
Cahaya menyeka air matanya dan menoleh ke arah Gilang yang juga sepertinya melakukan hal yang sama. Tiba-tiba, entah kenapa ada ketakutan dan keinginan Tahuan yang begitu besar akan bagaimana perasaan pria yang sudah jadi suaminya itu sekarang.
"Sepertinya mas Gilang makin sulit untuk melupakan kak Reyna. Ini ternyata yang membuat kak Reyna begitu istimewa bagi mas Gilang," batin Cahaya dengan dada yang terasa sesak.
Di saat yang bersamaan, Gilang juga menoleh ke arah Cahaya. Tatapan mereka untuk beberapa saat terkunci.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Kak Reyna baik ya, Mas." bukannya menjawab pertanyaan Gilang, wanita itu justru mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Sebelum menjawab, Gilang menghela napasnya lebih dulu. Tatapan pria itu kini beralih menatap ke depan, bukan ke Cahaya lagi.
"Iya, dia memang sangat baik. Karena terlalu baiklah makanya dia sering dimanfaatkan oleh Dania," jawab Gilang tanpa menoleh ke arah Cahaya.
Jawaban Gilang dan bagaimana tatapan pria itu sekarang, membuat Cahaya semakin yakin kalau nama Reyna masih melekat di hati suaminya itu. Cahaya sontak mengalihkan tatapannya ke arah lain sembari menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Ya, Tuhan kenapa rasanya bisa sesakit ini ya? apa aku benar-benar sudah jatuh cinta pada mas Gilang? apa begini rasanya kalau kita tahu, orang yang kita cintai ternyata mencintai wanita lain?" rintih Cahaya di dalam hatinya.
"Sekarang aku tahu, alasan kenapa, Mas bisa mencintainya," ucap Cahaya dengan lirih sembari menahan agar air matanya tidak keluar.
Gilang tercenung, diam seribu bahasa. Pria itu tidak mengiyakan juga tidak membantah.
"Sudahlah! sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Kamu mungkin sangat lelah dengan kejadian hari ini. Aku mau turun ke bawah untuk menemui papa dan mama," ucap Gilang sembari beranjak turun dari atas ranjang dan melangkah keluar, walaupun tidak mendengar Cahaya mengiyakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gilang turun dari atas dan melihat kalau di ruang tamu keluarga besarnya sudah berkumpul. Ada Oma dan opanya serta mama dan papanya. Sepertinya ke empat orang itu juga sedang membicarakan apa yang baru saja terjadi. Dari wajah ke empatnya tidak tampak lagi ketegangan seperti siang tadi.
"Lho, Gilang kenapa kamu turun,Nak? Cahaya mana? kenapa kamu tidak menemaninya?" tanya Jelita dengan beruntun.
"Dia sudah tidur,Ma makanya aku turun." jawab Gilang, berbohong. Padahal dia turun karena sedang bingung menanggapi ucapan Cahaya. Pria itu takut kalau Cahaya tiba-tiba bertanya bagaimana perasaannya sekarang, apakah masih mencintai Reyna atau sudah mencintai istrinya itu.
"Oh, baguslah kalau dia sudah tidur. Mungkin dia terlalu lelah dan stress karena kekacauan yang baru saja terjadi," Gavin buka suara.
"Iya, Pa." jawab Gilang sembari tersenyum tipis.
"Lang, apa kamu sudah menghubungi Reyna dan bilang terima kasih? bagaimanapun dia sudah membantu menyelesaikan kekacauan ini," Oma Melinda buka suara.
"Emm, belum Oma. Nanti aku akan menghubunginya,"
__ADS_1
"Aku tadi sudah menghubungnya, Ma," Jelita buka suara.
"Iya, mama juga. Tapi, selain kita Gilang dan Cahaya juga harus berterima kasih kan pada dia?"
"Iya, Oma. Nanti aku benar-benar akan menghubunginya. Kebetulan handphoneku juga ada di atas," Gilang menimpali ucapan omanya.
"Reyna itu gadis yang baik, makanya dulu Oma sangat menginginkannya jadi menantu di rumah ini, tapi ya mau gimana lagi, mungkin Reyna tidak ditakdirkan berjodoh denganmu," ucap Melinda disertai dengan helaan napas yang cukup berat.
Tanpa mereka sadari, Cahaya yang sebenarnya tadi menyusul sang suami untuk turun, mendengar ucapan Oma Melinda. Tanpa menunggu kelanjutan ucapan wanita yang sudah tua itu, Cahaya langsung naik kembali ke atas dengan perasaan sedih, karena merasa tidak pernah diharapkan.
"Tapi, kamu menikah dengan Cahaya juga sama sekali tidak buruk, karena Oma tahu kalau dia wanita baik. Oma juga tidak bisa membohongi hati Oma yang juga merasa bahagia ketika kamu memutuskan untuk menikah dengannya bukan dengan wanita licik itu," lanjut Oma Melinda lagi.
Gilang sama sekali tidak menjawab. Pikiran pria itu sekarang entah kemana-mana.
"Lang,apa yang kamu pikirkan, Nak? sepertinya kamu tidak fokus mendengar apa yang kita bicarakan," tanya Gavin dengan alis yang bertaut.
"Emm, ti-tidak ada Pa! aku fokus kok, sahut Gilang, gugup.
"Sekarang papa mau tanya dan kamu harus jawab jujur,apa kamu sudah mencintai Cahaya atau kamu masih mencintai Reyna?" Tenggorokan Gilang langsung seperti tercekat hingga untuk menelan ludahnya sendiri pun terasa sulit, karena pertanyaan yang dihindari Gilang dari Cahaya, kini terlontar dari mulut papanya.
"kenapa papa bertanya seperti itu?" Gilang balik bertanya.
"Apa salah papa menanyakan hal ini padamu?" tanya Gavin lagi, dan Gilang langsung menggelengkan kepalanya.
Gilang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu untuk menjawab.
"Kenapa kamu tidak jawab? sudahkan? mama yakin pasti sudah. Karena tadi pagi kalian berdua bisa sama-sama telat bagun dan __"
"Iya, sudah Ma!" sambar Gilang dengan cepat sebelum mamanya itu melanjutkan ucapannya.
"Bagaimana perasaanmu, ketika melakukan hal itu?" kini Gavin yang bertanya.
"Ah, kalian ini gimana sih? kenapa kalian bertanya hal seperti itu di depan orang tua seperti kami? kalau begitu aku lebih baik pergi dari sini aja," celetuk Melinda sembari berdiri dan beranjak pergi.
"Haish,mama kalian itu ya, benar-benar kolot dan merasa masih sempit," Ganendra buka suara.
"Hei,aku masih bisa mendengarnya dari sini, laki-laki tua bangka!" seri Melinda yang masih melangkah belum terlalu jauh.
"Tua bangka, teriak tua bangka. Dasar tidak tahu diri!" Ganendra menggerutu sembari berdiri menyusul sang istri.
__ADS_1
Ketiga orang yang berada di ruangan itu, seketika tertawa melihat tingkah absurd pasangan tua itu.
"Bagaimana Gilang, kamu belum jawab pertanyaan papa tadi. Apa kamu sudah mencintai Cahaya?" Gavin mengulangi pertanyaannya setelah tawanya mereda
"Haish, kenapa ditanyakan lagi sih?" batin Gilang, kesal.
"Kenapa kamu tidak menjawab?" Gavin kembali buka suara.
"Aku tidak tahu, Pa. Aku masih bingung," jawab Gilang, jujur.
Gavin tersenyum tipis mendengar jawaban putranya yang sebenarnya sudah dia duga dari awal.
"Kenapa harus bingung, Lang. Kalau menurut papa kamu sudah mencintai Cahaya, hanya saja kamu belum menyadarinya,"
"Kenapa bisa, Papa berpikir seperti itu?" alis Gilang bertaut, penasaran.
"Waktu tahu Dania memergoki Cahaya di dalam kamar kalian, kamu begitu panik dan takut kalau terjadi apa-apa pada dia. Itu salah satu contohnya, Lang," jelas Gavin.
"Emangnya salah mengkhawatirkan istri sendiri?" Gilang merasa kalau alasan yang diberikan oleh papanya itu kurang logis.
"Tidak salah. Tapi kekhawatiranmu yang berlebihan itulah yang membuat aku bisa menarik kesimpulan kalau kamu sudah mencintai istrimu itu. Satu lagi, untuk mengetahui bagaimana perasaanmu pada Cahaya, sekarang coba kamu bayangkan kalau seandainya Cahaya dengan pria lain, misalnya dosennya itu, apa kamu kesal dan marah atau biasa saja? kalau kamu kesal dan sangat marah, berarti kamu sudah mencintanya. Coba sekarang kamu bayangkan kalau Reyna dengan pria lain yang mencintainya, apa kamu merasa cemburu dan marah, kalau iya, berarti kamu masih mencintai Reyna."
Gilang terdiam dan mencoba melakukan apa yang diminta oleh Gavin papanya. Ketika pria itu membayangkan Cahaya dengan Randi,.hati Gilang tiba-tiba terasa panas, dan dia benci dengan pikirannya itu sendiri. Namun, ketika dia membayangkan Reyna dengan pria lain, Gilang tersenyum dan merasa senang dengan apa yang dipikirkannya sekarang.
"Sudahlah! sekarang kamu pikirkan baik-baik perkataan Papa. Aku dan mamamu masuk ke kamar dulu," Gavin berdiri dan meraih tangan Jelita. Sepasang suami istri itu, mengayunkan kaki beranjak meninggalkan Gilang sendiri.
Setelah merenung beberapa lama, Gilang akhirnya memutuskan untuk kembali naik masuk ke dalam kamar.
Sementara itu, Cahaya berkali-kali menyeka air matanya, begitu mengingat ucapan oma Melinda yang sangat menginginkan Reyna jadi istrinya Gilang.
"Kak Reyna memang pantas sih buat mas Gilang. Selain cantik, dia juga sangat baik," bisik wanita itu dalam hati.
Suara pintu yang dibuka seseorang langsung membuat Cahaya memejamkan matanya, pura-pura tidur, karena dia yakin kalau yang baru masuk itu adalah Gilang suaminya.
Ranjang bergerak seiring naiknya Gilang ke atas ranjang. Jantung Cahaya seketika merasa seperti habis lari maraton, seiring dengan semakin dekatnya sang suami di belakangnya.
"Kamu sudah tidur, Aya?" tanya Gilang sembari melihat Cahaya yang matanya sudah terpejam. Pria itu menghela napasnya, melihat Istrinya itu sudah tertidur.
"Aya, kata papa dan mama, aku sudah mencintaimu, tapi hanya saja aku belum menyadarinya. Menurutmu benarkah seperti itu?" tanya Gilang sembari menatap wajah istrinya yang polos.
__ADS_1
"Tapi, jujur Aya. Aku sama sekali masih bingung apakah aku sudah mencintamu atau belum. Tapi satu hal yang pasti, kalau sekarang aku takut kehilanganmu," sambung Gilang kembali sembari menarik tubuh Cahaya ke dadanya. Kemudian pria itu memeluk Cahaya dengan erat, hingga membuat perasaan Cahaya menghangat seketika.
Tbc