Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 90 ~ Kembali Pulang ~


__ADS_3

Raffa menolong Natasha yang tak lagi bernafas. Laki laki itu melakukan CPR untuk menolong gadis itu. Saat terbangun Natasha langsung memeluknya bahkan mencium bibirnya.


Raffa kaget dan berusaha melepas pelukan erat gadis itu. Celina yang melihat kejadian itu berbalik arah dan berlari untuk kembali ke Villa. Raffa menyadari istrinya melihat tingkah Natasha, mendorong sekuat tenaga tubuh gadis itu untuk melepaskan pelukannya dan berlari mengejar wanita yang dicintainya.


"Sayang, dengarkan aku. Ini salah paham, kamu tahu pasti aku tidak peduli padanya. Celina, hanya kamu dan anak-anak yang terpenting dalam hidupku. Aku tidak ingin kehilangan kalian. Aku tidak mau kehilangan kalian demi apa pun" ucap Raffa sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Aku capek Kak, menghadapi hal seperti ini berulang kali. Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat tapi tetap saja rasanya sakit" ucap Celina menangis.


"Sayang aku mohon, bertahanlah demi aku dan anak-anak. Apa kamu tidak percaya padaku? Setelah sekian lama kita bersama? Sayang, kamu percaya padaku kan? Kamu percaya padaku kan?" tanya Raffa.


Membalik badan Celina ke hadapannya dan menangkup wajah wanita yang dicintainya itu. Raffa begitu takut kehilangan Celina, dia tak ingin gadis itu menyerah. Laki-laki itu bahkan menitikkan air mata karena rasa takutnya jika Celina menyerah.


Raffa tidak sanggup kehilangan gadis itu lagi. Karena dulu pernah kehilangan gadis itu dan Raffa menjalani hidup yang menderita. Raffa memeluk Celina erat.


"Sayang, aku memilih hidup menderita asal tetap bersamamu. Hidupku lebih menderita jika berpisah darimu. Aku tidak sanggup Celina, aku tidak sanggup jauh darimu. Bertahanlah demi aku" ucap Raffa memohon.


Mendengar itu Celina mengangkat tangannya dan merengkuh punggung suaminya. Raffa tersenyum dan mempererat pelukannya.


"Lakukan apa pun untuk menghilangkan rasa sakitmu. Tapi jangan tinggalkan aku, itu adalah hukuman terberat untukku. Aku tidak sanggup menjalaninya" bisik Raffa.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku juga tidak sanggup berpisah darimu Kak" balas Celina.


Raffa melepas pelukannya dan menoleh ke arah Natasha yang telah kembali berpakaian. Gadis itu berjalan mendekati mereka dengan tatapan yang tajam.


"Jangan ganggu kami, aku tidak akan meninggalkan istriku demi kamu. Carilah laki-laki lain yang bisa mencintaimu sepenuh hati, itu akan membuatmu bahagia. Merusak rumah tangga orang tidak akan bisa mendatangkan kebahagiaan. Meski bisa tertawa tapi itu adalah kebahagiaan palsu. Tidak ada orang yang bahagia dengan kebahagiaan palsu" jelas Raffa sambil mengajak istrinya pergi dari hadapan Natasha.


Di Villa, Raffa membilas tubuhnya dengan air hangat, Celina datang dan mengusap punggung laki-laki itu. Raffa membalik badan dan langsung menarik istrinya dalam pelukannya. Membenamkan bibirnya di bawah siraman air hangat dari shower.


Raffa melepas blouse Celina yang telah basah, memeluk tubuh polos gadis itu dan menciumi lehernya. Masalah yang datang dalam rumah tangga mereka justru membuat Raffa dan Celina semakin ingin menunjukkan perasaan cinta mereka yang semakin dalam.


"Pernahkah mencintai laki-laki lain selain aku sayang?" bisik Raffa.


"Tidak pernah" jawab Celina.


"Kevin?" tanya Raffa lagi.


"Aku mencoba tapi tak bisa" ucap Celina.


Raffa tersenyum, menatap gadis yang tetap cantik di bawah siraman air itu.


"Bagaimana dengan kakak?" tanya Celina.


"Sayang, kamu bukan yang pertama tapi pasti yang terakhir" tegas Raffa.


Ucapan Raffa membuat hati Celina berbunga. Gadis itu berinisiatif mencium leher suaminya membuat laki-laki tak mampu menahan hasratnya. Menggendong wanita yang dicintainya itu kembali ke kamar dan melampiaskan hasratnya yang telah memuncak.


Celina bahagia menyaksikan kesungguhan Raffa menyalurkan hasrat cintanya. Membuat gadis itu melupakan ketakutannya pada ancaman-ancaman yang senantiasa mengganggu keutuhan rumah tangganya.


Seperti yang pernah diungkapkan Celina dulu. Selagi Raffa masih menginginkannya maka Celina akan bertahan disisinya. Namun, jika Raffa yang ingin meninggalkannya maka Celina memilih pasrah. Dan sekarang gadis itu masih merasakan cinta yang menggebu dari suaminya.


Celina membuka matanya saat cahaya pagi menembus kaca jendela. Tersenyum menatap laki-laki yang begitu erat memeluknya.


"Sayang ayo bangun, sudah pagi" bisik Celina.


"Tidak mau, aku masih ingin memelukmu" jawab Raffa seadanya.


"Tidak bisa, nanti tamu yang lain mencari kita" ucap Celina.

__ADS_1


"Nggak akan mereka juga asyik memeluk istri masing-masing" ucap Raffa sambil tersenyum.


"Bagaimana kalau mereka lapar dan kokinya masih tidur" ucap Celina masih berusaha membangunkan suaminya.


"Biarkan saja, mereka tidak akan mati walau tidak makan pagi" ucap Raffa masih memejamkan matanya.


Celina tertawa, Raffa membuka mata dan menatap heran istrinya.


"Kenapa tertawa?" tanya Raffa.


"Untung Kakak ini CEO di perusahaan sendiri, kalau jadi koki sudah kena pecat berapa kali?" ucap Celina kembali tertawa.


Raffa ikut tertawa mendengar kelakar istrinya, lalu memeluk istrinya erat hingga Celina mengeluh tidak bisa bernafas.


"Aku tidak bisa bernafas Kak" ucap Celina.


"Ya, aku akan peluk kamu sampai kamu tidak bisa bernafas" ucap Raffa masih memeluk istrinya.


"Kalau aku mati gimana?" tanya Celina.


"Barulah aku berhenti memelukmu" ucap Raffa.


Celina tersenyum, ucapan Raffa menunjukkan kalau dia tidak akan berhenti mencintainya, tak akan beralih dan memeluk tubuh lain hingga maut memisahkan mereka. Celina menempelkan pipinya di dada Raffa yang terbuka. Terdengar degup jantung laki-laki itu.


Aku juga ingin mendengar degup jantung ini selamanya, sampai degup ini berhenti maka aku akan tetap di sini, batin Celina.


Hari itu mereka berkumpul hingga makan siang selesai. Lalu bersiap-siap dan kembali pulang ke rumah masing-masing saat menjelang sore. Edward dan Ozora ikut bersama Raffa, Celina dan Aurora.


"Aurora sudah umur berapa bulan Ma?" tanya Ozora.


"Lima bulan enam hari tepatnya, memangnya kenapa Ozora nanya?" tanya Celina.


"Ya, sama seperti Ozora dulu, umur enam bulan sudah lancar bicara" ucap Celina.


"Aurora suka baca buku juga ya Ma?" tanya Ozora lagi.


"Ya, tapi minatnya beda kalau Ozora suka dengan bisnis, kalau Aurora suka science, minatnya lebih ke arah itu. Lebih suka gambar-gambar science dari pada gambar-gambar pengusaha" ucap Celina sambil tersenyum.


Ozora tertawa, Edward menepuk pundak Raffa yang sedang mengemudi menanyakan cara agar memiliki anak-anak yang cerdas.


"Itu bukan karena saya Kak, karena mamanya yang cerdas" ucap Raffa sambil tertawa.


"Kamu lulusan Stanford university bagaimana mungkin kamu tidak cerdas? Mungkin dalam urusan percintaan kamu memang lugu?" ucap Edward yang membuat Raffa dan Celina tertawa.


"Korbanku ini sudah banyak Kak, masa di bilang lugu?" tanya Raffa sambil tertawa.


"Kamu pikir kamu hebat, korbanmu sudah banyak tapi sebenarnya kamu yang jadi korban. Buktinya kamu sudah terperangkap Celina sampai punya dua anak" tutur Edward sambil tertawa.


Celina melongok ke belakang dengan wajah cemberut yang di buat-buat, Ozora tertawa.


"Itu namanya bukan terperangkap Kak tapi kapal sudah merapat tidak mau kemana-mana lagi" jawab Raffa.


"Oh, are you sure? Kapal itu gunanya untuk berlayar kemana-mana. Bukan hanya bersandar di sebuah dermaga?" pancing Edward.


"Oh ya benar juga?" jawab Raffa sambil melirik Celina.


Gadis itu cemberut membuat Raffa kembali tertawa. Membuat Raffa gemas dan mencubit pipinya.

__ADS_1


"Sampai sekarang kamu masih gemas pada Celina yang sudah tua ini?" tanya Edward.


"Kakak, kenapa dari tadi pancing-pancing Kak Raffa terus? Kalau dia mencari yang lain gimana?" tanya Celina.


"Ya, Kakak usul sebaiknya cari yang lebih muda" ucap Edward.


Raffa dan Ozora langsung tertawa, membuat Aurora juga ikut tertawa hanya Celina yang cemberut. Namun, ekspresi Celina justru membuat Aurora tertawa.


"Aurora saja bisa tertawa melihat ekspresimu" ujar Edward.


"Kalau Kak Raffa memang benar-benar cari yang muda gimana?" tanya Celina.


"Ya terserah kamu, kamu mau cari yang muda juga atau yang tua?" tanya Edward sambil tertawa.


Celina memukul keningnya dengan tangan Aurora. Membuat anak itu kembali tertawa. Celina mengekspresikan dirinya seolah-olah bercanda dengan putrinya tapi sebenarnya dalam hatinya ada rasa khawatir.


Edward tidak tahu apa yang terjadi pada mereka malam sebelumnya di mana Raffa masih bisa menggoda hati seorang perempuan muda. Meskipun Raffa sendiri tidak menginginkannya tapi tetap ada rasa khawatir dalam diri Celina. Sampai di mana keteguhan hati Raffa menahan semua godaan.


Sesampai di rumah kediaman Saltano mereka beristirahat di kamar masing-masing. Edward di minta menginap di rumah itu juga meski tadinya ingin kembali menginap di hotel.


Celina sebagai adiknya meminta kakaknya untuk mau bergabung dan mendekatkan diri pada keluarganya. Akhirnya Edward setuju, setelah makan malam Edward berbincang dengan Celina di pinggir kolam.


"Jika terjadi sesuatu jangan di pendam sendiri, ceritakan pada kakakmu ini. Meski kadang tidak bisa memberi solusi tapi setidaknya ada orang yang mau mendengarkan keluh kesahmu dan setidaknya kamu tahu ada orang yang pasti akan selalu berada di sisimu" ucap Edward.


Celina tertunduk, selama hidupnya Celina memang terbiasa memendam sendiri masalahnya karena memang dia hidup sendiri. Untuk itu Edward mengingatkannya bahwa Edward adalah kakaknya yang akan selalu ada untuk mendukungnya.


"Baik Kak, apa pun yang terjadi mulai sekarang aku akan ceritakan pada kakak" ucap Celina.


Edward mengangguk, laki-laki itu meski terlihat tak acuh pada lingkungan sekitarnya namun selalu memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya. Edward merasa Celina sedang merasa khawatir pada kehadiran Natasha di tengah-tengah mereka.


"Aku tidak akan menghasutmu untuk meninggalkan Raffa. Percayalah, aku takut kamu tidak mau cerita padaku karena mengira aku akan menghasutmu meninggalkan laki-laki yang kamu cintai itu" jelas Edward.


"Aku mengerti Kak, aku bersyukur karena itu. Aku memiliki kakak yang akan selalu mendukungku" ucap Celina sambil tersenyum.


Edward meraih tubuh adiknya dan memeluknya erat. Raffa yang mengintip dari balik jendela kamarnya mengepalkan tangannya.


Benarkah dia itu kakaknya? Sampai sekarang aku masih cemburu padanya. Mungkin dia tidak akan menyukai Celina seperti menyukai gadis lain tapi kalau sampai menghasut Celina untuk meninggalkanku, awas saja. Aku tidak akan tinggal diam, batin Raffa.


Edward menginap di keluarga Saltano dan Celina memiliki teman untuk mencurahkan isi hatinya. Selain melaporkan perkembangan perusahaan milik Celina di New York laki-laki itu juga berencana untuk menemani Ozora di masa libur musim panasnya di Indonesia.


Raffa dan Celina kembali melakukan rutinitas dalam pekerjaannya. Sekilas melupakan apa yang terjadi antara Raffa dan Natasha. Gadis itu juga menetap di kediaman Saltano dan itu juga yang membuat Edward bersedia menginap di rumah itu.


Edward merasa Natasha adalah pengganggu dalam rumah tangga adiknya. Dalam setiap kesempatan Natasha selalu mencari perhatian Raffa. Meski terlihat Raffa hanya melayani seadanya namun terlihat kalau gadis itu selalu berusaha mendekati Raffa.


Sebaiknya aku di sini hingga gadis itu pergi, batin Edward.


Setelah malam sebelumnya Edward menyaksikan Natasha yang mengikuti Raffa turun ke lantai bawah. Raffa ingin mengambil air putih untuk Celina yang kehausan saat tengah malam. Di dapur Raffa terkejut saat mendapati Natasha yang telah berdiri di belakangnya.


"Kamu, mengagetkanku saja" ucap Raffa ingin segera berlalu dari tempat itu.


"Aku sedang menunggu Kakak keluar dari kamar. Celina sudah tidur bukan?" tanya Natasha.


"Apa kamu tidak lihat aku membawakan air putih untuknya" ucap Raffa sambil menunjukkan botol air mineral dan sebuah gelas pada Natasha.


"Kalau begitu aku akan menunggumu di kamarku sampai Celina tertidur" ucap Natasha.


"Tidak perlu aku tidak akan menemuimu di kamar. Tidak perlu menungguku" ucap Raffa sambil berlalu dari dapur yang telah sepi itu.

__ADS_1


Edward yang berdiri di balik dinding melihat sikap mencurigakan Natasha dan sejak itu memutuskan untuk mengawasi gerak-gerik gadis itu


...~ Bersambung ~...


__ADS_2