Aku Mencintai Cahaya

Aku Mencintai Cahaya
Bab 71


__ADS_3

Gilang dan Cahaya berjalan beriringan menuju tempat mobil mereka diparkir. Baru saja Gilang hendak membuka pintu, handphone miliknya berbunyi pertanda ada seseorang yang menghubunginya.


"Papa? untuk apa papa menghubungiku?" gumam Gilang, sembari menekan tombol jawab.


"Halo, Pa!" sapa Gilang.


"......." raut wajah Gilang seketika berubah begitu mendengar kabar yang baru saja diinformasikan papanya itu.


"Iya, Pa, kami akan pulang sekarang," jawab Gilang dengan suara pelan dan lemah. Kemudian Gilang memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Wajah pria itu benar-benar muram seperti tertutup mendung awan hitam. Hal ini tentu saja membuat Cahaya penasaran.


"Mas, kamu kenapa? papa bilang apa tadi?" tanya Cahaya dengan alis bertaut sekaligus was-was.


"Kita pulang sekarang," sahut Gilang tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Cahaya. Pria itu seperti biasa membuka pintu untuk Istrinya itu dulu, kemudian dirinya menyusul masuk.


"Mas, kamu belum jawab aku tadi. Kenapa wajahmu berubah sedih seperti itu? papa bilang apa tadi?" desak Cahaya tidak sabar.


Gilang menghabiskan napasnya dengan sekali hentakan dan cukup berat.


"Aya, opa sudah meninggal," jawab Gilang lirih.


"Tidak mungkin! Mas pasti bercanda kan? opa tadi pagi masih baik-baik aja kok," Cahaya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya


Gilang memejamkan matanya sekilas sembari menjalankan mobilnya. "Aku tidak bercanda, Aya. Kata papa opa tadi terjatuh karena kena fertigo. Kepala opa terbentur dan akhirnya tidak bisa diselamatkan lagi," tutur Gilang dengan mata yang berembun menahan tangis.


Cahaya bergeming tidak sanggup berkata-kata lagi. Dari kedua sudut matanya, butiran cairan bening sebening kristal akhirnya menetes tak terbendung lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Para pelayat kini sudah mulai pulang satu persatu meninggalkan kediaman Maheswara. Banyak orang yang terlihat berduka dengan berpulangnya Ganendra Maheswara, pemilik The sky Group itu. Khususnya para karyawan dan mantan karyawan yang pernah bekerja di perusahaan itu.


"Ma,sudahlah jangan menangis lagi!" bujuk Jelita pada Melinda ibu mertuanya yang terlihat sangat terpukul. Bahkan wanita yang sudah tua itu berkali-kali pingsan setelah dokter mengatakan kalau suaminya sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

__ADS_1


"Kenapa mama papamu tega ninggalin mama sendiri, Jelita? padahal mama dulu ingin kalau mama ingin pergi lebih dulu dari papamu. Tapi, papamu itu selalu bilang kalau dia yang ingin pergi lebih dulu, untuk menyiapkan tempat buat kami nanti di surga sana. Ternyata papamu itu benar-benar pergi duluan," Melinda kembali menangis sesunggukan.


"Ma, segala yang bernapas sudah dipastikan akan kembali ke penciptanya, jadi kapan dan dimanapun kita harus siap untuk kehilangan. Sekarang kita doakan papa saja supaya semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan," Jelita mencoba menghibur mama mertuanya itu, walaupun sebenarnya dia tidak yakin pada diri sendiri, apakah dirinya akan kuat jika Gavin suaminya pergi lebih dulu menghadap sang Khalik. Karena sejatinya manusia itu kadang mengucapkan lebih gampang daripada melakukannya.


Reyna yang masih belum beranjak pulang melangkah mendekati Oma Melinda, wanita yang selalu mendukungnya untuk memberikan penghiburan juga. Di saat yang bersamaan Cahaya yang juga ingin menghibur Oma Melinda, mengurungkan niatnya untuk mendekat karena takut sakit hati bila nantinya nenek dari suaminya itu, mengacuhkannya karena ada Reyna.


Cahaya berbalik dan ingin kembali ke tempat dia semula. Saat berbalik ternyata Gilang suaminya sudah berdiri tepat di depannya.


"Kenapa kamu tidak jadi ke sana?" Gilang mengernyitkan keningnya, meminta penjelasan.


"Di sana sudah ada mama dan Reyna, Mas. Aku rasa Oma tidak akan membutuhkan aku lagi di sana," jawab Cahaya disertai dengan senyuman. Senyuman yang kalau orang melihat lebih jelas, adalah senyum terpaksa.


"Tidak apa-apa, kamu ke sana aja lagi, karena makin banyak yang menghibur Oma,aku rasa Oma akan semakin tenang," ujar Gilang.


Cahaya menggigit bibirnya dan akhirnya berbalik kembali untuk menghampiri sang Oma.


"Oma, yang sabar ya! nanti kalau Oma masih sedih dan menangis, opa akan sedih melihatnya," ucap Cahaya, buka suara ketika wanita itu sudah berada di antara 3 wanita berbeda usia di depannya.


"Terima kasih, ya Sayang. Kalian semua ada bersama Oma sudah bisa membuat Oma tidak lagi," ucap Melinda.


Senyum Melinda hanya bertahan untuk beberapa saat. Detik berikutnya, mata wanita itu memicing menatap Cahaya. Hal ini tentu saja membuat Cahaya merasa risih dan bertanya-tanya dalam hati,apa yang salah pada dirinya.


"Cahaya, sepertinya wajah kamu pucat, Nak. Kamu lebih baik masuk ke kamar dan istirahat. Kamu tenang saja, di sini ada mama mertuamu dan Reyna yang menemani Oma," ucap Melinda, tulus khawatir melihat wajah pucat Cahaya.


"Tapi, Oma ...." Cahaya menggantung ucapannya.


"Benar kata omamu, Aya. Kamu sebaiknya istirahat karena sepertinya kamu memang kurang sehat. Wajahmu terlihat sangat pucat," Jelita menimpali ucapan Melinda, mama mertuanya.


Sementara itu Reyna menyusuri tubuh Cahaya mulai dari atas sampai ke bawah. Ada kecurigaan pada tatapan mata wanita itu tentang kondisi tubuh Cahaya sekarang. Namun, wanita itu tidak ingin gegabah, karena memang belum pasti. Reyna takut kalau dugaannya salah, bisa membuat Melinda kecewa.


"Lebih baik aku besok lagi datang ke sini untuk untuk memeriksa, apa dugaanku benar atau tidak," batin Reyna, memutuskan.

__ADS_1


Sementara itu, Cahaya sedikit merasa kecewa mendengar ucapan Oma Melinda yang memintanya untuk pergi, walaupun memang wanita itu memintanya untuk istirahat. Namun, entah kenapa Cahaya merasa kalau neneknya Gilang itu tengah mengusirnya dengan cara halus.


"Kan benar yang aku katakan, kalau Oma sama sekali tidak membutuhkan aku di sini," batin Cahaya berusaha untuk menahan tangis. Wanita itu sepertinya benar-benar sudah salah paham mengartikan sikap Oma Melinda.


"Baik, Oma. Aku pergi dulu ya!" ucap Cahaya dengan lirih.


"Kamu minta suamimu buat mengantarkanmu ke kamar," ucap Melinda lagi dan Cahaya hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu kenapa balik lagi?" Gilang menghalangi langkah Cahaya.


"Oma yang memintaku untuk istirahat. Katanya ada mama dan kak Reyna yang menemaninya," jawab Cahaya, masih berusaha untuk tetap tersenyum.


"Jadi, sekarang kamu mau kemana?"


"Aku mau ke kamar, Mas. Aku sepertinya merasa lelah dan butuh istirahat," jawab Cahaya tidak bersemangat.


Gilang memicingkan matanya, menatap wajah istrinya dengan intens.


"Kamu terlihat pucat, Aya. Ayo aku antar kamu ke kamar," ucap Gilang dengan raut wajah panik.


"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri kok. Lagian nggak enak kalau kamu ninggalin tamu," tolak Cahaya yang berusaha terlihat kuat di depan Gilang.


"Apa kamu benar-benar sanggup naik ke atas?" tanya Gilang memastikan dan Cahaya mengangguk, mengiyakan.


"Ya udah, hati-hati ya!" sekali lagi Cahaya menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi, menaiki tangga.


Dari arah jauh, tampak sepasang mata yang menatap semua yang terjadi pada Cahaya mulai dari ketika Cahaya yang ingin menghampiri Melinda, tapi didahului oleh Reyna, ketika wanita itu memutuskan untuk tetap menghampiri Melinda, tapi diminta untuk pergi. Sepasang mata itu langsung bisa menarik kesimpulan, kalau Cahaya seperti merasa tersaingi dan merasa tidak pantas jika dibandingkan dengan Reyna.


"Sepertinya ini hal yang cukup menarik. Aku juga sepertinya bisa manfaatkan keadaan ini," sudut bibir pemilik mata itu, naik ke atas, membentuk senyuman licik.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2