
Arlan yang bangun langsung keluar dari tenda melihat Alice yang berada di luar.
" Tidurlah, aku yang akan berjaga selanjutnya." Jawab Arlan. Alice menganggukkan kepala dan masuk ke dalam tenda.
Malam berlalu, matahari terbit menyambut di pagi hari. Alice dan Arlan sudah membereskan tenda untuk langsung pergi melangkah ke desa Fungi.
"Sejak kita masuk ke dalam hutan hingga saat ini belum ada bertemu dengan monster apapun." Jawab Arlan kepada Alice.
"Iya, ada yang aneh dengan hutan ini." Jawab Alice.
"Aku juga merasakannya." Jawab Arlan.
"Kita akan lebih mengamati apa yang terjadi." Jawab Alice.
"Iya." Jawab Arlan. Mereka yang terus melangkah hingga tiba di depan hutan perbatasan ke arah desa Fungi.
"Arlan, kenapa beberapa meter sejak tadi aku tidak melihat seekor pun serangga." Jawab Alice yang menghentikan langkahnya melihat pohon hutan hingga tanah dan rerumputan.
"Benar juga." Jawab Arlan yang juga melihat sekitar namun tidak menemukan seekor pun serangga.
"Nona aku akan pergi berkeliling di desa lebih dulu." Jawab Ema.
"Aku semakin penasaran dengan desa ini." Jawab Alice. Dan mereka melangkah masuk ke dalam desa. Saat mereka masuk, tatapan orang-orang desa melihat mereka dengan begitu menyeramkan. Tatapan yang tidak biasa.
"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" tanya Alice.
"Jangan fikirkan, kita cari tempat penginapan lebih dulu." Jawab Arlan.
Suasana desa yang ramai di pagi hari, beberapa pedagang yang sedang berdagang, orang-orang yang pergi ke ladang dan sebagainya.
"Permisi, kami sedang mencari tempat penginapan. Sekitar sini ada dimana penginapan?" tanya Arlan dan orang desa itu hanya diam saja. Tiba-tiba datang seorang paruh baya dengan umur sekitar 45 tahun.
"Kalian berdua ada keperluan apa di desa kami?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Kami datang ke sini untuk berpetualang. Karena ingin istirahat dalam perjalanan, kami berniat untuk menginap di tempat ini beberapa waktu." Jawab Arlan.
__ADS_1
"Perkenalkan aku tetua di desa ini, panggil saja pak Agi." Jawabnya memperkenalkan diri.
"Panggil saja saya Arlan dan dia Alice." Jawab Arlan memperkenalkan dirinya.
"Kalian bisa ikut dengan ku di kediaman milik ku. Di sini tidak ada penginapan." Jawab Agi yang terlihat ramah mengajak Arlan dan Alice masuk ke dalam rumahnya. Mereka yang ikut ke rumah Agi dan duduk di meja makan lalu di sediakan minuman air putih hangat.
"Maaf, kami tidak bisa memberikan hidangan teh hangat hanya air putih hangat saja. Karena beginilah kondisi desa kami sekarang. Kami sulit mendapatkan bahan pangan dari luar dan hanya bisa mengandalkan kebun sendiri yang saling barter." Jawab Agi.
" Oh. Kalau boleh tau, kenapa penduduk desa melihat kami seperti itu?" tanya Alice.
"Mereka hanya heran melihat ada orang baru yang masuk ke dalam desa. Karena sudah 3 tahun ini tidak ada orang baru yang datang ke desa." Jawab Agi.
"Tapi tempat ini adalah tempat yang tidak mungkin tidak di kunjungi orang lain. Dan aku lihat, desa ini penduduknya tidak terlalu banyak." Jawab Alice.
"Anda benar nona, sejak 10 tahun yang lalu, banyak penduduk desa mengalami kematian mendadak tanpa sebab. Tabib kerajaan dan penyihir kerjaan sering datang mencari sebab akibat dari fenomena itu namun tidak ada satupun dari mereka yang menemukan penyebabnya. Bahkan beberapa dari mereka meninggal di desa ini. Oleh karena itu, aku menyarankan untuk nona dan tuan tidak berlama-lama di tempat ini. Kami takut kalian juga akan meninggal jika terlalu lama di tempat ini." Jawab Agi.
"Kematian mendadak bagaimana?" tanya Alice.
"Mereka mengalami gejala kejang-kejang dan muntah darah sebelum meninggal. Atau mengalami penyakit kulit." Jawab Agi.
"Penyakit kulit?" tanya Alice lagi.
"Apa saat ini ada pasien yang seperti itu?" tanya Alice.
"Pak, tenang saja. Dia mengerti ilmu pengobatan. Mungkin kami bisa membantu jika diizinkan." Jawab Arlan.
"Bukan aku tidak mengizinkan. Tapi orang-orang yang mengalami penyakit kulit sudah di isolasi di tempat lain dari penduduk desa. Semua karena takut jika penyakit itu akan menular terus menerus." Jawab Agi.
"Lagi pula sudah banyak tabib yang datang untuk melihat, mereka semua tidak dapat menyembuhkannya dan beberapa tabib itu tertular dan meninggal." Jawab Agi.
"Tidak apa-apa, bapak tunjukan saja jalannya. Aku akan kesana sendiri." Jawab Alice.
"Tapi jika kalian mengalami kejadian yang sudah aku jelaskan, aku tidak ingin bertanggung jawab akan hal itu." Jawab Agi.
"Iya. aku tidak akan menuntut jika terjadi sesuatu dengan ku." Jawab Alice dengan wajah yang tegas.
__ADS_1
"Baiklah. Tengah hari nanti, kami biasa mengantarkan makanan untuk para pasien. Kalian nanti datang bersama dengan ku." Jawab Agi.
"Baik. Jika semua terjadi selesai itu, apakah tidak ada niatan dari orang desa untuk berpindah tempat?" tanya Alice
"Bukan kami tidak ingin pergi, hanya saja kami tidak mau menyusahkan pemerintah dan juga kami takut untuk menularkan penyakit kami ke orang lain.," Jawab Agi.
"Hmmm. Jadi kalian menahan diri untuk tidak mengatakan namun menyembunyikan." tanya Alice lag.
"Iya." Arlan hanya menganggukkan kepala.
"Kalian berdua tinggalan di kamar ini. Aku hanya memiliki satu buah kamar yang tersisa. Apakah ini tidak apa-apa?" tanya Agi.
"Terima kasih pak. Ini jauh lebih dari cukup." Jawab Arlan kepada Agi.
"Baiklah, kalian istirahat dulu dari perjalan jauh. Aku akan datang lagi menjemput kalian." Jawab Agi yang menutup pintu.
"Aku akan tidur di bawah, Alice tidur saja di atas." Jawab Arlan.
"Oke." Jawab Alice yang tidak mempermasalahkan hal lain tinggal berdua di dalam kamar dengan lelaki.
"Nona, bisa kau dengar aku?" tanya Ema.
"Ada apa?" tanya Alice.
"Aku merasakan ada yang tidak beres dengan kolam air terjun yang ada di desa ini." Jawab Ema.
"Maksudnya?" tanya Alice.
"Aku merasakan ada monster di dalam air ini. Tapi saat aku menyelam aku sama sekali tidak menemukan apa -apa. Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Ema.
"Awasi terus tempat itu. Dan jangan lupa untuk memeriksa tempat lain." Jawab Alice.
"Baik nona." Jawab Ema.
"Arlan, apa kau tidak merasa bahwa tetua dari desa ini mencurigakan, bahkan begitu juga dengan para orang-orang desa?" tanya Alice.
__ADS_1
"Aku juga merasakannya. Apapun itu, kita harus waspada. Jangan lupa selalu simpan jimat sihir kabur yang dimiliki untuk kabur jika dalam situasi berbahaya." Jawab Arlan.
"Aku mengerti. Desa yang cukup luas tapi penduduknya hanya sedikit. Sepertinya yang dikatakan olehnya tadi bahwa setiap orang mati di desa ini.