Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Menyelesaikan salah paham


__ADS_3

Gilang berhenti di sebuah pemakaman dan langsung berlari masuk ke dalam. Makan siapa lagi yang dia tuju kalau bukan makam kedua mertuanya. Dia mengira kalau Cahaya akan ke makam untuk menyampaikan keluh kesahnya. Namun, makam itu terlihat kosong, tapi ada taburan bunga yang masih terlihat segar. Itu berarti kedua makam itu baru saja dikunjungi.


"Bunganya masih fresh, aku yakin kalau Cahaya pasti baru datang ke makam ini," batin Gilang sembari menyentuh taburan bunga-bunga itu. Karena sudah datang ke makam, Gilang tidak langsung pergi, tapi pria itu pindah ke batu nisan dan memanjatkan doa.


"Pa, Ma. Sekarang anak kalian berdua sedang marah padaku. Doakan aku, agar aku bisa secepatnya menemukannya dan menjelaskan kesalahpahaman ini," ucap Gilang sembari mengelus papan nisan.


Setelah itu, Gilang berdiri dan melangkah keluar dari area pemakaman. Tujuannya sekarang cuma satu, yaitu rumah mendiang kedua mertuanya.


Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, mobil yang dikendarai oleh Gilang kini sudah berhenti di depan rumah yang dia tuju. Pria itu pun keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah pintu.


Tok tok tok


Gilang mengetuk pintu dengan perlahan dan menunggu beberapa saat. Namun tidak ada sama sekali tanda-tanda kalau akan ada yang membukakan pintu.


Tok tok tok


Gilang mencoba sekali lagi, tapi hasilnya tetap nihil.


"Apa dia tidak ada di dalam? Kata Bu Sukma dia tidak datang ke panti, tapi dia juga tidak ke sini, berarti kemana lagi dia pergi?" batin Gilang dengan wajah yang terlihat sudah letih.


Gilang berbalik ingin kembali masuk ke dalam mobil, tapi entah kenapa dia kembali lagi dan mencoba mengintip dari jendela.


Secercah harapan kembali muncul begitu dia melihat ada cahaya lampu menerangi ruangan tengah.


"Berarti Cahaya ada di dalam sana? sepertinya dia tertidur atau sengaja tidak membukakan pintu. Bagaimana aku masuk kalau pintu dikunci dari dalam?" Gilang mengusap wajahnya dengan kasar dan berpikir keras.


"Oh, Kenapa aku bisa lupa? bukannya aku punya kunci duplikatnya dan sama sekali belum aku pindahkan dari mobil? aku ambil dulu, mudah-mudahan Cahaya belum memindahkannya," Gilang berjalan kembali ke arah mobil.


Gilang membuka laci dashboard mobil dan mencoba mencari kunci yang sudah diduplikatnya.


"Ah, ketemu! ini dia." Gilang bersorak dalam hati dan kembali menutup pintu mobilnya. Pria itu kemudian kembali melangkah ke arah pintu dan langsung membuka pintu menggunakan kunci tadi.


Setelah pintu berhasil terbuka, Gilang melangkah masuk dengan sangat hati-hati menuju kamar. Dengan sangat perlahan Gilang memutar handle pintu dan benar saja, dia melihat wanita yang dia cintai sedang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


Gilang melangkah menghampiri dan berjongkok persis di depan wajah Cahaya. Mata wanita itu terlihat bengkak, pertanda kalau wanita itu sudah lama menangis.


Gilang mengikis jarak dan mengecup kedua mata Cahaya dengan penuh perasaan. Merasa ada sesuatu yang menyentuh matanya, membuat Cahaya membuka matanya.


Cahaya sontak duduk dengan mata yang membesar, melihat kehadiran Gilang.


"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Cahaya menghilangkan panggilan mas.


"Aku dari tadi mencari-cari istriku yang pergi tanpa pamit. Aku yakin kalau kamu pasti datang ke sini, makanya aku menyusulmu," sahut Gilang sembari mendaratkan tubuhnya duduk di atas ranjang.


"Kenapa aku bisa ketiduran sih? dia jadi bisa menemukanku 'kan?" Cahaya merutuki kebodohannya dalam hati. Padahal tadinya wanita itu berniat hanya sebentar saja di rumah ini dan akan pergi jauh, karena dia tahu kalau Gilang pasti akan mencarinya ke rumah ini. Namun, karena rasa kantuk, dia pun tertidur.


"Untuk apa kamu mencariku? biarkan saja aku pergi dari hidupmu dan keluargamu. Aku sekarang tahu alasan kamu sebenarnya menikahiku karena hanya ingin balas budi. Aku tidak perlu balas budi kalian. Sekarang aku mau kamu urus perceraian kita," ucap Cahaya dengan hati yang sangat berat saat mengeluarkan kata-kata itu.


"Tidak akan! tidak akan ada yang namanya perceraian di antara kita!" ucap Gilang tegas. "Cahaya, alasanku selama ini tidak memberitahukanmu yang sebenarnya, itu karena aku takut kamu pergi dan membenciku. Aku mendengar dari buk Sukma,kamu masih saja menyalahkan anak yang diselamatkan oleh papamu. Aku merasa kalau kamu membenciku, hidupku tidak akan pernah tenang," lanjut Gilang kembali.


"Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, aku mau kita berpisah saja,"


"Kalau kamu tidak mau mengurusnya, aku sendiri yang akan mengurusnya. Aku sangat kecewa karena kalian semua sudah membohongiku. Aku seperti orang bodoh kalian buat," air mata Cahaya mulai kembali menetes.


"Untuk masalah itu aku minta maaf, Cahaya! tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku akan mempertahankan pernikahan kita sampai kapanpun,"


"Kenapa? kenapa kamu tidak mau menceraikanku? bukannya dengan menceraikanku, kamu bisa kembali bersama dengan wanita yang kamu cintai dan yang sangat diinginkan oleh Oma untuk jadi istrimu? dengar mas Gilang, untuk masalah penyebab meninggalnya papaku,aku sudah ikhlas dan tidak menyalahkanmu lagi. Jadi, mari kita selesai hari ini, karena aku tidak mau kamu hidup bersamaku tapi hatimu bukan untukku." ucap Cahaya dengan panjang lebar dan tetesan air mata yang bertambah banyak.


Gilang merasa tidak kuat melihat tangisan Cahaya. Pria itupun meraih tubuh Cahaya dan memeluk tubuh istrinya itu dengan erat.


Cahaya mencoba berusaha memberontak, tapi dia kalah dengan tenaga Gilang, hingga akhirnya dia pasrah.


"Sayang," untuk pertama kalinya Gilang memanggil kata ajaib yang selama ini selalu ditunggu oleh Cahaya.


"Awalnya memang aku menikahimu karena balas budi, tapi jujur sebenarnya kamu sudah berhasil membuatku jatuh cinta padamu. Apa kamu tidak merasakannya sama sekali? aku benar-benar mencintaimu Cahaya! jika kamu meminta pisah, lebih baik kamu ambil dulu nyawaku," ucap Gilang dengan lembut.


"Kamu bohong! kata kak Dania cintamu hanya untuk __"

__ADS_1


"Reyna. Kamu mau bilang kalau aku masih mencintai Reyna kan?" sambar Gilang dengan cepat. "Aku berani sumpah, Sayang, rasa cintaku sudah untukmu bukan untuk Reyna lagi. Kalau masalah sayang, ya aku memang menyayanginya, sama seperti aku menyayangi Grizelle, Oma, papa dan mama. Kamu sudah lama mengisi hatiku, Aya. Apa kamu tidak menyadarinya? bagaimana cemburunya aku begitu tahu kalau Randi mengajakmu makan siang, bagaimana khawatirnya aku, ketika tahu Dania mendatangimu? Apa kamu tidak merasakan perhatianku selama ini?" sambung Gilang kembali, panjang lebar.


Cahaya bergeming, tidak menjawab karena memang dia tidak bisa membantah perhatian Gilang selama ini.


"Bagaimana aku bisa tahu, kamu aja nggak pernah mengatakannya," ucap Cahaya dengan lirih.


"Itu memang kesalahanku. Aku merasa kalau kamu akan mengerti sendiri dengan perhatian yang aku berikan," jelas Gilang sembari mengecup puncak kepala istrinya.


"Tapi, Oma Melinda sangat menginginkan kak Reyna untuk menjadi istrimu, Mas."


"Ya, aku akui itu, tapi Oma juga bersyukur kalau aku menikahimu. Dia juga menyayangimu, Sayang. Kamu salah paham sama Oma," tutur Gilang kembali menjelaskan.


"Satu hal yang aku minta, jangan terlalu percaya pada Dania lagi, karena dia sama sekali tidak pernah berubah. Dia hanya berpura-pura dan menginginkan perpisahan kita,"


Cahaya mengrenyitkan keningnya, merasa kurang percaya, karena yang dia lihat kalau Dania benar-benar sudah berubah. Melihat ekspresi wajah tidak percaya istrinya, Gilang akhirnya menceritakan apa yang sudah terjadi ketika dia mendatangi Dania di rumahnya. Satu-satunya yang tidak dia kasih tahu yaitu mengenai dirinya yang sudah tahu kalau sebentar lagi dia akan jadi seorang ayah. Dia ingin Istrinya itu memberitahukan sendiri padanya, supaya Istrinya itu tidak kecewa, mengetahui bahwa suaminya tahu dari orang lain.


"Jadi, dia hanya berpura-pura?" Gilang mengangguk-anggukan kepala, membenarkan.


"Sekarang, aku mau tanya kamu,apa kamu juga mencintaiku?" kini giliran Gilang yang bertanya, membuat pipi wanita itu memerah seketika.


"Apa ada gunanya kalau aku jawab? kalau aku jawab tidak, apa kamu akan melepaskanku?" tanya Cahaya balik.


"Tentu saja tidak!" ucap Gilang tegas.


"Kalau begitu tidak ada gunanya juga kan? iya atau tidak, kamu akan tetap tidak melepaskanku,"


"Tapi aku juga butuh tahu, Sayang. Kalau kamu jawab belum, aku akan berusaha keras untuk membuatmu mencintaiku,"


"Hmm, kalau begitu sini telingamu, biar aku bisikin," Gilang mendekatkan telinganya sesuai dengan permintaan Cahaya.


"Mas, aku dan anakmu, lapar." bisik Cahaya membuat mata Gilang membesar.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2