Alice'S Magic Privalige

Alice'S Magic Privalige
Mendapatkan Dua Pedang Monster


__ADS_3

Arlan yang berjalan mengikuti Alice keluar dari pandai besi dengan pemikiran yang bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya sedang di fikirkan oleh Alice.


"Apakah tadi itu adalah gudang harta Karun kerajaan?" tanya Alice kepada Arlan yang membalikkan tubuhnya kebelakang.


"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Arlan.


"Terlihat dari wajah mu. Oh ya, tadi aku mengambil ini juga. Ini untuk mu." Jawab Alice memberikan sebuah pisau. Pisau berkarat yang bersama dengan pedang berkarat yang di ambil Alice.


"Ini?" tanya Arlan.


"Sudah terima saja. Ayo kita ke perpustakaan, ada yang ingin aku cari disana." Jawab Alice.


"Baiklah." Arlan menerima pisau kecil berkarat dan menyimpannya di kantong penyimpanan. Mereka berdua pergi ke perpustakaan.


Seperti biasanya Alice pergi bersama Arlan ke dalam perpustakaan tertinggi yang bersifat rahasia. Alice disambut oleh pustakawan dan penjaga pintu perpustakaan lantai atas.


"Pak, mohon bantuannya untuk mencari buku tentang monster orc dan beberapa berita kemunculannya beberapa hari ini." Alice yang meminta kepada pustakawan.


"Turutin saja permintaannya. Kami membutuhkan itu pak untuk persiapan pergi ke negara Mizu." Jawab Arlan.


"Baik pangeran." Jawab pustakawan menundukkan kelapanya dan berjalan ke arah lorong rak buku mencari buku yang di minta oleh Alice.


Alice dan Arlan yang duduk di meja pembaca menunggu buku-buku yang diinginkan olehnya. Pustakawan menggunakan sihirnya mengambil buku dari tak atas dan meletakkannya ke atas meja Alice. Pustakawan terus berjalan dari satu lemari ke lemari lain mencari buku yang berkaitan dengan orc.


Alice langsung membaca satu persatu buku yang sudah tersedia di atas meja.


"Jangan melihatnya saja. Baca juga, itu akan membantu kita nanti. Cari yang berkaitan cara paling ampuh untuk mengalahkan orc dan bagaimana kelemahan serta kelebihan orc." Jawab Alice yang memerintah Arlan.


Arlan menuruti apa yang dikatakan oleh Alice, mereka berdua menghabiskan waktu 3 jam membaca semua buku yang berkaitan orc. Sekitar ada 300 judul buku yang berkaitan dengan orc mereka baca dalam 3 jam.

__ADS_1


"Sudah cukup, sudah 4 jam berlalu dari waktu yang sudah di tentukan. Arlan? Adakah tempat yang sunyi dan jauh dari orang-orang datang?" tanya Alice.


"Hmmmm." Arlan sedang berfikir apa yang di minta Alice.


"Aku menemukannya, ada." Jawab Arlan.


"Bawa aku ke sana." Jawab Alice.


"Oke." Jawab Arlan.


"Kau? Apa yang kau lakukan?" tanya Alice yang tubuhnya di rangkul oleh Arlan. Arlan membuat lingkaran sihir seperti portal. Mereka berdua berdiri di atas lingkaran sihir dan pergi berteleportasi masuk ke sebuah ruang spritual, seperti sebuah dungeon.


"Kita sampai." Jawab Arlan yang melepaskan rangkulan tangannya di tubuh Alice. Mereka tiba di sebuah alam dengan danau dan rerumputan yang hijau.


"Bagaimana laki-laki ini memiliki dungeon?" tanya Alice dalam hati.


"Ini dinamakan ruang spiritual sihir yang aku miliki. Tidak semua orang memilikinya dan hanya orang yang berada di tingkat raja yang memilikinya. Akan tetapi, aku diberi oleh orang misterius. Dan siapa itu, aku mohon jangan bertanya." Jawab Arlan dengan mengharukan jari telunjuknya ke pipi.


"Untuk apa mencari tempat yang sepi?" tanya Arlan.


"Keluarkan pisau yang aku berikan tadi." Jawab Alice yang mengeluarkan pedang berkarat miliknya juga dari kantong penyimpanan. Arlan yang mengikuti permintaan Alice dengan mengeluarkan pisau kecil yang berkarat di kantong penyimpanan miliknya.


"Teteskan darah mu di atas pisau itu dan ukir seperti ini." Jawab Alice yang menunjukkan dirinya sedang melukai jadi telunjuk kanan, darah yang keluar dari tangan dan mulai mengukir pola sihir di gagang pedang miliknya. Arlan mengikuti apa yang dikatakan oleh Alice.


Darah yang sudah terukir di atas pedang membuat pedang Alice melayang dan bergerak sendiri berubah menjadi sebuah pedang yang tajam dan indah terlihat. Hal ini juga serupa dengan pisau Arlan yang berubah menjadi sebuah pedang yang sama seperti pedang Alice.


"Kenapa dia bisa berubah?" tanya Arlan yang terkejut.


"Tenang saja. Dia masih bertransformasi menjadi pedang monster, lihat dan saksikan saja." Jawab Alice dan Arlan mengikuti apa yang dikatakan Alice.

__ADS_1


Kedua pedang yang sama namun warna pertama yang berbeda pada tangkai pedang. Pedang itu seperti pedang kembar yang sama dengan lapisan sihir yang begitu kuat. Kekuatan sihir yang menyelimuti pedang itu dan memiliki jiwa sendiri. Pedang itu terbang ke arah Alice dan Arlan masing-masing. Alice menerima pedang itu dan Arlan juga menerima pedang itu.


"Mereka sudah mengakui kita sebagai tuannya." Jawab Alice.


"Sangat kuat tekanan sihir dari pedang ini, jika aku tidak mengeluarkan 20% kekuatan ku untuk memegangnya mungkin aku tidak akan bisa mendapatkannya." Jawab Arlan dalam hati.


"Sebenarnya ini pedang apa? Dan bagaimana kau bisa mengetahui bahwa ini adalah pedang yang cukup hebat kekuatan sihirnya." Jawab Arlan.


"Sama seperti mu yang tidak ingin memberitahu tentang ruang spiritual ini." Jawab Alice. Arlan menjadi terdiam mendengarkan jawaban itu.


"Itu tidak penting, yang terpenting adalah pedang itu mengakui kau sebagai tuannya. Aku tadi hanya menebak, mungkin saja pedang ini akan cocok dengan mu. Ternyata memang benar. Aku adalah orang yang ditakdirkan untuk menerima pedang ini. Sangat jarang pedang ini akan menerima orang lain sebagai tuan ya. Jadi gunakan pedang ini dengan baik." Jawab Alice.


"Bagaimana aku bisa menggunakannya?" tanya Arlan.


"Alirkan kekuatan sihir yang kau miliki, maka dia akan mengeluarkan 3 kali lipat dari sihir yang kau berikan." Jawab Alice dengan langsung mempraktekkan. Alice mengalirkan sihir apinya dan melayangkan pedang ke arah danau yang ada di depannya. Air di danau itu terbelah akibat serangan ayunan pedang berisi ilmu sihir api. Dan air danau kembali menyatu setelah 30 detik terbelah.


"Apa?" tanya Arlan yang terkejut dengan kekuatan yang dimiliki pedang ini sesuai dengan yang di ucapkan oleh Alice.


"Lakukanlah." Jawab Alice.


"Baik." Jawab Arlan yang mencoba dengan menggunakan sihir petirnya dan melayangkan ke arah danau. Air di danau kembali terbelah bahkan aliran listrik mengarah ke berbagai penjuru di air danau.


"Hebat." Jawab Arlan.


" Anggap saja hadiah pertemuan kita selama beberapa tahun ini." Jawab Alice dengan tersenyum.


"Terima kasih. Bagaimana aku akan membalasnya?" tanya Arlan.


"Tentu saja gunakan kekuatan itu dengan baik pangeran Arlan. Aku tidak banyak membantu, seperti yang aku katakan tadi bahwa pedang ini memiliki jiwa sihir, pedang ini akan memilih tuannya sendiri. Bahkan jika itu Guru Aidan mengambilnya dari mu, dia belum tentu bisa menjadi tuan pedang ini. Jadi sebenarnya, pedang ini sendiri yang memilih tuannya." Jawab Alice.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Arlan


__ADS_2