
Raffa memeluk Celina dan meminta maaf, laki-laki itu selalu salah paham dan sering membuat Celina menangis. Celina balas memeluk suaminya. Celina bahagia karena suaminya menerima penjelasannya meski tadinya itu adalah sebuah curahan hati pada David.
"Aku mengerti, aku juga bersalah. Membiarkan surat itu tergeletak di meja hingga dibaca olehmu" ucap Celina menyesal.
"Jadi kamu ingin menghilangkan jejak pengkhianatanmu?" tanya Raffa sambil tersenyum.
Celina langsung mengangkat wajahnya memandang Raffa sambil cemberut. Raffa tertawa melihat ekspresi Celina yang semakin cantik saat marah.
"Bukan begitu maksudku, surat itu harusnya kubuang karena tidak ada artinya lagi" ucap Celina dengan suara yang keras.
"Baiklah, baiklah. Ini memang salahmu membiarkan aku membacanya. Tapi aku juga minta maaf karena langsung berprasangka buruk padamu dan juga Dokter itu" ucap Raffa sambil mengecup bibir istrinya.
"Jika aku ada posisimu aku juga akan seperti itu. Aku tidak akan sanggup menahan diri jika tahu seorang wanita ingin menikah denganmu padahal dia tahu kalau kakak sudah menikah" jelas Celina.
"Aku terlalu mencintaimu hingga takut kehilanganmu. Kamu juga sangat cantik hingga mudah menggoda laki-laki untuk menyukaimu. Hanya dengan tersenyum saja, kamu bisa membuat laki-laki bertekuk lutut padamu" ucap Raffa.
"Saat pertama kali bertemu dengan kakak aku tidak tersenyum sedikit pun. Tapi kenapa kakak bisa bertekuk lutut padaku?" tanya Celina percaya diri.
"Karena aku kasihan padamu, malam sebelumnya masih perawan besoknya sudah tidak perawan lagi" ucap Raffa kembali tertawa.
Celina bersemu merah lagi-lagi gadis itu cemberut namun kali ini karena malu. Raffa gemas menatap wajah cantik istrinya yang bersemu merah. Menangkup wajah wanita yang dicintainya itu kemudian membenamkan bibirnya. Raffa tidak pernah bisa menahan diri untuk tidak mencurahkan cintanya lewat ciuman.
Celina membalas ciuman hangat suaminya, mereka nyaris lupa kalau berada di teras rumah. Raffa tak pernah peduli apa pun, dimana pun, kapan pun. Jika dia ingin menunjukkan perasaan cintanya dia bisa melakukannya di mana saja.
Apalagi Celina menyambut ciumannya, laki-laki itu semakin bernapsu untuk membalasnya. Sebelum napas mereka tersengal-sengal, mereka tidak akan menghentikannya. Namun, kali ini mereka berhenti karena dikagetkan oleh Ny. Rowenna yang tiba-tiba muncul sambil menggendong Aurora.
"Di sini rupanya orang tuamu, kita cari kemana-mana ternyata lagi mesra-mesraan di sini" ucap Rowenna.
Raffa dan Celina langsung menghentikan adegan mesra mereka dan tersenyum malu pada nyonya yang cantik itu.
"Kalian tahu apa yang terjadi? Aurora memanggil-manggil mama.., mama.., mama.., dengan semua mainannya dilempar keluar kamar hingga hampir menimpa kepala Mommy" cerita Rowenna.
"APA...?" jerit Raffa dan Celina.
"Kalian tidak menyangka kan? dia berdiri di pembatas ranjangnya sambil melempar mainan. Ini, mainan ini hingga jatuh ke lantai bawah. Anak ini tidak menemukan mamanya langsung marah-marah" jelas Rowenna.
"Oh ya ampun, kecil-kecil sudah pemarah ya, persis mamamu aja" ucap Raffa sambil meraih Aurora dari gendongan neneknya.
"Apa?" tanya Celina.
"Tuh kan? Langsung marah lagi" ucap Raffa seolah-olah berbicara pada Aurora.
"Siapa yang pemarah, enak saja main tuduh-tuduh" ucap Celina sewot.
"Terbukti kan makin marah lagi" ucap Raffa sambil menimang Aurora.
"Itu namanya maling teriak maling" ucap Celina lagi.
"Daripada jeruk makan jeruk" sahut Raffa.
"Nggak ada hubungannya" jawab Celina lagi.
Ny. Rowenna tertawa mendengar kedua anaknya itu bersahut-sahutan. Ny. Rowenna merasakan nikmatnya berbincang di teras sambil menikmati hembusan angin malam yang lembut.
"Baiknya kita taruh kursi di teras ini agar kita bisa berbincang bersama-sama di sini" usul Ny. Rowenna.
"Nggak mungkin di sini Mom, kita punya teras belakang, kita bisa berbincang di sana" ucap Raffa.
"Oh ya, kita juga bisa menikmati angin malam di teras belakang. Tapi kenapa kita jarang menggunakannya?" tanya Rowenna sambil termenung.
"Karena kita punya balkon di kamar masing-masing, jadi kalau ingin menikmati malam tinggal keluar dari kamar dan duduk di balkon. Teras belakang hanya kita gunakan untuk menyambut tamu yang sudah akrab" ucap Celina.
"Benar juga, kalian jangan selalu di kamar, temanilah orang-orang tua ini" ucap Rowenna memohon.
Celina dan Raffa tersenyum.
"Baiklah Mom, kalau Mommy ingin berbincang bersama tinggal panggil kami" ucap Celina.
"Aaahh, nggak enak lah. Gimana kalau kalian sedang sibuk" ucap Rowenna.
Celina dan Raffa saling memandang, mereka agak ragu dengan maksud ucapan Ny. Rowenna. Mereka tidak pernah lagi membawa pekerjaan ke rumah. Bagi mereka di rumah adalah waktunya untuk keluarga. Namun, akhirnya mereka mengerti, sibuk maksud sang Mommy adalah seperti tadi saat mereka bermesraan. Celina dan Raffa langsung tertawa.
"Kalau gitu Mommy teriak aja 'Celina Mommy pengen chiffon cake buatanmu'. Itu tandanya Mommy lagi pingin ngobrol sambil makan kue chiffon, gimana?" usul Celina.
"Wah, walaupun kalian sedang sibuk?" tanya Rowenna yang di balas dengan anggukan oleh Celina.
"Kamu nggak keberatan?" tanya Rowenna yang sangat suka kue buatan Celina.
Celina menggelengkan kepala, Ny. Rowenna langsung menangkup wajah menantunya. Merasa bahwa dia adalah mertua yang paling bahagia karena memiliki menantu yang berbakti seperti Celina.
__ADS_1
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dan memilih melanjutkan perbincangan di teras belakang. Aurora telah kembali tertidur di gendongan Raffa. Namun, laki-laki itu memilih untuk tidak menaruhnya di ranjang.
"Nanti dia manja, bisa-bisa minta gendong terus sama kakak" ucap Celina.
"Nggak apa-apa, selagi masih bisa menggendongnya kita gendong sampai puas. Karena saat dia tumbuh besar, dia tidak akan mau lagi kita gendong " ucap Raffa.
"Ya, waktu akan cepat berlalu dan tidak bisa kembali. Meski tak banyak yang aku ingat saat masa kecil Raffa tapi masih ada beberapa kenangan yang tidak terlupakan" ucap Rowenna.
Raffa dan Celina mengangguk.
"Mommy sangat bersyukur memiliki menantu sepertimu Celina. Kamu telah menyatukan keluarga kami, Raffa dan Mommy tidak pernah se akrab ini sejak dia menjabat CEO di perusahaannya. Entah karena dia terlalu sibuk dengan urusannya atau seusia itu seorang anak akan menjauh dari orang tuanya. Tapi tidak juga, sekarang dia tidak menjauh lagi dari orang tuanya, itu bukti kalau kamu bisa membuat kami rukun kembali" ucap Rowenna mencurahkan isi hati.
"Aku bahkan tinggal di apartemen dengan alasan privasi, aku sangat jarang bertemu Mommy dan Daddy. Jika Mommy ke kantor barulah bisa bertemu. Itu juga kalau Mommy mendadak datang jadi aku tidak sempat menghindar" ucap Raffa sambil tertawa.
"Dasar anak kurang ajar" ucap Rowenna lalu tersenyum.
"Tapi setelah menikah bukannya kakak langsung pindah ke rumah ini?" tanya Celina.
"Ya, itu berkat Jessica. Karena dia takut diabaikan jika tinggal sendiri jadi dia menghasut Mommy untuk tidak mengizinkan Raffa tinggal di rumahnya sendiri" cerita Rowenna.
Celina tersenyum, Raffa menatap istrinya dengan tatapan lembut.
"Gimana kalau sekarang kita pindah ke apartemen. Sekarang Jessica tidak menghasut Mommy untuk tinggal di sini lagi" ucap Raffa.
"Jangan harap !! Kalau kalian mau pindah tinggalkan Aurora di sini" ucap Rowenna sambil pura-pura marah.
Tentu saja Celina dan Raffa tidak ingin dipisahkan dengan putri mereka.
"Tapi bagaimana dengan kesehatan Aurora? Apa ada yang perlu dikhawatirkan?" tanya Rowenna.
Raffa langsung tampil untuk menjawab.
"Kalau sejauh ini keadaan Aurora baik-baik saja. Yang perlu dikhawatirkan itu mamanya, gimana rasanya ketemu dokter yang jelas-jelas naksir sama dia" curhat Raffa.
"Kakak" ucap Celina dengan wajah yang mulai khawatir itu membuat Raffa langsung tertawa.
"Ya, ya aku cuma bercanda. Kita bawa Aurora padanya, jadwalnya minggu ini kan?" tanya Raffa yang dibalas dengan anggukan oleh Celina.
"Jangan pernah ragukan cinta kalian. Karena Mommy bisa melihatnya, Celina tidak akan berpaling darimu dan kamu tidak akan berpaling dari Celina. Kamu harus mencoba menguasai emosimu jangan sedikit-sedikit cemburu. Nanti lama-lama Celina capek dan meninggalkanmu, kamu sendiri yang akan rugi" nasihat Rowenna.
"Baik Mom, aku tidak akan seperti itu lagi" ucap Raffa.
Ny. Rowenna tertawa, Raffa menoleh pada Celina, laki-laki itu merasa gemas mendengar omongan Celina.
Ya ampun, jika di kamar sudah ku bekap mulutmu itu, sampai kamu tidak bisa bernapas karena ciumanku, batin Raffa.
"Kenapa? kenapa lihat-lihat?" tanya Raffa.
"Sudahlah, kalian masuklah ke kamar. Mommy juga sudah mengantuk" ucap Rowenna sambil berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Raffa masih menatap Celina lalu mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu. Celina segera mengecup bibir suaminya.
"Kita taruh Aurora di kamarnya kak" bisik Celina.
Raffa tersenyum lalu berdiri mengendong putri mereka dan meletakkannya di ranjang bayi. Tak butuh basa basi lagi saat kembali ke kamar, Raffa langsung menghempaskan istrinya di ranjang dan membenamkan bibirnya, memainkan lidahnya di rongga mulut gadis itu hingga membuat tubuh mereka terasa panas.
Raffa segera melepas t-shirt-nya yang menampilkan otot dadanya yang menggoda. Celina tersenyum dan mengecupnya membuat Raffa semakin bernapsu. Laki-laki itu kembali mencium bibir istrinya dan berlanjut ke leher Celina. Celina menikmati permainan cinta suaminya.
Menjelang subuh Celina terbangun, gadis itu ingin beranjak dari ranjang. Namun, tangan Raffa segera melingkar di pinggang dan dadanya.
"Nanti saja bangunnya, aku masih ingin memelukmu" ucap Raffa dengan mata yang masih terpejam.
Celina tersenyum dan diam di tempatnya, gadis itu akhirnya membalik badan agar bisa berhadapan dengan suaminya. Celina menyentuh bekas luka di tubuh suaminya. Hatinya meringis saat melihat bekas tusukan di bahu suaminya itu. Teringat saat dirinya nekat menusukkan ice pick ke bahu laki-laki itu.
"Pasti sangat sakit" bisiknya sambil menyentuh bekas luka itu.
Setiap kali melihat bekas luka itu, hati Celina selalu sedih.
"Sampai kapan kamu menyesali bekas luka ini sayang" ucap Raffa akhirnya membuka mata.
"Aku menyesal melakukan ini, kak kenapa tidak Operasi plastik saja untuk menghilangkan bekasnya?" tanya Celina sambil menyentuh bekas luka tusuk itu
Mendengar ucapan Celina, Raffa langsung tertawa. Celina heran melihat reaksi Raffa atas ucapannya.
"Kenapa? Apanya yang lucu?" tanya Celina.
"Anak dan ibu sama saja" ucap Raffa.
Celina semakin heran mendengar ucapan Raffa. Laki-laki itu berusaha meredakan tawanya demi menjelaskan maksud ucapannya.
__ADS_1
"Ozora juga pernah menanyakannya, persis seperti ucapanmu" jawab Raffa.
"Oh ya, kapan dia bertanya itu?" tanya Celina.
"Saat kami jalan-jalan ke Bali, waktu ulang tahun pernikahan Mommy. Kamu ingat?" tanya Raffa.
Celina mengangguk, itu pertama kalinya dia harus berpisah dengan Ozora. Membicarakan Ozora membuat Celina rindu pada putranya.
"Dia sepertinya telah mengenalku dan tahu kalau aku adalah ayah kandungnya. Dia memberi petunjuk tentang asal usulnya padaku. Tapi aku terlalu bodoh hingga berkali-kali dia harus memberi petunjuk bagiku" kenang Raffa.
"Kak, aku jadi kangen Ozora. Sepertinya ulang tahun Ozora akan terlewatkan lagi. Banyak sekali rencana yang belum terlaksana" ucap Celina menyesal.
"Bersabarlah, nanti juga ada waktunya" ucap Raffa.
"Besok apa bisa menemui Dokter Dino?" tanya Celina.
"Kenapa? Sudah kangen sama dia?" tanya Raffa.
Celina langsung mencubit pinggang laki-laki itu, Raffa meringis kesakitan, Celina panik.
"Haaa.., masa sakit sih. Cuma pelan gitu?" tanya Celina.
"Sini kamu coba sendiri" ucap Raffa mengarahkan tangannya ke pinggang Celina.
"Nggak mau" ucap Celina.
Gadis itu bergerak menjauh namun Raffa segera menangkapnya. Laki-laki itu menggelitik istrinya hingga membuat Celina meminta ampun.
"Cium dulu" ucap Raffa.
Celina yang berada dalam kungkungan Raffa langsung melingkarkan tangannya ke leher laki-laki itu. Celina mengecup bibir suaminya.
"Besok kita konsultasi dengan Dokter Dino tapi jangan main mata ya?" ucap Raffa kembali menggoda istrinya.
Celina langsung menggigit bibir suaminya, membuat laki-laki itu menjerit.
"Sudah berani main kasar ya?" ucap Raffa.
Kembali laki-laki itu menyatukan bibir mereka dan kembali mengulang kemesraan mereka.
Siangnya Raffa menjemput anak dan istrinya untuk berkonsultasi dengan Dokter Dino. Kesempatan itu juga dipergunakan Raffa untuk meminta maaf.
"Tidak apa-apa pak, saya mengerti. Saya sendiri juga akan berbuat sama jika itu terjadi pada diri saya" ucap Dokter Dino.
Raffa merasa lega, begitu juga dengan Celina. Kemudian Dokter Dino menjelaskan keadaan Aurora dan itu sangat mengejutkan kedua orang tua bayi itu.
"Setelah menguji dan meneliti Aurora, saya bisa memastikan kalau henti napaslah yang menjadi penyebab Aurora mengalami cedera otak. Yang akhirnya membuat Aurora mengalami sindroma kecendikiaan mendadak sama seperti yang dialami Ozora" lanjut dokter syaraf itu.
"Apa maksudnya dokter ?" tanya Raffa masih tidak mengerti.
Celina pernah menceritakan pada Raffa kalau dia pernah berniat membunuh Ozora dengan cara mencekiknya. Namun, tidak yakin untuk menceritakan dampak dari perbuatannya itu terhadap kecerdasan Ozora.
Dokter Dino mengerti kalau Raffa tidak mengetahui sama sekali yang diucapkannya. Karena dulu Dokter Dino hanya menerangkan semua itu pada Celina.
"Sindroma kecendikiaan mendadak adalah kemampuan luar biasa yang muncul setelah terjadinya cedera otak atau karena penyakit. Ini adalah kejadian yang langka di dunia" jelas Dokter Dino.
Raffa menoleh pada Celina yang terlihat lebih tenang.
"Cedera otak itu bisa seperti menghantam otak, menusuknya, menyetrumnya, menembaknya, mengirisnya atau menjauhkannya dari oksigen seperti tercekik" jelas Dokter Dino.
"Kalau dari yang saya baca kasus Aurora adalah berhenti bernapas saat proses persalinan. Sama seperti Ozora, bayi Aurora juga mengalami Hipoksia serebral atau bisa disebut dengan kekurangan pasokan oksigen ke otak.
Terputusnya pasokan oksigen selama lima menit membuat sel-sel otak yang mati dan yang hampir mati membuat suatu hormon yang merembes ke jaringan sekitarnya mendorong keterhubungan baru antar bagian-bagian otak, hal ini diperkirakan dapat meningkatkan kreativitas. Aurora mengalami cedera otak itu dan berlanjut hingga menimbulkan sindroma kecendikiaan mendadak" sambung neurologis itu panjang lebar.
"Ini menjadi dasar kecerdasan Aurora tinggal anda berdua memaksimalkannya. Apa yang dilakukan Celina saat membesarkan Ozora sangatlah baik. Ozora bisa mudah menyerap apa yang dibaca dan dipelajarinya. Saya pikir cara itu bisa diterapkan pada Aurora" jelas Dokter Dino.
"Tidak ada efek samping dari cedera otak itu dokter?" tanya Raffa.
"Kemampuan kesembuhan bayi itu sangat mengagumkan pak Raffa, ditambah dengan nutrisi yang baik dari ASI yang berkualitas membuat cedera otak yang dialami Aurora dapat disembuhkan dan tidak mengalami dampak sama sekali" jelas Dokter Dino.
Raffa dan Celina bernapas lega mendengar penjelasan Dokter Dino. Setelah cukup mendapat penjelasan dari dokter itu, Raffa dan Celina pun pamit pulang. Dokter itu mengantar Raffa dan Celina hingga ke depan pintu. Saat di depan pintu seorang dokter perempuan tengah berdiri menunggu di sana.
"Ini adalah Dokter Dinda, salah seorang dari tim dokter yang membantu proses persalinan nyonya Celina" ucap Dokter Dino memperkenalkan Dokter cantik itu.
"Oh benarkah?" ucap Celina yang kaget dan langsung memperkenalkan diri dan berterima kasih.
Raut wajah Dokter Dinda berubah saat mendengar nama Celina. Dokter cantik itu pun terlihat canggung dan murung.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1