
"I-istri?" gumam Dania masih berusaha mencerna ucapan Gavin.
"Ya, Cahaya menantu keluarga Maheswara, bukan pembantu di rumah ini," Gavin kembali menegaskan status Cahaya.
"Ti-tidak mungkin! Om pasti bohong kan? Om ini sama sekali tidak lucu," ucap Dania dengan suara yang bergetar.
"Om sama sekali tidak bohong ataupun bercanda. Cahaya memang menantu kami dan sudah hampir sebulan menikah dengan Gilang," jawab Gavin lagi.
"Aku sama sekali tetap tidak percaya!" tegas Dania.
"Emang siapa yang mau peduli kamu percaya atau tidak? yang jelas, sekarang Cahaya itu istrinya Gilang," cetus Melinda yang mulai jengah melihat Dania yang keras kepala.
Gavin menghela napasnya dan merogoh saku celananya untuk mengeluarkan Handphone dari dalamnya. Kemudian, pria itu membuka galeri dan menghampiri Dania.
"Ini bukti kalau Gilang sudah menikah dengan Cahaya. Jadi Om sama sekali tidak berbohong," ucap Gavin.
Dania menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu masih belum sepenuhnya percaya. Kemudian, dia menghampiri Jelita karena dia tahu kalau selama ini yang selalu bersikap baik padanya hanya wanita yang melahirkan Gilang itu. Dia yakin kalau Jelita akan menyangkal ucapan Gavin suaminya.
"Tan, apa yang dikatakan sama Om Gavin itu tidak benarkan?" tanya Dania penuh harap kalau mamanya Gavin itu mengiyakan pernyataannya dan membantah pernyataan suaminya.
"Maaf, Dania! apa yang dikatakan sama Om mu itu benar, Cahaya adalah istri sah Gilang," ucap Jelita sembari menghampiri Cahaya.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Jelita dengan lembut pada Cahaya.
"Aku tidak apa-apa, Ma!" jawab Cahaya sembari tersenyum. Entah kenapa ada perasaan lega yang muncul di dalam hatinya ketika yang membongkar pernikahannya dengan Gilang bukan dia melainkan kedua mertuanya dan Oma Melinda.
__ADS_1
Harapan Dania seketika patah seiring dia mendengar jawaban yang diberikan oleh Jelita, apalagi begitu mendengar Cahaya memanggil mama pada Cahaya.
Dania yang tadinya berdiri seketika tersungkur dan terduduk di lantai.
"Bagaimana kalian tega melakukan hal ini padaku? yang jadi tunangan Gilang itu aku, tapi kenapa kalian menikahkan Gilang dengan pembantu itu?" ujar Dania sembari menangis sesenggukan.
"Maaf, Dania, Ini semua permintaan Gilang. Om hanya ingin anak Om bahagia dengan pilihannya, sedangkan ke kamu, Gilang sama sekali tidak bisa mencintaimu," jelas Gavin. Sebenarnya dia tidak tega melihat Dania menangis, tapi mau bagaimanapun dia harus tega,. karena tidak mungkin selamanya pernikahan Gilang dan Cahaya ditutup-tutupi.
"Tidak! Gilang hanya belum mencintaiku, bukan tidak mencintaiku. Suatu saat aku yakin kata belum itu bisa berupa menjadi sudah, Om? Hanya satu yang harus dilakukan oleh Gilang yaitu 'belajar mencintaiku'. Selama ini, dia sama sekali belum pernah mencoba belajar untuk mencintaiku!" bantah Dania tidak terima ucapan Gavin.
"Mau sekeras apapun Gilang belajar, aku yakin kalau kamu tidak akan bisa membuatnya cinta padamu, karena sikap manja dan egoismu yang tinggi," cetus Melinda buka suara.
"Kenapa sih Oma selalu bersikap sinis padaku? padahal aku sama sekali tidak pernah bersikap kasar pada Oma?" Dania sudah kembali berdiri.
Dania mengepalkan tangannya, sangat marah mendengar ucapan Oma Melinda. Namun dia masih berusaha untuk menahan diri untuk tidak memaki wanita tua itu, untuk menarik simpati dari kedua orang tua Gilang. Dia berharap dengan sikapnya yang terlihat sabar bisa membuat Gavin dan Jelita menganggapnya wanita baik dan sabar.
"Om,Tante. Walaupun Gilang sudah menikah dengan Cahaya, aku mohon agar Oma dan Tante menceraikan mereka. Cahaya itu tidak mencintai Gilang seperti aku. Aku yakin kalau dia hanya mau harta keluarga ini, Om. Tolong percaya padaku!" Dania mencoba untuk membujuk Gavin dan Jelita.
"Nak Dania. Cahaya bukan orang seperti itu. Kami mohon agar kamu merelakan Gilang dengan Cahaya, karena bagaimanapun mereka berdua sudah sah menjadi suami istri," Jelita masih berusaha untuk bersikap lembut.
"Tidak! tidak akan! Gilang itu hanya bisa menjadi milikku. Kalau aku tidak bisa memilikinya, berarti siapapun tidak boleh!"Dania tiba-tiba histeris.
"Dasar wanita brengsek,murahan! ini semua gara-gara kamu, pergilah kamu ke neraka!" teriaknya sembari menghambur ke arah Cahaya. Beruntung Gavin sudah waspada dari tadi dan membaca pergerakan Dania. Dia tahu kalau Dania itu wanita yang nekad.
"Dania! Om dari tadi sudah berusaha untuk bicara baik-baik denganmu, tapi kamu sama sekali tidak mengindahkannya. Jangan coba-coba melakukan hal jahat apapun pada Cahaya!Ingat Dania, kamu itu tidak pernah mencintai Gilang, kamu hanya terobsesi padanya,"
__ADS_1
"Hahahaha! Dania tiba-tiba tertawa, membuat siapapun yang melihatnya merasa ngeri.
"Om, asal kalian tahu, yang jadi lawan Cahaya dan Gilang sekarang bukan hanya aku, tapi juga Reyna. Apa Om tahu, kalau dulu Gilang dan Reyna menjalin hubungan sebagai kekasih? tapi karena dia tahu aku mencintai Gilang, Reyna akhirnya mengiklaskannya padaku. Apa menurut Om, Reyna akan tinggal diam, karena merasa pengorbanannya sia-sia? dia pasti akan sangat marah, Om,karena dia sangat menyayangiku sebagai sahabat. Hati-hati saja Om. Kami berdua tidak akan tinggal diam. Bahkan Om Reynaldi dan Tante Nayla akan membenci Om dan Tante. Eh, bukan hanya mereka, papaku juga akan membenci kalian semua. Jadi, siap-siap aja, Om akan kehilangan sahabat," tutur Dania panjang lebar.
"Kami sudah tahu hubungan mereka berdua dan tentang yang sudah terjadi, tapi satu hal yang harus kamu ingat, Reyna tidak sama dengan kamu. Sebelum Gilang menikahi Cahaya, dia sudah meminta izin lebih dulu pada Reyna."
Bagaikan petir di siang bolong, Dania tersentak kaget mendengar penuturan Gavin.
"Ja-jadi Reyna juga sudah tahu tentang semua ini dan dia menutupinya dariku? bagaimana bisa? i-ini sama sekali tidak mungkin," ujar Dania sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak percaya.
"Kamu harusnya instrospeksi diri, kenapa Reyna bisa bersikap seperti itu padamu," celetuk Melinda, ketus.
"Untuk Reynaldi dan Nayla,aku berani jamin kalau mereka tidak akan membenciku karena mereka juga sudah tahu semuanya sudah sejak lama, tapi mereka begitu bijaksana, Dania. Apa kau tadi tidak melihat mereka berdua ada di pernikahan Gilang?" lanjut Gavin kembali. Dia sengaja tidak memberitahukan kalau sebenarnya Denis dan Bella selaku orang tua Dania juga sudah tahu.
"Kalian semua jahat!" teriak Dania sembari berlari keluar dari dalam kamar.
Wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan menangis sesenggukan. "Aku tidak mau hidup lagi kalau begini. Lebih baik aku mati biar mereka semua puas," teriak Dania sembari memukul-mukulkan kepalanya ke kemudi mobilnya.
"Tidak! aku tidak boleh mati. Kalau aku mati justru akan membuat mereka semakin senang kan? mereka bahagia dan aku mati sia-sia. Aku tidak mau mejadi orang bodoh yang menghabisi nyawa sendiri," Dania mencengkram kemudi dengan sangat kencang. Aura wajahnya terlihat penuh dengan kemarahan dan dendam.
"Beraninya kalian semua mempermainkanku. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Akan kubuat kalian semua menyesal atas semua yang kalian lakukan padaku! tunggu saja apa yang bisa aku lakukan," tekadnya dalam hati dengan sorot mata yang sangat dingin dan tajam.
"Lihat juga Cahaya, aku tidak akan membiarkan kamu bisa hidup tenang!" Ucap Dania lagi sembari menjalankan mobilnya, meninggalkan area rumah Gilang, dengan membawa rasa sakit dan dendam.
Tbc
__ADS_1