
Denis melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tidak terlalu padat di siang hari ini. Wajah pria setengah baya itu, terlihat masam dan tidak bersahabat. Bagaimana tidak, ketika mendatangi rumah Reynaldi untuk minta maaf atas kejadian yang menimpa Reyna,pria yang ingin ditemuinya itu tidak ada di tempat. Hal yang paling membuat dia kesal, dia merasa seperti tidak dianggap ketika mendengar dari Nayla kalau Reynaldi diminta oleh Gavin untuk datang ke rumahnya.
"Kenapa mereka berdua bertemu tanpa mengajakku? apa mereka sudah tidak menganggap aku sahabat lagi?" batin Denis sembari mencengkram kemudi dengan kencang. Rasa sedih dan kesal bercampur menjadi satu, karena memang dulunya mereka bertiga selalu menyempatkan waktu untuk bertemu di hari weekend,tapi sebulan ini, tidak ada pertemuan sama sekali, bahkan berkomunikasi saja hampir tidak pernah.
"Atau jangan-jangan, mereka berdua tetap bertemu, tanpa mengajakku sama sekali? bagaimana mungkin mereka bisa jadi seperti ini?" lagi-lagi Denis bermonolog dalam hatinya.
"Hmm, sepertinya aku tidak boleh su'udjon dulu. Mungkin hari ini mereka tidak mengajakku karena Reynaldi masih marah, dan tidak mau bertemu denganku," Denis mengangguk-angguk kepalanya merasa yakin dengan pemikirannya sendiri.
Denis membelokan mobilnya memasuki pekarangan rumah Gavin. Satpam sama sekali tidak menghalanginya karena sudah sangat kenal dengan Denis. Setelah itu, pria itupun keluar dari mobil dan langsung mengayunkan kakinya berjalan masuk ke dalam rumah besar itu.
"Hai, Jelita, Tante, Om!" sapa Denis begitu melihat ketiga orang itu sedang asik berbincang di ruang keluarga.
"Eh, Kak Denis. Mau cari mas Gavin ya?" tanya Jelita tanpa basa-basi, karena dia mengira kalau Denis datang karena undangan Gavin sama seperti Reynaldi.
"Iya, Jel. Gavin di mana?"
"Mas Gavin dan kak Reynaldi ada di ruang kerja Mas Gavin. Kak Denis langsung ke sana saja," ucap Jelita sembari tetap menyelipkan senyuman di bibirnya.
Denis menganggukkan kepalanya. Kemudian pria itu mengalihkan tatapannya ke arah Melinda dan Ganendra.
__ADS_1
"Om, Tante, aku ke ruangan Gavin dulu ya!" Melinda dan Ganendra tidak menjawab, tapi cukup hanya menganggukkan kepala, mengiyakan.
Denis menghela napasnya dengan cukup berat, karena merasa kedatangannya disambut dengan wajah tidak senang dari Melinda mamanya Gavin. Namun, dia cukup mengerti apa alasan di balik sikap sinis wanita yang sudah tua itu padanya.
"Aku yakin kalau kedatangannya ke sini pasti atas permintaan Dania. Dia pasti mau meminta Gavin untuk secepatnya menikahkan Dania dengan Gilang," celetuk Melinda dengan nada sinis, setelah tubuh Denis tidak tampak lagi.
"Jangan berpikir negatif dulu! kamu sudah tua, hentikan untuk selalu berpikir negatif!" tegur Ganendra yang membuat Melinda mendengus kesal.
"Benar kata papa, Ma. Kalau pun apa yang dipikirkan mama itu benar, aku rasa mas Gavin pasti bisa mengatasinya," Jelita menimpali ucapan Ganendra, papa mertuanya.
"Mudah-mudahan saja begitu," sahut Melinda dengan ketus.
Sementara itu,di ruang kerja Gavin, terlihat wajah serius dari dua orang pria. Siapa lagi mereka kalau bukan Gavin dan Reynaldi.
"Rey, sekarang ini tolong kamu bantu aku untuk cari solusi bagaimana untuk mengatasi masalah ini, karena menurutku Dania sudah mulai curiga pada Gilang dan Cahaya. Aku yakin kalau sekarang dia akan berusaha mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi," ucap Gavin sembari menyender tubuhnya di sandaran sofa.
"Inilah sebenarnya yang aku takutkan,dan kalian memang harus siap dengan segala resikonya, seperti yang aku katakan dulu, sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk menikahkan Gilang dan Cahaya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana obsesinya Dania pada Gilang, dan bagaimana egoisnya dia?" ucap Reynaldi.
"Hei,aku memintamu untuk mencari solusi bukan untuk membuatku semakin gusar dan pusing!" pekik Gavin kesal sembari menatap tajam ke arah Reynaldi.
__ADS_1
"Turunkan tatapanmu! jangan menatapku seperti itu lagi. Ingat,aku bukan asistenmu lagi. Aku sudah punya usaha sendiri walaupun tidak sebesar perusahaanmu," Reynaldi menatap Gavin tidak kalah tajamnya.
"Haish,kamu ya,sudah berani sekarang. Aku benturkan juga nanti kepalamu, biar kamu amnesia, dan aku bisa suruh -suruh kamu lagi ," ucap Gavin dengan kesal.
"Kalau aku amnesia, kalau aku mati bagaimana? yang ada kamu di penjara dan bahkan bisa sampai mati juga di penjara. Miris sekali perjalanan hidupmu," balas Reynaldi tidak kalah telak.
"Diamlah! kamu memang tidak mau kalah kamu adu argumen!" cetus Gavin dan Reynaldi hanya terkekeh melihat ekspresi wajah kesal Gavin. "Sekarangl aku mohon supaya kamu bisa membantu mencari solusinya," lanjut Gavin lagi seraya merendahkan nada bicaranya.
"Aku akan usahakan, Vin, walaupun ini pasti sangat sulit. Yang jadi permasalahannya sekarang, yang orang-orang tahu kalau Gilang bertunangan dengan Dania. Semuanya pasti akan mencaci maki keluargamu kalau tahu Gilang sudah menikah dengan Cahaya tanpa membatalkan dulu pertunangannya dengan Dania. Kamu tahu sendiri kan kalau Dania itu manipulatif,dan bisa membuat seakan-akan dirinya yang terzolimi?"
Brakk ...
Pintu tiba-tiba dibanting dengan kencang.Siapa lagi pelakunya kalau bukan Denis. Mata pria itu terlihat berkilat-kilat, dengan wajah memerah dan rahang yang mengeras karena sudah terbakar oleh emosi.
Sementara itu, Gavin dan Reynaldi tersentak kaget dengan kehadiran Denis yang tiba-tiba.
"Apa yang aku dengarkan tadi benar,Vin?" tanya Denis dengan napas yang memburu.
Gavin tidak langsung menjawab. Pria itu justru menatap ke arah Reynaldi. Pria itu benar-benar sangat bingung sekarang bagaimana cara menjelaskan pada Denis.
__ADS_1
Tbc