Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Provokasi Dania


__ADS_3

"Halo, Kak Dania!"sapa Cahaya dengan suara yang lemah.


"Halo, Cahaya. Kenapa dengan suara kamu? kamu sakit ya?" Dania memperdengarkan perhatiannya.


"Tidak, Kak. Hanya sedikit pusing saja," sahut Cahaya, tidak memberitahukan kondisinya sebenarnya.


"Oh, pasti gara-gara kemarin yang kamu merasa seperti tidak dianggap oleh Oma Melinda ya?" Dania memulai memprovokasi.


"Emm, tidak kok, Kak. Aku memang sedangkan kurang enak badan saja," sangkal Cahaya. "Kenapa menghubungiku, Kak? apa ada sesuatu yang penting?" sambung Cahaya kembali, mengalihkan pembicaraan.


Dania tidak langsung menjawab. Namun Cahaya mendengar jelas kalau wanita di ujung sana sedang menghela napasnya dengan cukup keras.


"Emm, apa kamu sendiri di sana atau ada Gilang di sampingmu?"


"Mas Gilang pergi mengantarkan Oma ke makam opa, Kak. Emangnya ada apa? apa kakak ada perlu dengan mas Gilang?" sahut Cahaya dengan alis yang naik sedikit ke atas, curiga.


"Eh, Ng-Nggak kok, Aya. Aku justru mau mengatakan sesuatu padamu, dan aku tidak ingin ada Gilang di sampingmu, karena apa yang ingin aku katakan ini sangat penting buat kamu tahu,"


Cahaya mengrenyitkan keningnya, merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Namun, wanita itu menepis kecurigaannya karena rasa penasarannya lebih besar dari rasa curiganya.


"Kakak mau bilang apa?"


"Emm, gimana ya? sebenarnya aku cukup berat untuk mengatakan padamu, karena kamu mungkin tidak akan percaya, tapi entah kenapa aku berpikir kalau aku tidak mengatakannya, aku merasa kasihan padamu," ucap Dania, ambigu.


"Kak, please jangan bertele-tele! Jangan membuatku penasaran!" rasa penasaran Cahaya kini benar-benar sudah sangat besar.


"Baiklah. Tapi, jujur aku tidak bermaksud apa-apa. Aku murni hanya ingin kamu tahu saja sebuah kebenaran yang disembunyikan oleh Gilang dan keluarganya," ucap Dania yang semakin membuat Cahaya semakin penasaran.


"Kebenaran yang disembunyikan? maksudnya?

__ADS_1


Terdengar dari ujung sana, embusan napas dari Dania, yang seakan-akan merasa berat untuk mengungkapkan apa yang ingin dia ungkapkan pada Cahaya.


"Begini, Aya. Dulu, aku merasa kalau pernikahan kalian sangat janggal karena terlalu cepat. Tapi aku benar-benar tidak menemukan alasan Pernikahan kalian berdua. Namun belakangan ini, aku merasa kalau kalian berdua memang saling mencintai karena sikap Gilang yang perhatian padamu. Tapi ternyata apa yang aku pikirkan itu salah, Gilang ternyata menikahimu hanya karena balas budi, bukan karena cinta," tutur Dania, dengan suara yang terdengar lirih.


"Balas budi? hehehe itu tidak benar kak. Aku dan mas Gilang menikah memang karena sudah ditakdirkan untuk berjodoh. Walaupun ada alasan di balik pernikahan kami sebelumnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami berdua sudah bisa saling menerima satu sama lain," sahut Cahaya, mulai merasa kalau Dania sekarang tengah berusaha memprovokasinya.


"Begitu ya? baguslah kalau begitu. Tapi mengenai balas budi itu,aku sama sekali tidak bohong. Mengenai kamu dan Gilang sudah saling menerima,aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku turut senang mendengarnya. Tapi, aku mau tanya, apa dia sudah pernah mengungkapkan perasaan cintanya untukmu?"


Cahaya tercenung tidak menjawab, karena memang sampai sekarang pria yang sudah menjadi suaminya itu belum pernah mengungkapkan kalau sudah mencintainya. Namun kalau karena alasan balas budi, juga sama sekali tidak masuk akal, karena dia tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang baik sebelum bertemu dengan Gilang.


"Kenapa kamu diam, Aya? apa Gilang benar-benar belum pernah mengungkapkan rasa cintanya padamu? aku yakin pasti jawaban kamu 'belum' kan? itu karena aku tahu cinta Gilang hanya untuk Reyna, bahkan aku tahu kalau Oma Melinda juga sangat menginginkan Reyna untuk menjadi istri Gilang, tapi karena balas budi tadi, terpaksa mereka membuang keinginan itu. Asal kamu tahu, Reyna juga tahu tentang hal itu. Mereka semua sudah melakukan konspirasi di belakangmu, Aya,"


"Stop, Kak Dania! dari tadi kakak bicara balas budi, balas budi terus. Jangan mencoba memprovokasiku, karena aku tidak akan terpengaruh. Buat apa mereka balas budi, sedangkan aku dan keluarga ini bertemu di hari pertama aku kerja dan aku beli melakukan hal baik yang memerlukan balas budi. Benar-benar tidak masuk akal. Yang benar itu, mas Gilang memintaku untuk menikahinya, supaya dia tidak menikahimu dan benar dia menawarkan kalau aku menerima dia akan jadi donatur tetap di panti asuhan tempat aku dibesarkan dan mengendalikan rumah orang tuaku yang terjual,"


"Dengarkan dulu Cahaya! kamu jangan langsung memotong pembicaraanku! aku belum selesai bicara sama sekali. Asal kamu tahu, itu hanya alibi Gilang saja, agar kamu tidak curiga kenapa dia tiba-tiba memintamu menikah dengannya. Asal kamu tahu, tanpa menikah pun sebenarnya dia bisa menjadi donatur di panti itu dan bahkan membeli kembali rumah orangtuamu, karena hutang budinya yang besar. Namun kalau dia tiba-tiba melakukan hal itu tanpa alasan, kamu pasti curiga kan? Kamu pasti merasa yang dia lakukan itu aneh, karena kamu baru saja bekerja di keluarga itu," Dania berucap dengan berapi-api dan terdengar sangat meyakinkan.


"Gilang adalah anak laki-laki yang diselamatkan papamu saat kebakaran mall yang menyebabkan papa kamu meninggal. Mereka mencari tahu ke panti asuhan. Gilang tidak mengatakan dengan jujur karena dia tahu kalau kamu sampai sekarang masih menganggap anak laki-laki itu penyebab kematian papamu. Jadi,dia menyimpan rahasia itu agar kamu tidak pergi. Apa kamu tidak tahu, kalau dia trauma pada kebakaran sampai sekarang?"


Bagai petir di siang bolong, Cahaya benar-benar kaget dengan penuturan Dania. Kilas balik ketika Gilang ketakutan saat menonton adegan kebakaran langsung berkelebat di pikirannya.


"Kakak jangan coba-coba membohongiku! aku tidak akan percaya," Cahaya masih berusaha untuk tidak percaya, walaupun hati kecilnya tidak meragukan cerita Dania.


"Aku tidak membohongimu, Aya. Aku juga baru tahu kemarin karena aku dengar sendiri. Begitu Oma Melinda memintamu untuk pergi, mereka bertiga membicarakanmu,"


Flash back On.


Dania yang merasa kalau Cahaya merasa tidak dianggap oleh Oma Melinda, tersenyum licik dan merasa bisa menjadikan hal itu kesempatan untuk membuat Cahaya pergi sendiri dari keluarga Maheswara.


Wanita yang ternyata hanya berpura-pura sudah berubah itu, mengayunkan kakinya melangkah dan duduk tidak jauh dari tempat di mana Melinda, Jelita dan Reyna duduk. Wanita itu mulai menguping pembicaraan ketiga wanita berbeda usia itu.

__ADS_1


"Sepertinya Gilang sudah mulai mencintai, Cahaya. Kamu tidak merasa sakit hati kan Reyna?" Oma Melinda buka suara.


Reyna tersenyum manis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali, Oma. Aku justru menjadi orang yang sangat bahagia jika Gilang benar-benar sudah mencintai Cahaya," jawab Reyna tulus.


"Syukurlah! Oma sekarang sudah tenang," Melinda membalas senyum Reyna.


"Tapi hanya satu hal yang sebenarnya aku takutkan,Ma. Aku takut Cahaya akan marah dan pergi kalau suatu saat Cahaya tahu kalau alasan sebenarnya Gilang menikahinya dulu, karena balas budi atas pertolongan papanya Cahaya dulu, yang menolongnya keluar dari kobaran api sampai membuat papanya Cahaya meninggal," Jelita buka suara, mengungkapkan kekhawatirannya selama ini.


"Tante jangan terlalu khawatir akan hal itu. Aku yakin kalau keduanya sudah saling mencintai dan sudah mengungkapkan isi hati masing-masing sebelum kebenaran itu terkuak, aku yakin apa yang tante khawatirkan itu tidak akan terjadi. Kita doakan aja, agar Gilang menyadari perasaannya dan secepatnya mengungkapkannya pada cahaya. Aku yakin dengan begitu, Cahaya akan merasa tidak terlalu sedih dan marah nanti," tutur Reyna mencoba menenangkan Jelita.


"Iya, mudah-mudahan, secepatnya Gilang akan mengungkapkan perasaannya pada Cahaya," pungkas Jelita,berharap.


"Cih, harapan kalian tidak akan terkabul, karena ada aku yang akan menghancurkan harapan kalian itu. Dengan begitu, aku yakin kalau Gilang akan terpuruk. Asal kalian semua tahu,aku tidak menginginkan Gilang lagi, yang aku inginkan hanya kehancurannya. Aku tidak akan pernah rela,kalau dia bisa hidup bahagia," batin Dania dengan sudut bibir yang tertarik sedikit ke atas membentuk senyuman licik.


Flash Back End


"Cahaya, kenapa kamu diam? maaf aku benar-benar tidak bermaksud ...."


"Tidak apa-apa, Kak! justru aku sangat berterima kasih pada kakak. Sebenarnya aku sudah mengikhlaskan alasan kematian papa karena aku sudah berjanji pada almarhum papa untuk tidak menyalahkan anak laki-laki itu. Karena aku tahu kalau itu memang sudah menjadi resiko seorang pemadam kebakaran, tapi yang aku sesalkan, kenapa mereka semua tidak jujur? kenapa keluarga besar ini membohongiku, bahkan kak Reyna yang sudah aku anggap kakak sendiri juga tidak memberitahukanku kebenaran ini," Air mata Cahaya mulai menetes membasahi pipinya.


"Aduh, maafkan aku Cahaya. Inilah sebenarnya yang aku takutkan,kamu jadi sedih dan marah pada mereka. Kamu jangan marah ya pada mereka!" Dania masih berusaha untuk menunjukkan kalau dirinya benar-benar tidak sedang memprovokasi Cahaya. Padahal di ujungnya sana, Dania sudah bersorak bahagia membayangkan Gilang yang terpuruk.


"Tidak apa-apa kak! kakak tenang saja,aku tidak akan marah pada keluarga ini. Tapi, memang aku sangat kecewa. Kak, sepertinya aku harus pergi dari rumah ini untuk menenangkan diri. Aku matikan dulu ya teleponnya,".


"Jangan Cahaya! jangan sampai kamu pergi!" Dania masih berusaha berpura-pura untuk mencegah, padahal jauh di lubuk hatinya, hal itulah yang sangat dia inginkan.


"Tidak kak! keputusanku sudah bulat!" Cahaya memutuskan panggilan secara sepihak.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2