Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Tertawa lepas


__ADS_3

"Stop bilang dia murahan!" suara Gilang semakin tinggi dan napasnya sudah memburu. bahkan tangan pria itu sudah terkepal dengan kencang.


"Kalau dia bukan murahan, jadi wanita seperti itu mau disebut apalagi? lihatlah, dia bahkan sudah berani tampil dengan penampilan seperti bukan seorang pembantu. Apalagi maksudnya kalau bukan ingin menggodamu?"


"DIAM!" sebelum aku benar-benar marah dan mengusirmu dengan kasar, sebaiknya kamu tinggalkan tempat ini!" Gilang mulai merasa kesabarannya mulai hilang.


"Aku tidak mau! aku mau tetap di sini! lagian mana berani kamu mengusirku dengan kasar, kamu tidak mau kan kalau kamu dianggap kasar pada seorang wanita, apalagi semua tahu kalau aku ini tunangan kamu," tolak Dania seketika memanfaatkan statusnya. Dia tahu jelas kalau sempat Gilang berlaku Kasar padanya, nama baiknya akan tercemar yang tentu saja bisa berakibat fatal pada perusahaannya.


Dania kemudian melangkah melewati tubuh Bayu dan Reyna untuk bisa menarik Cahaya berdiri dari tempat duduknya.


"Minggir kamu! aku mau duduk di dekat calon suamiku!"


Cahaya menggigit bibirnya berusaha menahan tangis. Wanita itu baru saja ingin berdiri, tapi langsung ditahan oleh Gilang.


"Tetap duduk di sini!" titahnya. Kemudian dia menatap tajam ke arah Dania. "Keluar dari sini!" ucapnya dengan tegas


"Tidak mau!" Dania masih berusaha untuk menolak.


"Dania, kalau tujuanmu mau membuat keributan, tolong kamu keluar dari sini!" kali ini Reyna yang bersuara. Wanita itu benar-benar tidak bisa menahan diri lagi.


"Reyna! kenapa kamu berbicara seperti itu? kenapa kamu lebih membela dia dibandingkan aku sahabatmu?" ujar Dania, kaget dengan Reyna yang tega mengusirnya.


Reyna mendengus dan berdecih mendengar kata sahabat keluar dari mulut Dania.


"Sahabat? sahabat apa yang tega ingin menjerumuskan sahabat sendiri?" sindir Reyna dengan seringaian sinis di sudut bibirnya.


Wajah Dania sontak berubah. "Aku tidak tahu kalau hal itu akan terjadi, Reyna. Kamu jangan menyalahkanku dengan apa yang menimpamu."


"Jadi, aku harus menyalakan siapa? menyalahkan keadaan begitu maksud kamu? Kamu kan yang merencanakan agar aku bisa dekat dengan Danar? padahal kamu tahu jelas kalau pria yang kamu kenalkan itu adalah pria bejat,"


"Kalau untuk hal itu aku minta maaf, Reyna. Tapi, aku benar-benar tidak menyangka kalau dia berniat menjebakmu,"


"Menjebak? apa maksud kamu dengan kata menjebak? apa Reyna dijebak?" pekik Gilang tiba-tiba.


Cahaya melihat reaksi Gilang yang terlihat sangat marah dan wanita itu seketika menyalah artikan reaksi berlebihan suaminya itu.


"Ternyata mas Gilang sangat mencintai kak Reyna, makanya dia bisa semarah itu," batin Cahaya.


"Ini cuma salah paham, Lang. Aku bermaksud hanya ingin membuat Reyna dengan dengan seorang pria, biar dia tidak sendiri terus. Namun, aku tidak menyangka kalau Danar berniat menodai Reyna, tadi malam," sahut Dania yang seketika merasa takut melihat reaksi Gilang.


"Brengsek! kamu benar-benar ...." Gilang mengangkat tangannya hendak memukul Dania, beruntungnya Reyna dengan sigap langsung menahannya.

__ADS_1


"Gilang! dia itu perempuan! aku tidak apa-apa, karena ada pria yang menyelamatkanku,"


Gilang menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Sekarang, lebih baik kamu keluar Dania!" Reyna kembali buka suara.


"Sekali aku bilang tidak mau ya tidak mau. Yang pantas keluar dari sini ya dia!" Dania menunjuk ke arah Cahaya.


"Terserah kamu kalau begitu. Jangan menyesal kalau kamu diacuhkan nanti," pungkas Reyna yang tidak mau ribut lagi. Wanita itu kembali melanjutkan makannya diikuti yang lainnya


Dania seakan tidak peduli dengan sikap acuh Gilang dan Reyna. Wanita itu dengan tidak tahu malunya malah duduk di samping Gilang dan langsung meraih sendok yang ada di tangan Gilang dan langsung menyendokkan makanan Gilang ke dalam mulutnya.


"Dania, itu udang, kamu kan alergi seafood!" seru Reyna.


Dania seketika tersentak kaget. Tapi sudah terlambat makanan itu sudah masuk ke dalam perutnya.


Benar saja, tidak perlu menunggu lama, Dania mulai merasa kalau tubuhnya sudah mulai terasa gatal. Tangan wanita itu terlihat sudah mulai aktif menggaruk-garuk tangan serta lehernya.


"Tuh kan apa aku bilang?" celetuk Reyna sembari tetap melanjutkan makannya.


"Gilang tolong aku. Tolong belikan aku obat alergi," mohon Dania sembari tetap menggaruk-garuk tubuhnya.


"Aku tidak ada waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini!" ucap Gilang, santai. Gilang benar-benar berhenti makan sekarang.


Reyna menghela napasnya dengan cukup panjang. Kalau menurut kata hati, ingin sekali dia mengacuhkan permintaan Dania. Namun melihat kulit Dania yang sudah mulai memerah, mau tidak mau akhirnya dia merasa tidak tega juga.


"Baiklah, kali ini aku akan menolongmu, tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu. Aku mau menolongmu karena aku masih memiliki rasa kemanusiaan, walaupun sifatmu bukan seperti manusia," ucap Reyna dengan sarkastik sembari berdiri dari tempat duduknya dan beranjak keluar diikuti oleh Dania..


Dania sebenarnya sangat ingin membalas ucapan sarkas Reyna tapi rasa gatal yang amat sangat membuat wanita itu seketika menyingkirkan keinginan itu.


Sementara itu, setelah Dania dan Reyna keluar dari ruangan, Gilang menutup makanannya berdiri dan langsung membuang makanannya.


"Lho kenapa dibuang, Mas?" tanya Cahaya yang seketika merasa sayang dengan sisa makanan Gilang yang memang masih banyak. Dia langsung membayangkan betapa banyaknya orang di luaran sana yang sangat memimpikan bisa makan enak seperti makanan yang terbuang itu. Apalagi begitu mengingat harga makanan itu yang lumayan mahal.


"Makanan itu sudah tercemar karena disentuh sama wanita ular tadi," jawab Gilang dengan kesal.


"Kan yang disentuh cuma sedikit. Lagian dia kan menggunakan sendok," protes Cahaya.


"Sama saja, aku tidak mau lagi!" ucap Gilang tegas.


Kemudian Gilang kembali duduk di samping Cahaya. "Sekarang kamu suapin aku!" ucapnya yang seketika membuat Cahaya berhenti makan dan menoleh ke arah Gilang.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam? ayo sekarang suapin aku!" Gilang mengulangi perintahnya.


"Mas, bagaimana aku bisa menyuapi kamu? tidak ada sendok baru, satu-satunya sendok ya hanya ini dan inipun sudah aku pakai. Atau kamu mau memakai sendok bekas makan Reyna?" Cahaya hendak meraih sendok bekas Reyna, tapi langsung ditahan oleh Gilang.


"Tidak usah! aku mau makan pakai sendok yang kamu pakai,"


Mata Cahaya mengerjab-erjab semakin bingung.


"Lho, kenapa kamu masih diam? ayo kamu suapin aku!" titah Gilang kembali, menyadarkan Cahaya dari kebingungannya.


Cahaya dengan tangan yang gemetar akhirnya menyuapi Gilang menggunakan sendok bekasnya.


"Kamu juga makan!" ucap Gilang, melihat Cahaya yang sama sekali tidak makan lagi.


"Tapi ...."


"Tapi, apa? apa kamu merasa jijik dengan berbagi sendok denganku?" Cahaya menggelengkan kepala dengan cepat.


"Jadi tunggu apa lagi? ayo makan!" Gilang meraih sendok dari tangan Cahaya dan menyuapi istrinya itu. Kemudian, Dia kembali memberikan sendok itu ke tangan Cahaya, agar wanita itu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Bayu yang melihat interaksi keduanya seketika merasa jengah dan tiba-tiba kenyang.


"Ribet banget sih kalian berdua! cukup satu orang aja yang megang tuh sendok kenapa sih? ini pakai gantian segala," protesnya dengan raut wajah kesal. "Lagian, di ruangan ini bukan hanya kalian berdua,masih ada aku. Apa kalian menganggap aku makhluk tidak kasat mata? Kalian bahkan tidak kasihan pada jomblo akut sepertiku," lanjutnya kembali.


"Kamu lebih baik diam dan lanjutkan makanmu!" sahut Gilang tidak peduli dengan protes yang dilayangkan oleh Bayu.


"Haish, kalau begini lebih baik aku mendekati Grizelle. Sepertinya adikmu itu, suka padaku,". celetuk Bayu yang membuat Gilang seketika berdiri dan menghampiri Bayu.


"Berani sekali kamu mau mendekati adikku?" ucap Gilang sembari menjepit kepala sahabatnya itu. "Kalau kamu mendekatinya bukan karena cinta dan hanya supaya kamu tidak jomblo, lebih baik jangan dekati sama sekali. Aku tidak akan pernah rela melihat adikku merasa sakit hati nanti, " ucap Gilang lagi dengan tetap tidak melepaskan jepitannya.


"Haish, lepaskan, Lang! aku kan hanya bercanda tadi!" Bayu berusaha melepaskan diri dari jepitan Gilang.


"Tidak akan! nih rasakan!" Gilang semakin mengencangkan jepitannya.


Tawa Cahaya seketika pecah, melihat kekonyolan yang dipertontonkan oleh Gilang dan Bayu. Tawa Cahaya yang begitu lepas seketika membuat Gilang berhenti menjepit dan tertegun menatap ke arah Cahaya yang kecantikannya semakin terpancar dengan tawa lepasnya. Sementara itu, Bayu dengan cepat menyingkir menjauh dari Gilang.


Cahaya sontak tersadar dan menutup mulutnya. Dia memaknai lain tatapan Gilang. Dia mengira kalau Gilang tidak menyukai dia tertawa lepas seperti itu.


"Ma-maaf! a- aku tidak sengaja tertawa kencang seperti itu," ucap Cahaya dengan gugup.


"Jangan takut Cahaya! justru kamu harus sering-sering tertawa seperti itu, karena kamu terlihat semakin cantik. Gilang tidak marah justru dia lagi terpesona dengan kecantikanmu," celetuk Bayu yang seketika mendapat lemparan bantal dari Gilang.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2