Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Apakah aku harus menolongnya?


__ADS_3

Dania turun dari dalam sebuah mobil bersama dengan seorang pria di depan rumah sakit tempat Reyna bekerja. Wanita itu sengaja datang di jam makan siang agar tidak menggangu pekerjaan Reyna.


"Reyna!" teriak Dania memanggil wanita yang sedang berjalan keluar dari rumah sakit.


Reyna yang merasa namanya dipanggil sontak menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Wanita itu memicingkan matanya, menatap curiga dengan kedatangan Dania. Namun untuk tidak menimbulkan keributan, Reyna tetap melangkah mendekati Dania.


"Ada apa? kenapa kamu datang kemari?" tanya Reyna dengan sedikit ketus tidak bersahabat.


"Kami jangan seperti itu dong! aku ke sini mau minta maaf padamu. Kemarin aku rasa aku sedikit kasar padamu," ucap Dania memasang wajah memelas.


"Bukan sedikit kasar lagi, tapi memang kasar." sahut Reyna masih memperlihatkan kekesalannya.


"Maaf deh! kamu mau kan memaafkanku?" Dania merengek masih dengan wajah memelas.


Reyna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara. Melihat raut wajah Dania, membuat wanita itu tidak tega dan langsung luluh.


"Iya deh aku maafkan!" pungkas Reyna akhirnya .


"Terima kasih, Reyna! kamu memang selalu baik," Dania tersenyum lebar dan Reyna juga membalas senyuman Dania.


"Oh ya, kamu mau makan siang ya?" tanya Dania dan Reyna menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita ikut?"


"Kita? maksudmu?" Reyna mengrenyitkan keningnya, karena tidak tahu kalau pria yang berdiri di dekat Dania sembari fokus ke handphonenya itu datang bersama Dania.


"Oh iya, kenalkan ini Danar. Dia putra dari klien papa."


Pria yang bernama Danar itu tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Reyna.


"Danar," pria itu buka suara.


"Reyna," Reyna menyambut uluran tangan Danar dan menyebutkan namanya.


"Nama yang cantik, secantik orangnya," puji Danar.


"Terima kasih!" ucap Reyna, cuek.

__ADS_1


"Menarik! aku suka dengan tipe wanita seperti ini. Tidak menyesal aku diajak Dania ke sini," Danar membatin seraya tersenyum penuh makna menatap Reyna.


"Yes! sepertinya Danar tertarik dengan Reyna. Sepertinya rencanaku untuk mendekatkan Reyna dengan pria lain mulai berhasil. Dengan begini kan, Reyna bisa secepatnya melupakan Gilang. Kalau dia masih sendiri, dia pasti akan tetap diam-diam menemui Gilang," batin Dania sembari tersenyum tipis.


"Reyna , jadi kan kita makan siangnya? aku sudah lapar nih," Dania kembali buka suara.


"Ya udah, ayo ikut aku! kita makan di restoran dekat sini aja," Reyna melangkah lebih dulu disusul oleh Dania dan Danar dari belakang.


"Aku suka teman kamu. Dia cantik dan sepertinya buat aku penasaran," bisik Danar tepat di telinga Dania.


"Tenang saja,dia masih sendiri dan aku akan membantumu dekat dengannya," Dania balas berbisik.


"Good!" ucap Danar tersenyum sumringah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Reyna, nanti sore sekitar jam 5 bisa tidak kamu menemaniku makan malam di hotelnya mama? soalnya kalau aku ajak Gilang dia pasti tidak mau," pinta Dania setelah mereka selesai menghabiskan makanan.


Reyna tidak langsung menjawab. Wanita itu berpikir sejenak apakah menuruti permintaan Dania atau menolaknya. Reyna nyaris saja ingin menolak, tapi begitu melihat wajah Dania yang memelas, akhirnya dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah! nanti sepulang kerja aku akan ke sana," pungkas Reyna memutuskan.


"Baiklah! see you nanti sore!" ucap Dania.


"Mari, Danar!" Reyna langsung berlalu pergi setelah pria bernama Danar itu menganggukkan kepalanya.


"Kamu dengar kan tadi? aku sudah memintanya untuk datang ke hotel. Jadi nanti kamu pura-pura ada di hotel itu dan tidak sengaja bertemu dengannya, biar tidak terlalu kelihatan kalau ini semua sudah aku atur. Nanti aku akan. pura-pura tiba-tiba ada kepentingan jadi tidak bisa datang. Nah, di situ kesempatan kamu untuk mengajaknya makan malam. Bagaimana dengan ideku?" Dania tersenyum bangga saat memaparkan rencananya.


"Wah, ide kamu sangat brilian. Terima kasih ya!" ucap Danar tersenyum bahagia membayangkan acara makan malamnya nanti dengan Reyna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore. Pembahasan kerja sama antara perusahaan Gilang dan Randi baru saja selesai. Mereka berdua mengadakan pertemuan di hotel milik Bella.


"Kalau begitu, selamat bekerja sama, Pak Randi. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik," Gilang mengulurkan tangan menjabat tangan Randi.


"Terima kasih atas kepercayaannya Pak Gilang. Aku juga berharap semuanya berjalan dengan lancar," sahut Gilang sembari mengeratkan jabatan tangannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku pulang dulu ya Pak Randi," ucap Gilang sembari melihat ke arah pergelangan tangannya untuk melihat jam tangannya.


"Kenapa buru-buru, Pak? apa kita tidak makan malam dulu di sini?" Randi menawarkan.


"Maaf, Pak Randi sepertinya tidak bisa. Makan malam ku sudah disiapkan di rumah,"


"Oh begitu ya? ya udah Pak Gilang, tidak apa-apa! mungkin lain kali kita bisa makan malam bersama,"


"Sekali lagi maaf ya, Pak Randi,"


"Tidak apa-apa, Pak!" Randi tersenyum, memperlihatkan kalau dirinya tidak ada masalah kalau Gilang pulang.


"Ayo, Bayu kita pulang sekarang!" Gilang mengalihkan tatapannya pada Bayu.


Bayu berdiri dai tempat duduknya."Kami duluan, Pak Randi. Atau Pak Randi mau ikut keluar bersama kami?" tanya Bayu dengan sopan.


"Duluan saja, Pak. Soalnya aku harus ke toilet dulu," tolak Randi.


Gilang dan Bayu akhirnya beranjak pergi dan Randi langsung menuju toilet. Setelah keluar dari toilet, tanpa sadar Randi melihat seorang pria yang meminta seorang pelayan hotel untuk melakukan sesuatu untuknya.


"Aku mau kamu melakukannya," ucap Pria itu dengan nada yang sedikit tinggi.


"Tapi, Tuan. Dia itu teman dekat mbak Dania. Aku tidak mau terlibat masalah nanti," ucap pegawai hotel itu.


"Kamu tenang saja, Dania tidak akan marah ke kamu, karena Dania tahu semua ini," pria itu masih berusaha untuk membujuk.


"Seperti itu ya, Tuan. Baiklah kalau begitu," pungkas pegawai hotel itu akhirnya bersedia melakukan apa yang diminta pria itu.


"Rasain kamu Reyna. Kamu harus bisa aku miliki walaupun harus menggunakan cara paksa. Siapa suruh kamu bersikap acuh padaku," gumam pria yang ternyata Danar itu dengan senyuman licik di sudut bibirnya.


Randi menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka kalau masih ada pria bejat yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Sebaiknya aku tidak perlu ikut campur, karena ini buka urusanku," batin Randi yang hendak beranjak pergi. Namun pria itu kembali berhenti, dilema antara mau menolong wanita yang bernama Reyna itu atau tidak.


"Ini memang bukan urusanku, tapi apa aku tidak merasa berdosa kalau tidak menolong gadis itu, padahal aku sudah kalau ada yang akan berbuat jahat padanya?" bisik Randi pada dirinya sendiri.


"Tapi kalau aku menolongnya, sama aja menambah kerjaan kan?" kembali Randi membantin. Malaikat dan iblis seakan-akan sedang berganti-ganti berbicara di pikirannya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2