
Tiga hari sudah berlalu semenjak kejadian di kantor Gilang. Semakin ke sini Dania semakin merasa ada kejanggalan dimana setia pagi di datang ke rumah Gilang, dia tidak pernah bertemu dengan pria itu. Yang paling membuat wanita itu curiga, Cahaya juga tidak pernah terlihat olehnya.
Kebetulan hari ini adalah weekend, jadi Dania berniat untuk datang kembali ke kediaman Gilang, karena dia yakin kalau pagi-pagi seperti ini pria itu pastikan tidak akan pergi kemana-mana, demikian juga dengan Cahaya. Wanita ingin sekali melihat apa yang dilakukan Gilang dan Cahaya di rumah.
"Aku harus buru-buru pergi. Apa yang terjadi belakangan ini benar-benar sangat mencurigakan," batin Dania dengan sedikit berlari, menuruni tangga.
Sementara itu, di lain tempat, Cahaya baru saja masuk ke dalam kamar, setelah selesai membantu Rini seperti biasa. Cahaya mengrenyitkan keningnya ketika melihat ranjang sudah kosong, padahal dia mengira kalau Gilang masih tidur, disebabkan hari ini pria itu tidak akan pergi kerja.
"Kenapa dia sudah bangun? padahal kata mbak Rini, kalau weekend seperti ini, mas Gilang pasti lama bangun," bisik Cahaya dalam hati.
"Atau jangan-jangan hari ini dia memang ada urusan penting. Sepertinya aku harus menyiapkan pakaian kerja.". Cahaya melangkah ke arah lemari untuk menyiapkan pakaian suaminya.
"Kamu tidak perlu me menyiapkan pakaian kerja, karena ini weekend," tiba-tiba Gilang sudah berdiri di belakangnya, hingga membuat Cahaya terjengkit kaget.
"Jadi, aku harus menyiapkan pakaian apa?" tanya Cahaya.
"kamu pergi mandi saja,biar aku yang ambil pakaianku sendiri. Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,"
"Pergi kemana?" alis Cahaya bertaut.
"Nanti kamu akan tahu. Sekarang kamu pergi mandi saja," ucap Gilang sembari meraih pakaian casual dari dalam lemari.
Cahaya tidak bertanya lagi, walaupun sebenarnya wanita itu sangat penasaran. Wanita itu akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi seperti yang diminta Gilang.
Seperti biasa, Cahaya ingin keluar kembali untuk mengambil pakaiannya. Namun begitu mengingat kejadian yang menurutnya sangat memalukan itu, Cahaya berpikir ulang untuk keluar.
"Sekarang dia pasti belum selesai memakai pakaiannya, kalau aku keluar nanti dia mengira kalau aku memang sengaja melakukannya. Jadi lebih baik aku langsung mandi saja deh," pungkas Cahaya sembari melangkah mendekati shower.
Cahaya tidak memerlukan waktu yang lama, untuk mandi. Wanita itu kini membalutkan tubuhnya dengan seutas handuk. Ketika ingin keluar, wanita tiba-tiba merasa gugup dan dilema antara ingin keluar atau diam saja di dalam kamar mandi. Apalagi handuk yang dia pakai berada di atas lututnya
__ADS_1
"Kalau aku tetap di sini, justru akan membuat dia marah kan? tapi kalau aku keluar, aku sangat malu dengan kondisi seperti ini," Cahaya menggigit bibirnya, sembari memegang knop pintu.
Cahaya mencoba memutar knop pintu dengan sangat perlahan dan mengintip ke luar, untuk memastikan apa Gilang masih ada di dalam kamar atau sudah keluar.
"Syukurlah! ternyata dia sudah tidak ada, Mungkin dia lagi sarapan sekarang," Cahaya mengembuskan napas lega. Tanpa dia sadari ternyata Gilang masih ada di dalam Kamar dan kebetulan sedang berjongkok di balik ranjang untuk meraih jam tangannya yang tadi sempat terjatuh.
Dengan perlahan Cahaya keluar dari dalam kamar mandi dan dengan santainya berjalan menuju walk in closet sembari bersenandung kecil.
Wanita itu tidak menoleh lagi ke arah ranjang sehingga tidak melihat Gilang yang sekarang mulutnya terbuka dan mata yang tidak berkedip.
"Sial!" kenapa dia keluar dengan kondisi seperti itu?" batin Gilang sembari mengembuskan napas berkali-kali, untuk menetralisir jantungnya yang bergemuruh.
"Diam di sana, Tong! belum saatnya. Tolong kamu bisa bekerja sama dengan tuanmu ini." ucap Gilang pada perkakasnya yang sudah mulai menggeliat bangun.
"Tidur lagi ya, Tong. Jangan bangun sekarang, Makananmu belum siap untuk disantap," lagi-lagi Gilang berusaha membujuk perkakasnya yang sepertinya sedikit susah untuk ditidurkan.
(Perkakas: Woi, bodoh! sekeras apapun kamu menidurkanku, tidak akan bisa selagi pikiranmu masih mesum!)
Sementara itu, Dania kini sudah tiba di rumah Gilang dan melihat suasana rumah yang masih sepi. Wanita itupun seperti biasa langsung mengayunkan kaki melangkah menuju ruang makan. Namun sesampainya di sana, kening Dania berkerut karena melihat meja makan yang masih terlihat kosong.
"Kenapa masih belum ada orang? mereka semua belum selesai sarapan kan?" batin Dania sembari membuka penutup makanan.
"Makanan masih utuh, berarti belum ada yang sarapan," gumam wanita itu, sembari menutup kembali penutup makanan itu. Kemudian, dia mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang bisa ditanyai.
"Mbak Rini! ke sini sebentar!" panggil Dania ketika Rini melintas di depannya.
Merasa ada yang memanggil, Rini menoleh ke arah datangnya suara. Wanita itu mengrenyitkan keningnya, kaget melihat Dania sudah datang lebih cepat dari biasanya.
"Iya,Non Dania!" sahut Rini dengan sopan, walaupun sebenarnya wanita itu tidak suka pada Dania.
__ADS_1
"Kenapa belum ada yang turun untuk sarapan?" tanya Dania.
"Sepertinya sebentar lagi,Non. Mungkin masih pada mandi. Lagian kalau weekend seperti ini, siapa yang bangun duluan itu yang sarapan lebih dulu," sahut Rini masih.
"Lagian situ kurang kerjaan. Jam segini sudah nongol aja," Rini menggerutu di dalam hati.
"Berarti Gilang masih ada di dalam kamarnya dong," wajah Dania terlihat berbinar. Wanita itu juga tersenyum sangat lebar.
"Gawat! aku jawab apa nih. Kalau aku jawab belum bangun, dia pasti langsung masuk ke kamar Tuan Gilang. Di dalam kamar Tuan Gilang kan ada Cahaya," wajah Rini seketika berubah pucat.
"Kenapa tidak jawab, Mbak? Gilang masih di kamarnya kan?" Dania kembali bertanya.
"Emm, Tuan Gilang__"
"Ah lama! aku lebih baik memastikan langsung ke dalam kamarnya," pungkas Dania kesal sembari berlalu pergi dari depan Rini.
Ketika kakinya sudah menapak di atas anak tangga, Dania berhenti tiba-tiba dan kembali menoleh ke arah Rini. Rini yang tadi menahan napas seketika merasa lega, berharap Dania mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar Gilang.
"Mbak, pembantu yang sok cantik itu ke mana? kenapa belakangan ini,dia jarang terlihat?" tanya Dania dengan tatapan menuntut.
"Di-dia ada di belakang kok, Non. Dia sedang melakukan pekerjaannya," sahut Rini dengan suara sedikit bergetar.
"Oh, seperti itu. Padahal aku mengira dia sudah dipecat," cetus Dania dengan nada kecewa.
"Sudahlah,aku mau ke kamar Gilang. Ngapain mikirin wanita murahan itu?" pungkas Dania seraya kembali melanjutkan langkahnya.
"Non Dania, jangan ke sana!" pekik Rini, tapi Dania tidak peduli sama sekali.
"Astaga, gawat. Mungkin sebentar lagi akan terjadi keributan. Aku harus segera mengabari Oma," Rini bergerak dengan cepat menuju kamar Melinda dan Ganendra.
__ADS_1
Tbc