
"Tan, Om kapan sih aku dan Gilang menikah?" tanya Dania dengan nada yang sangat manja sambil bergelayut di lengan Jelita. Karena papanya gagal bukan berarti Dania menyerah. Wanita itu berpikir, kalau dia yang datang sendiri untuk meminta, Gavin dan Jelita pasti mau meminta Gilang untuk menikahinya. Walaupun dia tahu kalau dirinya sedang mempertaruhkan harga dirinya di sini. Baginya menikah dengan Gilang lebih penting dibandingkan dengan harga dirinya.
"Maaf, Nak Dania. Tentang hal itu kami tidak mau ikut campur. Biarlah Gilang yang memutuskan semuanya karena kelak dia lah yang akan menjalaninya," sahut Gavin diplomatis.
"Lagian kenapa sih kamu ngebet banget mau menikah dengan kak Gilang? sampai-sampai hampir tiap hari datang ke sini, benar-benar kurang kerjaan dan tidak tahu malu. Udah tahu dicuekin, tapi masih saja memaksakan diri," celetuk Grizelle dengan menyelipkan sebuah sindiran pada ucapannya.
"Zell!" Jelita menatap putrinya dengan tatapan yang mengisyaratkan tidak suka dengan sikap kurang ajar putrinya itu.
"Maaf, Ma! habisnya aku benar-benar muak dan kesal dengan sikapnya. Kalau aku dia, begitu aku tahu aku sama sekali tidak dinginkan lebih baik aku mundur dan mencari kebahagiaanku yang lain,"
"Zell!" kali ini Gavin yang buka suara menegur putrinya itu.
"Kenapa sih kamu sama Oma tidak menyukaiku? padahal selama ini sekalipun aku tidak pernah membalas perkataan kalian?" ucap Dania dengan memasang wajah memelas.
" Secara langsung kamu memang tidak membalas, karena mau menunjukan kalau kamu perempuan baik, tapi Oma tahu, kalau kamu pasti memaki kami dalam hati," celetuk Melinda, dengan tatapan sinis.
Dania seketika terdiam. "Kenapa si tua bangka ini bisa tahu ? dia cenayang ya?" bisik Dania pada dirinya sendiri.
"Emm, jangan asal menuduh,Oma. Aku sala sekali tidak pernah begitu," Dania berusaha menyangkal.
"Oma bukan orang bodoh. Oma sudah banyak mengenal karakter orang, dan Oma sudah hapal dengan karakter seperti kamu," Melinda berdiri dan langsung berlalu setelah menyelesaikan ucapannya.
"Ma, Pa, aku juga mau pergi dulu. Hawanya benar-benar panas di sini," Grizelle juga ikut berdiri dan berlalu menyusul omanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Reyna kini sudah berdiri di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi, yang tertulis jelas namanya 'The Sky group' Entah angin apa yang membawa wanita itu menyusul Gilang ke kantor.
Wanita itu berjalan masuk dan langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai tempat ruangan Gilang berada, tanpa melalui resepsionis terlebih dulu.
Kini Reyna sudah berdiri di depan ruangan Gilang. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, wanita itu langsung masuk begitu saja.
"Kenapa kamu tidak mengetuk pin ...." Gilang menggantung ucapannya begitu melihat yang baru saja masuk adalah Reyna.
__ADS_1
"Reyna? kenapa kamu bisa datang ke sini? ada perlu apa?" Gilang mengrenyitkan keningnya, bingung. Apalagi ketika Reyna melepaskan kaca mata hitamnya, dia melihat mata wanita itu sembab seperti habis menangis.
"Kamu kenapa? kamu baru menangis ya? apa kamu ada masalah?" tanya Gilang dengan beruntun, khawatir.
Reyna tidak langsung menjawab. Air mata wanita itu justru semakin mengalir deras ketika mendengar rentetan pertanyaan Gilang, yang menandakan kalau pria itu masih khawatir tentang dirinya.
"Jawab, Reyna! kenapa kamu menangis? apa ada yang membuatmu sedih?" kembali, Gilang bertanya.
"Iya, ada! kamu yang membuat aku sedih," sahut Reyna di sela-sela Isak tangisnya.
"Aku? apa yang sudah aku perbuat?" Gilang mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Aku melihat interaksi kamu dan Cahaya tadi ketika kamu mau berangkat kerja, Lang. Kamu tahu nggak rasanya sakit. Aku benar-benar tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau hatiku hancur melihatnya," Reyna terlihat mulai emosional. Wanita itu bahkan sampai berjongkok sembari memegang dadanya.
Gilang benar-benar tersentak kaget dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Reyna.
Pria itu kemudian menghampiri Reyna dan membantu wanita itu untuk berdiri. Kemudian, dia mengajak Reyna untuk duduk di sofa.
"Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu? bukannya kamu sudah tahu kalau aku dan Cahaya sudah menikah? bukannya kamu sudah merestuinya?" tanya Gilang, dengan lembut.
Gilang tertegun, diam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sungguh hatinya juga merasa sakit melihat wanita yang masih dicintainya itu menangis
"Ketika kamu bersama Dania, aku tidak merasa sakit, karena aku tahu walaupun kamu bersamanya tapi perasaanmu masih tetap padaku, tapi entah kenapa ketika aku melihat kamu dan Cahaya tadi, entah kenapa aku merasa kalau dalam waktu dekat, dia akan bisa menggantikan aku di hatimu. Pemikiran itu benar-benar membuatku sakit, Lang." tutur Reyna masih disertai dengan Isak tangisnya.
"Reyna, kenapa kamu bisa seperti ini? bukannya seharusnya kamu harus mendukung dan mendoakan aku agar bisa menerima Cahaya dengan iklas ya?"
"Awalnya begitu, Lang. Tapi aku benar-benar tidak sanggup. Kejadian tadi pagi benar-benar membuatku menyadari kalau aku benar-benar belum bisa ikhlas melepasmu,"
Gilang menghela napasnya dengan berat. "Mau bagaimana lagi? semuanya sudah terlanjur, Reyna. Aku bukan pria lajang lagi aku sudah beristri sekarang. Aku tidak mau mempermainkan yang namanya pernikahan," tutur Gilang yang membuat Reyna semakin menangis sesunggukan.
"Kamu jahat! Cahaya benar-benar bisa membuatmu melupakanku," Reyna memukul-mukul dada Gilang dan pria itu berusaha untuk menangkap tangan wanita itu.
"Reyna, sadarlah! di mana Reyna yang dulu kukenal? dimana Reyna yang tidak egois?" bentak Gilang, berusaha menenangkan Reyna.
__ADS_1
Reyna terdiam sembari menyeka air matanya yang tidak berhenti mengalir. Melihat hal itu, Gilang menarik tubuh Reyna dan memeluknya.
Brakk
Seseorang membuka pintu dengan keras, hingga membuat Gilang dan Reyna tersentak kaget.
Tampak Dania berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu dan mata yang memerah, melihat Reyna yang berada dalam pelukan Gilang. Ya, orang suruhannya untuk mengawasi pergerakan Reyna, mengabarinya kalau Reyna pergi menemui Gilang ke kantor. Hal itu tentu saja membuat Dania murka dan langsung pamit pulang pada Gavin dan Jelita.
"Reyna! apa-apaan kamu? hah! beraninya kamu menemui Gilang di belakangku!" dengan kasar, Dania menarik tangan Reyna agar menjauh dari Gilang.
Reyna merasa tidak terima. Wanita itu sontak mendorong tubuh Dania hingga terjatuh ke lantai.
"Kenapa? kamu mau bilang kalau aku menghinatimu? asal kamu tahu, kamu yang sudah mengambil Gilang dariku. Asal kamu tahu juga, sekuat apapun kamu ingin memilikinya, kamu tidak akan bisa. Jangankan untuk memiliki hatinya, untuk memiliki tubuhnya saja kamu tidak akan pernah bisa," ucap Reyna dengan nada yang berapi-api.
Gilang sontak berdiri dan menarik tangan Reyna. Pria itu benar-benar takut kalau Reyna keceplosan memberitahukan pada Dania kalau dia sudah menikah dengan Cahaya. Hal itu tentu saja membuat Dania semakin meradang melihat Gilang yang sama sekali tidak membantunya untuk berdiri.
"Gilang! tunangan kamu itu aku, bukan dia! harusnya kamu mengusirnya karena sudah mendorongku sampai aku jatuh!" protes Dania dengan suara yang tinggi.
"Itu pantas kamu dapatkan, karena kamu yang memulainya," jawab Gilang ketus.
"Asal kamu tahu, kamu kira aku tidak tahu apa tujuan kamu selalu mengajakku pagi-pagi ke rumah Gilang? kamu ingin menunjukkan padaku kedekatanmu dengan Tante Jelita dan Om Gavin kan? kamu ingin aku melihat kalau kamu itu sudah dianggap menantu oleh mereka. Tapi, asal kamu tahu, kamu itu sedang mempertontonkan kegagalanmu. Aku benar-benar sudah tidak bisa bersabar lagi menghadapi sikap egoismu Dania. Apa kamu kira aku juga tidak tahu kalau kamu menyuruh orang untuk mengawasiku? kamu benar-benar gila, tahu nggak!" ucap Reyna dengan nada berapi-api, mengungkapkan semua kekesalannya selama ini.
Dania bergeming, tidak bisa membantah semua yang diucapkan oleh Reyna, karena memang benar adanya.
"Reyna, sudahlah! tahan emosimu. Sekarang sebaiknya kamu pulang untuk menenangkan diri," ucap Gilang dengan lembut.
Reyna tidak menjawab, tapi dia tetap melangkah keluar dari ruangan Gilang.
"Reyna, tunggu! aku belum selesai bicara!" seru Dania, memanggil Reyna.Akan tetapi Reyna tidak berhenti sama sekali. Wanita itu tetap melanjutkan langkahnya.
"Gilang! kenapa kamu tidak bisa mencintaiku? apa kurangnya aku padamu?" tanya Dania setelah tidak berhasil menahan Reyna.
"Aku tidak punya waktu untuk membahasnya. Itu ada pintu, kamu silakan keluar dari sana!" Gilang menunjuk ke arah pintu.
__ADS_1
Tbc