Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Bella meninggalkan rumah


__ADS_3

Dania menjatuhkan semua barang-barang yang ada di kamarnya ke lantai, begitu mendengar kalau papanya gagal meminta pada Gavin untuk menikahkannya dengan Gilang. Apalagi begitu mendengar Melinda juga ikut menimpali pembicaraan papanya dengan Gavin.


"Brengsek! dasar wanita tua sialan! sudah bau tanah masih saja ikut campur. Selama ini aku selalu berusaha bersikap baik di depannya, tapi tetap saja tidak dihargai," Dania meluapkan amarahnya sembari memaki-memaki Melinda.


"Dania! apa yang kamu lakukan!" bentak. Bella dengan sorot mata yang sangat tajam melihat keadaan kamar Dania yang sudah berantakan bak kapal pecah.


"Kenapa? mama pasti senang' kan sekarang? mama puas kan melihatku menangis seperti ini?" Dania balik membentak Bella mamanya.


"Apa maksud kamu? senang bagaimana?" Bella mengrenyitkan keningnya.


"Om Gavin tidak memenuhi permintaan papa, Ma dan ini semuanya gara-gara wanita tua yang sudah bau tanah itu,"


"Dania, jaga mulutmu! kenapa kamu jadi tidak punya sopan santun begini? hah!" suara Bella meninggi, benar-benar marah sekarang.


"Kenapa? Oma Gilang memang sudah bau tanah kan? paling umurnya hanya bertahan dua atau tiga tahun lagi, tapi masih saja mau mencampuri urusan orang muda,"


Plak ...


Tangan Bella terayun menampar pipi Dania.


"Bella!" teriak Denis yang sudah muncul karena mendengar keributan di kamar anak perempuannya.


"Papa!" Dania menghambur ke arah Denis dan memeluk papanya itu.


"Pa, mama menamparku. Mama benar-benar tidak sayang padaku," adu Dania sembari terisak-isak.


Denis melihat ke arah pipi putrinya yang memerah karena tamparan Bella. Hal ini semakin membuat amarah pria itu semakin tersulut. Rahang Denis mengeras dan sorot matanya memerah karena amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Kenapa kamu tega menampar dia hah? apa hanya karena dia menjatuhkan barang-barang di kamarnya? seharusnya sebagai seorang ibu kamu menghiburnya bukan malah memarahinya," suara Denis sangat keras, hingga membuat Bella tersentak kaget, karena selama menikah dengan Denis, baru kali ini suara pria itu sangat keras kepadanya, biasanya hanya keras-keras begitu saja.


"Kenapa kamu diam?hah! apa karena kamu menghitung kerugian barang-barang yang rusak itu? kamu tenang saja, aku akan menggantinya semua," emosi Denis semakin tidak terkontrol.


Mata Bella mulai berkilat-kilat karena sudah dipenuhi oleh cairan bening yang siap ditumpahkan. Napas wanita setengah baya itu sudah mulai memburu dan tangannya sudah terkepal.


"Asal kamu tahu, kalau aku sama sekali tidak peduli dengan barang-barang yang rusak itu. Tapi Dania benar-benar sudah keterlaluan, memaki tante Melinda, mengatakan tante itu sudah bau tanah yang usianya hanya dia atau tiga tahun lagi, apa menurutmu dia pantas berkata seperti itu, hah?" Bella melakukan pembelaan diri.


Denis bergeming dan sontak menatap Dania putrinya. "Apa itu benar Dania?" tanya Denis dengan raut wajah dingin dan menuntut penjelasan.


"Aku mengucapkannya tidak sengaja,.Pa. Itu karena aku terbawa emosi karena kesedihan yang aku rasakan hari ini," sahut Dania yang juga melakukan pembelaan diri.


Denis tidak berkata apa-apa. Justru pria itu kembali menatap ke arah Bella yang juga tengah menatapnya dengan tajam.


"Apa hanya karena itu kamu menampar putrimu sendiri? harusnya kamu tahu kalau kondisi emosionalnya tidak stabil," bukannya memarahi Dania, Denis justru kembali menyalahkan Bella.


"Tapi bukan dengan tamparan solusinya juga kan? bisa dengan cara yang lain,"


"Cara apa lagi? Dania ini sangat keras kepala, dan sekali-kali dia butuh ditampar,"


"Tidak ada ceritanya main tampar-tampar. Yang jelas, aku tidak mau melihat kamu menamparnya lagi!" ucap Denis dengan tegas.


"Memang tidak akan ada tamparan lagi, karena aku sudah memutuskan untuk angkat tangan dan tidak peduli lagi. Terserah kamu mau membela dia dengan cara apapun. Yang jelas hatiku benar-benar sudah sakit sekarang. Kamu membela dia, dengan cara membentakku di depannya, itu sama saja kamu mengajarkan dia untuk tidak menghargaiku. Kamu membuatku seakan tidak ada harganya di depan dia. Aku sekarang menyerah, terserah kalian berdua mau berbuat apa saja, aku tidak peduli lagi!" pungkas Bella tidak kalah tegasnya dari Denis. Bahkan air matanya sudah tidak bisa dia bendung lagi.


Denis membeku, tidak menyangka kalau Bella bisa mengatakan seperti itu. Pria itu berasa tertampar sekarang.


"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria, yang ternyata adalah Darell putra Denis dan Bella.

__ADS_1


"Kenapa, Mama menangis?" tanyanya kembali dengan nada yang menuntut, karena tidak ada sama sekali yang menjawab pertanyaannya. Kemudian mata pria itu mengedar melihat kondisi kamar Dania yang berantakan. Seketika pria itu sudah bisa mengerti dengan apa.yang sudah terjadi.


"Kenapa kalian semua diam? apa tidak ada yang mau menjawabku?" ucap Darell. "Baiklah, tanpa kalian kasih tahu, aku sudah bisa menebak kalau apa yang terjadi pasti karena anak manja ini!" Darell menunjuk ke arah Dania yang sontak menundukkan kepalanya.


"Darell! jangan bicara seperti itu pada kakakmu!" bentak Denis.


"Kenapa tidak bisa? papa mau mengatakan kalau aku tidak sopan, begitu? apa kabar dengan dia yang selalu membantah ucapan mama,apa menurut papa itu sopan?" sindir Darell yang sebenarnya juga sudah muak dengan sikap Dania yang memang selalu mau menang sendiri.


Denis terdiam tidak menjawab ucapan putranya.


"Apa, Papa tahu kenapa aku lebih betah tinggal di apartemen daripada tinggal di rumah ini? ini semua gara-gara anak yang selalu papa manjakan ini!" sambung Darell kembali dengan napas yang memburu.


Kemudian pria itu,menoleh ke arah Bella mamanya.


"Ma, ayo ikut Darell, kita tinggal di apartemenku saja daripada mama stress dengan tinggal di rumah ini. Kalau Mama tidak dihargai di sini, bagiku, Mama masih sangat berharga," Darell meraih tangan Bella dan mengajaknya pergi.


Denis sontak menahan tubuh Bella dengan tangannya.


"Sayang, maafkan aku! kamu jangan pergi ya!" mohon Denis, dengan wajah memelas.


Bella menepis tangan Denis. "Lebih baik aku pergi dulu. Aku akan kembali jika kamu sudah menyadari kesalahan yang kamu buat," ucap Bella tanpa melihat ke arah wajah Denis.


Kemudian, Bella menoleh menatap ke arah Dania.


"Untuk kamu Dania, kamu puaskan melihat orang tuamu bertengkar? kamu pasti bangga karena selalu mendapat pembelaan dari papamu. Sekarang mama akan pergi, kamu urus papa dan dirimu sendiri. Jangan terlalu berharap pada asisten rumah tangga," pungkas Bella, dan berlalu pergi meninggalkan Denis dan Dania.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2