
"DANIAAAA!" Teriak Denis dengan raut yang sangat marah.
"Ada apa, Sayang? kenapa kamu teriak?" Bella mengrenyitkan keningnya, bingung melihat kemarahan suaminya, setelah selesai menerima telepon yang katanya dari Gavin itu.
"Dania berulah lagi, Sayang. Dia membodohi kita selama ini dengan berpura-pura sudah berubah," jawab Bella yang membuat Bella semakin bingung.
"Maksudnya, berpura-pura bagaimana?" tanya wanita itu, penasaran.
Akhirnya Denis pun menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh putri sulung mereka. Hal yang benar-benar tidak pernah mereka nyangka kalau Dania bisa melakukan hal kejam itu.
"Sayang, kamu lagi bercanda kan? kita lihat sendiri perubahan Dania belakangan ini, bagaimana bisa dia berbuat seperti itu?" Bella menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Tapi, ini sama sekali tidak bohong, Sayang! Cahaya dan Gilang sekarang ada di rumah sakit. Mereka berdua belum sadarkan diri. Nih buktinya kalau Dania yang melakukannya," Denis menunjukkan photo mobil Dania yang baru saja dikirimkan oleh Gavin.
Bella bergeming, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kemudian, wanita itu tiba-tiba berteriak memanggil Dania.
"DANIAAA! DIMANA KAMU!"
"Apaan sih,Ma,Pa? kenapa teriak-teriak. Dania kan nggak budek!" sahut Dania yang sudah berdiri di atas tangga.
"Dania, turun kamu ke sini!" titah Bella dengan tatapan marah.
Dania mengrenyitkan keningnya. Wanita itu mulai merasa was-was melihat sikap mama dan papanya yang sepertinya siap untuk menelan tubuhnya bulat-bulat.
"Apa mama, papa sudah tahu apa yang sudah terjadi? apa mereka berdua tahu kalau aku penyebab kematian Cahaya?" batin Dania, yang sangat yakin kalau Cahaya sudah meninggal.
"Tapi, darimana mereka tahu? kan tidak ada yang melihatku?" Dania kembali bermonolog pada dirinya sendiri.
"Dania! apa kamu tidak mendengar apa yang mama minta? turun kamu sekarang!" bentak Bella kembali.
__ADS_1
Dania kemudian melangkah turun sesuai dengan yang mamanya minta.
PLAKKK
Tangan Bella sudah mendarat di pipi Dania dengan sangat kencang, membuat Dania meringis kesakitan.
"Mama, kenapa Mama pukul aku? apa salahku?"ucap Dania sembari mengelus-elus pipinya yang sudah memerah.
"Harusnya bukan hanya dipukul. Kamu pantas mendapat hukuman lebih dari pukulan," ucap Bella dengan napas yang memburu..
"Ma, emangnya apa salahku?
"Kamu masih berani' bertanya apa salahmu? salahmu itu sangat besar Dania dan mungkin tidak akan bisa dimaafkan lagi. Sekarang kamu jelaskan pada kami, kenapa kamu tega membakar rumah yang Cahaya masih ada di dalamnya? apa maksudmu ingin melenyapkan Cahaya?" Denis buka suara.
"Apaan sih, Pa? Papa jangan asal tuduh! aku sama sekali tidak melakukannya," Dania berusaha untuk menyangkal.
"Masih berani kamu menyangkal ya! jadi apa ini? bukannya ini mobilmu ketika kamu meninggalkan rumah itu setelah kamu selesai membakarnya?" Dania terkesiap kaget, tidak menyangka kalau aksinya dilihat orang dan ada buktinya.
"Papa, mendapatkannya dari Om Gavin sendiri. Gavin bilang, kalau dia tidak akan memaafkan kesalahanmu kali ini. Jadi kamu siap-siap saja karena papa dan mama tidak bisa menolongmu lagi," sahut Denis.
Wajah Dania terlihat semakin pucat mendengar ucapan papanya. Namun, tiba-tiba wajahnya yang pucat seketika berganti dengan wajah yang berbinar. Benar-benar seperti psikopat.
"Tidak apa-apa aku mau dilaporkan ke polisi sama om Gavin. Yang penting aku sudah puas. Setidaknya aku sudah berhasil melenyapkan Cahaya, dan yang pastinya akan membuat Gilang terpuruk. Jadi aku rasanya semuanya impas. Aku dipenjara, Gilang terpuruk, syukur-syukur jadi gila," ucap Dania, yang membuat mulut Denis dan Bella terbuka karena tidak menyangka kalau putrinya itu memiliki hati sekeji itu.
"Dania, kenapa kamu bisa berpikir jahat seperti itu? asal kamu tahu, harapan orang yang licik seperti kamu tidak akan dikabulkan oleh Tuhan, karena sampai sekarang Cahaya baik-baik saja. Dia selamat, juga dengan janinnya,"
Bagai disambar petir di siang bolong, Dania kaget sekaligus geram begitu mendapat kenyataan kalau apa yang ada dipikirannya sama sekali tidak terjadi.
"Ba-bagaimana bisa dia selamat? aku kan sudah __"
__ADS_1
"Tuhan masih menyayanginya. Gilang datang tepat waktu, begitu juga Reyna dan Randi. Gilang berhasil menyelamatkan Cahaya,"
"Gilang menyelamatkan Cahaya? bukannya dia ...." Dania berhenti bicara karena tanpa diomongkan pun dia yakin kalau papanya pasti tahu kata yang menggantung di tenggorokannya.
"Karena cinta Gilang besar pada Cahaya, dia berhasil mengalahkan rasa traumanya, walaupun memang sekarang dia terbaring di rumah sakit. Namun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi pada kondisi Gilang, karena dia sudah berhasil melewati masa kritisnya. Itulah kekuatan cinta sejati Dania, kelicikanmu tidak akan berhasil membuat mereka hancur. Justru kamu malah semakin membuat ikatan cinta mereka semakin kuat," tutur Denis panjang lebar tanpa jeda, membuat Dania mengepalkan tangannya.
"Aku tidak bisa biarkan ini. Sebelum aku masuk penjara, aku mau Cahaya lenyap dulu dari muka bumi ini. Mau aku dihukum mati sekalipun, aku tidak peduli, yang penting Cahaya lenyap. Wanita itu sudah merebut semuanya dariku. Pria yang kucintai, sahabat yang selalu ada untukku dan kasih sayang tante Jelita," tekad Dania dalam hati.
"Dania, untuk kali ini mama benar-benar angkat tangan. Kamu harus persiapkan dirimu untuk menerima hukumanmu. Sekarang kamu masuk ke dalam kamar, dan jangan kemana-mana!" Bella kembali buka suara setelah cukup lama diam.
"Bodo amat. Kau di tidak peduli, karena ini bukan pertama kali lagi. Dari dulu juga mama sudah nggak peduli kan? Lagian, buat apa Mama mengaturku nggak boleh kemana-mana? mama kira aku akan patuh, gitu?" Dania menatap Bella dengan bengis.
"Aku tahu kamu tidak akan patuh. Tapi mama tahu apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang. Mama tahu, kalau sekarang kamu sedang memikirkan rencana licik lagi untuk mencelakai Cahaya dan mama tidak akan membiarkan itu terjadi," tukas Bella yang benar-benar tepat sasaran.
Dania tidak menjawab sama sekali. Wanita itu justru kembali naik ke atas, tanpa permisi. Dania merasa tidak ada untungnya mendengar ocehan mamanya yang dia anggap tidak penting sama sekali.
Tidak menunggu beberapa lama, Dania kembali turun dengan menenteng sebuah tas. Ternyata wanita itu kembali ke kamarnya hanya untuk mengambil tas.
"Kamu mau kemana, Dania?" Bella naik ke atas tangga hendak menghalangi langkah Dania. Sementara itu, Denis menunggu di bawah anak tangga.
"Bukan urusanmu! minggir, aku mau lewat!" sahut Dania dengan nada yang sangat sinis
"Jawab dulu kamu mau ke mana? jangan macam-macam lagi Dania!"
"Aku bilang minggir ya minggir! Dania tidak menjawab sama sekali pertanyaan Bella.
"DANIA! sopan pada mamamu!" bentak Denis dari bawah tangga.
"Ahh, lama banget sih minggirnya! awas!" Dania tanpa sengaja mendorong Bella hingga wanita itu tidak bisa menahan keseimbangan lagi dan hampir jatuh. Untungnya Denis bergerak dengan cepat berlari ke atas untuk menangkap tubuh istrinya itu. Insiden itu, dimanfaatkan Dania untuk langsung kabur.
__ADS_1
"DANIAAAA!" teriak Denis dengan murka.
Tbc