
Olivia ditinggalkan ibunya pada Celina. Wanita yang penyayang terlebih pada anak-anak kecil itu tak mampu menolak permintaan itu. Celina berpikir, jika dia menolak Olivia entah akan dititipkan pada siapa. Melihat gadis kecil yang manis itu Celina merasa tak tega membayangkan gadis kecil itu akan di titipkan pada orang -orang yang tak bertanggung jawab.
Olivia berjanji akan mendaftarkan gadis kecil itu kesebuah Sekolah Dasar. Olivia terlihat sangat senang. Berbekal semua data-data tentang anak itu Celina berhasil mendaftarkannya.
"Apa Ozora juga sekolah di sini Tante?" tanya Olivia.
"Nggak sayang, sekolah Ozora itu beda. Dia anak yang memiliki tingkat kecerdasan sama seperti orang dewasa bahkan lebih, jadi Ozora telah melewati semua jenjang pendidikan kecuali jenjang pendidikannya sekarang ini. Namanya universitas, itu jenjang pendidikan setelah SMA. Apa Olivia mengerti?" tanya Celina.
Meski terlihat ragu-ragu, anak itu akhirnya mengangguk.
"Jika ada yang ingin Olivia ketahui, Olivia boleh bertanya sama Tante, sama Ozora, atau sama siapa saja. Jangan malu-malu bertanya ya! Olivia anak baik dan cerdas pasti dengan cepat bisa menerima pelajaran," jelas Celina.
__ADS_1
Olivia tersenyum, Celina dan Olivia berhenti di depan sebuah kelas. Guru yang mengantar mereka mengajak Olivia untuk masuk ke kelas. Gadis kecil itu menoleh pada Celina, dengan wajah yang sedikit cemas anak itu menatap Celina yang juga menatapnya. Celina segera mengangguk memberi semangat pada Olivia.
"Jangan khawatir, Tante tunggu Olivia di luar ya," ucap Celina.
Gadis kecil yang manis itu mengangguk, lalu melangkah mengikuti guru yang akan mengantarkannya ke kelas baru itu. Olivia yang telah ketinggalan pelajaran sejak mengikuti ibunya melakukan shooting film di mana-mana membuat anak itu harus kembali mengulang kelas. Dalam hatinya Celina bertekad akan membantu anak itu belajar. Celina tak ingin anak itu merasa rendah diri karena tak mampu mengikuti pelajarannya.
Seperti yang dijanjikannya, Celina menunggu di luar kelas. Sambil duduk di bangku di bawah pohon, Celina mengisi waktu dengan membaca berita melalui ponselnya. Tanpa disadari Celina membaca berita tentang Felicia. Wanita itu tengah melakukan perjalanan bulan madu setelah menikah secara kilat dengan seorang aktor luar negeri.
Mendengar berita itu Celina meminta Ozora untuk memeriksa kebenaran berita. Putranya yang cerdas itu dengan mudah mendapatkan informasi yang akurat. Langsung dari orang yang terkait.
"Berita itu memang benar Ma, terdapat korban luka berat dan ringan juga ... korban meninggal. Tante Felicia termasuk dalam korban yang tak bisa diselamatkan. Beliau meninggal di tempat bersama pasangannya," jelas Ozora yang memiliki koresponden di berbagai negara.
__ADS_1
"Jadi berita itu memang benar?" tanya Celina seperti tak yakin.
"Ya Ma, sayangnya berita itu benar," jawab Ozora melalui sambungan telepon seluler itu.
Tangan Celina terkulai lemas, ponsel yang di pegangnya terasa berat. Baru saja mengenal teman sekelasnya itu sekarang dia telah pergi untuk selama-lamanya. Celina bingung akan menjelaskan kejadian itu pada Olivia atau menutupi selamanya. Dengan air mata yang mengalir Celina menatap kelas di mana putri Felicia menimba ilmu. Tak tega memberitahu kenyataan itu karena gadis itu masih begitu kecil. Celina meminta Ozora untuk merahasiakan kenyataan itu pada Felicia dan Ozora pun menyetujui.
Tiga jam kelas itu belajar namun bagi Celina terasa begitu lama. Tak sabar ingin pulang ke rumah dan menangis di kamarnya. Masih segar di ingatannya masa-masa wanita itu tinggal di rumah Celina. Masih teringat suaranya, tawanya dan candanya. Celina yang tak pernah mengikuti perkembangan perfilman sama sekali tak mengenal aktris Felicia dan itu sangat di pahami oleh Felicia.
Tiga jam yang terasa begitu lama itu akhirnya berakhir. Segera mereka melaju pulang ke rumah. Saat itu Olivia sangat bersemangat bercerita tentang pengalaman pertamanya masuk sekolah lagi. Namun, setelah sekian lama bercerita Celina sama sekali tak menanggapi. Raut wajah Celina yang terlihat tegang membuat Olivia tak ingin berkata apa-apa lagi. Celina tak sabar menunggu Raffa pulang hingga wanita itu bisa menangis dalam pelukan suaminya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1