Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Pikiran baik-baik!


__ADS_3

"Cahaya apa kamu sibuk? boleh kita bicara sebentar?" Gilang menghampiri Cahaya, ketika wanita itu sedang sibuk menyetrika pakaian, padahal sebenarnya itu bukan tugasnya.


Cahaya tersentak kaget dan langsung gugup begitu melihat sosok Gilang yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Tu-Tuan Gilang! a-anda mau bicara apa?" tanya Cahaya dengan suara yang terbata-bata karena gugup.


"Tidak di sini. Kamu ikut aku sebentar!" Gilang memutar tubuhnya, dan melangkah lebih dulu


Sementara itu, Cahaya mencabut colokan setrika dan langsung menyusul Gilang. Jantung wanita itu kini benar-benar berdetak sangat kencang seperti habis lari maraton, saking gugup dan takut.


"Apa aku akan dipecat hari ini? kalau aku dipecat, aku akan cari kerja di mana lagi?" Cahaya mulai over thinking.


"Silakan duduk, Cahaya! " Gilang menunjuk ke arah sofa di depan dia duduk.


"Kamu jangan tegang seperti itu! tenang saja, aku tidak akan memarahimu," sambung Gilang kembali, karena melihat tampang Cahaya yang pucat.


Cahaya dengan sangat hati-hati dan sembari menggigit bibirnya, berlutut di lantai, bukan di tempat yang ditunjuk oleh Gilang.


"Kenapa kamu duduk di lantai? aku memintamu untuk duduk di sofa," ujar Gilang dengan tegas.


"Aku duduk di sini aja, Tuan," Cahaya masih belum bergerak dari tempatnya.


"Tidak! aku bilang di sofa ya di sofa! sekarang kamu bangun dan duduk di sofa!" titah Gilang dengan raut wajah yang sukar untuk dibaca.


Cahaya bangun dengan perlahan dan duduk di tempat yang ditunjukkan oleh Gilang.


"A-ada apa, Tuan? a-apa yang ingin Tuan bicarakan? apa aku ada berbuat kesalahan? kalau ada, tolong maafkan dan jangan pecat aku," ucap Cahaya sembari menundukkan kepalanya dan telapak tangan yang mere*mas-re*mas rok yang dia pakai.


Gilang tersenyum tipis, paham kalau Cahaya sekarang tengah ketakutan karena over thinking.

__ADS_1


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? dan kenapa kamu melihat ke bawah? apa orang yang kamu ajak bicara ada di bawah sana?" tanya Gilang.


Cahaya sontak mengangkat wajahnya dan menggeleng-gelengkan kepala. "Ti-tidak, Tuan. Maaf, aku tidak bermaksud untuk tidak sopan pada anda," ujar Cahaya masih dengan suara yang bergetar.


"Tidak apa-apa!" ucap Gilang dengan wajah datar. "Oh ya, kamu sepertinya ketakutan padaku. Tenang saja, kamu tidak punya kesalahan apapun, jadi tidak ada yang namanya pemecatan,"


Cahaya menghela napas lega, begitu mendengar ucapan Gilang.


"Aku mengajakmu ke sini, karena ada hal penting yang ingin aku katakan padamu," sambung Gilang kembali.


Alis Cahaya saling bertaut, pertanda wanita itu sekarang tengah penasaran.


"A-apa itu Tuan?" tanyanya dengan sopan.


Gilang tidak langsung menjawab. Pria itu merasa sedikit grogi untuk menyampaikan maksudnya. "Aku tidak boleh mundur. Aku harus tetap melaksanakan rencanaku, karena ini adalah jalan yang terbaik," tekad Gilang dalam hati.


Sementara itu, Cahaya terlihat tetap setia menunggu apa yang hendak dikatakan oleh tuan mudanya itu.


"A-apa, Tuan? bukannya tadi Tuan mengatakan tidak akan memecatku? tapi kenapa sekarang Tuan mau aku berhenti jadi pembantu," tanpa sadar Cahaya memotong ucapan Gilang, sebelum tuan mudanya itu selesai berbicara.


"Tunggu dulu! tolong jangan memotong saat aku masih berbicara!" tegas Gilang.


"Ma-Maaf, Tuan!" Cahaya menundukkan kepalanya.


"Aku memang ingin kamu berhenti menjadi pembantu karena aku ingin kamu menikah denganku dan menjadi istriku,"


Cahaya sontak mengangkat wajahnya menatap Gilang dengan mata yang membesar sempurna. "A-apa Tuan? menikah dengan Tuan?" tanya Cahaya memastikan apakah dia salah dengar atau tidak.


"Iya, menikah denganku," Gilang menegaskan ucapannya.

__ADS_1


"Ta-tapi kenapa? seharusnya kan Non Dania yang harus menikah dengan Tuan? karena yang jadi tunangan Tuan itu, Non Dania,"


"Aku rasa dengan kamu melihat sikapku padanya, kamu cukup pintar untuk bisa menyimpulkan kalau aku sama sekali tidak mencintainya, kan? Jadi intinya aku sama sekali tidak punya rencana untuk menikahinya." jawab Gilang, lugas.


"Jadi kenapa Tuan mau menikah denganku? padahal Tuan juga tidak mencintaiku kan?". Cahaya mengrenyitkan keningnya.


"Untuk masalah itu, kamu tidak perlu tahu. Yang jelas aku tidak mau menikah dengannya,"


"Ma-Maaf, Tuan, aku sama sekali tidak bisa menikah dengan Tuan karena aku tidak ingin menyakiti perasaan sesama wanita. Selain itu, aku tidak ingin ada wanita lain yang membenciku. Aku hanya ingin hidup tenang menjalani hari-hariku," tolak Cahaya, hal yang sudah diduga oleh Gilang sebelumnya.


"Tapi, walaupun kamu tidak menjadi istriku, dia sudah membencimu kan?"


"Karena itulah, aku tidak mau non Dania semakin membenciku. Bukannya kalau aku menikah dengan Tuan, membuat tuduhannya yang aku berusaha menggoda Tuan jadi seperti benar adanya? aku tidak mau seperti itu, Tuan," ucap Cahaya.


"Maaf, kalau aku salah lagi dan lancang. Kalau Tuan tidak mau menikah dengan non Dania, kenapa Tuan tidak menikah saja dengan non Reyna? bukannya Tuan mencintanya?" sambung Cahaya kembali dengan sangat hati-hati.


Ya, dari perdebatan antara Gilang,Oma Melinda dengan Dania tadi, Cahaya bisa menyimpulkan kalau Gilang mencintai Reyna.


Gilang tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Sepertinya kamu cukup pintar untuk bisa menyimpulkan kenyataan yang terjadi. Kenapa aku tidak menikah dengan Reyna dan memilihmu, itu karena Reyna tidak mau menikah denganku. Reyna bersahabat dengan Dania sejak kecil, makanya dia lebih memilih untuk memutuskan hubungan denganku. Padahal, yang perasaannya dia jaga, sama sekali tidak peduli bagaimana perasaan Reyna. Dania hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Aku memilihmu untuk menikah denganku, karena kamu sama sekali tidak punya hubungan dengan Dania." jelas Gilang panjang lebar.


"Walaupun aku tidak punya hubungan dengan non Dania, sebagai sesama wanita aku tetap menolak Tuan. Sekali lagi Maaf!"


"Tapi, aku punya penawaran untukmu. Kalau kamu mau menikah denganku, aku akan menjadi donatur tetap di panti tempat kamu dibesarkan. Jumlah donasiku akan sangat besar tiap bulan, sanggup untuk membiayai pendidikan semua anak panti. Aku juga akan memperbaiki makam kedua orangtuamu, dan bahkan aku akan membeli kembali rumah orangtuamu yang dijual oleh Om dan tantemu, bagaimana menurutmu?" akhirnya Gilang mengeluarkan senjata terakhirnya, yang dia harap akan berhasil.


Ya, itulah cara yang dipikirkan oleh Gilang. Selain tidak membuat Cahaya curiga, dia sangat yakin kalau apa yang diucapkannya tadi adalah impian gadis itu yang pasti membuat wanita itu sukar untuk menolaknya.


Cahaya bergeming, benar-benar terlihat bingung sekarang. Di satu sisi dia tidak ingin menyakiti perasaan Dania, tapi di satu sisi lagi, apa yang ditawarkan oleh Gilang benar-benar adalah hal yang sangat diinginkannya selama ini. Hal yang mungkin butuh waktu yang sangat lama bisa dia realisasikan.

__ADS_1


"Aku kasih waktu kamu untuk berpikir dulu. Kamu lebih memilih untuk menolak demi menjaga perasaan Dania yang tidak layak untuk kamu pikirkan perasaannya, atau anak-anak panti yang butuh biaya pendidikan dan rumah hasil jerih payah orang tuamu. Silakan pikirkan baik-baik! nanti setelah kamu sudah selesai memikirkannya, kamu langsung kasih tahu padaku apa keputusanmu. Aku harap kamu tidak salah memutuskan," pungkas Gilang sembari berlalu dari hadapan Cahaya.


Tbc


__ADS_2