Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Cahaya mulai berani


__ADS_3

Hari berganti hari, sekarang hari Senin sudah kembali datang. Hari di mana libur telah usai dan harus kembali beraktivitas. Hari ini, seperti biasa Gilang dan Cahaya kembali berangkat lebih cepat, supaya tidak bertemu dengan Dania.


"Mas, sampai kapan kita harus begini? sarapan saja harus di dalam mobil." ucap Cahaya sembari memasang sabuk pengamannya.


"Aku juga kurang tahu. Kamu sabar aja!" seperti biasa, Gilang akan selalu menjawab seperti itu.


"Ayo Bayu, kita langsung jalan aja!" titah Gilang sembari menepuk pundak sahabatnya itu.


Tanpa mereka sadari, ketika mereka keluar dari pagar, sepasang mata milik Dania menatap dengan mata yang berkilat-kilat marah, melihat apa yang ada di depannya. Dengan jelas dia melihat ada sosok Cahaya yang duduk di samping Gilang, karena kebetulan Cahaya membuka kaca mobil.


"Brengsek! berani sekali mereka main kucing-kucingan di belakangku," umpat Dania sembari mencengkram kencang kemudi. Kemudian wanita itu memutuskan untuk tidak masuk ke rumah Gilang, tapi membuntuti mobil yang dikemudikan oleh Bayu itu.


Sekitar 30 menit akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Bayu berhenti di depan kampus.


Sementara itu, Dania juga melakukan hal yang sama. Alisnya bertaut tajam, dan semakin curiga ketika Cahaya belum juga keluar dari mobil.


"Kan sudah sampai, tapi kenapa wanita murahan itu belum keluar juga? apa yang mereka lakukan di dalam sana?" Dania mulai menggerutu dengan raut wajah yang tegang.


"Akhirnya dia turun juga," gumam Dania begitu melihat Cahaya keluar dari dalam mobil.


"Brengsek, ngapain dia harus melakukan hal itu?" umpat Dania benar-benar marah melihat Cahaya yang tersenyum sembari melambaikan tangan.


"Haruskah seorang pembantu melakukan hal itu pada majikannya? apa dia tidak tahu diri ya," kembali Dania mengumpat dalam hati.


Dania langsung keluar dari dalam mobilnya ketika mobil Gilang sudah melaju pergi.


"Cahaya, berhenti kamu!" Cahaya yang tadinya hendak melangkah masuk ke area kampus, sontak menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Wajah wanita itu seketika pucat ketika melihat siapa sosok yang baru saja memanggilnya.


"Da-Dania," gumamnya dengan suara bergetar.


"Ternyata benar ya dugaanku selama ini. Kamu memang berniat untuk menggoda Gilang. Apa kamu tidak memiliki kaca di rumah? harusnya kamu sadar diri siapa kamu. Kamu ini hanya seorang pem-ban-tu," Dania dengan sengaja menekankan kata pembantu.

__ADS_1


"Maaf,Non Dania, aku sama sekali tidak ada niat untuk menggoda Tuan Gilang," sangkal Cahaya.


Dania mendengus mendengar ucapan Cahaya.


"Cih,kamu kira aku akan percaya begitu saja? kalau tidak, kenapa kamu bisa ada di dalam mobil Gilang? aku yakin kalau ini bukan yang pertama kalinya kan? ayo ngaku!"


"Itu karena memang kantor Tuan Gilang, melewati kampusku, jadi Tuan Gilang menawarkan untuk mengantarkanku sekalian," jawab Cahaya, lugas.


"Pintar sekali kamu mencari alasan. Aku rasa kalau kamu memang berniat menggoda Gilang. Kalau hanya ingin mengantarkanmu, kenapa dia bisa duduk di belakang bersamamu? kenapa dia tidak duduk di depan saja dengan Bayu? Apa yang kamu lakukan padanya sehingga dia bisa begitu,hah! aku saja yang sudah jadi tunangannya tidak pernah duduk di dalam mobilnya itu,"


"Kalau masalah dia duduk di belakang, silahkan tanya sendiri pada Tuan Gilang. Kalau masalah aku kasih dia apa,aku sama sekali tidak memberikan apa-apa padanya," Cahaya mulai terlihat berani menjawab Dania dengan nada yang ketus.


"Kamu kira aku percaya? aku yakin wanita miskin seperti kamu, pasti ingin bisa hidup bahagia, dan kaya secara instan karena kamu sudah bisa hidup dalam kemiskinan, makanya kamu menggunakan berbagai cara termasuk pakai ilmu hitam. Kalau tidak, bagaimana mungkin Gilang bisa bersikap lembut ke kamu,dan bahkan keluarganya sampai menguliahkanmu," tukas Dania dengan raut wajah sinis, merendahkan.


"Aku memang miskin, tapi setidaknya aku tidak miskin di akhlak seperti anda. Kamu memang kaya harta tapi kamu itu miskin hati. Kalau kamu kaya hati, di otakmu pasti tidak akan timbul pemikiran seperti itu. Aku heran masih ada orang yang bisa berpikiran sepicik itu yang anehnya lagi orang yang berpendidikan," Cahaya, membalas hinaan Dania sembari menyelip sindiran. Entah darimana wanita itu tiba-tiba memiliki keberanian.


"Kamu sudah mulai berani ya padaku?" bentak Dania di sela-selanya kekagetannya. Sumpah demi apapun, dia tidak menyangka kalau Cahaya bisa seberani itu padanya.


"Menurutmu kenapa aku harus takut padamu? kamu manusia, aku juga manusia dan kita hidup di negara yang sama. Justru kamu harusnya bahagia kalau aku tidak takut sama kamu. Itu berarti aku masih menganggap kamu manusia. Kalau aku takut, berarti kamu sudah aku anggap setan," sahut Cahaya dengan santai, hingga membuat Dania semakin meradang.


Prok ...Prok ...


Cahaya bertepuk tangan dengan sudut bibir yang tersenyum sinis.


"Wow, hebat sekali kamu, bisa membaca masa depan orang, sepertinya kamu bercita-cita ingin menyamai Tuhan. Kalau kamu sehebat itu, harusnya kamu bisa dong membaca bagaimana kelanjutan hubungan kamu dengan tuan Gilang?"


Dania menyeringai sinis."Tentu saja. Aku yakin kalau kami sebentar lagi akan menikah dan kami akan hidup bahagia. Di saat itu terjadi, di saat itu pula, kamu akan terusir dengan cara tidak hormat dari rumahnya," ucap Dania dengan bangga.


"Tapi, kenapa aku merasa kalau itu tidak akan terjadi ya? aku merasa kalau kamu hanya bermimpi saja. Ingat kalau mimpi itu biasanya artinya kebalikannya," Cahaya mencondongkan tubuhnya dan berkata tepat di telinga Dania.


"Brengsek! beraninya kamu ...." Dania mengayunkan tangannya hendak menampar pipi Cahaya. Namun tangannya terhenti di udara karena ada tangan besar menahan tangannya.

__ADS_1


"Jangan buat keributan di sini!" ujar pemilik tangan itu sembari menghempaskan tangan Dania secara kasar.


"Siapa kamu berani menghalangiku?" sorot mata Dania menatap tajam ke arah pria yang menaham tangannya tadi.


"Aku dosennya Cahaya. Aku punya hak untuk menjaga agar tidak terjadi keributan di area kampus," jawab pria yang ternyata Randi itu.


Dania menyusuri tubuh Randi dari atas sampai ke bawah, dengan tatapan sinis.


"Oh,kamu dosen. Syukurlah kamu datang. Tolong kamu ingatkan mahasiswi kamu yang satu ini, agar tidak menjadi wanita murahan, yang berani-beraninya mau merebut tunanganku,"


Randi bergeming untuk beberapa saat, dan sontak menoleh ke arah Cahaya, untuk meminta penjelasan.


"Dia hanya majikanku," jawab Cahaya yang mengerti arti tatapan Randi.


Kemudian Randi kembali menoleh ke arah Dania dan menatap wanita itu dengan intens karena merasa seperti pernah melihat wanita di depannya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? kamu terpesona dengan kecantikanku ya? maaf,aku sama sekali tidak tertarik padamu,"ucap Dania dengan tingkat percaya diri yang tinggi.


"Maaf,aku sama sekali tidak tertarik dengan anda!" ucap Randi, yang seketika membuat Dania malu.


"Aku hanya berusaha mengingat wajah anda yang sepertinya pernah aku lihat. Bukannya kamu Dania, wanita yang ditunangkan dengan Gilang, putra Tuan Ganendra pemilik the sky group?" tanya Randi memastikan.


"Iya, itu aku," jawab Dania dengan bangga. Sementara itu, Cahaya sedikit kaget mendengar Randi menyebutkan nama suaminya.


"Berarti, kamu wanita licik yang mengenalkan Reyna pada seorang pria bejat itu. Bagaimana mungkin Gilang bisa memiliki tunangan seorang wanita licik seperti anda?" ucap Randi dengan nada yang sarkas, hingga membuat Dania terdiam dan kaget. Wanita itu langsung bisa menyimpulkan kalau pria di depannya adalah pria yang telah menolong Reyna.


"Setahuku, kalian sudah sangat lama bertunangan,dan belum menikah. Sekarang, aku bisa paham kenapa kalian berdua sampai sekarang belum menikah juga, karena ternyata sikap kamu sangat buruk. Kalau aku jadi Gilang,aku juga akan berpikir ulang untuk menikah dengan wanita licik seperti kamu. Seandainya wanita semua punah dan hanya menyisakan kamu,aku lebih baik tidak menikah sampai mati, karena aku yakin kalau rumah akan terasa seperti neraka setiap hari," sambung Randi kembali dengan sudut bibir yang sedikit naik ke atas.


"Diam! beraninya kamu mendikteku,"


"Aku tidak sedang mendiktemu, tapi aku sedang mengatakan kenyataannya," jawab Randi santai.

__ADS_1


"Ihh," Dania terlihat mati kutu dan memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


Tbc


__ADS_2