
"Dania sudah dibawa ke kantor polisi," ucap Reyna pada Gilang dan Cahaya sembari kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Wajah wanita itu terlihat muram, karena bagaimanapun dia tidak pernah lupa kalau Dania adalah sahabatnya mulai dari kecil. Walaupun memang persahabatan mereka tidak pernah sehat.
Ya, wanita itu baru saja mendapat telepon dari Reynaldi papanya.
"Kasihan dia. Apa memang harus dipenjara? apa tidak ada cara lain ya selain itu?" Cahaya buka suara.
"Dia memang pantas mendapatkannya, karena yang dia lakukan kali ini benar-benar di luar batas. Bahkan aku merasa kalau penjara saja tidak cukup sebagai hukuman untuknya. Kalau boleh, dia harus dihukum mati," Gilang menimpali ucapan Cahaya dengan raut wajah yang penuh amarah.
"Mas, kamu tidak boleh seperti itu!" tegur Cahaya, sembari mendelik. "Aku tahu kalau kamu marah, tapi tidak harus seperti itu. Kita doakan saja, supaya kak Dania benar-benar berubah setelah menyelesaikan hukumannya," lanjutnya kembali.
"Amin!" timpal Reyna mengaminkan.
"Cahaya, kenapa kamu bisa mengucapkan hal seperti itu? apa kamu tidak menyadari kalau dia itu sangat berbahaya? apa kamu tidak ingat kalau kamu hampir saja dia bakar hidup-hidup?" Gilang terlihat kesal dengan sikap Cahaya yang sepertinya tidak marah ataupun dendam pada Dania.
"Tapi, aku selamat kan, Mas? udahlah Mas, jangan simpan dendam kamu. Tidak bada salahnya mendoakan yang baik-baik kan? Sekarang biarlah hukum negara yang berbicara,"
Gilang mengembuskan napas dengan cukup berat. Pria itu benar-benar masih belum bisa terima dengan ucapan Cahaya.
"Kamu boleh bicara seperti itu. Coba kalau kamu ada di posisiku, kamu tidak tahu seberapa takutnya aku, ketika melihat kamu terkurung di dalam api. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk memaafkan dia. dan mendoakannya? benar-benar tidak masuk akal," cetus Gilang dengan nada kesal.
"Mas,aku tahu kok. Tapi apa untungnya jika kamu terus marah? apa akan ada kebahagiaan yang bertambah pada dirimu, kalau kamu masih terus menyimpan amarah? tidak kan? justru kalau kamu selalu menyimpannya, dendam itu akan semakin tumbuh hingga berakar. Yakinlah kalau sudah begitu, hati kamu tidak akan pernah tenang. Apa Mas Gilang tahu, orang yang menyimpan dendam itu adalah orang yang lemah, sedangkan kalau kamu memilih untuk memaafkan itu berarti kamu orang yang kuat. Kalau kamu memilih untuk mengabaikannya itu berarti kamu orang yang cerdas, karena memaafkan orang yang melukai hatimu adalah kebaikanmu untuknya, meneruskan hidup tanpa mendendam kepadanya adalah kebaikanmu untuk dirimu sendiri." tutur Cahaya panjang lebar tanpa jeda dan dengan bijak.
Gilang tercenung mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulut istrinya itu. Kemudian, pria itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke luar dengan sekali hentakan, berharap dendam yang ada dalam hatinya ikut terbuang seiring dengan embusan napas itu.
"Benar kata Cahaya, Lang. Kamu harus berlapang dada dan berbesar hati untuk memaafkan. Biarlah sekarang, hukum yang berbicara. Kita ikuti saja alurnya," timpal Reyna.
"Sayang, sepertinya kita harus pulang, karena Gilang dan Cahaya mungkin butuh waktu untuk berdua," celetuk Randi tiba-tiba setelah dari tadi menjadi pendengar setia.
"Sayang?" ucap Gilang dengan kening yang berkerut.
"Iya, kenapa? kamu tidak cemburu kan?" tanya Randi balik. Sementara itu Reyna mendelik tidak suka dengan sikap Randi.
__ADS_1
"Buat apa aku cemburu? aku justru senang," jawab Gilang dengan ekor mata yang melirik ke arah Cahaya.
"Bagus deh kalau begitu. Aku lega sekarang," ucap Randi. "Oh ya, aku juga mau kasih tahu kamu kalau mungkin sebentar lagi aku dan Reyna juga akan menikah," lanjut Randi kembali.
"Hei, siapa __"
"Tentu saja kita berdua Sayang. Masa kamu bertanya lagi, siapa yang akan menikah?" potong Randi dengan cepat, sebelum wanita itu membantah ucapannya.
"Ihh, dasar pemaksa. Aku kan tadi bukan mau bertanya siapa yang mau nikah? aku mau tanya siapa yang sudah setuju dengan keputusannya," batin Reyna sembari berusaha menahan kesal
"Wah, selamat ya buat kalian berdua!" ucap Cahaya dengan tulus.
"Terima kasih, Cahaya! doakan saja biar semuanya berjalan lancar. Iya kan Sayang?" Randi dengan sekenanya, merangkul pundak Reyna.
"Eh, i-iya! doain aja, Cahaya!" ucap Reyna dengan gugup.
"Pasti aku doakan! kalian memang pasangan yang serasi. Kak Reyna cantik, dan Pak Randi tampan." puji Cahaya sembari menyelipkan senyuman yang lebar.
"Kamu baru mengakui ya kalau aku tampan? Kamu aja yang terlambat menyadarinya. Kalau dibandingkan dengan suamimu itu, aku tidak kalah tampan kan?" Wajah Gilang semakin memerah mendengar ucapan Randi yang memiliki tingkat percaya diri yang tinggi itu. Namun memang pria itu sama sekali tidak bisa membantah ucapan Randi yang memang benar adanya.
"Enak saja. Bagiku tetap suamiku yang paling tampan. Buktinya aku cintanya pada suamiku bukan sama Pak Randi," jawab Cahaya, santai dan lugas. Sementara itu wajah Gilang seketika berubah berbinar kembali mendengar ucapan sang istri.
"Cih, itu karena kamu bertemu dengan dia lebih dulu sebelum bertemu aku. Coba kalau kamu bertemu aku lebih dulu, pasti kamu akan berubah pikiran,"
"Kamu bisa diam nggak? sekali lagi kamu bicara, aku patahkan tulang lehermu!" umpat Gilang dengan mata yang menatap tajam.
"Bagaimana caranya? Kamu aja masih lemah begitu," ledek Randi.
"Sudah, sudah, ayo kita pulang! kenapa kamu bisa jadi secerewet ini sih?" Reyna akhirnya buka suara untuk menghentikan perdebatan Gilang dan Randi yang dipastikan tidak akan berhenti kalau tidak ada yang berinisiatif menghentikannya. Apalagi melihat wajah Gilang sudah kembali memerah.
"Tunggu dulu Sayang, aku belum selesai bicara," tolak Randi.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau pulang, biar aku pulang sendiri! Cahaya, Gilang, aku pulang ya! istirahat yang banyak biar cepat pulih!" Reyna berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.
"Tuh kan, gara-gara kamu, Reyna jadi cemburu," tukas Randi yang membuat Cahaya seketika mengrenyitkan keningnya.
"Kok gara-gara aku?" bisik Cahaya pada dirinya sendiri.
"Aku juga pulang aja deh. Sayang, tunggu aku!" teriak Randi sembari berlari mengejar Reyna.
"Dasar orang gila!" umpat Gilang setelah tubuh Randi menghilang di balik pintu.
"Kamu juga, bisa-bisanya kamu memuji dia tampan di depanku," lanjut pria itu kembali sembari berbaring membelakangi Cahaya.
"Heh? kenapa jadi seperti ini sih?" Cahaya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Suasana ruangan itu seketika berubah hening karena Gilang masih merasa kesal.
"Kenapa kamu diam saja di sana? kamu tidak ada niat untuk membujukku? aku benar-benar kesal nih," celetuk Gilang tiba-tiba, membuat Cahaya ingin tertawa.
"Iya,iya. Maaf ya, Mas!" ucap Cahaya sembari memeluk Gilang dari belakang, karena memang ranjang keduanya sengaja dibuat besar.
"Jangan diulangi lagi! hanya aku yang tampan di matamu."
"Jadi, nanti kalau anakmu laki-laki, bagaimana? apa aku nggak boleh bilang dia tampan?"
"Tidak boleh!" sahut Gilang singkat padat dan jelas.
"Lah, itukan anakmu. Masa nggak boleh sih? nanti kalau anakmu mirip kamu bagaimana?"
"Ya udah, anak pengecualian deh. Kamu bisa bilang dia tampan, tapi tidak untuk pria lain," pungkas Gilang tak terbantahkan.
Tbc
__ADS_1