
Randi merasa tidak bersemangat hari ini karena tidak melihat Cahaya. Namun pria itu berusaha untuk tetap bersikap profesional saat memberikan kuliah.
"Baiklah, waktunya sudah habis, sampai jumpa minggu depan. Aku harap tugas yang sudah aku berikan bisa dikumpulkan dengan cepat, dan letakkan di atas mejaku, terima kasih!" pungkas Randi mengakhiri mata kuliahnya.
Pria itu, merogoh handphonenya yang tadi sempat berbunyi. Dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Bayu, yang menginformasikan, kalau pertemuan mereka dipindahkan ke sebuah restoran yang pernah dia janjian makan siang dengan Reyna dulu.
Randi melirik jam tangannya dan melihat kalau sudah hampir jam makan siang. Pria itupun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kampus dan langsung menuju restoran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Gilang dan Cahaya sudah berada di restoran menunggu kedatangan Bayu dan Randi. Karena tadi, Gilang memutuskan untuk tidak ke kantor lagi dan langsung menuju restoran.
"Mas, bukannya restoran ini dekat sama rumah sakit, tempat kak Reyna bekerja ya?" tanya Cahaya.
"Iya, emangnya kenapa?" Gilang mengrenyitkan keningnya.
"Kamu sengaja ya, janjiannya di sini, untuk mengenang masa lalu? kalian pasti sering kan di sini?" entah kenapa ada perasaan tidak suka di hati Cahaya, tapi dia belum bisa menyimpulkan kalau itu perasaan cemburu atau bukan.
"Tidak sama sekali! jawab Gilang tegas.
"Ah, bohong pasti," sahut Cahaya tidak percaya.
"Aku sama sekali tidak berbohong. Apa kamu lupa kalau hubungan kami berakhir sebelum dia menjadi dokter di rumah sakit. Kami memiliki hubungan pada saat masih kuliah saat itu. Semenjak kami tidak memiliki hubungan lagi, kami tidak pernah pergi berdua lagi, karena selalu diawasi sama Dania," terang Gilang. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? apa kamu cemburu?" sambung Gilang, menggoda.
"Cemburu? tidak sama sekali," sangkal Cahaya dengan gugup.
"Oh, tidak ya aku kira__"
"Hai, Lang sudah lama ya?" tiba-tiba Bayu muncul, hingga membuat Gilang tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Belum terlalu lama?" sahut Gilang.
"Oh, syukurlah!" sahut Bayu sembari memperhatikan Cahaya dengan intens.
"Hei, jauhkan pandanganmu! kenapa kamu menatap Cahaya sampai segitunya?" ucap Gilang dengan tatapan tajam.
"Aku hanya ingin melihat apakah kamu meninggalkan jejak di lehernya atau tidak." ucap Bayu tanpa sungkan.
__ADS_1
Sementara itu, wajah Cahaya langsung berubah merah mendengar ucapan Bayu.
"Emm, Mas aku ke toilet dulu ya!" Cahaya berdiri dari kursinya.
"Apa kamu perlu ditemani?"
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri. Kamu temani kak Bayu aja," jawab Cahaya,tersenyum tipis.
"Baiklah,kalau begitu! hati-hati ya!" Cahaya menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi. Cara jalan Cahaya sedikit berbeda dari sebelumnya, walaupun wanita itu berusaha untuk berjalan dengan normal.
"Apaan sih kamu? kenapa kamu harus ngomong seperti itu? lihat istriku jadi malu," protes Gilang.
"Cie, istriku ya sekarang. Dulu aja masih nyebut nama Cahaya," ledek Bayu tidak merasa takut dengan tatapan Gilang yang sudah dia anggap biasa. "Oh ya, berapa ronde tadi malam? pasti banyak ya? soalnya cara jalan Cahaya jadi beda," Bayu masih melanjutkan ledekannya.
"Kalau kamu masih mau membicarakan hal itu, silahkan angkat kaki dari sini! aku bisa menangani sendiri masalah kerja sama ini dengan Randi," Gilang tampak sudah mulai sangat kesal.
"Iya deh, aku diam. Aku tadi cuma bercanda, Lang. Masa begitu aja marah," ucap Bayu.
"Becandamu sama sekali tidak lucu," rasa kesal Gilang sama sekali belum hilang.
"Iya deh sekali lagi aku minta maaf! ujar Bayu, serius. "Oh ya, apa kalian sudah pesan makanan?" tanya Bayu mengalihkan pembicaraan.
"Tadi terakhir telepon, katanya dia sudah dalam perjalanan. Kemungkinan sebentar lagi akan sampai," sahut Bayu. "Tuh dia datang!" Bayu menunjuk ke arah Randi yang baru saja masuk.
Bayu seketika berdiri dari kursinya dan melambaikan tangan ke atas Randi yang terlihat celingukan mencari keberadaan mereka.
Setelah Randi sedang berjalan menghampiri mereka, Bayu pun kembali duduk.
"Hai,maaf,aku lama ya datangnya?" sapa Randi sembari menjabat tangan Gilang dan Bayu.
"Tidak pa-pa Pak Randi! aku juga baru data yang kok," sahut Bayu.
"Syukurlah!" ucap Randi, sembari menyunggingkan senyumnya.
Karena Randi sudah datang, Gilang melambaikan tangannya, untuk memanggil pelayan.
Pelayan yang dipanggil oleh Gilang sontak mendekat dan bertanya apa yang akan dipesan oleh pria itu dan dua temannya.
__ADS_1
"Sudah, Mbak! itu saja." ucap Gilang setelah selesai menyebutkan pesanannya.
"Banyak sekali yang kamu pesan,Lang? apa kamu sanggup menghabiskannya nanti?" Randi mengerenyitkan keningnya.
"Bukan hanya untukku Ran. Ada satu orang lagi, dan dia sekarang di toilet. Paling sebentar lagi dia akan datang," Randi menganggukkan kepalanya, mengerti dengan ucapan Gilang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya keluar dari dalam toilet dan menarik napas dalam-dalam, berharap
tidak mendengar lagi ledekan Bayu nanti.
Wanita itu berjalan kembali menuju tempat Gilang dan Bayu. Cahaya mengrenyitkan keningnya, begitu melihat sudah ada sosok pria lain yang duduk di meja suaminya.
"Oh,itu pasti orang yang akan bekerja sama dengan mas Gilang? dari postur badan dan model rambut, sepertinya aku kenal," batin Cahaya, menduga-duga, karena sosok pria membelakanginya.
"Ah, sudahlah! itu pasti bukan orang yang aku kenal," ucap Cahaya sembari berjalan kembali menghampiri meja Gilang.
Tanpa melihat ke arah Randi, Cahaya langsung duduk di samping Gilang.
"Cahaya?" panggil Randi dengan kening berkerut.
Merasa namanya dipanggil, Cahaya sontak menoleh ke arah Randi. Mata wanita itu membesar, tidak kalah kagetnya dengan Randi.
"P-Pak Randi?" ucap Cahaya, gugup dengan raut wajah yang berubah pucat.
"Kalian saling kenal?" Gilang mengrenyitkan keningnya, curiga.
"Iya. Dia mahasiswaku," jawab Randi tegas. "Hari ini kamu tidak masuk, aku kira kamu lagi sakit, ternyata kamu ada di sini dengan majikanmu," ucap Randi dengan nada yang sedikit sinis.
"Apa maksud kamu mengatakan seperti itu?" Gilang terlihat tidak senang.
"Kenapa? sepertinya Pak Gilang terlihat tidak senang. Aku kan ngomong yang sebenarnya kalau kamu majikannya Cahaya? Atau jangan-jangan kalian berdua sudah menjalin hubungan?" tukas Randi dengan tersenyum sinis. "Ingat Pak Gilang, kamu sudah memiliki tunangan, jadi tolong jangan mendekati Cahaya lagi. Dan kamu Cahaya, kamu tahu sendiri kan kalau Gilang sudah memiliki tunangan, jadi sebaiknya kamu jangan berharap lebih pada Gilang. Aku sarankan kamu sebaiknya jangan mencoba bermain api, kalau tidak nanti kamu akan terbakar sendiri," tutur Randi panjang lebar.
"Tolong jaga lisan kamu, Pak Randi? Aku ini bukan majikan Cahaya,tapi aku ini ...." Gilang menggantung ucapannya karena melihat Cahaya yang menggeleng-gelengkan kepala, pertanda agar pria itu tidak memberitahukan status mereka yang sebenarnya.
"Cahaya apa? simpananmu?" Randi masih tetap menyindir.
__ADS_1
"Dia bukan pembantuku maupun simpananku, tapi dia itu istriku," tegas Gilang, tidak mengindahkan permintaan Cahaya.
Tbc