
Pagi itu Keira sudah tersenyum di depan pintu, setelah pagi sekali menelpon Celina meminta izin untuk membawa Ozora ke perusahaan keluarga Cartwright.
"Maaf ya pagi-pagi mengganggu" ucapnya, begitu melihat Celina.
Celina sengaja menyambut Keira karena tau akan datang. Celina langsung mengajak Keira sarapan bersama.
"Kenapa sih, kamu getol sekali ingin menolong perusahaan keluarga itu ?" tanya Rowenna yang sudah terlanjur kesal dengan perilaku yang punya perusahaan.
"Sekalian belajar tante, saya suka melihat cara orang yang berbeda-beda dalam menangani masalah di perusahaannya" jelas Keira.
Keira tau dan mengerti perasaan Ny. Rowenna terhadap Jessica dan keluarganya. Hubungan mereka tidak lagi harmonis terlihat sejak Jessica tega menculik dan menyekap Ny. Rowenna di gudang.
Celina berusaha menunjukkan kepada Ny. Rowenna bahwa dia tidak sedikitpun menaruh dendam pada Jessica. Namun Ny. Rowenna bukanlah Celina, sangat sulit baginya melupakan begitu saja perbuatan orang yang telah menyusahkan dan menyakitinya.
Meski keluarga Cartwright adalah sahabatnya dan Jessica adalah mantan menantunya namun mengingat perbuatan mereka yang telah menipu dengan kehamilan Jessica serta jahatnya Jessica yang mencoba menganiayanya membuat Ny. Rowenna tidak bisa memaafkan mereka.
Namun beruntung Ny. Rowenna tidak melarang siapapun untuk membantu keluarga itu.
"Sampai sekarang mereka bahkan tidak meminta maaf padaku, bagaimana aku akan memaafkan mereka" ucap Rowenna saat ditanya kenapa masih membenci keluarga itu.
Tuan Robby mengusap punggung istrinya memberi dukungan terhadap sikap Ny. Rowenna yang akhirnya tidak menuntut atas perbuatan Jessica dan keluarganya. Nyonya itu sedang belajar untuk hidup berlapang dada, seperti yang disarankan tuan Robby dan Celina.
Keira sarapan bersama keluarga Saltano, perasaan gadis itu semakin dekat dengan mereka. Apalagi sekarang telah diizinkan untuk menemui Ozora kapanpun dia mau.
"Kita berangkat sekarang sayang ?" tanya Keira.
"Ya, auntie Kei" balas Ozora.
Merekapun berangkat bersama, dalam perjalanan Keira sibuk bertanya bagaimana Ozora bisa begitu cerdas.
"Sejak umur dua bulan mama sudah mengenalkan buku sama Ozora. Mama selalu membacakannya di saat senggang sampai akhirnya Ozora baca sendiri" jawab Ozora.
"Di toko buku itu ?" tanya Keira.
"Ya auntie, dimana lagi ?" ucap Ozora.
Mereka sampai di perusahaan keluarga Cartwright. Keira memperkenalkan Ozora pada Tn. Cartwright. Tuan itu memerintahkan bawahannya untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan Ozora.
Ozora juga bertanya langsung kepada orang-orang yang bertanggung jawab di semua divisi. Mereka sangat mengagumi cara Ozora menganalisa semua informasi secara cepat dan tepat.
Ozora meminta salinan informasi yang dibutuhkannya, yang akan dibahasnya bersama tim kerja berkompeten sesuai dengan permasalahan yang dihadapi perusahaan Cartwright.
Setelah mereka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Keira mengajak Ozora makan siang di sebuah restoran, disana pun mereka asyik berbincang-bincang. Beberapa orang yang mengenal Ozora langsung menghampiri meminta berfoto bersama, Ozora terkenal dikalangan pelajar hingga pekerja.
"Kita pergi aja yuk, disini makin ramai" ajak Keira setelah mereka terbebas dari penggemar Ozora.
Keira baru saja akan berdiri, namun geraknya terhenti, matanya tertumpu pada pasangan yang baru masuk ke dalam restoran. Mereka terlihat sangat mesra.
"Ozora tunggu disini sebentar ya sayang, auntie ada sedikit keperluan" ucap Keira dan segera berlalu dari hadapan Ozora.
Gadis itu berdiri tepat menghadang pasangan yang baru saja masuk ke restoran mewah itu.
"Apa-apaan ini ?" tanya wanita yang menempel pada Raffa.
"Keira" ucap Raffa kaget.
Keira menatap tajam pada mereka secara bergantian. Raffa meminta izin pada wanita itu untuk bicara dengan Keira. Segera mereka bicara di sudut ruangan.
"Ini tidak seperti yang kamu kira" ucap Keira serentak mengikuti ucapan Raffa.
Raffa langsung memijit pangkal hidungnya. Bingung harus berkata apa, Keira sudah mendahului ucapannya.
"Aku sudah biasa menghadapi situasi seperti ini, dan ucapan yang pertama keluar pasti serupa, seperti telah terformat di otak semua laki-laki" ucap Keira ketus.
Raffa menghela nafas panjang.
"Dia bukan siapa-siapa dia hanyalah seorang teman" jawab Raffa.
"Kamu tau, aku merasa sangat menyesal mengirimkan foto Celina padamu, seakan-akan ingin menunjukkan keburukan Celina kepada orang sebaik dirimu.
Tapi apa kulihat hari ini, aku sungguh sangat, sangat, sangat menyesal seolah-olah berpihak pada orang busuk sepertimu" ucap Keira yang hendak beranjak pergi.
"Tunggu dulu, kalau kamu mau pergi dengar dulu penjelasanku. Dia hanyalah teman semasa kuliah dulu, kami baru saja bertemu, kami hanya ingin makan siang bersama. Jangan salah paham" ucap Raffa sedikit panik dengan penilaian Keira.
"So ? jika ini adalah hal yang biasa, lakukanlah. Aku hanya perlu mengingatkan, sangat mudah bagi Celina mencari orang yang mau menggandeng tangannya untuk sekedar makan siang seperti yang kamu lakukan sekarang ini" ucap Keira.
"Keira !!!!" hardik Raffa emosi saat membayangkan ucapan Keira.
"Aku sedih dari lubuk hatiku yang paling dalam saat dia menangis karena dia diabaikan olehmu. Aku berharap kalian bisa berbaikan kembali. Tapi sekarang ? aku menyesal harapanku menjadi nyata, karena kamu tidak pantas mendapatkan Celina" ucap Keira hendak pergi.
Raffa tidak bisa berkata apa-apa lagi, langsung saja laki-laki itu menarik tangan Keira. Menuju meja dimana wanita itu duduk.
"Katakan padanya kalau kita hanya teman biasa" ucap Raffa pada wanita itu.
__ADS_1
Wanita itu menatap kearah Keira.
"Tidak, kami bukan teman biasa" ucap wanita itu sambil menatap wajah Keira.
"Apa ?" ucap Raffa.
"Aku menyukaimu, kamu pikir aku mau pergi makan siang dengan sembarangan laki-laki ? aku tau kamu sudah menikah.
Tapi saat kamu tidak menolak ajakan makan siangku artinya aku masih punya harapan.
Aku masih bisa membuatmu menyukaiku" ucap wanita itu percaya diri lalu menatap Keira.
Raffa terperangah, Keira tersenyum.
"Kamu pikir aku istrinya ? dengan pe de nya kamu berkata seperti itu dihadapanku" ucap Keira pada wanita itu.
"Raffa kamu dengar sendiri niat perempuan ini makan siang denganmu kan ?
Menurut mu adakah teman biasa yang berjalan sambil menempel seperti itu ? dia mengira aku adalah Celina, dia berharap kita akan ribut dan kamu akan memihak padanya" jelas Keira.
Wanita itu bingung dengan maksud Keira berkata seperti itu.
"Jika Celina yang mendengar ini mungkin saja dia akan pergi sambil menangis bukan ? dia jelas-jelas berniat ingin menyakiti hati istrimu" ucap Keira menghasut Raffa.
Raffa menghembuskan nafas dengan kasar.
"Dengar Marissa, aku tidak ada niat sedikitpun untuk menyukaimu lebih dari sekedar teman. Aku tulus hanya ingin berteman denganmu. Tapi jika kamu punya niatan lain, maaf aku tidak bisa, aku tidak akan mengkhianati istriku" ucap Raffa sambil mengajak Keira pergi.
"Aku harus memanggil Ozora" ucap Keira.
"Ozora ada disini ? kalian masih bersama ?" tanya Raffa yang tau sejak pagi Ozora berangkat bersama Keira.
Keira langsung menyusul Ozora, Raffa menghampiri dan langsung menggendong anaknya. Ozora merasa kaget bertemu dengan ayahnya disitu.
"Papa ?" teriaknya.
"Ya sayang, ayo kita pulang" ucap Raffa sambil menggendongnya anaknya.
Raffa membayar tagihan Keira dan Ozora, mereka meninggalkan restoran tanpa peduli pada Marissa yang menatap mereka dengan tatapan kesal.
"Sebenarnya aku masih ingin bermain bersama Ozora" ucap Keira yang langsung cemberut melihat Raffa menempatkan Ozora di mobilnya.
"Ya sudah kita ketemu di toko saja, aku bersama Celina dan kamu bisa bermain bersama Ozora" usul Raffa.
"Let's go" teriak Keira langsung.
"Anak kecil nggak boleh liat" ucapnya sambil memalingkan wajah Ozora ke arahnya.
Ozora tertawa, wajah imut Ozora langsung membuat Keira gemas. Gadis itu langsung mencubit pipi dan menciumi Ozora. Raffa dan Celina tertawa melihat betapa sayangnya Keira terhadap putra mereka.
"Tadinya kami bertemu direstoran, tapi karena ada wanita penggoda, jadinya kami pulang aja" jelas Keira menyindir Raffa.
"Wanita penggoda ?" tanya Celina heran lalu menatap Raffa.
"Maksudnya kamu, wanita yang membuatku tergoda" ucap Raffa buru-buru.
Keira tertawa sambil menggelengkan kepalanya lalu duduk dikursi tamu kantor Celina lalu mengajak Ozora duduk disampingnya.
"Kalian ini apa nggak kerja ?" tanya Celina.
"Aku cuti, aku cuma ingin bermain-main dengan Ozora" jawab Keira.
"Aku bolos, aku ingin bermain-main dengan istriku" jawab Raffa.
Keira langsung mendelik.
"Yaah... Itulah enaknya bekerja diperusahaan sendiri. Kalau aku dan kak Kevin bekerja untuk perusahaan orang" ucap Celina.
"Jangan salah, Kevin juga suka kabur dari kantornya, tapi ya karena dia jago, jadi perusahaannya tetap stabil" jelas Keira.
"Dia kabur karena ingin bertemu denganmu" ucap Celina.
"Ya lah, kalau Kevin bertemu denganmu, pasti ada yang marah.
Tapi kalau dia ketemu sama yang lain, itu dianggap biasa" ucap Keira menyindir Raffa.
Raffa hanya mendelik lalu tertawa, Celina bingung dibuatnya. Keira mengajak Ozora menunjukkan permainan anak-anak yang terbaru, meninggalkan Raffa dan Celina. Tak lupa menutup pintu kantor untuk mereka, Keira tersenyum mengingat apa yang terjadi tadi.
Raffa, awas kalau kamu macam-macam, aku ini akan jadi mata-matamu, batin Keira sambil tersenyum.
"Ada apa kak ? apa maksudnya wanita penggoda ?" tanya Celina.
"Tadi aku bertemu dengan teman semasa kuliah dulu. Lalu berencana makan siang bersama, kami malah bertemu dengan Keira dan Ozora" jelas Raffa.
__ADS_1
"Apa hubungannya dengan wanita penggoda ?" tanya Celina masih belum paham.
"Keira memancingnya bicara hingga akhirnya temanku itu mengakui kalau dia berniat menggodaku" ucap Raffa sambil menunduk.
Jauh dilubuk hati Raffa, sangat tidak ingin menceritakan kejadian tadi pada Celina. Namun karena Celina bertanya dan dia tidak ingin menutupi apapun dari gadis itu, Raffa memutuskan untuk bicara jujur.
Celina mengangguk mengerti.
"Apa dia cantik ? apa kakak jadi menyesal karena telah menikah denganku ?" tanya Celina.
"Ya ampun Celina, dimataku, tak ada wanita yang cantik selain dirimu. Dan aku sangat, sangat, sangat bersyukur menikah denganmu" ucap Raffa meniru gaya bicara Keira, membuat dia sendiri tertawa dengan gaya bicaranya itu.
Celina hanya tersenyum mendengar ucapan Raffa.
"Kamu harus percaya padaku" ucap Raffa sambil menangkup wajah istrinya.
"Agak sulit jika mengingat reputasi kakak yang suka bermain dengan banyak wanita" ucap Celina serius.
"Itu dulu, sebelum bertemu denganmu. Sekarang aku berbeda Celina. Aku ini laki-laki yang setia" ucapnya penuh percaya diri.
"Baiklah, baiklah aku percaya" ucap Celina sambil tertawa, gadis itu hanya ingin menggoda suaminya.
Raffa merasa dikerjai, laki-laki itu langsung gemas melihat istrinya. Langsung memeluk pinggangnya erat dan menggenggam dagunya.
"Ini di kantor kak" ucap Celina sebelum suaminya membungkam mulutnya dengan mulut laki-laki itu.
"Ya, kalau mau masuk, harus ketuk pintu dulu kan ?" ucapnya tak peduli dan langsung menciumi bibir istrinya.
Ciuman Raffa semakin memanas ketika bunyi ketukan pintu benar-benar terdengar. Celina terpaksa melepaskan ciuman itu sambil tersenyum. Lalu mempersilahkan yang mengetuk pintu untuk masuk.
"Permisi bu Celina, ada kiriman bunga" ucap pelayan toko itu langsung menyerahkan bunga ke tangan Celina.
Gadis yang duduk dikursi tamu kantor itu langsung membaca kartu yang terselip disela-sela bunga, kemudian menoleh ke arah Raffa yang menatap kosong kearah lain, dadanya turun naik seperti menahan emosi. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal.
Celina hanya diam hingga pelayan itu permisi ingin kembali melanjutkan pekerjaannya. Pelayan toko kembali menutup pintu. Celina ingin mendengar respon dari Raffa, namun laki-laki itu diam saja.
Raffa hendak beranjak pergi, Celina mencegahnya.
"Kak.." panggil Celina, mencegah Raffa pergi.
"Kamu suka menerima bunga darinya ?" tanya Raffa.
"Tidak, sama sekali tidak" ucap Celina meletakkan bunga itu di meja lalu meraih tangan Raffa.
"Kalau begitu katakan padanya, jangan mengirimkan bunga lagi padamu" ucap Raffa pelan, menahan emosinya.
"Bagaimana aku melakukan itu ? aku tidak bisa menghubunginya" ucap Celina.
Raffa mengangguk.
"Aku akan meminta nomornya pada Kevin, kamu bisa meminta dia menghentikan perbuatannya itu. Aku tidak suka istriku di kirimi bunga oleh laki-laki lain" ucap Raffa menatap tajam pada istrinya.
Semakin hari laki-laki itu semakin kesal, sejak Celina menerima buket bunga pertama kali, rasa kesalnya masih belum tuntas. Dan sekarang mendapati istrinya kembali mendapatkan buket bunga, laki-laki itu kembali merasakan dadanya bergemuruh.
"Aku akan meminta seluruh pelayan di toko ini untuk menolak menerima kiriman bunga" ucap Celina.
"Tidak perlu, ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Kamu hanya perlu menghubungi laki-laki itu" ucap Raffa menatap mata istrinya.
"Baiklah" ucap Celina lalu membawa buket bunga itu keluar ruangan.
Raffa tertunduk, tetap tak bisa bersikap seolah-olah kejadian ini bukan kesalahan Celina. Entah kenapa Raffa selalu ingin menyalahkan Celina atas apa yang terjadi sehubungan dengan laki-laki bule yang dikenalnya saat berbulan madu itu.
Seolah-olah semua kesalahan Celina yang mau berkenalan dengan orang yang sekarang ini seperti meneror rumah tangga mereka.
Celina kembali ke ruangan melihat suaminya yang tertunduk bertopang kepalan tangannya yang menempel di keningnya. Celina tidak tau harus berbuat apa, dia merasa bersalah karena telah membuat suaminya merasa kesal.
"Maafkan aku kak, aku tidak tau, kalau dia orang yang seperti itu" ucap Celina, duduk disamping Raffa dan memeluk punggung laki-laki itu.
Raffa meraih tangan istrinya, mencium punggung tangan gadis itu. Raffa sendiri tidak ingin istrinya risau dengan perasaannya yang tengah galau.
"Kamu tidak akan tergoda olehnya kan ?" ucapan Raffa yang begitu polos membuat Celina tertawa.
Celina tidak tau bagaimana perasaan Raffa yang baru saja menyadari sebuah hal, meskipun dia menganggap seorang wanita adalah teman biasa namun wanita itu bisa saja berniat merusak rumah tangganya.
Raffa tidak ingin hal itu terjadi pada Celina, menganggap laki-laki yang baru dikenalnya itu berniat baik sekedar berteman dengannya. Namun dibalik semua itu ada maksud terselubung dihatinya untuk merusak kebahagiaan mereka.
Celina bersandar dibahu Raffa, membelai helain rambut ditengkuk suaminya. Raffa memejamkan matanya menikmati hembusan nafas Celina di pipinya. Mereka sama-sama terkejut saat terdengar ketukan pintu. Ozora muncul setelah Celina mempersilahkan masuk.
Anak itu datang sambil menarik tangan seorang pria.
"Mama, papa, kenalkan ini salah seorang dari anggota tim penyelamat untuk perusahaan keluarga Cartwright, tuan Edward Miller, lulusan Stanford university sama seperti uncle Kev" ucap Ozora memperkenalkan.
Serentak Raffa dan Celina berdiri dari posisi mereka, dengan wajah yang tercengang. Tidak menyangka orang yang sedang mereka bicarakan justru muncul dihadapan mereka.
__ADS_1
Yang lebih membuat mereka kaget adalah Ozora yang terlihat sangat akrab dengannya. Raffa dan Celina saling memandang heran bercampur bingung menghadapi situasi ini.
...~ Bersambung ~...