Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Reyna and Randi's Wedding


__ADS_3


Hari yang ditunggu oleh Randi dan Reyna kini sudah tiba. Setelah tadi pagi mereka sudah sah menjadi pasangan suami-istri secara hukum dan agama, malam ini acara resepsi pernikahan impian Reyna akan dihelat secara besar-besaran.


Reyna kini sudah tampil cantik dalam balutan gaun berwarna putih, seperti yang diimpikan dia selama ini.



Demikian juga dengan Randi yang juga sudah tampil gagah dengan tuxedo hitamnya.



Wajah keduanya tampak berbinar bahagia, terlebih Randi yang memang sudah lama menunggu pernikahan ini. Ya, setelah dia datang bersama kedua orangtuanya untuk melamar Reyna, Reyna menerima dengan syarat tidak langsung menikah dalam waktu yang sangat dekat. Wanita itu, meminta agar pernikahan mereka diadakan dua bulan ke depan, karena dia ingin memastikan perasaannya dulu. Setelah dia merasa kalau hatinya sudah sepenuhnya untuk Randi, akhirnya wanita itu pun bersedia untuk menikah.


"Kamu cantik sekali, Sayang!"puji Randi dengan sorot mata yang benar-benar terpukau.


"Jangan lebay deh. Aku memang cantik dari dulu," jawab Reyna sembari memutar bola matanya jengah.


"Tapi, kali ini kecantikanmu terlihat lebih spektakuler," Randi tetap saja tidak mau berhenti memuji.


"Udah ah, sebentar lagi, acara mau mulai, lebih baik kita bersiap untuk masuk ke tempat acara," Reyna melangkah meninggalkan Randi. Bukan karena kesal dengan pujian pria yang sudah menjadi suaminya itu, tapi karena dia tidak mau Randi melihat kalau sekarang dia sedang tersipu malu karena pujian pria itu.


"Sayang, kenapa main pergi begitu aja sih?" Randi mengejar Reyna. "Kamu tidak mau memuji aku tampan?" wajah Randi terlihat masam.


"Buat apa muji kamu? setiap hari juga kamu selalu terlihat tampan," sahut Reyna yang secara langsung sudah memuji pria itu.


"Wah, yang benar? akhirnya, aku mendengar sendiri kamu bilang aku tampan. Selama ini kamu kan sangat susah mengakuinya. Jadi makin cinta deh sama kamu," Randi mencubit pipi Reyna dengan gemas.


"Mas Randi! jangan main cubit-cubit dong! sakit tahu!" Reyna mengerucutkan bibirnya.


Randi ingin kembali mencubit pipi Reyna, tapi dia urungkan karena dia mendengar suara MC yang meminta mereka untuk masuk ke ruangan tempat acara.


Randi kemudian langsung meraih tangan Reyna dan menggandeng wanita itu untuk masuk ke dalam ruangan. Kehadiran mereka tentu saja langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan.

__ADS_1


Sebuah lagu romantis berjudul ' nothing's gonna change my love For you' menggema mengiringi raja dan ratu di acara itu sampai ke pelaminan.


Di antara para tamu, tampak Gilang dan Cahaya yang terlihat bahagia juga melihat sepasang pengantin baru itu. Gilang menoleh ke arah Cahaya yang terlihat sangat antusias menghadiri pesta pernikahan ini. Ada sedikit rasa bersalah, begitu mengingat kalau dirinya belum memberikan sebuah pesta pernikahan pada Cahaya.



"Sayang, maaf ya. Aku belum memberikan kamu pesta pernikahan yang mewah seperti ini," ucap Gilang dengan nada sendu.


"Mas, tidak munafik kalau aku tidak menginginkan sebuah pesta, tapi menurutku bukan pesta itu yang paling utama. Bagiku dengan kamu mencintaiku sepenuh hati, sudah lebih dari kebahagiaan pesta mewah," sahut Cahaya, sembari menyelipkan senyuman di bibirnya.


Gilang membalas senyuman Cahaya sembari meraih tangan Cahaya dan membawa tangan wanitanya itu ke bibirnya.


Acara demi acara berjalan dengan lancar seperti yang diharapkan oleh Randi dan Reyna. Walaupun sebenarnya ada rasa sedih di dalam hati Reyna karena mengingat Dania yang tidak ada di acara bahagianya itu.


Sementara itu, Gilang dan Cahaya berjalan menuju pelaminan, hendak memberikan ucapan selamat pada kedua pengantin baru itu. Di belakang mereka juga menyusul pria yang menyandang jomblo berkarat, siapa lagi dia kalau bukan Bayu.


"Hai, Cahaya. Kamu cantik sekali malam ini!" ucap Randi yang sengaja memuji Cahaya untuk menggoda Gilang.


"Kenapa sih? aku kan hanya memuji istrimu. Harusnya kamu senang dan bangga ada yang memuji Cahaya," ucap Randi yang sama sekali tidak takut melihat tatapan Gilang.


"Hai Reyna, kamu cantik sekali malam ini!". gantian Gilang memuji Reyna.


"Aduh, terima kasih ya Gilang!" balas Reyna, memberikan senyum terbaiknya.


"Aduh, senyummu masih sama seperti dulu, jadi pengen cubit," Gilang mengangkat tangannya hendak mencubit pipi Reyna, tapi Randi dengan sigap langsung berdiri di depan Reyna, sehingga yang Gilang cubit bukan pili Reyna melainkan pipi Randi. Gilang tentu saja tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan sekuat tenaga dia mencubit pipi Randi.


Randi hampir saja ingin berteriak kesakitan, tapi tangan Gilang yang satu lagi dengan sigap langsung menutup mulut pria itu.


"Jangan teriak! nanti semua tamu datang ke sini. Kamu mau pesta kamu jadi kacau?" bisik Gilang, sembari menaikkan matanya.


"Sialan kamu! kamu kira nggak sakit!" umpat Randi sembari mengusap-usap pipinya.


"Itu balasan karena berani memuji Istriku," ucap Gilang santai seperti tidak merasa bersalah sama sekali.

__ADS_1


"Kamu juga memuji Istriku," Randi tidak mau kalah.


"Itu karena kamu__"


"Kalian berdua bisa diam nggak? asal bertemu selalu saja berdebat," Bayu buka suara sembari memasang wajah kesalnya.


"Dia duluan yang memulai!" ucap Gilang.


"Kamu juga salah, kenapa kamu gampang terpancing?" balas Randi.


"Sudah,sudah! ngapain kalian berdua berdebat? biar lebih hebat, adu jotos aja di sini," sungut Reyna, merasa jengah melihat tingkah laku Gilang dan Randi.


Randi dan Gilang terdiam tidak berani bersuara lagi. Kedua pria itu hanya saling tatap dengan tatapan tajam.


"Jangan kelamaan tatap-tatapannya! nanti kalian berdua bisa jatuh cinta, kan jadi berabe jadinya. Masa pisang makan pisang, kan nggak lucu!" celetuk Bayu, yang sontak membuat tatapan Gilang dan Randi beralih padanya.


"Lah, kok jadi menatap aku? aku memang jomblo, tapi aku masih normal. Please jangan jatuh cinta padaku!" ucap Bayu berpura-pura memasang wajah memelasnya.


"Sialan kamu!" Gilang dan Randi kini bekerja sama menjepit kepala Bayu, hingga membuat tawa Cahaya dan Reyna pecah.


Setelah mengucapkan selamat pada kedua pengantin baru, Gilang, Cahaya dan Bayu akhirnya turun karena para tamu mulai berdatangan untuk memberikan selamat.


Randi yang tadinya bersikap konyol, kini wajahnya berubah drastis. Wajah pria itu kini terlihat datar dan tersenyum seadanya kepada para tamu.


"Kamu sepertinya punya dua kepribadian ya, Mas?" bisik Reyna yang membuat Randi mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Dua kepribadian bagaimana?" tanyanya.


"Tadi aja, kamu bisa bercanda, banyak omong. Sekarang mukamu kaku, kaya kanebo kering," sindir Reyna.


"Kan aku sudah bilang, kalau sikap konyolku akan aku perlihatkan pada orang-orang terdekatku saja. Kenapa aku suka mengajak Gilang berdebat, itu karena aku suka lihat ekspresi kesalnya," jawab Randi disertai dengan kekehan ringan.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2