
Di depan sebuah rumah sederhana yang tertutup pagar, tampak 5 orang pria tampan yang sedang kebingungan, bagaimana caranya untuk membangunkan pemilik rumah di malam yang sudah sangat larut ini.
Kenapa mereka ingin membangunkan si pemilik rumah? itu karena di depan rumah itu, mereka melihat apa yang sedang mereka cari. Apalagi kalau bukan mangga muda. Mereka melihat mangga muda itu seakan menemukan harta Karun yang terpendam dengan lama.
"Bagaimana ini? sepertinya pintu pagar ini tidak belnya," ucap Gilang dengan mata yang tidak berhenti mengedar mencari keberadaan bel.
"Bagaimana kalau kita memanjat pagar ini, dan ambil begitu saja mangganya?" Bayu memberikan usul.
Plak
Dengan santainya, Randi memberikan pukulan pada Bayu.
"Apaan sih? sakit bego!". umpat Bayu dengan tangan yang mengelus.-elus kepalanya.
"Makanya kalau ngomong itu jangan asal, biar nggak kena geplak. kalau kita ambil begitu saja mangganya, sama aja aku kasih anakku makan mangga curian," ucap Randi kesal.
"Jadi menurutmu, bagaimana caranya kita ambil tuh mangga,"
Randi terdiam, karena dia juga tidak tahu bagaimana caranya.
"Hmm, begini aja deh. Mumpung ini memang jamnya orang tidur, tidak pantas kita membangunkan tidur mereka. Jadi, sebaiknya kita ikuti saran Bayu. Kita masuk ke dalam dan ambil mangganya, lalu kita tinggalkan uang di pintu sebagai ganti mangganya. Jadi, kita bukan pencuri," Gilang memberikan usul.
"Emm, boleh juga usul kamu!" ucap Randi yang akhirnya disetujui semua orang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelima pria itu kini sudah ada di dalam pekarangan rumah dan kini sudah berdiri tepat di bawah pohon mangga.
"Sekarang, siapa yang akan memanjat nih pohon mangga? aku sama sekali tidak bisa manjat," tanya Gilang sembari menatap ke empat pria lainnya secara bergantian.
"Aku juga tidak bisa!" sahut Randi.
"Apalagi aku," Sandi buka suara.
"Aku juga tidak bisa manjat," Darell juga tidak mau ketinggalan.
Ke empat pasang mata langsung mengarah pada Bayu.
__ADS_1
"Hei, kenapa kalian semua melihatku? jangan bilang kalau kalian ingin memintaku memanjat pohon mangga ini. Maaf, aku tidak bisa!" ucap Bayu tegas.
"Kamu jangan bohong, Bay. Dulu SMA aku tahu betul kalau kamu juara panjat tebing. Jadi tidak mungkin kamu tidak bisa manjat pohon mangga," Gilang buka suara.
"Itu dulu, sekarang aku tidak bisa!"
"Bay, please dong. Kamu yang manjat ya! kalau nggak ada yang manjat, itu berarti kita nggak akan bisa pulang. Kamu mau kita semalamam di tempat ini?" bujuk Randi.
"Iya,Bay. Tolong kami! menolong teman demi memenuhi ngidam seorang istri yang hamil itu besar pahalanya," Sandi ikut buka suara.
Bayu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali.
"Baiklah!" pungkas Bayu akhirnya.
Bayu baru saja memegang pohon mangga dan bersiap-siap hendak memanjat. Akan tetapi, sebelum dia memanjat, tiba-tiba terdengar suara bariton yang membentak mereka.
"Hei, siapa kalian?hah! kalian mau mencuri manggaku ya?" tampak sosok tinggi besar berdiri di depan pintu dengan parang di tangan. Mata pria tinggi itu terlihat sangat tajam dan menakutkan.
"Bu-bukan, Pak! kami tidak ada niat untuk mencuri. Kami hanya ingin mengambilnya dan akan meletakkan uangnya di depan pintu. Ini semua karena kami sudah capek mencari mangga muda buat istri kami yang sedang hamil," ucap Randi.
Pria pemilik rumah itu memicingkan matanya untuk memastikan apakah yang dikatakan oleh Randi jujur atau bohong. Kemudian, matanya menangkap sosok Gilang yang tentu saja pernah dia lihat di televisi.
"Iya, Pak, aku Gilang. Kami tidak mungkin berbohong kan Pak. Apa bapak mengizinkan kami untuk mengambil mangga muda ini?" ucap Gilang, yang akhirnya memanfaatkan statusnya.
"Tentu saja, bisa Tuan. Silakan ambil! lagian kalau untuk orang hamil, pamali kalau ditolak Tuan," ucap pria itu.
"Siapa di luar, Bang? tiba-tiba muncul seorang wanita dari dalam sana. Wanita itu juga terlihat sedang hamil besar,"
"Yang jelas bukan orang jahat, dek," sahut pria itu yang memanggil istrinya dengan sebutan adek.
"Wah banyak sekali pria-pria tampan di sini! ini kita masih di bumi kan,Bang?" wanita itu tiba-tiba bersorak dengan wajah berbinar.
"Ya masihlah. Mereka ke sini mau minta mangga buat istrinya yang ngidam mangga," jelas pria itu yang terlihat kesal melihat ekspresi istrinya yang mengagumi pria lain.
"Aku selama ini ngidam dicium sama pria tampan. Sebelum kalian bisa mengambil mangganya, aku mau dicium salah satu dari kalian, boleh kan? kalau tidak mau, aku tidak mau memberikan mangganya untuk kalian,"
Kelima pria yang disebut tampan oleh wanita itu saling silang pandang.
__ADS_1
"Jangan minta aku yang melakukannya. Kalau kalian memintaku melakukannya, aku bersumpah, kalau aku tidak mau mengambil mangganya lagi!" ancam Bayu.
"Maaf ya,Bu. Kami bukannya tidak mau mencium Ibu,tapi jujur saja kami sudah punya istri. Tidak baik kalau kita mencium yang bukan pasangan kita," tolak Gilang dengan halus.
"Tapi aku mau dicium salah satu dari kalian. Aku mau nantinya anakku ini bisa setampan kalian," ucap wanita itu dengan wajah memelas.
"Emm, Ibu mau dicium sama siapa?" tanya Randi akhirnya.
"Sepertinya kalian semua orang kaya. Siapa yang paling kaya di antara kalian semua? aku mau dicium orang yang paling kaya, supaya anakku juga nanti ketularan kaya,"
"Nih dia yang paling kaya, Bu." Semuanya mendorong Gilang ke depan.
"Oh iya, aku tahu siapa dia. Gilang kan? boleh deh dicium sama Tuan Gilang. Kapan lagi coba bisa dicium sama konglomerat," wanita hamil itu menatap Gilang dengan mata yang berbinar.
"Aku tidak mau!" tolak Gilang.
"Lang, please deh! bantuin kita kali ini! Gak pa-pa, cuma sekali cium di pipi saja, nggak akan buat kamu rugi juga kan? Daripada kita capek cari mangga lagi, gimana coba?" ucap Randi memohon.
Gilang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Setelah memikirkan kata-kata Randi, akhirnya Gilang pasrah mencium pipi wanita itu, sekilas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengantarkan Gilang dan Bayu ke rumah masing-masing, Randi akhirnya mengemudikan mobilnya kembali ke rumah. Pria itu terlihat bahagia karena sudah bisa memenuhi permintaan Reyna.
Sekitar 30 menit kemudian, Randi kini sudah tiba di rumahnya. Dengan penuh semangat, pria itu turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Sayang, ayo bangun! mangga yang kamu minta sudah ada," Randi membangunkan Reyna sembari mengecup pipi wanita itu berkali-kali.
Reyna menggeliat dan membuka matanya yang benar-benar sangat berat untuk dibuka.
"Aku ngantuk, Sayang. Kamu makan sendiri ya mangganya, aku sudah tidak ingin makan mangga lagi!" ucap Reyna sembari melanjutkan tidurnya.
"Heh?" mulut Randi terbuka, kesal dengan respon Reyna.
Hal yang sama juga terjadi di tempat lain, yang tidak lain adalah kediaman Sandi dan Dania.
Tbc.
__ADS_1
Sepertinya belum bisa tamat. Tapi, sebentar lagi akan tamat kok Guys. 🥰🥰🥰