Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Aku harus menyelamatkannya


__ADS_3

"Terima kasih, Pak!" ucap Cahaya setelah mobil yang dikendarai oleh Dania, pergi.


"Udah, itu aja?" tanya Randi, ambigu.


"Iya, Pak. Emangnya mau apa lagi?" Cahaya mengrenyitkan keningnya.


"Aku mau kamu berterima kasih dengan bersedia makan siang denganku,"


"Heh? makan siang?" alis Cahaya bertaut.


"Iya, makan siang. Kamu tidak mungkin menolak kan? ingat aku sudah membantumu lepas dari wanita tadi. Masa diminta makan siang saja kamu tidak mau,"


Cahaya menggigit bibirnya, merasa berat untuk menerima ajakan Randi. Namun di lain pihak dia merasa tidak enak dan memang sangat berterima kasih pada pria itu. Bagaimanapun secara tidak langsung pria itu sudah menghentikannya untuk mengakui pernikahannya dengan Gilang. Ya,tadi sebenarnya kalau Randi tidak datang Cahaya hampir saja mengakui pada Dania kalau dia sudah menikah dengan Gilang, karena rasa percaya diri wanita itu yang mengatakan akan menikah dengan Gilang secepatnya.


"Bagaimana? apa kamu tidak bersedia?" tanya Randi lagi.


"Hmm, baik deh Pak. Tapi, kalau boleh jangan hari ini ya, soalnya ada yang harus aku kerjakan hari ini," pungkas Cahaya akhirnya setuju.


"Sama sekali tidak masalah. Besok juga tidak apa-apa," sahut Randi, tersenyum lebar.


"Kalau begitu aku mau masuk ke kelas dulu ya, Pak," Cahaya baru saja hendak melangkah, tapi tiba-tiba berhenti karena Randi kembali memanggilnya.


"Oh ya, apa Gilang majikanmu?" Cahaya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


"Jadi, yang setiap hari mengantarkanmu itu, dia?" lagi-lagi Cahaya menganggukkan kepalanya.


"Oh, seperti itu?" Randi mengangguk-anggukan kepalanya. "Baik juga dia ya," gumamnya kembali, walaupun sebenarnya terselip tanda tanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Reyna berjalan memasuki sebuah restoran yang cukup dekat dengan rumah sakit tempat dia bekerja. Matanya mengedar mencari sosok seorang pria yang mengajaknya untuk bertemu.


"Itu dia," batin Reyna begitu menemukan sosok pria itu.


Reyna kembali mengayunkan kaki melangkah mengatakan meja di mana pria itu sedang duduk dan asik memainkan ponselnya.


"Hai, Randi. Kamu sudah lama menunggu ya?" tanya Reyna sedikit berbasa-basi. Ya, pria itu adalah Randi. Randi menghubunginya tadi pagi dan mengajaknya untuk makan siang, karena ada sesuatu yang ingin dia katakan. Randi mengatakan hal yang ingin dia bicarakan sangat penting sehingga membuat Reyna akhirnya menerima ajakan pria itu.

__ADS_1


"Belum terlalu lama. Rileks aja," sahut Randi santai sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya.


"Kamu mau langsung bicara atau kita makan dulu?"


"Sebaiknya kita pesan makanan dulu. Nanti sembari menunggu pesanan datang aku akan bicara," Reyna menganggukkan kepala , setuju.


Randi dan Reyna menyebutkan pesanan masing-masing pada seorang pelayan.


"Udah itu aja, Mbak!" ucap Reyna menyudahi pesanannya.


"Aku juga itu aja," Randi jga mengatakan hal yang sama.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Reyna to the point begitu sang pelayan sudah pergi.


"Aku hanya ingin bertanya tentang hal apa yang disukai dan tidak disukai oleh Cahaya," jawab Randi dengan cepat.


"Kenapa kamu menanyakan itu padaku? kalian kan setiap hari bertemu, kenapa kamu tidak langsung bertanya ke orangnya saja?" Reyna mengrenyitkan keningnya.


"Kalian kenal dekat kan? jadi kamu pasti tahu tentang dia,"


"Aku memang kenal dia, tapi aku tidak terlalu dekat dengannya. Kami hanya sekali-sekali saja bertemu. Jadi, aku belum tahu banyak tentang dia. Emangnya kenapa kamu menanyakan hal itu?" Reyna mengrenyitkan keningnya.


"Apa Cahaya ulang tahun besok?" tanya Reyna dan Randi menggelengkan kepalanya.


"Tidak! tadi pagi dia didatangi oleh wanita bernama Dania. Wanita itu mencak-mencak dan menghina Cahaya,"


"APA!" pekik Reyna tanpa sadar.


"Reyna, turunkan volume suaramu! kamu menarik perhatian orang-orang," bisik Randi sembari melihat ke sekeliling.


"Maaf, aku hanya kaget dan khawatir pada Cahaya," ucap Reyna,malu.


"Bagaimana Dania tahu kalau Cahaya sudah kuliah? sepertinya dia sudah mulai curiga," batin Reyna.


"Apa aku boleh lanjut bicara?" tanya Randi kembali.


"Oh iya, silakan!"

__ADS_1


"Nah aku menyelamatkan dia dari Dania. Karena itu,aku memintanya untuk makan siang bersamaku besok sebagai bentuk rasa terima kasihnya," terang Randi.


"Apa kamu menyukai Cahaya?" tanya Reyna, seketika menyadari maksud terselubung dari pria di depannya itu.


" Emm,iya." singkat padat dan jelas.


"Apa? bagaimana mungkin kamu bisa menyukai seorang wanita yang ...." Reyna seketika berhenti bicara, begitu mengingat kalau dia sama sekali tidak boleh sembarangan memberitahu tentang pernikahan Gilang dan Cahaya.


"Wanita yang apa? Wanita yang hanya bekerja sebagai pembantu, maksudmu? apa kamu kira aku pria yang suka memandang seorang wanita dari statusnya? maaf aku tidak seperti itu," ucap Randi Deny tegas.


"Bu-bukan itu maksudku,tapi ...." kembali Reyna tidak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa?" terlihat kerutan di kening Randi.


"Ah, lupakan! tapi kalau boleh aku menyarankan agar kamu mengurungkan niatmu untuk mendekatinya, agar suatu saat kamu tidak kecewa," ucap Reyna ambigu.


"Kecewa seperti apa yang kamu maksud? apa dia sudah mempunyai kekasih?" tanya Randi dengan was-was.


"Bukan seorang kekasih tapi seorang ...." Reyna berhenti bicara, begitu pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


"Ayo kita makan dulu, mumpung masih hangat," ucap Reyna merasa bersyukur karena kedatangan pelayan itu membuat dia tidak jadi keceplosan.


Randi mengangguk-anggukan kepala dan langsung menyantap makan siangnya. Keheningan seketika tercipta di antara Randi dan Reyna. Yang terdengar hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu di atas piring.


"Randi, sepertinya aku harus kembali bekerja, karena jam makan siang hampir selesai. Kebetulan aku ada janji dengan seorang pasien," ucap Reyna sembari melambaikan tangan memanggil pelayan tadi.


"Iya, Nona. Ada yang bisa aku bantu?" tanya pelayanan itu dengan sopan.


"Minta billnya dong,"


"Tidak usah, biar aku yang bayar!"cegah Randi.


"Oh, begitu ya? kalau begitu terima kasih ya!". Reyna berdiri dari kursinya dan langsung beranjak pergi sebelum pria itu mencegahnya kembali.


"Gawat, sepertinya aku harus memberitahukan hal ini pada Gilang, kalau ada dosen yang menyukai Istrinya," batin Reyna.


Sementara itu, Randi menatap kepergian Reyna sampai tubuh wanita itu tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Kenapa dia terlihat gugup? sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan? atau jangan-jangan yang dituduhkan Dania tadi pagi benar. Cahaya benar sudah memiliki kekasih dan kekasihnya itu Gilang. Karena sangat tidak mungkin kan Gilang mengantarkan dia setiap hari? kalau sekali-sekali, okelah, tapi ini setiap hari," bisik Randi pada dirinya sendiri.


"Ini tidak boleh dibiarkan! kalau pun benar aku harus menyelamatkan Cahaya dari jerat cinta Gilang yang bisa dipastikan akan berakhir sia-sia. Bagaimanapun Gilang sudah bertunangan dengan Dania," tekad Randi dalam hati.


__ADS_2