Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Kejutan Gilang


__ADS_3

Cahaya masuk ke dalam kamar setelah selesai membantu Rini mencuci piring bekas makan malam. Sedangkan Gilang sudah lebih dulu berada di dalam kamar.


Cahaya melihat Gilang sedang duduk di atas ranjang dengan sebuah laptop yang diletakkan dia atas pahanya. Sepertinya pria itu sedang sangat serius mengerjakan sesuatu di sana, sampai-sampai dia seperti tidak menyadari kehadiran Cahaya. Setidaknya seperti itu lah menurut pemikiran Cahaya.


Cahaya memilih untuk tidak mengajak pria itu bicara. Wanita itu langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi, seperti biasa ingin menggosok giginya.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Cahaya pun keluar dari dalam kamar mandi, dan masih melihat Gilang berkutat dengan laptopnya. Hal itu membuat Cahaya merasa canggung ingin naik ke atas ranjang.


"Kenapa kamu masih berdiri di sana? apa kamu tidak capek berdiri?" Gilang buka suara dengan mata yang masih fokus ke layar monitor di depannya.


Cahaya tersentak kaget, tidak menyangka kalau ternyata Gilang menyadari kehadirannya. Wanita itupun kemudian melangkah dan naik ke atas ranjang dengan sangat hati-hati.


Gilang, menutup laptopnya dan meletakkannya di atas nakas. Kemudian pria itu meraih sebuah map dari atas nakas dan membawanya naik ke atas ranjang kembali.


"Ini untuk kamu?" Gilang menyerahkan map yang ada di tangannya ke tangan Cahaya.


Cahaya mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Apa ini? tanyanya sembari menatap Gilang dengan tatapan penuh tanya.


"Buka, dan kamu lihat sendiri!" titah Gilang dengan raut wajah datar.


Jantung Cahaya berdetak dengan cepat. Seketika pikiran negatif langsung memenuhi pikirannya.


"Apa isinya surat cerai? apa dia berubah pikiran dan langsung menceraikanku? astaga, apa aku akan jadi janda secepat ini?" Cahaya mulai over thinking.


"Kenapa kamu masih belum membukanya? bukalah, tidak ada sesuatu yang mengerikan di dalam itu," Gilang kembali buka suara, menyadarkan Cahaya dari lamunannya.


"Eh, i-iya, Mas," sahut Cahaya sembari membuka map itu dengan perlahan.


Mata Cahaya seketika membesar melihat isinya yang ternyata di dalamnya ada lembaran yang sampulnya berwarna hijau dan ada tulisan 'Sertifikat' di atasnya. Cahaya sontak membuka lembaran di dalamnya dan seketika matanya langsung berkaca-kaca, karena yang ada di tangannya itu adalah sertifikat rumah orang tuanya yang sudah dijual oleh Om dan tantenya.


"I-ini ... apa ini benaran, Mas?" tanya Cahaya dengan suara yang bergetar.


"Tentu saja benar. Bukannya aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan ingkar janji," jawab Gilang santai.


"Tapi, kenapa bisa secepat ini?" tanya Cahaya lagi dengan air mata yang sudah merembes keluar. Air mata bahagia dan terharu.


"Setelah kamu menyetujui menikah denganku, aku langsung meminta Bayu untuk mengurus segalanya. Kebetulan yang membeli rumah orang tuamu itu sangat mudah diajak kerja sama," jelas Gilang, lugas.


Cahaya tanpa sadar langsung menghambur memeluk Gilang. " Terima kasih,Mas. Terima kasih banyak!" ujar Cahaya.

__ADS_1


Gilang benar-benar kaget dengan reaksi Cahaya yang tiba-tiba memeluknya. Pria itu bingung membiarkan pelukan itu atau membalasnya. Ketika Gilang memutuskan hendak membalas pelukan Cahaya, tiba-tiba wanita yang memeluknya itu menarik diri menjauh dari tubuhnya.


"Ma-Maaf, Mas! aku tidak sengaja memelukmu," ucap Cahaya dengan raut wajah panik, takut kalau Gilang marah atas kelancangannya.


"Tidak apa-apa! santai saja," sahut Gilang dengan jantung yang tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat.


Suasana awkward tiba-tiba terjadi di antara sepasang suami istri itu, karena insiden pelukan Cahaya yang tiba-tiba.


"Ehem, ehem ...." Gilang berdehem untuk mencairkan situasi awkward yang terjadi. Pria itu kembali turun dari atas ranjang dan menarik laci nakas. Kemudian pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam. Tanpa sengaja mata Gilang menangkap sebuah pemandangan yang membuatnya bingung


Pria itu meraih benda yang membuatnya bingung itu, yang tidak lain adalah handphone butut Cahaya. Kemudian kertas yang diambilnya pertama kali, diletakkannya di atas meja. Hal yang paling penting sekarang baginya adalah mengetahui benda apa yang dipegangnya itu.


"Apa ini?" Gilang menunjukkan benda yang dipegangnya itu ke arah Cahaya.


"I-itu handphoneku," jawab Cahaya yang masih sedikit canggung.


"Handphone? apa ada handphone yang bentuknya seperti ini?" Gilang membolak-balikkan benda yang kata Cahaya handphone itu dengan kening yang berkerut.


"Adalah. Mas kan orang kaya, jadi gak mungkin pernah melihat handphone seperti itu," jawab Cahaya sedikit kesal melihat raut wajah suaminya yang sepertinya meremehkan handphone miliknya.


"Tapi, kenapa mesti diikat karet dapur? apa memang dibelinya dulu, sudah ada karetnya juga?" Gilang benar-benar penasaran. Karena seumur-umur, handphone yang paling murah yang dia tahu adalah handphone brand x yang yang merupakan android juga.


"Emm ... itu ... itu karena casingnya longgar, Mas. Jadi harus diikat karet seperti itu," jawab Cahaya dengan nada lirih.


Gilang terdiam. Ingin rasanya pria itu tertawa tapi berusaha dia tahan karena takut Cahaya tersinggung.


"Kalau mau tertawa, tertawa aja, Mas. Nggak usah ditahan," Cahaya mengerucutkan bibirnya, kesal. Entah karena sudah merasa nyaman, wanita itu mulai memperlihatkan sisi manjanya.


"Nggak! siapa yang mau tertawa?" sangkal Gilang dengan cepat.


Cahaya mendegus, tidak percaya dengan ucapan Gilang.


"Apa ini bisa internetan?" tanya Gilang kembali.


Cahaya Tidak menjawab. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Jadi, bisanya apa?"


"Bisanya, telpon dan SMS aja," jawab Cahaya singkat.


"Oh, begitu ya?" Gilang mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.

__ADS_1


"Kalau bisanya hanya telpon dan SMS, cara dia mendapatkan hiburan bagaimana?" tanya Gilang yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Oh ya, aku lupa! ini ada lagi buat kamu," Gilang meraih kertas yang tadi dia letakkan di atas nakas dan memberikannya pada Cahaya.


"Apalagi ini, Mas?"


"Kamu lihat aja sendiri!"


Cahaya membaca apa yang tertera di lembaran kertas itu. Lagi-lagi mata wanita itu membesar.


"Mas, ini ...." Cahaya menggantung ucapannya karena tidak sanggup melanjutkan. Bagaimana tidak, di kertas itu tertera kalau dirinya akan kuliah di universitas ternama, tempat dia mendapatkan beasiswa dulu.


"Iya, kamu kuliah lagi. Aku tahu kalau dulu kamu mendapatkan beasiswa di universitas itu, tapi kamu tolak. Kali ini, karena batas bea siswa nya sudah kaladuawarsa, ya kamu pakai jalur pribadi, dan aku akan menanggung semua biayanya," jelas Gilang, yang sontak membuat air mata Cahaya kembali menetes.


"Aku tahu, kamu sangat ingin berkuliah kan? kebetulan kamu juga pasti bosan di rumah kai nggak melakukan apa-apa, jadi sebaiknya kamu kuliah saja. Kalau kuliahkan tidak ada batasan umur," sambung Gilang kembali.


Cahaya sontak berdiri dan menghambur memeluk Gilang kembali.


"Sekali lagi, terima kasih, Mas!" ucap Cahaya dengan tulus.


"Sudah, sekarang sebaiknya kamu tidur dulu! ada sesuatu yang masih harus aku kerjakan," pungkas Gilang berusaha menetralkan detak jantungnya. Pria itu meraih handphonenya dan berlalu pergi keluar dari kamar.


Setelah sampai di bawah, Gilang menuju taman belakang dan duduk di ayunan. Pria itu kemudian mencari nama kontak Bayu di handphonenya dan menghubungi asisten sekaligus sahabatnya itu.


"Halo, Lang. Ada apa malam-malam begini nelpon?" tanya Bayu dari ujung telepon.


"Kamu tolong, belikan handphone mode terbaru yang cocok buat perempuan!" titah Gilang tanpa basa-basi.


"Sekarang?"


"Iyalah, maksudmu kapan? tahun depan?" jawab Gilang.


"Inikan sudah malam, Lang. Bisa tidak kalau besok saja?" tawar Bayu berharap Gilang setuju, walaupun dia tahu kalau itu cukup mustahil.


"Tidak! kamu harus beli sekarang. Bagaimanapun caranya kamu harus membeli handphone itu dan bawa besok ke rumah ketika menjemputku. Soalnya besok hari pertama Cahaya ke kampus, jadi, dia sangat butuh handphone itu," ucap Gilang tegas sembari memutuskan panggilan secara sepihak.


Di tempat lain terlihat Bayu membentak handphone di tangannya.


"Dasar sinting, Gila! merintah seenaknya aja!" umpat pria itu dengan wajah yang kesal


Tbc

__ADS_1


__ADS_2