
Hari berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa sudah satu bulan waktu berlalu setelah kericuhan yang ditimbulkan oleh Dania. Sudah hampir sebulan ini, Dania tidak pernah berulah lagi, bahkan wanita itu sekarang sudah terlihat semakin baik.
Persahabatannya dengan Reyna sudah kembali seperti dulu, bahkan lebih baik karena sekarang Dania sudah lebih pengertian dan tidak mau menang sendiri. Perubahan ini tentu saja disambut baik oleh semua pihak, khususnya kedua orang tuanya.
"Reyna, kenapa Cahaya belum datang juga ya?" tanya Dania sembari mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk restoran. Ya, hubungannya dengan Cahaya belakangan ini sudah baik, semenjak dia meminta maaf pada wanita itu. Dan hari ini, mereka bertiga janjian untuk makan siang.
"Entahlah! coba aku hubungi dia dulu," jawab Reyna sembari meraih handphonenya.
"Halo, Kak Reyna, untung kakak menghubungiku, padahal aku baru aja mau menghubungi kakak," sahut Cahaya dari ujung sana.
"Oh begitu. Kamu sekarang di mana? aku dan Dania sudah menunggumu di tempat," ucap Reyna,dan Dania mendengar dengan antusias.
"Itu dia kak yang mau aku kasih tahu. Mas Gilang menahanku di sini. Dia tidak mengizinkanku pergi. Aku yakin, kalau kak Reyna pasti tahu alasannya apa," suara Cahaya terdengar lirih dan seperti merasa tidak enak.
"Dasar pria gila. Sama seperti namanya, yang tinggal dihapus huruf n sama g saja," umpat Reyna kesal. Wanita itu sebenarnya tahu alasan Gilang, kenapa tidak memberikan izin pada Cahaya. Karena pria itu sebenarnya belum sepenuhnya percaya dengan perubahan Dania yang menurutnya terlalu mendadak.
"Sekali lagi, aku minta maaf ya, kak! sampaikan juga maafku buat kak Dania,"
"Ya udah nggak pa-pa! lain kali kalau kita janjian,jangan kasih tahu sama suami gilamu itu," ucap Reyna sembari menyelipkan candaan.
"Hei, kamu jangan racuni pikiran istriku!" teriak seorang pria yang dapat dipastikan kalau pemilik suara itu adalah Gilang.
Reyna terkekeh dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Jujur, belakangan ini juga, Reyna tidak merasakan sakit lagi melihat kebersamaan Gilang dan Cahaya. Wanita itu justru bahagia melihat pasangan itu. Pasangan yang kata Cahaya sama sekali belum pernah mengungkapkan rasa cinta masing-masing. Aneh ya? ya, mereka berdua memang aneh.
"Kenapa kamu tertawa? apa ada sesuatu yang lucu?" tanya Dania dengan alis bertaut, penasaran.
"Biasalah, Gilang. Dia bilang agar aku jangan meracuni istrinya," jawab Reyna sembari mengulum senyumnya.
Dania juga ikut tersenyum. "Kenapa masih ada Gilang? apa Cahaya belum jalan dan sekarang masih bersama Gilang?"
"Iya, Cahaya tidak bisa datang, karena ditahan sama Gilang. Pria itu sepertinya nggak mau jauh-jauh dari istrinya. Aku nggak nyangka dia bisa segitunya sama Cahaya," jelas Reyna sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Raut wajah Dania terlihat sekilas berubah, tapi hanya bertahan sebentar dan Reyna juga tidak terlalu memperhatikannya. Raut wajah Dania kini sudah berubah ke raut wajah biasa.
__ADS_1
"Itu pasti karena Gilang belum sepenuhnya percaya kan padaku? dia pasti takut kalau aku akan mencelakai Cahaya," wajah Dania terlihat sendu.
"Kamu jangan berpikir negatif dulu! mungkin emang Gilang ingin ditemani Cahaya seharian," sahut Reyna mencoba menenangkan Dania.
Dania menghela napasnya dengan cukup berat.
"Kamu tidak perlu menenangkan aku, Reyna! aku bisa melihat kok dari sikap Gilang yang sama sekali terlihat tidak tenang dan selalu tidak mau melepaskan pandangannya dari Cahaya kalau aku ada di dekat Cahaya," ucap Dania.
"Sudahlah, Nia. Mungkin Gilang butuh waktu untuk bisa mempercayaimu. Kamu yang sabar ya!" Dania tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Reyna.
"Bukan hanya Gilang, bahkan aku juga masih kurang percaya, Dania. karena ini terlalu mendadak. Aku hanya berusaha untuk percaya saja, mudah-mudahan kamu emang benar-benar sudah berubah," bisik Reyna pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lain tempat, Wajah Cahaya terlihat masam, hal itu terlihat dari mengerucutnya bibir wanita itu.
"Bisa tidak, kalau kamu jangan cemberut terus? benar-benar tidak enak dilihatnya," protes Gilang tanpa menatap Istrinya itu.
"Mas kenapa sih, nggak mengizinkanku bertemu dengan kak Reyna?" tanya Cahaya dengan nada kesal.
"Namanya kak Dania, Mas, bukan Wanita ular," protes Cahaya, mengingatkan suaminya.
"Bagiku, dia tetap wanita ular," sahut Gilang, tegas.
"Mas, nggak boleh seperti itu! kak Dania sudah berubah sekarang. Dia sudah tidak seperti dulu lagi,"
"Cahaya, bukannya kita sudah sering membahas tentang hal ini? berkali-kali sudah aku bilang, kalau aku sama sekali tidak yakin dengan perubahan Dania yang terlalu mendadak dan drastis. Jangan sampai lengah, Cahaya,. Kita itu harus tetap waspada," ucap Gilang dengan lugas.
Cahaya terdiam tidak berani membantah suaminya itu lagi.
"Kalau begitu,kapan kita akan makan siang? apa kamu akan membiarkan aku kelaparan, sembari melihat kamu bekerja?" Cahaya mulai melayangkan protesannya.
Gilang terkekeh melihat ekspresi wajah memelas Cahaya. Jujur saja, pria itu hampir lupa kalau dia meminta istrinya ke kantor untuk menemaninya.
__ADS_1
"Iya, maaf! aku akan meminta Bayu untuk membelikan makanan untuk kita," Gilang nyaris saja hendak menekan tombol wireless interkom yang terhubung ke ruangan Bayu. Namun dia urungkan begitu mendengar Cahaya menahannya.
"Aku nggak mau makan di sini, Mas. Aku mau makan langsung di tempatnya. Dan hari ini aku yang putuskan kita mau makan apa, dan aku ingin makan seblak," ucap Cahaya dengan mata yang berbinar membayangkan rasa gurih dan pedasnya masakan khas Sunda itu.
"Seblak? jenis makanan apa itu?" tanya Gilang dengan alis yang bertaut.
"Seblak, Mas. Masa sih nggak tahu? Itu lho kerupuk basah yang dimasak dengan sayuran biasanya didampingi dengan bakso Aci, makaroni, mie, telur, sosis dan __"
"Banyak sekali campurannya? apa makanan seperti itu enak? nggak ah, jangan makan yang aneh-aneh deh!" ujar Gilang tidak setuju.
Mata Cahaya seketika berembun, ingin menangis. Entah kenapa wanita itu merasa sangat kecewa dengan penolakan Gilang. Padahal keinginan untuk makan seblak itu sudah sangat membuncah.
"Kamu kenapa? itu aja kok mau nangis sih?" Gilang mengrenyitkan keningnya.
"Kalau, Mas nggak mau, biar aku pergi sendiri. Kalau aku nggak makan seblak hari ini, aku mogok makan dan tidak akan ada jatah untukmu," ucap Cahaya, melontarkan ancaman yang sangat ditakutkan oleh suaminya itu.
"Eh, jangan dong!" Gilang seketika langsung panik. "Ya udah, ayo kita cari seblak sekarang!" pungkas Gilang, akhirnya mengalah.
Wajah Cahaya yang tadinya murung, sontak berbinar begitu Gilang mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mas, udah dong! mas belum kenyang ya?" tanya Cahaya dengan kening berkerut melihat Gilang yang sangat lahap memasukkan seblak ke dalam mulutnya dan ini adalah porsi ke tiganya.
"Aku sudah kenyang sih, tapi mulutku masih ingin makan, Aya," ucap Gilang yang seketika lupa dengan ekspresi wajahnya pertama kali melihat aneh makanan itu, ketika dihidangkan di depannya.
"Mas, yang ingin makan seblak itu aku kan? tapi kenapa jadi kamu yang lahap makannya? aku bahkan belum habis satu porsi, tapi Mas sudah hampir tiga porsi. Kamu benar-benar seperti orang yang tiga hari tidak makan, Mas." protes Cahaya, tapi sama sekali tidak dipedulikan oleh suaminya itu. Pria itu masih saja menyuapkan seblak itu ke dalam mulutnya walaupun memang sekarang sudah melambat tidak secepat pertama kali. Itu karena, perut Gilang sudah benar-benar penuh dan tidak sanggup lagi menampung sisa seblak itu.
"Mas, Gilang cukup! nanti perut kamu bisa pecah," Cahaya menarik mangkok berisi seblak itu dari depan Gilang.
"Aya, kenapa kamu tidak menghabiskan seblak kamu? bukannya tadi kamu sangat menginginkannya?" Gilang mengrenyitkan keningnya.
"Entah. Makan sedikit saja, rasanya sudah puas. Mungkin aku merasa sudah kenyang karena melihat kamu makan, Mas." jawab Cahaya.
__ADS_1
Tbc
Happy Monday Guys. Seperti biasa, aku meminta dukungan kalian semua untuk membantu memberikan like dan komentar. Jika berkenan, aku juga mau berharap agar ada yang bersedia memberikan vote rekomendasinya yang dibagikan oleh sistem setiap Hari Senin. Terima kasih 🙏🏻🥰🥰