
Jelita dan Gavin turun di depan sebuah gedung sederhana bertuliskan ' Panti Asuhan Kasih Bunda'. Kedatangan mereka tentu saja langsung mendapat sambutan dari anak-anak panti yang berharap akan diadopsi.
"Selamat siang anak-anak! Ibu Sukmanya ada?" tanya Jelita dengan lembut seraya menyelipkan senyum manisnya.
"Ada, Bu! Ibu Sukma ada di dalam," jawab salah satu anak yang sudah berusia remaja.
"Boleh tolong panggilkan, Nak?" pinta Jelita dan anak itu menganggukkan kepalanya.
Tidak berselang lama, tampak seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Jelita dan Gavin, keluar dari dalam panti. Jelita yakin kalau wanita itu adalah ibu Sukma yang mereka cari.
"Selamat siang, Ibu, Pak? apa kalian mencari saya?" tanya wanita yang baru datang itu.
"Apa, Ibu ini ibu Sukma?" Jelita balik bertanya untuk memastikan.
"Iya, saya sendiri. Ada apa mencari saya?" wanita yang biasa dipanggil ibu Sukma itu, mengrenyitkan keningnya.
"Kenalkan, aku Jelita dan ini suami saya Gavin,. Kami ke sini untuk menanyakan sesuatu. Kami berharap ibu bisa membantu."
Ibu Sukma mengrenyitkan keningnya, karena seperti pernah melihat kedua orang di depannya.
"Tunggu! sepertinya aku pernah melihat kalian berdua, tapi di mana ya?" mata Sukma memicing berusaha untuk mengingat wajah Jelita dan Gavin.
"Oh, iya aku ingat! aku pernah melihat kalian berdua di TV, tapi aku lupa namanya. Siapa tadi? Jelita dan Gavin, " ibu Sukma mengulang menyebutkan nama pasangan suami istri di depannya.
"Iya, Bu! sahut Jelita dengan sopan sembari menyelipkan seulas senyum di bibirnya.
Tiba-tiba mata ibu Sukma membesar dengan sempurna ketika berhasil mengingat dua orang di depannya.
"Oh ya, aku ingat! bukannya anda ini, keluarga Maheswara,pemilik perusahaan besar itu? apa ya namanya? aku lupa lagi?" ucap wanita itu.
__ADS_1
"Iya, Bu. Itu kami. Nama perusahaannya 'The Sky group'." Lagi-lagi Jelita yang menjawab.
"Iya itu. Aku ingat sekarang. Oh, ya, tadi kalian katanya mau menanyakan sesuatu. Kalian masuk dulu, dan kita bicara di dalam aja. Tidak enak kalau bicara di sini." Ibu Sukma melangkah mendahului Gavin dan Jelita. Sedangkan sepasang suami istri langsung mengekor dari belakang.
"Silakan duduk, Bu, Pak! aku ke belakang dulu, untuk ambil minum,"
"Tidak perlu repot-repot, Bu. Ibu duduk saja!" ucap Jelita sembari mendaratkan tubuhnya duduk di kursi.
Sukma akhirnya tidak jadi pergi ke dapur dan memilih untuk duduk.
"Hmm, tadi Ibu sama Bapak mau menanyakan apa ya? kalau bisa saya bantu akan saya bantu," ucap Sukma langsung tanpa basa-basi, karena sebenarnya wanita itu penasaran kenapa konglomerat seperti Gavin dan Jelita singgah ke pantinya.
"Begini, Bu. Sekitar 20 tahun yang lalu, anak saya diselamatkan oleh seorang pemadam kebakaran. Hari itu ada kebakaran di mall dan anakku terjebak di dalamnya. Di saat tidak ada orang yang berani masuk kembali lagi ke dalam, pria itu tetap nekad masuk dan menyelamatkan putraku. Tapi, naas pemadam kebakaran itu, meninggal setelah menyelamatkan anak saya. Kalau tidak salah namanya Pak Surya. Kami dengar istri beliau dua tahun kemudian meninggal juga karena sakit dan beliau punya anak perempuan. Katanya anak perempuan itu tinggal di sini, apa itu benar?" tutur Jelita panjang lebar.
"Oh iya,Bu. Anak itu memang tinggal di sini karena tidak ada keluarga yang mau merawatnya. Tapi, sekarang anaknya sudah tidak tinggal di sini, Bu," sahut Ibu Sukma.
"Begitu ya?" Jelita terlihat kecewa. "Kalau boleh tahu,nama anak itu siapa dan sekarang tinggal di mana?" sambung Jelita kembali.
"Cahaya Adhisti?" Jelita membesarkan matanya, kaget begitu mendengar nama Cahaya Adhisti, nama yang sama dengan pembantu baru di rumahnya.
"Iya,Bu? kenapa Ibu terlihat terkejut? apa Ibu mengenalnya?"Ibu Sukma mengrenyitkan keningnya.
"Apa Ibu ada photonya?" bukannya menjawab, Jelita malah meminta photo Cahaya, untuk memastikan apakah Cahaya yang disebutkan oleh Ibu Sukma sama dengan Cahaya yang bekerja di rumahnya.
"Ada,Bu. Tunggu sebentar ya!" Sukma merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Lalu, dia mencari photo Cahaya.
"Ini dia anaknya, Bu, Pak." Suma memperlihatkan photo Cahaya.
Jelita dan Gavin saling silang pandang, kaget setelah mengetahui kalau Cahaya yang dimaksud oleh ibu Sukma ternyata sama dengan yang di rumahnya.
__ADS_1
"Jadi, Cahaya anaknya pak Surya?" gumam Jelita lirih.
"Iya, Bu. Apa Ibu mengenal Cahaya?"
"Iya, Bu Sukma. Dia bekerja di rumahku sekarang. Aku bertemu dengannya di jalan dan dia berkata kalau dia sedangkan mencari pekerjaan. Makanya aku suruh dia datang ke rumah," jelas Jelita dengan perasaan yang sedikit bersalah, karena merasa tidak enak, menjadikan putri penyelamat putranya Gilang, seorang pembantu.
"Jadi, Ibu dan Bapak ini majikannya Cahaya?" Mata ibu Sukma membesar, terkesiap kaget. Wanita itu tidak menyangka kalau Cahaya bekerja di kediaman keluarga Maheswara.
Jelita tidak menjawab, tapi menganggukkan kepala mengiyakan.
"Bagaimana keadaannya sekarang, Bu? apa dia baik-baik saja?" tanya Ibu Sukma antusias.
"Ya, dia baik-baik saja, Bu. Dia anak yang rajin dan pintar memasak," sahut Jelita masih tetap dengan nada yang lirih tidak bersemangat.
"Syukurlah kalau begitu. Dia memang rajin, Bu. Dia juga tidak hanya pintar dalam hal memasak, tapi juga memiliki otak yang cerdas. Setelah lulus SMA 3 tahun yang lalu, ternyata dia mendapatkan beasiswa siswa di universitas ternama. Dia menyembunyikan masalah ini, karena katanya dia tidak mau menyusahkan saya lagi. Katanya, walaupun dia mendapatkan beasiswa, itu hanya biaya kuliah saja, sedangkan untuk yang lainnya pasti masih membutuhkan biaya lagi. Sedangkan kalau untuk bekerja sambil kuliah, sangat tidak mungkin, karena kuliahnya tiap hari dan waktunya kadang pagi, kadang siang." jelas ibu Sukma panjang lebar tanpa jeda. "Dia memutuskan untuk bekerja jadi pembantu pun hanya karena ingin meringankan beban saya dalam mengurus panti ini," sambung ibu Sukma kembali.
"Seperti itu ya,Bu?" Ibu Sukma menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Bagaimana kehidupannya selama ini, Bu?" kali ini Gavin buka suara.
"Dia anaknya selalu terlihat ceria. Walaupun aku tahu kalau dia suka menangis diam-diam. Apalagi kalau pulang sekolah, kalau ditanya tentang sekolahnya dia akan menjawab semuanya baik-baik saja, dengan tersenyum lebar. Namun, ketika masuk ke dalam kamar, aku sering mendengar dia menangis dan mengadu memanggil mama dan papanya. Ternyata di sekolah dia selalu mendapat hinaan dari teman-temannya," papar ibu Suka dengan raut wajah sendu dan mata yang sudah penuh dengan cairan bening yang siap ditumpahkan.
Jelita menghela napasnya dengan berat. Wanita itu kini terlihat semakin sedih, mendengar cerita tentang kehidupan Cahaya. Wanita itu, bahkan terlihat mulai menitikkan air mata.
"Seandainya, tidak ada kejadian itu, pasti sekarang pak Surya masih hidup dan Cahaya tidak mengalami semua hal itu." gumam Jelita yang masih dapat didengar oleh Gavin dan ibu Sukma.
"Jangan menyalahkan yang sudah berlalu, Bu! ini memang sudah takdir dan harus terjadi," hibur ibu Sukma.
"Benar kata ibu Sukma, Sayang. Kamu tidak boleh larut dalam kesedihan terus. Sekarang, kita sudah menemukan Cahaya, jadi sekarang tugas kita untuk memberikan kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan dari kedua orang tuanya," Gavin membelai lembut kepala Jelita.
__ADS_1
Tbc