
Gilang berkali-kali melirik ke arah jam tangannya, karena yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Siapa lagi yang dia tunggu kalau bukan Cahaya.
"Kemana sih dia? kenapa belum datang juga?" batin Gilang. Kemudian pria itu meraih telepon dan menghubungi meja resepsionis, untuk menanyakan apakah Cahaya sudah datang atau belum dan lagi-lagi Gilang mendapat jawaban 'belum'.
"Sebaiknya aku telepon dia saja," Gilang meraih handphonenya dan langsung menghubungi Cahaya. Satu kali tidak ada jawaban,dan Gilang mencoba lagi. Yang kedua kali juga sama sekali tidak ada jawaban, demikian juga dengan yang ketiga kali.
"Sial! kemana sih dia? atau jangan-jangan dia tidak mengindahkan perintahku dan tetap pergi dengan dosen itu. Ini tidak boleh dibiarkan,aku harus mencarinya," Gilang berdiri dari tempat duduknya dan langsung menyambar jas yang dia sampirkan di kursi kebesaran.
Baru saja,pria itu menyentuh knop pintu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan yang menghubunginya adalah orang yang membuatnya kesal hari ini, siapa lagi kalau bukan Cahaya.
"Hei kemana aja kamu? kenapa belum ke kantor? kamu pergi dengan dosen itu ya?" bentak Gilang bertubi-tubi tanpa basa-basi lebih dulu.
"Maaf,Mas! aku tidak jadi ke kantormu, karena__"
"Karena apa? karena kamu merasa tidak enak menolak dosenmu itu? begitu?" Gilang langsung memotong ucapan Cahaya, tidak memberikan kesempatan pada wanita itu untuk menyelesaikan ucapannya.
"Mas, bisa tidak nggak main potong pembicaraan dulu? aku belum selesai ngomong, lho," ujar Cahaya dengan nada yang kesal.
" Ya udah, ngomong sekarang! Kamu di mana?"
"Aku sudah pulang ke rumah? karena __"
"Apa? pulang ke rumah? bukannya aku bilang kamu datang ke kantorku?" lagi-lagi Gilang memotong ucapan Cahaya.
"Mas, tolong dengar sampai aku selesai bicara dulu," nada suara Cahaya masih terdengar berusaha untuk sabar.
"Ya udah, sekarang kamu jelaskan kenapa kamu langsung pulang?" Gilang mulai merendahkan nada bicaranya.
"Itu karena aku berpikir kalau aku datang ke sana dan berdiam lama di ruanganmu, pasti akan timbul kecurigaan dan mereka akan menganggapku wanita murahan karena tidak ada yang tahu kalau aku ini istrimu." jelas Cahaya, tidak memberitahukan alasan lain kenapa dia tidak datang ke kantor Gilang.
Mendengar ucapan Cahaya, Gilang terdiam karena pemikirannya tidak sampai ke arah sana.
__ADS_1
"Ya udahlah kalau begitu. Jadi sekarang kamu ada di mana? di kamar atau di mana?" Gilang sudah kembali lembut.
"Iya, aku sekarang di kamar," jawab Cahaya.
"Kalau begitu kamu istirahat aja, aku mau lanjut bekerja lagi," Gilang hampir saja ingin memutuskan panggilan, tapi tidak jadi karena tiba-tiba Cahaya mencegahnya.
"Ada apa lagi?" tanya Gilang, mengrenyitkan keningnya, walaupun sama sekali tidak dilihat oleh Cahaya.
"Mas,apa aku boleh bertanya?" tanya Cahaya dengan sangat hati-hati.
"Hmm," jawab Gilang singkat.
"Mas,aku mau tanya darimana kamu tahu kalau aku mau makan siang dengan dosenku, dan kenapa kamu melarangku? padahal kan aku hanya ingin membalas Budi saja,"
"Udah dulu ya, aku lagi banyak kerjaan," bukannya menjawab pertanyaan Cahaya, Gilang justru langsung memutuskan panggilan secara sepihak, karena dia tidak tahu mau memberikan jawaban apa.
"Sial, kenapa dia bertanya seperti itu? aku aja bingung kenapa bisa begitu," bisik Gilang pada dirinya sendiri sembari mengusap wajahnya dengan kasar
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gilang kembali ingin melakukan pekerjaannya yang sempat tertunda. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu, dimana tadi pagi dia minta orang untuk memasang CCTV di dalam kamarnya. Entah setan apa yang merasukinya hingga punya niat untuk melakukan hal itu. Satu hal yang pasti tujuannya hanya ingin melihat apa yang dilakukan oleh Cahaya di dalam kamar jika dia tidak ada.
"Ah, coba aku lihat. Apa benar dia sudah ada di dalam kamar atau bohong," batin Gilang yang langsung meraih kembali ponselnya. Ya, CCTV itu sudah dihubungkan ke ponselnya.
"Di mana dia? katanya ada di dalam kamar?" batin Gilang ketika melihat Cahaya sama sekali tidak ada di dalam kamar. Wajahnya seketika memerah, karena meras dibohongi. Pria itu hampir saja ingin mematikan rekaman CCTV, tapi dia urungkan begitu melihat Cahaya yang baru saja masuk dengan membawa Gelas berisi jus ke dalam kamar. Sepertinya wanita itu, tadi keluar untuk membuat juice untuk mengurangi rasa kesalnya pada Gilang.
"Itu dia ternyata," seulas senyuman langsung bertengger indah di bibirnya.
"Haish, dia mau ngapain itu?" Gilang seketika meneguk ludahnya sendiri, melihat pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana tidak, pria itu melihat Cahaya membuka pakaian yang dia pakai tadi ke kampus dan menggantinya dengan pakaian rumahan.
"Tidak boleh, aku tidak boleh melihatnya." Gilang meletakkan ponselnya dengan terbalik. Namun entah kenapa dia merasa penasaran dan kembali ingin melihat. Peluh kini sudah keluar dari pelipisnya, dan di bawah sana sudah menggeliat ingin bangun, melihat di layar di mana Cahaya yang sudah membuka celananya dan hanya menyisakan benda berbentuk segitiga , menutup goa kegemaran para pria itu.
__ADS_1
"A- apa lagi yang dia mau lakukan itu? kenapa dia tidak langsung memakai celana lagi atau rok?" batin Gilang yang tangannya gemetaran saat memegang handphonenya. Pria itu terlihat mulai merasa panas.
Gilang melihat Cahaya yang sepertinya kebingungan mencari celananya. Wanita itu memukul jidatnya, pertanda kalau dia lupa mengambil celana rumahan.
"Lang,kamu lagi lihat apa tuh?" Gilang terjungkal kaget dan hampir saja melemparkan ponselnya, karena tiba-tiba Bayu sudah berdiri di sampingnya.
"Bayu! kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu kalau mau masuk?" Gilang mengelus-elus dadanya.
"Enak aja bilang begitu. Aku dari tadi sudah mengetuk pintu, tapi tidak kamu respon sama sekali. Ternyata kamu lagi asik menonton sesuatu. Kamu lagi nonton apa sih? bagi-bagi dong, Jangan nonton sendiri!" Bayu berusaha meraih handphone dari tangan Gilang.
"Tidak boleh! siapa bilang aku lagi nonton? a-aku lagi tidak nonton apa-apa," Gilang langsung menyembunyikan handphonenya ke belakang tubuhnya.
"Kamu pikir aku percaya? tidak mungkin kamu tidak menonton apa- apa. Lihat tuh kamu aja sampai berpeluh begitu, padahal suhu ruangan ini lumayan dingin. kamu lagi nonton film yang begituan ya?" tebak Bayu dengan mata sengaja di naik-naikkan ke atas, meledek.
"Enak aja. Jangan asal main tuduh!" bantah Gilang tegas.
"Kalau begitu coba aku lihat," Bayu memeluk Gilang, berusaha untuk merampas ponsel dari tangan Gilang.
"Bayu berhenti! jangan coba-coba mengambil ponselku! Kalau tidak aku potong gajimu!" pekik Gilang panik.
"Bodo amat! mau kamu potong gajiku, aku tidak peduli! yang penting aku tahu apa yang sedang kamu lihat di handphone itu," Bayu mempererat pelukannya dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan handphone yang digenggam erat oleh Gilang.
brakk ...
Pak, ini laporan yang tadi Bapak min ... ta,"
Gilang dan Bayu sontak menoleh ke arah pintu dan melihat kalau sekretaris, sudah berdiri di ambang pintu dengan mata yang membesar dan mulut yang terbuka.
Gilang dan Bayu langsung saling menjauh, tersadar kenapa sekretaris itu bisa berekspresi seperti itu, bagaimana tidak, posisi mereka berdua tadi, seperti dua orang pria yang sedang memadu kasih.
Tbc
__ADS_1