
"Baiklah, Mas aku bersedia." ucap Cahaya dengan nada suara yang sangat pelan, karena kalau dipikir-pikir bagaimanapun mereka berdua sudah menjadi suami istri.
Gilang tidak langsung bersorak. Pria itu justru mengangkat dagu Cahaya agar pria itu bisa menatap mata Istrinya itu. Dia ingin memastikan apakah wanita itu benar-benar ikhlas bersedia atau terpaksa.
"Apa kamu benar-benar bersedia?" Cahaya mengangguk pelan.
"Kamu tidak terpaksa kan?" Gilang kembali memastikan dan Cahaya menggelengkan kepalanya.
Seulas senyuman kini terbit dan menghiasi bibir Gilang. Tatapan pria itu kini beralih ke bibir Cahaya yang berwarna baby pink, padahal wanita itu tidak memakai apapun sama sekali.
"Aku boleh menciummu?" lagi-lagi Gilang bertanya dan lagi-lagi Cahaya menganggukkan kepalanya.
Gilang akhirnya mulai mengikis jarak dan menempelkan bibirnya untuk yang pertama kali di bibir wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Ketika bibir Gilang menempel, Cahaya merasa sedikit bergetar dan hampir saja ingin mendorong tubuh Gilang. Untungnya otaknya masih bekerja dengan baik dan sadar kalau yang menyentuh bibirnya sekarang adalah suami sahnya, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk mendorong tubuh Gilang.
Bibir yang awalnya hanya menempel itu seketika berubah menjadi sebuah luma*tan karena Gilang merasa Cahaya tidak berontak sama sekali.
Sementara itu Cahaya masih diam saja menerima serangan Gilang, karena dia tidak tahu cara membalas. Namun, ciuman Gilang sedikit demi sedikit akhirnya bisa membuat tubuh Cahaya merespon. Wanita itu mulai membalas walaupun masih sangat kaku. Gilang memang bukan pencium yang handal, tapi tidak bisa dikatakan buruk juga.
"Mas, berhenti dulu!" Cahaya tiba-tiba mendorong dada Gilang dengan pelan.
"Ada apa? apa kamu berubah pikiran?" tanya Gilang di sela- sela api gairah yang sebenarnya mulai memanas, yang kalau tidak dilanjut akan menimbulkan sakit kepala.
"Bu-bukan. Aku hanya ingin bertanya, apa kamu pernah mencium kak Reyna?" entah kenapa, Cahaya bisa berpikir ke arah sana di tengah-tengah aktivitas mereka.
"Tentu saja pernah," sahut Gilang yang membuat raut wajah Cahaya berubah sedih.
"Tapi, belum pernah di bibir sama sekali, hanya di pipi saja dan aku rasa itu masih wajar kan?" jawab Gilang, lugas.
"Iya sih,masih wajar. Lagian kenapa aku bertanya seperti itu? seandainya sudah pernah pun,aku kan seharusnya nggak boleh marah juga, karena bagaimanapun mereka berdua hanya masa lalu," ucap Cahaya dalam hati.
"Jadi bagaimana? apa masih mau dilanjut?" tanya Gilang kembali, karena melihat Cahaya yang hanya diam saja.
Cahaya tidak menjawab, tapi wanita itu menganggukkan kepalanya, sebagai tanda kalau dia mengiyakan.
__ADS_1
Gilang tersenyum dan kembali menarik tubuh Cahaya kemudian membenamkan bibirnya ke bibir Istrinya itu. Pria itu mencium penuh dengan kelembutan agar Cahaya merasa nyaman.
Detak jantung keduanya saling berpacu, karena sejujurnya Gilang juga merasa gugup. Walaupun dia tampan dan kaya, pria itu tidak pernah memanfaatkan ketampanan dan kekayaannya untuk mendapatkan kepuasan dari wanita di luar sana. Jadi, ini merupakan pengalaman pertamanya.
"Ini adalah pengalaman pertamaku, dan aku yakin kalau ini juga merupakan pengalaman pertama kamu. Tapi, kamu tenang saja, kalau masalah beginian kita tidak perlu belajar, karena kita akan belajar sendiri sesuai naluri kita," bisik Gilang dengan lembut setelah ciuman mereka terlepas.
Tubuh Cahaya seketika meremang, mendengar bisikan Gilang. Wanita itu seketika menahan napas begitu bibir suaminya itu kembali mendarat ke bibirnya.
"Bernapaslah seperti biasa, Cahaya!" Gilang, kembali berbisik. Hembusan napasnya di telinga Cahaya seketika membuat tubuh Cahaya kembali meremang.
"Sekarang aku mau tanya sekali lagi, apa kamu benar-benar sudah siap melakukannya malam ini?" tanya Gilang dengan lembut dan tatapan penuh damba.
Cahaya menggigit bibirnya dan menganggukkan kepalanya.
Gilang dengan perlahan mulai kembali mengikis jarak, dan perlahan menempelkan bibirnya ke bibir sang istri. Tidak hanya menempel, Gilang kini sudah menyesap, membelit benda tak bertulang itu.
Cahaya juga akhirnya membalas serangan Gilang dan hal itu tentu saja membuat libido Gilang,
semakin meningkat. Ciuman Gilang kini sudah menjalar turun ke leher, dengan tangan yang juga sudah ikut aktif membuka satu persatu kancing piyama Cahaya.
Piyama yang dikenakan oleh Cahaya kini sudah tertanggal, dan tinggal benda berbentuk kaca mata yang tersisa menutupi benda kembar bak kabut yang menutupi keindahan gunung.
"Kenapa harus ditutupi?" Gilang menyingkirkan tangan Cahaya. Kemudian tangan pria itu menjalar ke punggung istrinya, dengan gerakan cepat melepaskan pengait benda berbentuk kaca mata itu.
Napas Gilang memburu, ketika akhirnya dia bisa melihat pemandangan indah di depannya secara nyata, bukan di video lagi. Gilang menyunggingkan senyuman karena akhirnya bisa menyingkirkan kabut yang menutupi pegunungan, yang puncaknya sepertinya belum pernah didaki oleh siapapun, dan dia yakin kalau dirinyalah pendaki pertama di bukit itu.
Gilang kembali menyesap bibir Cahaya, kemudian merambah turun ke dua bukit kembar milik Cahaya.
Cahaya menggigit bibirnya, berusaha agar tidak mengeluarkan suara-suara laknat dari mulutnya. Cahaya membiarkan Gilang dengan leluasa berwisata di setiap lekuk tubuhnya hingga membuat dirinya merasakan rasa baru yang membuat dirinya seperti melayang.
"Jangan ditahan desahannya, Cahaya, keluarkan!" bisik Gilang yang menyadari kalau istrinya itu sedang berusaha untuk tidak mengeluarkan suara desahannya.
"Nanti ada orang orang yang mendengar, Mas," jawab Cahaya malu-malu.
"Tidak akan ada yang mendengar, karena kamar ini sengaja dirancang kedap suara," sahut Gilang, meyakinkan.
__ADS_1
Gilang kembali melancarkan aksinya dan kali ini, Cahaya sudah tidak malu-malu lagi untuk mengeluarkan lenguhannya, sehingga semakin membuat libido Gilang meningkat.
Tanpa menunggu lama, tubuh keduanya kini sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mereka. Cahaya bahkan sampai menutup matanya begitu melihat tubuh suaminya yang shirtless.
"Kamu sudah siapkan?" bisik Gilang di sela-sela napasnya yang memburu karena pikirannya sudah tertutup dengan kabut gairah.
Pria itu tersenyum lebar ketika Cahaya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Di saat Gilang mengarahkan perkakasnya ke bagian paling inti milik Cahaya, wanita itu tiba-tiba menahan dada suaminya itu.
"Mas, apa rasanya sakit?"
"Sakitnya hanya sebentar saja, kok! Kamu tenang saja, aku akan melakukan dengan pelan," jawab Gilang dengan tatapan yang sendu
Cahaya menggigit bibirnya, dan memejamkan matanya sejenak. Tentu saja hal itu, membuat Gilang menjadi ragu untuk melanjutkan.
"Apa kamu belum siap? kalau belum siap, kita berhenti di sini, lain kali kita lanjutkan lagi sampai kamu benar-benar siap." Gilang hampir saja menjauhkan dirinya dari atas tubuh Cahaya, tapi, wanita itu dengan sigap langsung menahan tubuh Gilang.
"Aku siap, kok Mas" ucap Cahaya dengan sangat yakin. Karena dia merasa sekarang ataupun nanti tidak akan ada bedanya.
Mendengar ucapan Cahaya, seulas senyuman kembali terbit di bibir Gilang. Pria itupun kembali melanjutkan aksinya.
"Kamu tenang saja, aku akan pelan-pelan!" Gilang kembali menekankan kata pelan-pelan.
Dalam hitungan detik, suara teriakan kesakitan dari mulut Cahaya, menggema di dalam kamar itu, karena benda tumpul itu sudah tertanam di lahan milik Cahaya yang masih belum pernah dijamah oleh siapapun.
Gilang tidak langsung bergerak. Pria itu menunggu sampai Cahaya merasa nyaman.
Di saat dirinya yakin kalau istri itu sudah mulai merasa nyaman, Gilang mulai menggerakkan tubuhnya. Cahaya meringis karena masih merasakan nyeri pada intinya. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, karena rasa sakit itu kini berganti dengan rasa baru yang membuat Dirinya meracau tidak jelas.
Suara desa*han yang keluar dari mulut wanita itu, semakin membuat Gilang bersemangat untuk menyentak dan semakin mendorong perkakasnya sampai paling dalam.
Tubuh Gilang dan Cahaya, sama-sama menegang, di saat mereka merasakan ada sesuatu yang akan keluar. Gilang semakin mempercepat gerakannya dan berteriak setelah apa yang ditahannya tadi keluar dan disemprotkan ke dalam inti Cahaya.
Rasa sakit yang sempat dirasakan oleh Cahaya tadi, kini melebur berganti dengan rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata seiring dengan pelepasan yang sudah mereka gapai.
__ADS_1
"Terima kasih, ya Cahaya. Kamu sudah menjaganya untukku," bisik Gilang sembari mengecup kening istrinya dengan lembut.
Tbc