
"Ini semua gara-gara kamu," Gilang mendorong tubuh Bayu hingga hampir terjatuh.
"Kok jadi gara-gara aku?" protes Bayu tidam terima.
"Ya jadi menurutmu gara-garanya siapa? coba tadi kalau kamu nggak maksa mau ambil handphoneku, pasti tidak akan terjadi kejadian memalukan seperti tadi," ucap Gilang dengan nada yang sangat kesal.
"Ya sebaliknya juga,coba tadi kamu langsung kasih handphonenya ke aku, pasti nggak aka. terjadi juga kejadian tadi," balas Bayu tidak mau kalah.
"Enak aja! itu privasiku, enak aja kamu mau tahu. Pokoknya ini semua salahmu," Gilang tidak mau kalah.
"Iya deh, iya salahku," pungkas Bayu, akhirnya mengalah. "Tapi,kamu jujur deh, tadi yang kamu tonton video ituan kan? kamu mau belajar bagaimana caranya ya?" lanjut Bayu kembali, karena sejujurnya pria itu belum puas sebelum tahu apa yang ditonton Gilang tadi.
"Tidak sama sekali. Lagian yang begituan aku rasa tidak perlu belajar karena secara naluri kita pasti akan tahi sendiri, jawab Gilang.
Bayu menghela napas, pasrah. Karena dia yakin mau bagaimanapun cara dia untuk tahu, Gilang pasti tidak akan pernah memberitahukan dia.
"Lang, bukannya kamu meminta Cahaya akan datang siang ini? tapi kenapa dia tidak datang?" alis Bayu bertaut penasaran.
"Dia tidak akan datang, karena dia langsung pulang ke rumah," jawab Gilang lugas.
"Yakin kamu dia langsung pulang? bagaimana kalau dia bohong, dan ternyata dia makan siang sama dosen itu?" ucap Bayu.
"Dia tidak bohong dan dia benar-benar sudah ada di rumah," sahut Gilang lagi, meyakinkan Bayu.
"Dari mana kamu tahu kalau dia sudah ada di rumah? bisa saja kan dia berbohong, bilang sudah di rumah, tapi ternyata __"
"Aku sudah melihatnya di kamera CCTV tadi," tanpa sadar Gilang mengatakan apa yang tidak ingin Bayu tahu tadi.
"Apa? jadi yang kamu lihat di handphonemu tadi rekaman Cahaya?" ucap Bayu, tertawa lepas.
"Sialan! kamu menjebakku!" umpat Gilang.
"Akhirnya aku tidak jadi mati penasaran. Ini benar-benar berita bagus,dan Cahaya harus tahu," ujar Bayu di sela-sela tawanya.
__ADS_1
"Berani kamu membocorkannya,aku benar-benar akan memotong gajimu," ancam Gilang yang dibalas tawa Bayu yang semakin kencang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dania menepikan mobilnya di depan rumah Gilang, dan begitu dia keluar dari mobil, dia langsung melangkah ke pintu masuk.
Wanita itu sengaja datang di siang hari karena dia tahu kalau rumah pasti sepi. Gilang masih di kantor, Grizelle pasti sibuk di butik demikian juga Gavin dan Jelita orang tua Gilang, yang biasanya keluar di siang hari untuk melihat toko kue Jelita. Sedangkan Oma Melinda dan opa Ganendra pasti tidur siang.
Dania masuk dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruang tamu, dan benar dugaannya kalau rumah sangat sepi. Kemudian wanita itu melangkah ke arah ruang keluarga, hasilnya juga sepi.
"Aku harus mencari Cahaya? aku yakin kalau jam segini, dia pasti sudah pulang dari kampus," batin Dania sembari berjalan ke arah dapur.
Matanya kembali beredar untuk mencari keberadaan Cahaya, tapi dia tidak menemukan wanita itu sama sekali.
"Pasti dia di taman belakang," gumam Dania sembari mengayunkan kaki dengan pelan seakan takut ketahuan.
"Sial, dia sama sekali juga tidak ada di sini. Dia sedang melakukan kerja di mana sih? kan nggak mungkin aku mengelilingi rumah sebesar ini," Dania kembali bermonolog pada dirinya sendiri.
Dania tidak langsung masuk, tapi mengintip lebih dulu. Dia melihat ada seorang wanita yang sedang menyetrika, tapi yang pasti itu bukan wanita yang dia cari atau Cahaya. "Ah sial kemana lagi akau akan mencarinya," Dania menggerutu tidak jelas.
"Ah sebaiknya aku abaikan urusan dengan si ja*Lang itu dulu. Lebih baik, sekarang aku masuk ke kamar Gilang, mumpung rumah sepi. Aku benar-benar curiga pada Gilang, dan aku yakin kalau aku bisa menemukan jawabannya di dalam kamar sana," Dania bermonolog di dalam hati dan langsung melangkah menuju kamar Gilang.
"Mudah-mudahan pintunya tidak di kunci," Dania memutar knop pintu dengan sangat hati-hati.
"Yes, ternyata tidak di kunci," Dani bersorak di dalam hati. Wanita itu melangkah masuk, dan pemandangan yang mendatangkan amarah tiba-tiba menyambutnya. Bagaimana tidak, dia melihat ada Cahaya yang berbaring tengkurap di atas ranjang, lengkap dengan sebuah laptop di depannya.
Karena sudah sangat marah,Dania menghambur menghampiri Cahaya tanpa menutup pintu kamar.Sementara itu, wajah Cahaya seketika berubah pucat, melihat kedatangan Dania yang tiba-tiba.
"Dasar wanita ja*lang!" teriak Dania sembari menarik rambut Cahaya dengan kencang.
"Berani-beraninya kamu masuk dan naik ke atas ranjang calon suamiku, bangsat!" maki Dania dengan tangan yang masih dalam posisi mencengkram rambut Cahaya.
"Lepaskan, Dania! Sakit tahu!" pekik Cahaya yang berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan Dania dari rambutnya.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? kamu memanggilku Dania?" bentak Dania . "berani sekali kamu memanggil namaku saja tanpa Non. Ingat aku ini, calon istri Gilang yang berarti akan jadi majikanmu juga," sambung Dania kembali dengan semakin mengencangkan cengkeramannya di rambut Cahaya.
"Aku bilang lepaskan ya lepaskan!" Cahaya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Wanita itu sontak menendang tulang kaki Dania dengan kencang, sehingga wanita itu berteriak kesakitan dan tanpa sadar melepaskan cengkeramannya di rambut Cahaya.
"Beraninya kamu menendangku, ja*lang!" pekik Dania lmberusaha untuk berdiri lagi. Namun dia kembali jatuh karena didorong kembali oleh Cahaya yang kali ini benar-benar sangat marah.
"Berhenti memanggilku ja*lang! sebutan ini cocoknya sama kamu. Kenapa? karena ketika jari telunjukmu menunjuk ke arahku, empat jari lainnya menunjuk dirimu sendiri, paham kamu!" tutur Cahaya dengan mata yang memerah marah, hingga membuat nyali Dania sedikit ciut. Namun, tentu saja itu hanya berlaku sebentar. Dania kini sudah berdiri dan menyeringai sinis ke arah Cahaya.
"Kalau kamu bukan ja*lang, jadi menurutmu apa sebutan untuk seorang wanita seperti kamu yang dengan lancang naik ke atas ranjang tuan mudanya, hah?" ucap Dania, menatap sinis ke arah Dania.
"Itu karena aku ini ...." Cahaya menggantung ucapannya, berusaha untuk menahan diri untuk tidak berterus terang pada Dania.
"Karena apa? karena kamu memang punya niat dari awal untuk menjadi nyonya di rumah ini kan? kamu berniat untuk menggoda Gilang. Eh, kamu harusnya berkaca, kamu itu sama sekali tidak pantas untuk Gilang," Dania semakin menjadi-jadi menghina Cahaya.
Cahaya menggeram dan mengepalkan tangannya. Wanita itu masih berusaha untuk mengontrol amarahnya yang sebenarnya sudah sampai ke ubun-ubun dan kalau dipancing sekali lagi, bakal meledak.
"Ada apa ini ribut-ribut!"tiba-tiba Melinda, Ganendra Jelita dan Gavin sudah berdiri di ambang pintu. Tadinya empat orang itu yang ternyata tidak pergi ke mana-mana ingin turun ke bawah dan mendengar ribut-ribut di kamar. Gilang.
"Syukurlah kalian semua sudah datang. Om, Tante, lihat pembantu yang kalian sayang ini, dia lancang naik ke atas ranjang Gilang. Benarkan kecurigaanku kalau dia punya maksud untuk jadi nyonya Gilang. Kalian semua tidak percaya sih. Jadi, kalian semua harus berterima kasih padaku, karena aku sudah berhasil membongkar kebusukannya," adu Dania merasa bangga dan yakin kalau sebentar lagi Cahaya akan segera didepak dari rumah keluarga Maheswara.
"Dia sama sekali tidak lancang, karena dia bebas naik ke atas ranjang itu," ucap Melinda sembari menatap Dania sinis.
"Apa, Oma? bebas naik? Oma, aku tahu kalau Oma tidak menyukaiku, tapi kali ini Oma sepatutnya berterima kasih padaku, apa sulitnya sih? bagaimana bisa Oma mengatakan kalau dia yang seorang pembantu,tidak lancang dan bebas naik ke ranjang Gilang? aku aja yang tunangannya tidak pernah naik ke atas ranjang itu?" ucap Dania yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran omanya Gilang itu.
"Karena dia memang lebih berhak ada di ranjang itu dan bebas mau ngapain aja dibandingkan kamu. Aku rasa kamu pasti tahu maksud dari ucapanku," ujar Melinda ambigu.
"Maksudnya?" Dania mengerenyitkan keningnya.
"Karena Cahaya bukan pembantu melainkan istri sah Gilang," bukan Melinda yang menjawab melainkan Gavin yang buka suara. Pria itu juga mulai terlihat kesal dengan Dania yang selalu menghina Cahaya.
"I-istri?" gumam Dania masih berusaha mencerna ucapan Gavin.
Tbc
__ADS_1