
Randi melihat jam di pergelangan tangannya, yang ternyata sudah menunjukkan puku sebelas lebih 30 menit. Seandainya dia tidak memiliki hal penting yang harus diurus, dia ingin sekali mengajak kedua wanita di depannya untuk makan siang bersama, agar bisa semakin dekat dengan Cahaya.
"Emm, sepertinya aku harus pergi dulu, karena ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Kalian berdua lanjutkan saja bicaranya, ya!"
"Silakan, Pak!" sahut Cahaya dan Reyna hampir bersamaan.
Randi mengayunkan kaki, melangkah meninggalkan Cahaya dan Reyna.
"Kak Reyna mengenal, Pak Randi?" tanya Cahaya setelah tubuh Randi hilang dari pandangan.
"Sebenarnya baru kenal hari ini,sih. Dia dosen kamu ya?"
"Iya, Kak." jawab Cahaya, singkat.
"Kamu ternyata hebat ya, bisa kuliah di sini?" puji Reyna kemudian.
"Ah, Kakak berlebihan. Aku tidak mungkin bisa kuliah di sini kalau bukan karena mas Gilang yang mengurusnya,"
Reyna tercenung untuk sepersekian detik, mendengar kenyataan kalau Gilang sudah mulai perhatian pada Cahaya. Namun detik berikutnya Reyna berusaha menepis rasa sedih di hatinya, menggantinya dengan senyuman yang lebar.
"Itu berarti dia mulai memberikan hatinya padamu, karena jarang lho Gilang bersikap seperti itu pada perempuan," ucap Reyna menutupi rasa sakit yang masih menusuk hatinya.
Cahaya tidak memberikan tanggapan atas ucapan Reyna. Justru gadis itu memperhatikan ekspresi wajah Reyna, dan Cahaya bisa membaca ada sedikit kesedihan yang tercetak di wajah Reyna, wanita yang menurutnya masih sangat dicintai Gilang, demikian juga sebaliknya.
"Kak Reyna,apa kakak masih mencintai mas Gilang?" Reyna terkesiap kaget mendengar pertanyaan Cahaya yang tiba-tiba.
"Apa kamu mau jawaban yang jujur?" Reyna balik bertanya dan Cahaya mengangguk, mengiyakan.
"Sebenarnya,masih." ucap Reyna sembari memperhatikan perubahan wajah Cahaya.
"Tapi, kamu tenang saja. Aku sudah berdamai dengan hatiku, dan tidak punya niat untuk mengambil Gilang kembali. Kenapa? karena aku juga percaya pada kesucian sebuah pernikahan. Aku tahu kalau pernikahan sama sekali bukan permainan," tutur Reyna sembari menyelipkan seulas senyuman di bibirnya.
"Sekarang aku mau bertanya juga, apa kamu sudah mencintai Gilang?" lanjut Reyna kembali.
Cahaya tercenung mendengar pertanyaan Reyna. Sejujurnya dia masih merasa ambigu dengan perasaan yang dia rasakan. Dia memang mengagumi pribadi pria yang sudah menjadi suaminya itu, tapi untuk perasaan cinta, dia masih bingung.
"Kak Reyna, apa kagum bisa dikategorikan dengan cinta?" tanya Cahaya dengan alis yang bertaut.
__ADS_1
"Emm, gimana ya? sepertinya sih belum, tapi mengarah ke arah sana. Kagum dulu baru bisa timbul cinta. Apa kamu mengagumi Gilang?"
Wajah Cahaya memerah dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu harus semakin semangat untuk belajar mencintai Gilang,"
"Percuma, Kak kalau aku saja yang berusaha mencintanya, sedangkan dia tidak," sahut Cahaya dengan lirih.
"Siapa bilang kalau dia tidak belajar mencintamu? dia tengah belajar sekarang. Dan aku rasa, tidak sulit membuat seorang pria jatuh cinta padamu. Satu hal yang harus kalian waspadai sebenarnya adalah Dania, jika suatu saat dia tahu akan pernikahan kalian berdua," ujar Reyna dengan raut wajah serius.
Cahaya membenarkan ucapan Reyna di dalam hati, karena alasan pernikahan mereka tidak dipublikasikan, karena Dania.
"Oh ya sekarang kamu mau pulang ya? apa kamu dijemput?" Reyna mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, Kak. Aku akan naik taksi,"
"Bagaimana kalau aku antarkan kamu pulang? kebetulan hari ini aku kerja setengah hari saja," Reyna menawarkan diri.
"Tidak usah, Kak. Nanti Kakak repot," tolak. Cahaya,merasa tidak enak.
"Tidak sama sekali! ayo kita ke mobilku!" Reyna meraih tangan Cahaya,mengajak wanita itu berlalu dari tempat itu.
Reyna dan Cahaya berhenti melangkah untuk sejenak. Cahaya merogoh handphone dari dalam tas dan melihat kalau Gilang sedang menghubunginya.
Seketika, Cahaya melirik ke arah Reyna merasa tidak enak kalau dia menerima panggilan dari Gilang.
"Angkat saja teleponnya? kamu tidak perlu sungkan padaku?" ucap Reyna yang menyadari kecanggungan Cahaya untuk menjawab panggilan dari Gilang.
"Emm, i-iya, Kak!" sahut Cahaya dengan gugup. Kemudian dia pun menekan tombol jawab.
"Halo, Mas!" sapa Cahaya.
"Kamu dimana? apa kamu sudah selesai kuliahnya?" tanya Gilang dari ujung sana.
"Sudah,Mas. Sekarang aku mau pulang sama ...." Cahaya menggantung ucapannya karena melihat Reyna yang melambaikan tangan, mengisyaratkan agar Cahaya tidak memberi tahukan kalau dirinya ada di kampus Cahaya. Karena dia yakin kalau keberadaannya di sini akan menimbulkan banyak pertanyaan yang pasti akan menimbulkan kemarahan pada Dania.
"Kenapa kamu berhenti bicara? sama siapa kamu akan pulang?" terdengar nada curiga dari suara Gilang.
__ADS_1
Sama taksi, Mas!" jawab Cahaya akhirnya, berhasil Gilang percaya.
"Oh begitu? kalau begitu kamu tidak usah pulang. Kamu langsung ke kantorku saja, karena hari ini aku tidak kemana-mana. Kita pulang nanti sore sama-sama," ucap Gilang yang percaya dengan ucapan Cahaya.
"Tapi,Mas, aku __" Cahaya berhenti bicara karena Gilang sudah memutuskan panggilan secara sepihak, menandakan kalau pria itu benar-benar tidak menerima penolakan darinya.
"Kak, aku sepertinya tidak jadi pulang ke rumah. Aku ...." Cahaya ragu melanjutkan ucapannya.
"Kamu diminta Gilang datang ke kantornya ya?" tebak Reyna dan Cahaya mengangguk lemah.
"Ya udah, kalau begitu aku akan antar kamu ke kantornya," pungkas Reyna dengan senyum lebar, berusaha kembali menutupi rasa sesak yang kembali timbul.
"Sepertinya, Gilang sudah mulai ada rasa cinta pada Cahaya, makanya dia menginginkan Cahaya menemaninya di kantor," bisik Reyna dalam hati.
"Tapi, kalau boleh, Kakak ikut masuk ya ke dalam ruangan mas Gilang?"
Reyna mengrenyitkan keningnya, gagal paham dengan keinginan Cahaya. Seketika dia merasa kalau Cahaya ingin memperlihatkan kemesraan dengan Gilang di depannya. Namun, detik berikutnya dia berusaha menepis pikiran negatifnya itu.
"Maksudnya? kenapa aku harus ikut masuk?"
"Kalau aku sendiri yang masuk dan lama di dalam sana, pasti akan menimbulkan pemikiran negatif dari para karyawan, karena yang mereka tahu kalau tunangan mas Gilang itu non Dania. Kalau kakak ikut masuk, aku yakin kalau mereka tidak berpikir yang tidak-tidak. Aku juga tidak mau seperti orang bodoh, yang diam saja nantinya Kak sementara dia sibuk bekerja, Cahaya menjelaskan alasannya.
"Oh, seperti itu? iya juga ya?" ucap Reyna dengan sangat pelan, membenarkan ucapan Cahaya.
"Baiklah, kalau begitu! tapi jangan kamu kasih tahu kalau kita bertemu di kampus. Bilang saja kalau kita bertemu entah di mana gitu,".
"Kenapa, Kak?" Cahaya mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Tidak apa-apa! tapi bilang gitu aja. Kamu bisa kan?" Cahaya menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya dia masih penasaran.
"Oh, sekarang coba kamu tanyakan dia dulu, apa dia sudah makan siang atau belum? Karena setahuku dia suka lupa makan kalau sudah serius kerja. kalau belum makan, nanti kita singgah untuk membelikan makanan untuknya sekalian untuk kita juga," tanpa sadar Reyna menunjukkan perhatiannya, membuat Cahaya seketika merasa tertampar, karena sama sekali tidak memikirkan ke arah sana.
Sementara itu, Di lain tempat Dania terlihat sangat kesal karena tidak bertemu dengan Reyna di rumah sakit. Dia mendengar dari perawat kalau Reyna hanya bekerja setengah hari, dan sudah keluar dari tadi.
"Sial! dia pergi kemana sih? mana dia tidak mau menerima teleponku lagi," Dania menggerutu dalam hati sembari berjalan menuju mobilnya.
"Atau jangan-jangan dia pergi menemui Gilang ke kantornya? ah ini tidak boleh terjadi, aku harus memastikannya ke sana sekarang!" Dania seketika merasa panik dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Tbc
Minta dukungannya dong guys. Please Vote rekomendasinya dikasih ke karya ini, biar aku semakin semangat. Jangan lupa juga buat meninggalkan jejak jempolnya serta komentar. Kalau mau kasih hadiah,juga boleh 🥰🙏🏻