Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 100 ~ Aroma Persaingan ~


__ADS_3

Celina mencurahkan kasih sayangnya pada Olivia sama seperti pada anak-anaknya yang lain. Olivia terlihat bahagia seperti memiliki seorang kakak laki-laki dan adik perempuan. Meski sedikit minder dengan kecerdasan kedua anak Celina tapi mereka selalu memacu semangat Olivia untuk belajar.


Kadang Nazolla datang berkunjung bersama orang tuanya, Dr. Dino dan Dr Dinda. Saat di perkenalkan dengan Ozora gadis kecil yang hanya beberapa bulan selisih umurnya dengan Ozora itu terlihat malu-malu. Namun, dengan cepat bisa akrab dengan anak laki-laki tampan itu. Dr. Dinda tak menyangka, anak yang diceritakan suaminya itu telah menginjak remaja.


"Kak Dino cerita, saat pertemuan pertama,aaa Mbak Lily langsung jatuh cinta sama Ozora. Hampir setiap hari main ke toko buku, apa itu benar?" tanya Dinda pada Celina.


"Ya itu benar. Saat itu Ozora masih bayi. Mbak Lily selalu minta dipilihkan buku oleh Ozora. Entah kenapa Mbak Lily selalu percaya pada pilihan Ozora. Kalau menurutku itu hanya alasannya saja. Mbak Lily sebenarnya hanya ingin ketemu dengan Ozora," jawab Celina lalu tertawa sambil memangku Aurora.


"Tapi kalau di lihat-lihat Lala memang mirip dengan Ozora mungkin Mbak Lily ngidamnya ketemu Ozora barangkali ya?" sahut Dinda sambil tertawa.


"Ya mungkin saja." Lalu kedua wanita cantik itu kembali tertawa sementara bagian bapak-bapak bicara di sisi ruangan yang lain.


"Kalau Lala, selalu minta main ke sini, katanya kangen sama adek Aurora tapi sepertinya perhatian Lala sudah beralih ke Abangnya Aurora sekarang," ucap Dinda sambil memegang tangan bayi cantik itu.


Bayi cantik yang mulai bisa berbicara itu tertawa digoda oleh Dr. Dinda. Nazolla, putrinya memang lebih dulu mengenal Aurora. Tanpa sengaja Celina menoleh ke arah Olivia yang termenung menatap Nazolla dan Ozora yang asyik bermain di depan laptop sambil berbincang-bincang. Dr. Dinda yang belum mengenal Olivia sebelumnya, langsung bertanya.


"Itu ... putrimu juga?" tanya Dinda.


"Bukan, dia putri sahabatku saat kuliah dulu, karena dia sibuk bepergian jadi dititipkan di sini," jawab Celina.


Wanita itu langsung memanggil Olivia yang hanya berdiri mematung menatap Ozora dan Lala. Gadis itu melangkah mendekati Celina. Gadis kecil yang cantik itu pun diminta berkenalan dengan Dr. Dinda. Olivia memperkenalkan diri, Dr. Dinda membelai rambut Olivia. Gadis kecil itu duduk di samping Celina.


"Kenapa duduk di sini sayang? Kenapa nggak main sama Ozora dan Lala?" tanya Celina pada Olivia.


Gadis kecil itu menoleh pada kedua anak yang cantik dan tampan itu lalu menunduk. Celina merasa kalau Olivia tak percaya diri untuk bergabung dengan kedua anak itu, entah apa sebabnya.


"Kenapa? Kok masih di sini?" tanya Celina.


"Ozora nggak mau main sama Livia, Tante," jawab Olivia pelan.

__ADS_1


"Nggak mungkin sayang. Mana mungkin Ozora nggak mau main sama Livia," jawab Celina lalu memanggil Ozora agar mengajak Livia bermain bersama.


"Sepertinya ada aroma persaingan ini," ucap Dinda sambil tersenyum.


"Anak-anak memang seperti itu Dinda, tadinya Ozora hanya bermain bersama Olivia. Begitu Ozora mendapat teman baru, teman yang lama merasa ditinggalkan padahal tidak seperti itu juga," jawab Celina.


Olivia lebih sensitif sekarang, batin Celina.


Wanita itu menoleh ke arah Ozora yang telah mengajak Olivia bermain bersama.


"Mereka bisa rebutan perhatian Ozora," ucap Dinda lagi.


"Belum lagi kalau bertemu dengan Tita yang sejak awal sudah kenal dengan Ozora, entah seperti apa perasaan Olivia nanti. Apalagi Tita juga sangat manja pada Ozora," ucapan Celina.


"Wah! Ada lagi yang lain? Anak dari sahabat juga?" tanya Dinda.


Celina tertawa mendengar ekspresi terkejut Dr. Dinda. "Ya, tapi sudah kami anggap seperti putri kami sendiri. Tita dan Ozora bahkan tumbuh besar besar bersama," jelas Celina.


"Kenapa penasaran begitu? Kalau menurutku semuanya cantik dengan ciri khas masing-masing," jawab Celina sambil tersenyum.


"Ya, tapi kira-kira putriku bisa menang nggak merebut hati Ozora--"


"Oh ya ampun!" seru Celina langsung tertawa.


"Begitu melihat Ozora aku langsung jatuh cinta. Aku rasa sama seperti Mbak Lily. Lihatlah putramu itu apa kurangnya. Baik, genius, ganteeeng sekali kalau perlu aku kasih DP untuk booking Ozora jadi menantuku--"


"Ya ampun!" seru Celina sekali lagi bahkan langsung tertawa terbahak-bahak.


Dr. Dino, Raffa dan anak-anak pun menoleh ke arah Dr. Dinda dan Celina. Mereka pun ikut tersenyum melihat keceriaan kedua ibu-ibu cantik itu. Raffa dan Dr. Dino saling berpandangan, meski tak tahu apa yang mereka bicarakan, mereka ikut tertawa melihat renyahnya tawa istri-istri mereka.

__ADS_1


Dr. Dinda seperti bercanda tapi yang diungkapkannya sangat serius karena langsung jatuh hati pada Ozora.


"Kita biarkan mereka memilih siapa yang mereka suka Dinda. Kasihan jika mereka dipaksa, selera setiap orang itu berbeda-beda. Kamu jatuh hati dengan Ozora tapi belum tentu dengan Lala. Bisa jadi suatu saat nanti dia menemukan cinta sejatinya. Saat ini, mereka terlihat akrab belum tentu seperti itu nantinya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang," jelas Celina sambil tersenyum menggenggam tangan Dinda.


{Para reader yang Othor sayangi, numpang iklan ya hehe ... main-main ke rumah tetangga di blok F ya. Bacanya nggak pake koin kok... judulnya SIRKUIT CINTA napen Kak_ICHA. Mohon dukungannya untuk karyaku ini ya, masukin ke daftar pustaka aja dulu hehe ... ditunggu kedatangannya ... makasih.}


Keseruan pembicaraan Celina membuat Raffa penasaran. Saat para tamu telah pulang, dan seisi rumah telah terlelap, Raffa membangunkan istrinya.


"Apa yang kalian bicarakan tadi, kedengarannya seru sekali?" tanya Raffa setelah berhasil membangunkan Celina yang memang belum begitu terlelap.


"Kakak, mau tahu aja," ucap Celina sambil pura-pura kembali tidur tapi diam-diam tersenyum.


"Sayang! Apa obrolannya? Kenapa tertawa begitu? Kalian ketawain Kakak ya?" tanya Raffa pura-pura sensitif.


"Ge er Kakak ini," ucap Celina akhirnya membalik badan ke arah suaminya.


"Makanya dijawab pertanyaan Kakak," ucap Raffa sambil mencubit pipi istrinya.


Celina menjerit pura-pura sakit, Raffa kelimpungan segera mengusap pipi itu agar istrinya tak kesakitan lagi.


"Masih sakit." Raffa mengecup pipi itu tapi istrinya mengaku masih sakit. Raffa mencium sekali lagi, Celina tetap mengaku masih sakit.


"Aku gigit nih," ucap Raffa akhirnya merasa istrinya hanya ingin mengerjainya.


Celina tertawa sambil mengusap lembut pipi suaminya yang berbaring di sampingnya. Raffa merasa gemas melihat Celina yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Tak peduli lagi Celina mau menjawab atau tidak, perlahan Raffa menempelkan bibirnya ke bibir istrinya. Celina tersenyum sambil membalas ciuman lembut itu. Jika sudah memulai Raffa akan menuntaskannya. Melepas hasrat mereka hingga membuat napas mereka terengah-engah.


"Sudah diberikan kepuasan, masih nggak mau menjawab?" tanya Raffa dengan wajah memelas.


Celina kembali tertawa. "Ternyata nggak ikhlas, ada maunya ternyata?" tanya Celina sambil tertawa.

__ADS_1


Raffa tersenyum lalu memeluk istri tercintanya. Mana mungkin Raffa tak ikhlas, karena dia sendiri menginginkannya. Celina adalah segala-galanya bagi Raffa. Tak ada satu pun yang tak ikhlas diberikan untuk wanita itu. Raffa mengecup puncak rambut wanita itu sambil memejamkan matanya.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2