
Celina mendapat kiriman buket bunga yang indah, namun yang mengejutkan dari itu adalah pengirimnya, Edward. Laki-laki yang pernah membuat Raffa begitu cemburu karena laki-laki berwajah tampan kebule-bulean itu sering terlihat disekitar istrinya.
Raffa mulai meragukan lagi kesetiaan istrinya, berpikir gadis itu berhubungan dengan bule itu disaat jam kantor.
"Kenapa kakak selalu lupa betapa berartinya kak Raffa bagiku. Apa gunanya menyimpan bekas luka ini ditubuhmu, jika ini tidak mampu mengingatkan kakak betapa aku ingin tetap berada sisimu" ucap Celina sambil menyentuh bekas luka yang didapatkannya saat menolong Celina.
Seberapa takutnya Celina akan situasi saat itu namun tak membuat gadis itu pergi meninggalkan Raffa yang berjuang menyelamatkannya.
Raffa tersenyum mengingat masa itu, lalu meraih pinggang istrinya dan membenamkan bibirnya sedalam-dalamnya ke bibir gadis itu. Raffa ingin menunjukkan rasa terima kasihnya pada Celina karena tetap berada disisinya walau apapun yang terjadi.
Celina membalas ciuman hangat suaminya, gadis itu juga ingin menunjukkan betapa dia sangat menginginkan perlakuan mesra dari laki-laki itu. Mereka bisa menunjukkan perasaan itu lebih lama namun terdengar ketukan pintu, membuat mereka harus melepas ungkapan perasaan itu sementara.
Sambil tersenyum Raffa mempersalahkan masuk, terlihat Ozora yang langsung berlari ke arah mereka.
"Ma, ada auntie Kei datang" ucap Ozora memberitahu kedatangan Keira.
"Oh ya, auntie Kei sebenarnya ingin bertemu dengan Ozora, ingin ngobrolin sesuatu" ucap Celina memberitahu tujuan Keira datang.
"Ayo sayang" ucap Celina sambil mengajak Ozora.
"Auntie Kei datang bersama uncle Kev ma" ucap Ozora lagi.
"Oh uncle Kev juga datang" ucap Celina langsung menoleh pada Raffa.
"Kenapa melihat kearahku ? "tanya Raffa sambil tertawa.
"Kakak nggak mau ikut ? nanti curiga lagi ?" ucap Celina yang langsung membuat Raffa ingin memeluknya lagi.
Laki-laki itu memeluk istrinya dari belakang dan mengecup pipinya. Ucapan sindiran itu membuat laki-laki itu gemas terhadap Celina.
"Ya aku akan ikut, aku akan selalu jadi pengawalmu. Agar laki-laki manapun tidak memiliki kesempatan untuk menggodamu" ucapnya sambil menggendong Ozora.
"Dasar kekanak-kanakan" teriak Celina sambil mendorong punggung Raffa.
Ozora tertawa.
Keira dan Kevin sedang berbincang dengan tuan Robby dan Ny. Rowenna yang kebetulan melihat Kevin datang.
"Kapan kalian akan melaksanakan pernikahan ?" tanya tuan Robby.
"Ya Kevin, jangan sampai gadis cantik seperti Keira ini direbut orang" ucap Rowenna menambahkan.
Mereka menemani Kevin dan Keira berbincang sambil menunggu Raffa dan Celina.
"Kamu dan Alyssa sudah seperti putra putri kami, jadi kami juga ingin kamu mendapatkan yang terbaik" sambung Rowenna.
Kevin tersenyum mendengar ucapan sahabat kedua orang tuanya itu. Tak lama kemudian Raffa dan Celina datang bersama Ozora dan Tita.
Keira langsung merebut Ozora dari Raffa dan mendudukkan dipangkuannya. Ozora memeluk Keira, gadis itu langsung membalas pelukannya lebih erat.
"Papamu bilang, auntie Kei boleh ketemu Ozora kapanpun auntie mau" lapor Keira pada Ozora.
Anak itu mengangguk. Keira kembali memeluknya, sejak pertama kali bertemu Ozora, Keira memang langsung jatuh hati pada anak itu. Karena telah lama mengenal dan mengagumi kecerdasan anak itu.
"Nanti kalau auntie punya anak, auntie jodohin sama kamu ya, kamu jangan mau sama yang lain" ucap Keira saking ingin memiliki Ozora.
Tuan Robby dan yang lainnya tertawa.
"Jangan mau Ozora, nanti keburu tua kalau nunggu anaknya auntie. Liat, nikahnya aja belum kapan mau punya anak, kelamaan Ozora nunggunya" ucap Celina memancing Kevin, membuat Keira membesarkan matanya kearah Celina.
Celina tak peduli menatap kearah lain sambil memeluk Tita yang duduk dipangkuannya, Raffa tertawa.
"Udah, udah, jangan mau dihasut mamamu ya. Ozora kan punya pemikiran sendiri. Anaknya punya passion sendiri aja mamanya nggak tau, anaknya punya forum aja mamanya nggak tau sekarang malah ingin ngatur-ngatur, benar-benar egois, mau menang sendiri ya Ozora ?" tanya Keira pada Ozora.
Anak itu mengangguk membentang telapak tangannya, sontak Keira menyambut, saling menepuk tangan satu sama lain, mereka high five sambil tertawa. Ozora memang paling bisa membuat orang tersanjung. Dengan memihak pada Keira gadis itu merasa puas sudah mengalahkan Celina.
"Ooh.. awas ya, udah jadi pembelot sekarang, mentang-mentang dibelain auntie Kei, jadi nggak sayang mama lagi" ucap Celina pura-pura ngambek.
"Isstt.. mama, Ozora tetap sayang sama mama, pura-pura nggak sayang aja biar auntie Kei nya senang" bisik Ozora yang terdengar oleh semua orang disitu.
"Huuu... awas kamu ya, kecil-kecil udah licik" ucap Keira sambil langsung menggelitik pinggang Ozora.
Ozora tertawa sambil berusaha menangkap tangan Keira, Kevin menatap pemandangan itu sambil tersenyum. Lalu memandang kearah Celina dan tertunduk.
"Oh ya, Ozora, auntie udah janji sama keluarga Cartwright untuk ngajak Ozora melihat masalah yang dihadapi perusahaannya, apa Ozora bersedia ?" tanya Keira saat teringat tujuannya datang ke kediaman Saltano.
Ozora menatap kearah Tita, yang hanya menatapnya diam. Lalu Ozora mengangguk, meski Tita seperti dibuang oleh ibunya dan keluarga Cartwright tapi gadis kecil itu masih sering merindukan ibunya, juga Oma dan Opanya.
"Kalau begitu jam kerja nanti kita mampir ke perusahaannya ya, keluarga Cartwright berjanji akan memberikan informasi yang sebenarnya tentang keadaan perusahaan itu. Auntie penasaran gimana kamu menyelesaikan masalah perusahaan mereka.
Apa auntie Kei boleh bergabung dalam tim penyelamat perusahaan itu ?" tanya Keira.
Ozora menggelengkan kepalanya kuat.
"Auntie nggak kompeten ya ?" tanya Keira.
"Usaha tim bisa gagal" jawab Ozora.
"Kenapa ? gini-gini auntie Kei juga lulusan luar negeri loh" ucap gadis itu frustrasi tak dianggap oleh Ozora.
__ADS_1
"Bukan karena itu, kalau auntie ikut, cuma menganggu kerja tim aja" jawab Ozora, semua hening.
Keira cemberut.
"Karena auntie Kei terlalu cantik" jawab Ozora membuat semua orang tertawa.
"Oh ya ampun, anak ini ya... pandai sekali bikin hati orang melambung, asli Raffa banget, kecil-kecil udah jadi playboy, Don Juan, Casanova" ucap Keira lengkap menyebutkan julukan penakluk hati wanita dari berbagai negara itu.
Mereka tertawa, tak terkecuali tuan Robby dan nyonya Rowenna. Raffa memandang istrinya, sementara Kevin tersenyum memandang Keira. Ozora bertemu dengan Keira maka suasana akan menjadi riuh.
Celina teringat sesuatu yang ingin ditanyakannya,
"Sayang, bukankah melakukan usaha penyelamatan sebuah perusahaan itu butuh modal, dari mana kamu mendapatkannya ? bukan dengan cara ilegal bukan ? mama takut demi itu kamu melakukan penyelewengan, penipuan, pembobolan. Menjadi pelaku kriminal semacam hacker or cracker mungkin ?" tanya Celina pada Ozora.
"Mama, hacker itu bukanlah pelaku kriminal ma, hacker itu adalah seseorang yang memiliki kemampuan menyusup dalam sebuah sistem atau jaringan komputer. Tujuannya positif menyusup hanya untuk mengembangkan potensinya dan meningkatkan skill mereka dalam mencari celah dalam sebuah sistem atau jaringan komputer. Hacker tidak mengambil informasi secara paksa atau merusak sistem yang ada." jelas Ozora.
Semua ikut memperhatikan penjelasan Ozora.
"Nah kalau cracker barulah bisa dibilang pelaku kriminal, cracker yang berasal dari kata crack atau rusak adalah seorang penyusup yang memiliki kencenderungan untuk merusak sistem atau jaringan komputer.
Niatnya memang negatif, tujuannya untuk mengambil informasi tanpa izin, seperti mencuri informasi rahasia untuk kepentingan yang tidak baik. Aksi cracker inilah yang bisa dibilang ilegal" jelas Ozora panjang lebar.
"Baiklah, baiklah, maksudnya seperti itu, tapi Ozora tidak melakukan sesuatu yang yang ilegal apalagi melakukan tindakan kriminal kan ?" tanya Celina.
Ozora menggeleng.
"Lalu dari mana mendapatkan modalnya ?" tanya Celina lagi, yang lain penasaran dengan jawaban Ozora.
"Philanthropists" jawab Ozora.
"Maksudmu orang-orang dermawan atau club philanthropists ?" tanya Keira.
"Awalnya dari orang-orang yang dermawan, orang-orang yang pernah mendapat kesulitan di perusahaannya namun mendapat pertolongan dari teman atau kerabat hingga mampu bangkit kembali. Orang-orang seperti itu sangat mengerti bagaimana berharganya arti sebuah pertolongan. Beberapa anggota tim penyelamat itu mengumpulkan dana hasil dari keuntungan perusahaan mereka dan digunakan untuk membantu orang-orang yang sedang kesulitan itu.
Sejak berdirinya club philanthropists maka mereka tergabung dalam club itu" jelas Ozora.
"Presiden club itu adalah uncle Kev mu" ucap Keira sambil menunjuk Kevin.
Ozora mengangguk.
"Jadi kamu meminta club kami mendanai usaha penyelamatanmu itu" tanya Kevin.
"Bukan Ozora uncle Kev, mana mungkin tanda tangan anak kecil seperti Ozora ini berlaku" jawab Ozora tersenyum.
"Ya tentu saja, anggota club yang menjadi tim kerja mu itu" ucap Kevin baru menyadari.
"Berarti anggota tim itu juga orang-orang dari kalangan top level management ?" tanya Keira.
"Duh kamu ini, gemesin banget, lama-lama bisa auntie culik juga kamu" ucap Keira.
"Jangan ngomong culik-culik" ucap Celina cepat.
"Oh liat ada yang trauma dengan penculikan, coba liat sisi baik dari peristiwa penculikan itu, kamu jadi disayang mertuamu dan terlebih dari itu, sekarang kamu jadi memiliki Raffa dan Ozora, ambil hikmahnya" ucap Keira sambil tertawa.
Celina sampai terperangah mendengar ucapan Keira, menatap pada Kevin yang pasti telah menceritakan semua kejadian yang menimpanya pada Keira. Kevin malah mengalihkan pandangannya kearah lain. Raffa langsung meraih istrinya dan mengecup pipinya.
"Tuh kan disayang Raffa lagi, masa masih trauma ?" ucap Keira.
Mereka kembali tertawa, Celina bersemu merah, memeluk dan mencium puncak rambut Tita untuk mengalihkan salah tingkahnya. Semua orang menyaksikan betapa mesranya perlakuan Raffa terhadap Celina. Karena itu Keira sangat senang menggodanya.
Mereka berbincang-bincang ringan, seperti biasa Keira dan Ozora berkomplot melawan Celina, dan Raffa yang jadi pembelanya. Sesekali Celina juga menyindir Kevin karena masih belum menetapkan tanggal pernikahan mereka.
Ny. Rowenna mengundang Kevin dan Keira untuk makan malam bersama. Perbincangan seru kembali terjadi di meja makan. Ozora yang harus duduk disamping Keira terpaksa mengikuti kemauan gadis itu setiap kali ingin menggoda Celina.
Jika Celina sudah mulai sewot barulah Ozora kembali merayu mamanya.
"Nggak apa-apa ma, biar auntie Kei senang" ucapnya berlagak berbisik.
Keira akan langsung menggelitik Ozora. Setelah puas berkunjung, pasangan Itupun pamit pulang. Ozora dan Tita pun disuruh beristirahat.
"Tita ingin menjenguk mommy ?" tanya Celina sambil menyelimuti gadis kecil itu.
Tita mengangguk.
"Tapi Tita ngomong dong sayang, jangan diam aja. Nanti mommy sedih kalau Tita nggak mau ngomong. Mommy pasti kangen dengar suara Tita" ucap Celina sambil mengusap rambut gadis kecil itu.
"Ya, Tan..te" ucap Tita ragu-ragu.
"Kalau Tita nggak keberatan, Tita boleh panggil mama, sama seperti Ozora" ucap Celina lagi.
"Ya mama" ucap Tita cepat, lalu bangun dan langsung memeluk Celina.
Gadis kecil itu menangis, Celina heran melihat respon Tita.
"Sayang, kenapa nak ? Tita kenapa nangis ?" ucap Celina sambil menangkup wajah Tita.
"Makasih mama, Tita senang bisa panggil mama" ucap gadis kecil itu sambil menangis.
"Oh ya tentu boleh Tita" ucap Celina lalu memeluk Tita.
__ADS_1
"Sejak hari itu Tita nggak mau ngomong sama sekali. Cuma diam, senyum dan menangis. Mama nggak tau apa yang Tita mau. Kalau mama tau sejak dulu Tita mau panggil mama. Mama pasti senang sekali mendengarnya. Mulai sekarang Tita jangan diam lagi ya" ucap Celina sambil mengecup puncak rambut gadis kecil itu.
"Maafkan Tita, ma" ucap Tita.
"Ya, nggak apa-apa, mama justru senang sekarang Tita udah mau ngomong lagi" ucap Celina.
"Ada apa ini ? tanya Raffa tiba-tiba muncul.
"Daddy" ucap Tita.
"Wah Tita udah mau ngomong lagi" ucap Raffa sambil mengecup puncak rambut gadis kecil itu.
Tita duduk diantara mereka, memandang ke kanan dan ke kiri pada Celina dan Raffa.
"Kenapa Tita ?" tanya Raffa.
"Dulu Tita pernah pikir, pasti senang punya mommy seperti mamanya Ozora. Sekarang udah benar-benar terjadi Tita senang Dad, ma" ucap Tita
Raffa agak kaget saat mendengar Tita memanggil mama pada Celina. Laki-laki itu tersenyum saat Celina mengangguk.
"Sekarang Tita tidur ya sayang ?" ucap Raffa.
Raffa menyelimuti Tita, bergantian mereka mencium pipi anak itu. Mereka mampir ke kamar Ozora untuk mengucapkan selamat malam.
"Coba tebak, Tita sudah mau ngomong sekarang" ucap Celina pada Ozora.
"Benar ma ?" tanya Ozora merasa tidak yakin.
Celina mengangguk, Ozora tersenyum.
"Tita ingin memanggil dengan sebutan mama juga, Ozora tidak keberatan kan ?" tanya Celina pada Ozora.
"Nggak apa-apa, Ozora senang, kita sama-sama anak mama kan ?" ucap Ozora senang.
"Kamu anak yang baik sayang" ucap Raffa.
Berdua mereka memeluk Ozora, lalu mengucapkan selamat malam. Raffa merangkul Celina meninggalkan kamar Ozora.
Sesampai di kamar Raffa langsung memeluk Celina, menciumi bibir dan lehernya. Laki-laki itu sudah menahan napsu nya sejak tadi. Melihat Celina tertawa dan berdebat dengan Keira membuat istrinya terlihat menggemaskan.
Raffa baru saja menghempaskan Celina di ranjang saat tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
"Kayaknya kita harus pindah ke apartemen" ucap Raffa.
"Kenapa ?" tanya Celina.
"Disini banyak gangguan" ucap Raffa sambil berjalan menuju kursi.
Celina membukakan pintu, pelayan datang membawakan pakaian-pakaian mereka, baik yang dicuci dirumah maupun kiriman dari laundry. Celina tersenyum membiarkan pelayan itu masuk.
"Taruh di ranjang saja ya, nanti biar saya yang susun" ucap Celina.
Pelayan pun hendak berlalu.
"Tunggu, ini bukan sapu tangan saya. Mungkin punya nyonya besar" ucap Celina sambil menyerahkan sapu tangan wanita itu.
"Bukan nyonya muda, itu bukan punya nyonya besar. Saya sudah tanyakan, pihak laundry bilang sapu tangan itu tadinya ada disaku jas tuan Raffa" ucap pelayan itu menjelaskan.
"Semua barang-barang dalam saku tuan Raffa dikeluarkan dan dikumpulkan, sapu tangan itu ada disitu" jelas pelayan itu lagi.
"Ada apa ?" tanya Raffa
"Ya sudah pergilah" ucap Celina pada pelayan rumah keluarga itu.
"Sapu tangan ini ditemukan di dalam saku jas kakak, punya siapa ini ?" tanya Celina.
Raffa meraih sapu tangan yang disodorkan Celina. Sebuah sapu tangan wanita, dengan bau parfum yang menyengat.
"Aku tidak tau sayang, punya siapa ini ?" Raffa justru balik bertanya.
"Mungkin punya wanita yang kakak temui di bar" ucap gadis itu lalu masuk ke kamar mandi, berdiri didepan cermin sambil memandang ekspresi wajahnya sendiri.
Celina memalingkan wajah, lalu memejamkan mata.
"Celina, ini gimana? punya siapa ini ? buang sajalah" teriak Raffa dari kamar tidur.
"Santai sekali dia bicara" ucap Celina pelan.
Ya ampun seperti ini rasanya cemburu, batin Celina sambil menepuk dadanya yang terasa sempit.
"Sayang ayo keluar, aku menunggumu" teriak Raffa lagi.
Celina buru-buru keluar, dengan langkah cepat langsung ke ranjang dan menyelimuti tubuhnya hingga ke kepala.
"Kok tidur sih" ucap Raffa sambil menarik selimut yang menutupi wajah Celina.
"Aku kesal" teriak Celina menarik selimut itu kembali.
"Kamu cemburu ya ? syukurlah artinya kamu benar-benar cinta sama aku" ucap Raffa santai.
__ADS_1
Sambil menarik selimut yang menutupi Celina, memeluk, menciumi bibir dan leher Celina, kemudian melanjutkan niatnya yang sempat tertunda tadi.
...~ Bersambung ~...