Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 50 ~ Hadirkan Cinta ~


__ADS_3

Celina menangis di balkon, gadis itu menanggung kesedihan diabaikan suaminya seorang diri. Raffa memeluk istrinya dari belakang, Celina langsung berbalik. Menatap Raffa sambil terisak-isak.


Celina memohon pada Raffa untuk tidak mengabaikannya. Raffa memeluk istrinya dan meminta maaf akan kesalah pahamannya. Celina tentu saja memaafkan suaminya.


Bersama mereka berdiri memandang langit yang hitam gelap.


"Apa kamu benci pada Keira ? dialah yang mengirimkan foto kalian, yang membuat aku salah paham padamu" tanya Raffa sambil memeluk istrinya.


"Aku cuma heran kenapa dia tega melakukan itu, jika marah padaku kenapa tidak langsung mengungkapkannya padaku.


Setelah berpikir, akhirnya aku mengerti dia lakukan itu pasti karena cemburu.


Berpikir seperti itu aku jadi bahagia, mencintai Kak Kevin begitu besar hingga dia keluar dari kepribadiannya.


Keira bukanlah orang yang licik, dia gadis yang berhati tulus, hanya kecemburuan yang begitu besar yang telah merubahnya" ucap Celina.


Raffa tercenung menatap istrinya, laki-laki itu merasa dirinya tak ada beda dengan Keira. Kecemburuan membuat mereka buta dan tega menyakiti orang-orang yang justru disayangi.


"Cara berpikirmu memang berbeda, kamu selalu memandang sesuatu dari sisi baiknya" ucap Raffa sambil membelai wajah istrinya.


Celina hanya tersenyum bahagia, seperti apapun penilaian suaminya terhadap dirinya dia tidak peduli. Celina hanya ingin bersama dengan orang-orang yang dicintainya. Kembali mendapatkan perhatian dari Raffa adalah hal yang diinginkannya setelah merasa menderita diabaikan oleh satu-satunya orang yang dicintainya.


"Sepertinya akan turun hujan, apa kamu ingin masuk kedalam ? cuacanya mulai terasa dingin" ucap Raffa.


Mereka akhirnya masuk ke kamar, Raffa ingin menempel bibirnya pada Celina, setelah sekian lama laki-laki itu menjauh dari istrinya ada rasa kerinduan untuk kembali merasakan manisnya bibir istrinya itu namun Celina justru menghindar.


"Kak, aku punya satu permintaan untukmu, maukah kakak mengabulkannya ?" tanya Celina, wajahnya menjauh dari Raffa.


"Apa itu ?" tanya Raffa heran melihat reaksi Celina yang menghindar darinya.


"Tolong jangan mabuk-mabukan lagi, aku tidak suka dan aku sangat khawatir. Beruntung pak David selalu menemani kakak, jika tidak, aku tidak tau kakak akan bangun di ranjang siapa ?" ucap Celina.


Raffa tertawa dengan pemilihan kata-kata istrinya.


"Aku bisa bangun diranjang siapa ?" tanya Raffa masih tertawa.


"Mana aku tau, yang aku tau pasti tempat-tempat seperti itu banyak wanita cantiknya. Kakak bisa tergoda jika terus datang ketempat seperti itu" ucap Celina agak kesal bercampur khawatir.


"Kamu cemburu ? " tanya Raffa sambil tertawa.


"Ya aku cemburu, aku tidak ingin rumah tangga kita rusak karena kesalahan yang tidak disengaja namun berakibat fatal" ucap Celina.


"Bagiku hanya satu tempat yang menyediakan wanita cantik" ucap Raffa sambil tersenyum.


Celina kesal dengan ucapan Raffa yang seperti tidak peduli dengan kekhawatirannya. Gadis itu ingin pergi dari kamar itu dengan raut kesal, Raffa langsung menarik tangan istrinya.


"Kamu tidak penasaran dimana tempat itu ?" tanya Raffa yang melihat istrinya hanya mengelak.


Raffa kembali memeluk istrinya.


"Dikamar ini, hanya satu tempat ini yang bisa menyediakan wanita cantik yang aku inginkan" ucapnya sambil membenamkan bibirnya pada bibir istrinya.


Gadis itu membalas ciuman suaminya sambil tersenyum.


"Tapi janji dulu, kakak tidak akan pergi ketempat-tempat seperti itu lagi" ucap Celina sambil menahan geli karena ciuman Raffa yang menjalar dileher putihnya.


"Baiklah sayang, ini adalah yang terakhir kalinya. Aku janji tidak akan menginjakkan kaki ditempat seperti itu lagi" janji Raffa sambil merebahkan istrinya di ranjang.


Sementara itu Kevin ingin menemui Keira, setelah memberi penjelasan pada Raffa. Kevin merasa perlu untuk menjelaskan pada Keira.


Saat Keira memberitahukan perbuatannya yang mengirimkan foto Kevin dan Celina pada Raffa, Kevin langsung meninggalkannya begitu saja.


Tak peduli seperti apa perasaan Keira yang melihat betapa besar rasa peduli Kevin pada kebahagiaan Celina. Kevin terlihat begitu khawatirnya hingga tak peduli dan langsung meninggalkan Keira.


Keira berdiri tertunduk seorang diri, ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang peduli perasaannya. Itulah yang dirasakan Keira. Gadis itu merasa ini adalah hukuman atas perbuatannya yang tega menghasut Raffa membenci istrinya.


Kevin berdiri mematung di depan rumah Keira, merasa bersalah atas perbuatannya. Merasa bersalah karena meninggalkannya begitu saja. Kevin ingin menemui gadis itu namun masih merasa ragu.


Datang hanya untuk memberi janji palsu padanya atau sungguh-sungguh ingin menjalani hidup bersamanya. Kevin masih diam tertunduk sambil bersandar di mobilnya.


Keira diam dikamarnya memandangi Kevin yang berdiri bergeming sekian lama. Keira ingin menunggu, dia hanya ingin menunggu. Keira tidak ingin mempengaruhi keputusan Kevin, membiarkan laki-laki itu memutuskan apa yang diinginkannya.


Namun tetesan air mulai membasahi, sedikit demi sedikit, wajah dan tubuh laki-laki itu mulai basah tersiram air hujan. Rasanya tidak tahan melihat laki-laki itu masih berdiri mematung disitu. Keira bingung ingin tetap dirumahnya atau mendatanginya.


Keira ingin tetap bertahan tapi setiap kali memandang ke jendela dan melihat Kevin masih berdiri disitu, hati gadis itu bimbang. Ingin segera keluar menemuinya. Setelah berperang melawan hatinya sendiri akhirnya Keira menyambar payung dan melangkah keluar menemui Kevin.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan ? jika tidak mau masuk, kenapa tidak pergi saja. Kenapa harus bertahan ditengah hujan deras seperti ini" teriak Keira yang diiringi dengan air matanya yang mengalir.


Setengah hatinya tak ingin menemui Kevin namun setengahnya lagi tak tega melihat laki-laki itu hanya berdiam diri membiarkan tubuhnya tersiram air hujan dan terkena tiupan angin kencang.


Mendengar ucapan Keira, laki-laki itu mengangkat wajahnya. Memandang gadis yang sedang menangis itu. Keira merasa kesal pada dirinya sendiri, entah kenapa akhirnya dia berdiri dihadapan Kevin sambil memayungi laki-laki yang terlihat lelah itu.


Kevin masih memandangi Keira, ingin bicara tapi bibirnya kelu. Ingin mengeluarkan kata-kata namun semua tiba-tiba buyar.


"Bantu aku" hanya itu yang terucap dari mulut laki-laki itu.


Keira heran, tak mengerti apa maksud ucapan Kevin.


"Bantu aku melupakannya, bantu aku sekuat tenagamu. Dan aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk mencintaimu" ucap Kevin disela-sela kerasnya bunyi hujan.


Keira tertegun, gadis itu ingin mengabulkan permintaan Kevin tapi tidak yakin bisa memenuhi permintaannya itu. Melihat begitu sulitnya Kevin melupakan Celina membuat gadis itu tidak memiliki kepercayaan diri bisa menggeser kedudukan Celina di hati Kevin.


Kevin meraih Keira mendekat, Keira terkejut hingga tak sengaja melepas payung yang di genggamannya. Berdua mereka basah tersiram derasnya hujan. Kevin memeluk Keira. Membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu. Keira menangis membayangkan apa yang ada dalam pikiran Kevin.


Menciumnya atau mencium Celina ? Keira ingin mengelak tapi hatinya sendiri menginginkannya. Sangat menginginkan pelukan Kevin, sangat menginginkan ciuman laki-laki itu.


Lama, tak henti-henti Kevin menciumi bibir Keira. Gadis yang masih memiliki keraguan dihatinya itu menangis menerima ciuman Kevin, merasa sebagai pelarian dari kesedihan Kevin yang tak bisa memiliki cintanya.


Kevin menghentikan ciumannya lalu memeluk gadis yang masih menangis itu.


"Keira, terimalah aku, bantu aku melupakannya.


Hanya kamu yang bisa, hanya kamu yang mengerti aku.


Hanya kamu yang akan sanggup bertahan, wanita lain akan segera meninggalkanku karena sikapku yang masih menyimpan Celina di hatiku.


Hanya kamu yang bisa memahami sulitnya aku melupakan Celina.


Hanya kamu harapanku, yang bisa menungguku, yang menghapus bayangan Celina dihatiku.


Kawal aku, kawal hatiku agar tidak berlari kearahnya, aku mohon Keira, aku mohon kesediaanmu" ucap Kevin sambil memeluk Keira erat.


Gadis yang hanya berdiri mematung itu akhirnya membalas pelukan Kevin.


"Aku bersedia, tapi aku mohon berusahalah sekuat tenaga. Aku takut tak sanggup bertahan, aku takut hatiku tak sanggup mempertahankanmu" ucap Keira.


Kevin melepaskan pelukannya kembali memandang gadis yang berhati tulus itu.


"Terima kasih Keira" ucap Kevin yang semakin mengagumi kebaikan hati Keira.


Keira mengajak Kevin masuk kerumahnya, gadis itu merasakan tubuh Kevin yang mulai gemetar kedinginan. Kevin bersedia, bersama mereka memasuki rumah Keira.


Gadis itu mencari baju ganti yang bisa dikenakan Kevin. Pilihannya jatuh pada, celana training dan sweater bergambar Mickey Mouse itu.


Keira tertawa sambil menutup mulutnya saat melihat Kevin yang begitu imut mengenakan sweater bergambar lucu itu. Kevin yang merasa ditertawakan langsung mengejar gadis itu dan menghempaskannya di sofa.


Mata mereka saling bertatapan, Kevin segera membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu, memeluknya, berbagi kehangatan tubuh mereka setelah kedinginan disiram air hujan.


Mencium gadis itu berulangkali, hingga tubuh mereka terasa hangat. Mereka tertidur disofa diiringi irama air hujan yang terdengar begitu merdu, membuat mereka hanyut dan tertidur sambil berpelukan.


Keesokan harinya, Keira terbangun, memandang wajah tunangannya itu. Setelah sekian lama, baru tadi malam lah Keira merasa kalau Kevin benar-benar menjadi tunangannya.


Kevin terbangun, agak terkejut dengan situasi disekitarnya. Lalu menyadari apa yang terjadi dan segera memandang wajah gadis dihadapannya.


"Kalau berani menertawakanku lagi, aku akan menggigitmu sampai habis" ucap Kevin teringat apa yang menyebabkan Kevin akhirnya mengejar dan membekuk gadis itu di dalam pelukannya.


"Tapi benar-benar lucu, tak ada orang yang akan mengira CEO perusahaan asing bisa berpenampilan seperti itu" ucap Keira sambil tertawa.


"Awas kalau sampai beritanya bocor kamu harus bertanggung jawab, kalau kamu sengaja memberi baju ini untuk mempermalukanku" ucap Kevin sambil menggelitik pinggang Keira.


"Baiklah... baiklah tidak ada yang akan tau, cuma aku yang tau rahasiamu" ucap Keira sambil berakting seolah-olah sedang mengancing mulutnya.


"Jangan dikancing, nanti tidak bisa dibuka, aku jadi tak bisa menembusnya" ucap Kevin sambil kembali membenamkan bibirnya ke bibir Keira.


Seperti yang diucapkannya, Kevin ingin menembus bibir gadis itu dan memainkan lidahnya, mencari dan menyesap lembut lidah gadis itu. Setelah puas, Kevin dan Keira mulai menjalani pagi mereka.


Kevin membuatkan sarapan untuk mereka, sementara Keira mencuci pakaian Kevin.


"Aku akan bantu mengambilkan pakaianmu, kirimkan saja pesan pada Alyssa agar adikmu menyiapkan pakaianmu" usul Keira sambil menahan ketawa melihat tampilan Kevin yang lucu.


Celana hitam, namun Sweater berwana pink itu tak akan bisa menahan orang untuk tertawa melihatnya.

__ADS_1


"Kamu ingin mengusirku ? aku masih ingin berada disini ? aku tidak ingin bekerja hari ini... Oh... sepertinya aku demam" ucap Kevin sambil memegang keningnya.


"Benarkah ?" tanya Keira langsung ikut menempelkan tangannya di kening Kevin.


Gadis itu merengut, Kevin menipunya. Sama sekali tidak panas, apalagi demam. Kevin meraih Keira dan mendudukkannya dipangkuan laki-laki itu.


"Kamu tidak bisa mengusirku, aku tidak akan keluar selain dengan pakaianku semalam. Kamu harus tanggung jawab membuatnya kering seperti semula" ucap Kevin sambil memandang wajah Keira yang lebih tinggi darinya.


"Kalau begitu aku akan membuatnya tetap basah, hingga kamu tidak bisa keluar-keluar dari sini" ucap Keira memandang laki-laki yang menengadah menatapnya.


Kevin menarik tengkuk gadis itu dan kembali menciumnya, Keira membalas sambil menangkup wajah laki-laki itu.


Kevin tidak ingin segera pergi dari rumah itu, suasana dirumah Keira membuat laki-laki perlahan bisa melupakan Celina dan mendekatkan hatinya pada Keira. Gadis itu juga memutuskan untuk libur bekerja, mereka menghabiskan waktu bersama dirumah Keira.


"Orang tuamu dimana ? kamu mengusir mereka karena aku ?" tanya Kevin.


Keira tertawa melihat gaya Kevin yang seolah-olah terlalu percaya diri.


"Mereka tinggal dirumah sendiri, jika bukan karena dibebaskan tinggal dirumah sendiri aku tidak akan menerima jabatan sebagai CEO diperusahaan ayahku" jelas Keira.


"Kenapa ingin tinggal dirumah sendiri, bukannya enak tinggal bersama orang tua, disayang, dimanja, diperhatikan" tanya Kevin.


"Itu kata orang yang terbiasa hidup terpisah dari orang tuanya. Aku yang dari kecil tak pernah lepas dari orang tua, tentu ingin merasakan hidup bebas seorang diri" jawab Keira.


"Lalu sekarang gimana ? sudah merasakan enaknya tinggal sendiri jauh dari orang tua ?" tanya Kevin lagi.


Keira menggeleng.


"Saat sedih, rasanya terpuruk sendiri. Tidak ada yang menghibur, yang memperhatikan dan tidak ada yang peduli. Jika sudah seperti itu rasanya ingin kembali tinggal bersama orang tua" cerita Keira saat mengingat masa-masanya bersedih.


Kevin tertunduk, merasa salah seorang yang menyebabkan Keira bersedih adalah dirinya. Namun sekarang laki-laki itu tidak ingin Keira kembali ke rumah orang tuanya. Bersama Keira semalam saja sudah membuat hati laki-laki itu menjadi tenang.


"Kamu ingin kembali tinggal bersama orang tuamu ?" tanya Kevin.


"Ingin, tapi masih merasa ragu. Jika kembali kesana, orang tuaku akan setiap hari mengusikku" jawab Keira.


Gadis itu tersenyum kecut, mengingat keinginan orang tuanya yang ingin putri mereka segera menikah.


"Aku akan segera menemui orang tuamu, memohon pada mereka untuk memberi kita waktu. Aku ingin kita benar-benar siap menjalani kehidupan rumah tangga" ucap Kevin.


Bagi Keira ucapan itu seakan-akan meminta agar orang tuanya tidak terlalu mendesak mereka untuk segera menikah. Namun bagi Kevin berkenalan dengan orang tua Keira mungkin akan meningkatkan rasa tanggung jawabnya atas hubungannya dengan putri kedua orang tua itu.


Mendapat ucapan seperti itu raut wajah Keira mendadak murung. Kevin menangkap perubahan air muka gadis itu.


"Aku ingin mereka mengenalku, aku ingin mereka percaya padaku. Aku rasa perlu waktu untuk saling mengenal satu sama lain sebelum akhirnya mengambil keputusan. Aku tidak ingin mereka menyalahkanmu karena tergesa-gesa mengambil keputusan untuk segera menikah" ucap Kevin.


"Kamu yang tidak ingin segera menikahiku" ucap Keira akhirnya terlontar meski tadinya berusaha ditahannya.


"Aku butuh waktu untuk menyatukan hati kita. Satu hal yang telah kurasakan. Aku tidak ingin menyakitimu lagi dan aku ingin sungguh-sungguh menjalani hubungan denganmu.


Bukan karena takut kamu menerima teman kencan butamu atau karena lari dari Celina.


Tapi karena ingin bersamamu karena aku membutuhkanmu sebagai tempat mencurahkan kasih sayangku" jelas Kevin.


Keira menatap wajah Kevin, ingin mencari kesungguhan ucapan laki-laki itu. Memastikan ucapannya benar-benar dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Benarkah kamu inginkan aku ? kamu merasa ingin bersamaku ?" tanya Keira.


Kevin mengangguk.


"Mungkin karena pengaruh berduaan denganmu dirumah ini. Karena itu jangan pindah kerumah orang tuamu, aku suka disini. Aku juga suka sweater ini" ucap Kevin sambil menunjuk sweater berwarna pink itu, lalu tertawa.


Keira tertawa mendengar candaan Kevin. Laki-laki itu meraih tangan Keira dan membenamkan gadis itu kedalam pelukannya.


"Kamu juga suka sweater ini ?" tanya Kevin sambil tersenyum.


Keira mengangguk.


"Maaf ya... sekarang ini jadi milikku" ucap Kevin terlihat serius.


Namun itu membuat Keira tertawa, Kevin mendekap gadis yang terlihat manis saat tertawa itu. Membenamkan bibirnya ke bibir Keira, ingin menikmati masa-masa berdua dengannya.


Kevin memutuskan untuk menginap dirumah Keira beberapa hari. Laki-laki itu ingin melupakan segalanya dan hanya fokus menata hatinya bersama Keira. Gadis yang setia menunggunya, menunggu hadirnya cinta diantara mereka.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2