Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Sah


__ADS_3

Acara pernikahan Gilang dan Cahaya berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan apapun. Sore tadi mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Yang hadir pada acara itu hanyalah keluarga dan orang-orang terdekat, tidak terkecuali Reynaldi dan Nayla. Reyna tidak hadir bukan karena tidak merestui pernikahan keduanya, tapi demi menghindari agar Dania tidak curiga.


Cahaya masuk ke dalam kamar Gilang yang sudah dipastikan akan menjadi kamarnya juga dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari detak jantung normal.


Matanya mengedar menatap kagum kamar Gilang yang menurutnya sangat mewah.


Suaranya decitan pintu yang dibuka oleh seseorang, membuat Cahaya terlonjak kaget.


"Kamu kenapa?" tanya Gilang, dengan kening yang berkerut melihat raut wajah Cahaya yang pucat.


"Ti-tidak apa-apa, Tuan! a-aku hanya kaget karena tiba-tiba Tuan datang," jawab Cahaya dengan gugup.


" Oh, seperti itu? kenapa kamu belum mandi?" tanya Gilang kembali sembari melihat Cahaya dari atas sampai ke bawah, yang masih mengenakan gaun pengantinnya. Jujur saja, Gilang tidak memungkiri Kalau Cahaya sangat cantik saat mengenakan gaun pengantinnya ditambah dengan riasan yang sederhana. Namun pria itu, sangat gengsi untuk mengungkapkan kekagumannya.


"A-aku tidak tahu mau pakai baju apa. Pakaianku masih ada di kamarku sebelumnya," sahut Cahaya jujur. "Boleh aku turun sebentar untuk mengambilnya?" tanya Cahaya dengan sangat hati-hati.


"Tidak perlu! pakaian kamu sudah dibeli sama mama dan sudah ditaruh di dalam lemari. Mari aku tunjukkan ke kamu!" Gilang berjalan menunju sebuah ruangan yang dinamakan dengan walk ini closet.


"Ini lemari tempat pakaian kamu. Kamu pilih saja mau pakai yang mana," Cahaya membuka lemari dan matanya seketika membesar melihat banyak pakaian baru yang berjejer di dalam lemari itu.


"I-ini semua pakaianku?" tanya Cahaya, tidak percaya.


"Tentu saja itu pakaian kamu. Tidak mungkin kan, pakaianku. Kalau untuk piyama, ada di dalam lemari sebelahnya," Gilang menunjuk ke arah lemari yang masih tertutup.


Cahaya sontak kembali membuka lemari itu dan juga melihat begitu banyak2 piyama wanita sesuai ukurannya.


"Untuk pakaian lainnya, kamu cek sendiri. Pokoknya lemari di barisan ini, milikmu. Yang sebelah sana baru milikku. Lemari yang ada di kamar tidur juga milikku. Tapi, kalau kamu ingin memindahkan sebagian milikmu ke lemari yang ada di sana, aku tidak keberatan," ujar Gilang.


"Sepertinya ini sangat berlebihan, Tuan. Ini terlalu banyak, dan aku tidak tahu kapan aku akan bisa memakai ini semua," ucap Cahaya yang masih setia menatap pakaian yang berjejer di depannya.


"Kalau kamu bingung, kamu bisa memakai tiga lapis sekaligus, biar bisa terpakai semuanya," ucap Gilang dengan raut wajah datar.

__ADS_1


"Heh? tiga lapis?" gumam Cahaya.


"Ah, sudahlah! kamu lebih baik mandi agar pikiranmu segar kembali dan bisa mencerna kata-kata. Aku juga mau mandi di kamar lain,". Gilang berbalik dan berlalu meninggalkan Cahaya yang kebingungan. Tanpa Cahaya sadari, di saat Gilang membelakanginya, pria I tersenyum tipis.


"Tadi dia lagi bercanda atau bagaimana? kalau bercanda, kenapa wajahnya bisa datar kaya jalan tol gitu ya," gumam Cahaya dengan kening yang berkrenyit.


"Ah, sudahlah! lebih baik aku mandi sebelum dia masuk ke kamar lagi nanti," Cahaya meraih sepasang piyama dan juga pakaian dalam yang ternyata juga sudah disediakan. Kemudian wanita itu keluar dari walk in closet dan menuju kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cahaya kini sudah terlihat segar, dan sudah mengenakan piyamanya. Namun wanita itu masih berdiri karena kebingungan mau tidur di mana.


"Di mana aku tidur malam ini? apakah di ranjang itu atau di sofa?" batin Cahaya sembari menatap ranjang dan sofa bergantian.


"Kalau aku di sofa, pasti akan dingin nanti. Tapi kalau ada di ranjang, berarti aku akan berbagi selimut dengan dia. Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?" Cahaya panik sampai tidak sadar sudah menggigit-gigit jarinya.


"Ah, sebaiknya aku di sofa saja. Kalau aku langsung tidur di ranjang, takutnya dia mengira kalau aku lancang," Cahaya akhirnya memutuskan untuk melangkah ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di atas sofa itu.


Benar saja, yang baru saja masuk ke dalam kamar adalah Gilang. Gilang mengrenyitkan keningnya saat melihat Cahaya yang sudah berbaring di atas sofa.


"Kenapa dia tidur di sofa? kenapa tidak di ranjang?" batin Gilang. "Mungkin dia sungkan untuk tidur di atas ranjang. Apa dia benar-benar sudah tertidur? kalau iya, apa yang harus aku lakukan? apa aku harus memindahkannya ke atas ranjang?" batin Gilang sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Sementara itu, Cahaya membuka sedikit matanya, untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Gilang sekarang.


"Sebaiknya aku pindahkan dia saja," Gilang melangkah mendekat ke arah Cahaya, sehingga membuat Cahaya cepat-cepat menutup matanya kembali.


"Mau ngapain dia ke sini? jangan bilang dia mau menyentuhku, diam-diam karena aku sedang tidur. Dasar, pria brengsek, omongannya tidak bisa dipegang.. Awas aja nanti kalau berani macam-macam," Cahaya mengumpat di dalam hati.


Aroma sabun dari tubuh Gilang menyeruak langsung tercium oleh hidung Cahaya, begitu pria itu sudah semakin dekat dengan dirinya.


Detak jantung Cahaya semakin berdetak cepat dan mempersiapkan diri untuk menendang pria itu jika berani macam-macam.


"Mau apa kamu?" Cahaya membuka matanya lebar-lebar, hingga membuat Gilang yang baru saja ingin mengangkat tubuh Cahaya terjungkal ke belakang karena kaget.

__ADS_1


"Kamu belum tidur? kenapa kamu berpura-pura tidur sih? ngagetin aja," protes Gilang sembari memijat-mijat pinggangnya yang sempat terbentur ke lantai.


Cahaya tidak menjawab sama sekali. Nyalinya langsung ciut begitu melihat tatapan Gilang yang tajam.


"Lagian kenapa kamu tidur di sofa? kan ada ranjang di sana," lanjut Gilang lagi, begitu melihat Cahaya yang hanya diam saja dan seperti ketakutan.


"A-aku tidur di sini saja, Tuan. Nyaman kok!" ucap Cahaya dengan gugup.


"Tidak bisa! kamu tidur di ranjang saja, biar kau yang tidur di sofa jika kamu tidak mau tidur di ranjang yang sama denganku,"


"Kenapa kamu masih belum bergerak? kamu pindah ke atas ranjang, biar aku yang di situ,". Gilang menunjuk ke arah sofa.


"Tapi __"


"Tidak ada tapi-tapi! sekarang kamu pindah ke atas ranjang!" titah Gilang yang kali ini dengan tatapan mengintimidasi, karena pria itu tahu, kalau tidak digitukan, Cahaya tidak akan mematuhinya.


Benar saja, Cahaya langsung berdiri dan langsung melangkah cepat ke arah ranjang.


Gilang baru saja hendak membaringkan tubuhnya di atas sofa, tiba-tiba tidak dia urungkan karena mendengar Cahaya yang kembali bersuara.


"Tuan, jangan tidur di sofa. Tidur saja di ranjang bersamaku. Aku sama sekali tidak keberatan," ucap Cahaya dengan sangat hati-hati karena tiba-tiba merasa tidak tega membiarkan Gilang tidur di sofa.


"Hmm,apa kamu serius membiarkanku tidur di sana bersamamu?" tanya Gilang memastikan dan Cahaya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Tidak apa-apa, Tuan! yang penting jangan apa-apakan aku dulu, karena aku belum siap,"


"Kamu tenang saja, aku juga belum siap untuk melakukannya," sahut Gilang sembari melangkah mendekat ke arah ranjang.


Tbc


Jangan lupa untuk tetap meninggalkan jejaknya ya guys. Thank you 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2