
Di lain tempat tepatnya di sebuah rumah sakit jiwa, tampak Dania sedang memasukkan pakaiannya ke dalam tasnya.
Ya, wanita itu memutuskan untuk keluar dari rumah sakit jiwa hari ini dan kembali ke dalam penjara untuk menyelesaikan sisa hukumannya, yang masih sangat lama.
Raut wajah wanita itu, tampak muram seperti berat untuk meninggalkan tempat itu. Berkali-kali, wanita itu menoleh ke arah pintu, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
"Buat apa aku menunggunya? tidak seharusnya aku berharap dia datang kan? apalagi ini hari Minggu, hari libur untuknya. Tentu saja dia, harus menghabiskan waktu dengan anaknya. Siapa aku yang harus dia utamakan," bisik Dania pada dirinya sendiri.
"Lagian, kenapa aku harus menunggu? aku tidak sedang jatuh cinta padanya kan? tentu saja tidak. Aku berharap dia datang, pasti karena hanya ingin mengucapkan terima kasih, bukan karena mencintainya. Tapi, kalau hanya untuk berterima kasih, kan bisa melalui telepon tanpa harus menunggu dia datang?" Dania berspekulasi sendiri tapi dia juga membantah sendiri spekulasi yang dia buat.
"Arghhh, pokoknya aku hanya ingin berterima kasih padanya, dan aku akan mengirimkan ucapan terima kasihku nanti melalui telepon," pungkas Dania sembari menarik resleting rasanya.
"Sudah selesai!" Dania mengembuskan napasnya. "Aku tinggal menunggu papa dan mama datang menjemputku," gumam Dania sembari menyingkirkan tas berisi pakaiannya ke samping. Ya, Dania sudah meminta maaf pada kedua orangtuanya itu, dan kali ini benar-benar tulus. Beruntungnya papa dan mamanya dengan berlapang dada dan tangan terbuka, menerima permintaan maaf putri mereka itu.
Brakk
Pintu dibuka dengan keras oleh seseorang, hingga membuat Dania terjengkit kaget dan langsung menoleh ke arah pintu.
Mata Dania, membesar kaget melihat sosok pria yang ada dalam pikirannya tadi, sedang berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu.
"Dokter Sandi!" gumam Dania sembari mengerjap-erjapkan matanya, berusaha meyakinkan penglihatannya, apakah yang berdiri di depannya itu, Sandi atau tidak.
"Dania, jadi hari ini, kamu benar-benar akan keluar dari tempat ini?" tanya Sandi dengan tatapan menuntut penjelasan.
"Kenapa, kamu masih bertanya? bukannya aku sudah mengatakan hal ini sebelumnya?" alis terlihat Dania bertaut.
"Apa ini tidak terlalu cepat, Dania?" Sandi melangkah menghampiri Dania.
__ADS_1
"Aku rasa tidak. Aku sudah benar-benar sembuh kan? yang sudah sembuh, bukannya seharusnya harus kembali ke tempat dia seharusnya berada?"
"Aku tahu! tapi tidak bisakah kamu berpura-pura, kalau keadaan kamu masih seperti dulu?" kali ini wajah Sandi terlihat sendu.
Dania mengrenyitkan keningnya, bingung dengan maksud ucapan Sandi.
"Untuk apa aku harus berpura-pura? bukannya itu suatu kebohongan? Kamu sendiri yang bilang, kalau kita harus jujur bahkan untuk diri sendiri sekalipun,"
Sandi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan kembali ke udara dengan embusan yang cukup berat." Aku tahu, tapi kali ini aku sepertinya ingin kamu melakukannya untukku, karena aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau kamu sudah tidak ada di sini lagi. Aku terlanjur sudah terbiasa dengan keberadaanmu Dania," tutur Sandi dengan jujur.
Kening Dania semakin berkerut mendengar ucapan Sandi, yang menurutnya benar-benar sangat membingungkan baginya. Kalau boleh jujur sebenarnya ada rasa senang yang menyentuh hatinya begitu mendengar permintaan pria di depannya itu, tapi dirinya juga tidak bisa memungkiri kalau dia masih belum bisa mengerti maksud dan tujuan Sandi melarangnya untuk pergi.
"Dania,aku tahu kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku sangat menginginkan kamu untuk tetap berada di sini. Aku merasa kalau aku sudah jatuh cinta padamu," ucap Sandi dengan lirih dan tatapan penuh cinta.
"Dokter Sandi, apakah sekarang kamu yang mengalami gangguan jiwa?" tanya Dania, yang tampak tidak percaya dengan pengakuan Sandi.
Dania tercenung, mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut pria di depannya itu. Jujur saja, wanita itu merasa kalau ada ribuan kupu-kupu yang seperti terbang mengelilinginya sekarang, tapi dia merasa kalau perasaan yang dirasakan oleh Sandi sekarang hanyalah perasaan sementara yang pasti akan cepat terlupakan seiring dengan perginya dia nanti.
"Dokter Sandi, aku sangat berterima kasih dengan perasaan yang kamu rasakan untukku. Tapi, aku merasa kalau aku bukan wanita yang tepat untuk kamu. Kamu tahu sendiri siapa aku sebelumnya, dan kamu tahu statusku yang seorang narapidana. Untuk itu, aku meminta kamu untuk melupakan perasaanmu dan mencari wanita yang lebih baik dariku. Kamu pantas mendapatkan wanita baik-baik, Dok," tutur Dania dengan mata yang berembun berusaha menahan tangis.
"Tidak! aku maunya kamu, Dania. Aku tidak butuh wanita lain lagi," ucap Sandi tegas.
"Maaf, aku tidak bisa!"
"Kenapa? apa karena aku seorang duda yang bahkan jauh levelnya di bawah pria yang kamu cintai itu? apa karena aku sudah memiliki anak makanya kamu tidak bisa menerimaku?" ucap Sandi berapi-api.
"Diam!" suara Dania meninggi. "Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Kamu tahu,aku tidak bisa menerimamu karena aku yakin kalau perasaanmu pasti hanya sementara, dan akan berubah seiring berjalannya waktu. Selain itu, ini juga demi kebaikanmu dan nama baik keluargamu. Apa yang dikatakan orang-orang nanti, kalau kamu mencintai seseorang wanita yang merupakan seorang narapidana? apa kamu tidak malu?" lanjut Dania kembali dengan nada yang berapi-api.
__ADS_1
"Aku tidak akan malu! karena __"
"Kamu bisa saja tidak malu, tapi bagaimana dengan keluargamu? mamamu? dia pasti tidak ingin memiliki seorang menantu sepertiku, Dokter Sandi," Dania menyela ucapan Sandi sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.
Sandi terdiam. Pria itu juga belum yakin benar kalau mamanya akan menerima Dania sebagai menantu yang notabene sifatnya sangat jauh dengan almarhum Istrinya.
"Oh, jadi ini wanita yang selama ini membuat kamu semangat untuk pergi bekerja setiap hari?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari arah pintu.
Dania dan Sandi sontak menatap ke arah pintu dan melihat sosok wanita setengah baya yang tidak lain adalah mamanya Sandi.
"Mama?" gumam Sandi dengan raut wajah pucat. Pria itu benar-benar takut kalau sang mama melontarkan kata-kata kasar pada Dania.
"Iya, ini mama. Kenapa? kamu kaget kenapa mama bisa ada di sini? tadi mama hanya penasaran kenapa kamu buru-buru pergi, padahal ini hari Minggu. Jadi, mama tadi membuntutimu. Ternyata kamu datang ke sini hanya untuk menemui calon menantu mama yang cantik ini. Pantas saja kamu, kamu selalu terlihat semangat, ternyata wanita yang membuatmu jatuh cinta, secantik ini," puji mamanya Sandi dengan wajah berbinar.
Sandi dan Dania terlihat mengrenyitkan kening dan sontak saling pandang. Mereka masih gagal paham dengan ucapan wanita setengah baya itu.
"Kenapa kalian berdua diam?" mamanya Sandi mengrenyitkan keningnya.
"Ma,apa Mama sehat?" tanya Sandi dengan sangat hati-hati.
"Tentu saja mama sehat. Mama tidak seperti kamu yang mengalami gangguan jiwa seperti yang kamu katakan tadi," sahut mamanya Sandi dengan lugas dan menyelipkan sebuah sindiran di dalam ucapannya. Kemudian, wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah Dania yang tampak masih berusaha mencerna ucapan wanita yang melahirkan dokter Sandi itu.
"Nak, Dania. Aku sudah mengenal kamu, dan aku akui kalau aku memang sempat merasa kesal dengan perbuatanmu dulu. Tapi, setelah aku pikir-pikir, semua orang pasti bisa berubah tidak terkecuali kamu. Tante benar-benar tidak melihat masa lalu kamu, karena Tante tahu kalau anak Tante mencintamu. Sebagai orang tua, aku hanya ingin melihat kebahagiaan Sandi dan dia sudah memilihmu. Tentu saja aku harus mendukung pilihan anakku,"
Air mata yang dari tadi berusaha dibendung oleh Dania, kini sudah berhasil menerobos bendungan itu. Pipi Dania kini sudah tampak basah oleh air mata. Wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau masih ada yang mau menerima dirinya dengan tulus.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata milik Denis dan Bella melihat semua yang terjadi dan ikut terharu melihat hal itu.
__ADS_1
Tbc