk ditumpahkan, begitu melihat makam kedua orangtuanya yang sudah terlihat lebih bagus dari sebelumnya.
"Mas,apa ini kamu semua yang melakukannya?" tanyanya sembari menyeka butiran cairan bening yang sudah menetes di sudut matanya.
"Tentu saja tidak! aku sama sekali tidak memiliki ahli untuk bisa melakukan hal seperti ini. Aku cuma meminta orang melakukan dan membayar mereka," sahut Gilang sembari berjongkok di samping pusara pria yang di papan nisannya tertulis nama Surya.
"Itu sama aja,Mas!" protes Cahaya dengan bibir yang mengerucut.
"Sama sekali tidak sama. Coba kamu pikir lagi, beda atau sama,"
Cahaya mendegus tidak mau membantah lagi.
Kemudian wanita itu, ikut berjongkok mengikuti Gilang, tapi wanita itu di samping pusara mamanya.
"Ma,Pa. Aku datang mengunjungi kalian berdua. Lihatlah putrimu ini sudah besar dan bahkan sudah menikah. Mama dan Papa tahu, aku mempunyai mertua yang sangat baik, yang menganggap aku seperti anak mereka sendiri. Sekarang aku seperti mempunyai orang tua lagi. Tapi kalian tidak perlu khawatir, walaupun aku sudah menemukan mertua yang sudah menganggap aku seperti anak sendiri, aku tidak akan pernah melupakan kalian berdua, karena kalian berdualah yang membawaku lahir ke dunia ini. Berbahagia ya di surga sana," ucap Cahaya dengan air mata yang berlinang.
__ADS_1
" Pa, Ma sebenarnya aku datang bersama menantumu. Dia juga selalu baik padaku. Doakan semoga pernikahanku bahagia ya,ma, pa!" lanjutnya kembali tapi hanya berani di dalam hati.
Wajah Gilang seketika berubah masam mendengar Cahaya sama sekali tidak ada menyebutkan namanya. Namun pria itu, berusaha untuk menahan diri untuk tidak protes.
"Pa, ini aku Gilang menantumu, anak yang pernah papa selamatkan nyawanya. Dia yang hampir meninggalkan dunia ini, telah kamu berikan kesempatan untuk hidup lagi, walaupun pada akhirnya papa gantikan dengan kepergian papa untuk selamanya. Papa rela menukarkan nyawa papa demi memberikan nyawa untukku. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Papa telah meninggalkan seorang putri dan sekarang tugasku untuk menggantikan tanggungjawabmu. Selama nyawa yang kamu berikan untuk tetap hidup ini masih di badan, aku akan berusaha untuk selalu menggantikan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan darimu," ucap Gilang yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Mas, terima kasih ya untuk semua ini! aku tidak tahu mau mengucapkan apa lagi?" ucap Cahaya yang kini sudah berdiri di samping Gilang.
"Hmm,apa kamu tidak mau memelukku? biasanya kalau kamu mau berterima kasih kan, kamu refleks memelukku, kenapa kali ini tidak?"
"Emangnya kamu tidak keberatan aku peluk?" Cahaya balik bertanya.
Bukannya menjawab, Gilang malah menarik tubuh Cahaya dan memeluk wanita itu. "Kalau kamu nggak mau, biar aku yang memelukmu," ucap Gilang yang seketika membuat hati Cahaya terasa hangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gilang dan Cahaya kini sudah keluar dari area pemakaman. Wajah Cahaya benar-benar terlihat bahagia karena bisa mengunjungi makam kedua orang tuanya.
"Mas, apa sekarang kita langsung pulang?" Cahaya buka suara setelah mereka berdua sudah ada di dalam mobil.
"Tidak! sekarang kita pergi ke satu tempat lain lagi," jawab Gilang sembari menjalankan mobilnya.
"Kita mau kemana lagi, Mas?" Cahaya terlihat begitu penasaran.
Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Gilang berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Mata Cahaya kembali penuh dengan cairan bening begitu melihat rumah kedua orangtuanya. Bentuk bangunan rumah itu belum berubah sama sekali, atau masih sama seperti dulu.
"Ayo turun! kamu mau lihat isi di dalam kan?" suara Gilang seketika menyadarkan Cahaya dari rasa terharunya.
Setelah turun dari mobil, mereka berdua melangkah menuju pintu. Gilang yang sudah memiliki kuncinya langsung membuka pintu dan mempersilahkan Cahaya untuk masuk lebih dulu.
Kalau tadi Cahaya masih berusaha membendung air matanya, sekarang bendungan yang dia bangun sudah tidak kuat lagi untuk menahan intensitas air mata yang sudah membludak sehingga membuat bendungan itu jebol seketika.
Walaupun dia hanya lima tahun menjadi penghuni rumah ini, entah kenapa Cahaya masih sangat rindu dengan kehangatan yang dia dapatkan di rumah ini.
Cahaya melangkah ingin melihat ruangan lain, namun dia menyurutkan langkahnya ketika tanpa sengaja matanya melihat sebuah amplop yang tergeletak di atas meja.
"Amplop apa itu? dan kenapa bisa ada di atas meja?" batin Cahaya sembari melangkah untuk mengambil amplop itu.
"Apa itu, Aya?" tanya Gilang dengan alis yang bertaut.
"Aku juga tidak tahu,Mas. Tapi di atas amplop ini tertulis, 'untuk Cahaya', itu berarti surat ini untukku kan?"
"Iya. Itu pasti untukmu. Tapi itu surat dari siapa ya?" tanya Gilang, penasaran.
__ADS_1
"Aku baca aja deh," ujar Cahaya sembari menarik keluar secarik kertas, dan di dalam amplop itu masih tersisa satu lembar kertas lagi.
Maaf, Nak Cahaya. Aku yang sempat membeli rumah ini dari paman dan bibimu. Ketika sedang bersih-bersih, aku menemukan surat yang aku yakin ditulis oleh almarhum papamu. Aku menyimpannya baik-baik, berharap aku bisa panjang umur dan bisa aku berikan padamu. Begitu aku tahu kalau rumah ini akan dibeli kembali olehmu, aku sangat senang dan iklas menjualnya kembali. Walaupun sebenarnya aku sangat nyaman tinggal di rumah ini.
Salam dari Ibu Eka.
"Mas ini ternyata suri dari pemilik rumah inim Katanya dia menemukan surat yang pernah dituliskan papa dulu," ucap Cahaya sembari meraih lagi kertas yang masih dalam amplop yang sudah bisa dipastikan adalah surat dari almarhum papanya.
Halo, Cahaya Sayangnya papa. Apa kabar? mudah-mudahan sehat. Nak, walaupun kamu masih kecil, bahkan belum bisa membaca, entah kenapa papa ingin sekali menuliskan surat ini untuk bisa kamu baca kelak. Entah kenapa papa merasa takut papa tidak bisa melihat kamu sampai dewasa dikarenakan pekerjaan papa yang penuh resiko. Pemadam kebakaran adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia sekaligus menantang bahaya. Ketika orang lain menghindari kebakaran, atau bahaya lainnya, seorang pemadam kebakaran justru mendekatinya. Ketika orang lain berlari keluar, seorang pemadam kebakaran justru berlari masuk. Nak, kalau kamu sudah dewasa nanti, kamu pasti tahu apa yang papa maksud. Papa tidak pernah takut bahaya, tapi ada hal yang sangat papa takutkan, dimana papa meninggalkan dunia ini dengan cepat, sebelum kamu dewasa. Namun untung dan malang sama sekali tidak ada yang tahu kan? makanya papa menuliskan surat ini, agar jika suatu saat kalau papa meninggal karena menjalankan tugas sebelum kamu dewasa, kamu tidak bersedih dan justru merasa bangga, karena papa meninggal karena tugas mulia. Ingat jangan pernah membenci apapun tentang hal yang membuat papa meninggal, karena itulah konsekuensi seorang pemadam kebakaran.
Salam Sayang dan pelukan hangat dari papamu.
Cahaya seketika menangis sesunggukan begitu membaca surat yang sudah terlihat usang itu. Cahaya sama sekali tidak pernah mengira kalau dari awal papanya sudah mempunyai feeling akan cepat pergi meninggalkan dunia ini.
"Kenapa kamu menangis? emangnya apa isi suratnya?" Gilang meraih surat dari tangan Cahaya dan membacanya. Pria itu seketika merasa tercekat dan menoleh ke arah Cahaya.
"Pa, sebenarnya aku sudah ikhlas dengan kepergian papa. Tapi, sekarang aku masih berusaha untuk bisa menerima alasan kenapa papa bisa meninggal, tapi aku akan berusaha, Pa untuk bisa berdamai dengan penyebab kematianmu," batin Cahaya
Tbc
Kem Hussawee as Gilang
Mookda narinrak as Cahaya
Kao Supassara as Reyna
Mario Maurer as Randi
Aom Sushar as Dania.
Untuk visual Bayu menyusul ya Guys. Karena aku belum bisa menemukannya.
__ADS_1