Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 32 ~ Di Hotel ~


__ADS_3

Raffa meraih Celina kedalam pelukannya. Raffa frustrasi menerima kenyataan laki-laki yang menjadi tunangan Celina justru sahabatnya sendiri. Raffa putus asa, mengajaknya pergi bersama, menghilang dari orang-orang yang ingin memisahkan mereka.


Kevin yang mencari Celina menemukan mereka sedang bersama. Langkah Kevin dan Jessica terhenti saat menyaksikan apa yang ada dihadapan mereka, Raffa dan Celina berpelukan dan berciuman.


Kevin maju meraih krah kemeja Raffa dan melayangkan pukulan ke wajahnya. Raffa jatuh terjungkal dipasir, Jessica terpaku, Celina menjerit, darah mengucur dari sudut bibirnya yang pecah.


Raffa diam menatap pada Kevin, lalu kembali berdiri dihadapannya. Kevin melihat tatapan yang seolah menantang itu kembali melayangkan pukulan kearah perut Raffa.


"Kenapa selalu begini ? kamu selalu berusaha mendapatkan apa yang menjadi milikku.


Dulu aku merelakan Jessica, tapi sekarang aku tidak akan mengalah lagi padamu" teriak Kevin kembali menarik krah kemeja Raffa dan melayangkan tinjunya.


Kejadian seperti ini sebenarnya sering terjadi, saat di SMA mereka bolak balik masuk ruangan bimbingan konseling bahkan seperti tugas rutin bagi mereka. Badan mereka seolah pegal jika tidak merasakan pukulan atau tendangan dari lawannya. Setelah itu mereka akan kembali tertawa bersama.


Saat Kevin berkata 'cewek itu manis', besoknya Raffa terlihat membonceng cewek manis itu. Atau saat Raffa menyelutuk 'anak kelas satu A lumayan' di jam istirahat Kevin terlihat sedang menyuapi gadis itu.


Sepulang sekolah mereka akan kembali saling menendang, teman-teman yang lain akan bersorak gembira, ini menjadi tontonan rutin bagi mereka setelah ulangan semester selesai.


Ajang adu ketahanan merasakan pukulan itu telah menjadi club pertama mereka. Fight Club ini lama kelamaan semakin bertambah anggota nya. Setiap ada persaingan merebut hati seorang gadis maka tiket masuk club ini akan terjual habis, bukan untuk siapa-siapa tapi untuk mereka sendiri membeli makanan kecil sambil menonton.


Namun saingan Raffa cuma satu, yaitu Kevin. Dan Musuh Kevin cuma satu yaitu Raffa. Mereka tidak bersaing dengan siapapun, dan Raffa paling suka dengan cara ini. Karena Raffa lebih sering memenangkan pertarungan ini dibanding pertarungan lain apalagi jika itu menyangkut renang, maka Kevin lah pemenangnya.


Bola basket ? bisa dikatakan mereka seimbang. Kadang Raffa menang, kadang Kevin juara. Bermacam-macam pertarungan telah mereka coba termasuk balapan sekelas Moto2 hingga akhirnya motor Kevin disita ayahnya karena telah menabrak sebuah toko dipinggir jalan. Saat itu Raffa lah yang mengaku mengendarai motor itu untuk melindungi Kevin dari kemarahan ayahnya.


Bertarung namun melindungi, begitulah mereka. Saat hidung Kevin mengucurkan darah segar, Raffa lah yang membawa laki-laki itu kerumah sakit. Saat tulang kaki Raffa retak, Kevin lah yang memapahnya.


Namun bisakah selamanya seperti itu ? memperebutkan gadis-gadis hanyalah alasan bagi mereka untuk mengisi kekosongan hatinya yang sering ditinggal oleh kesibukan orang tua mereka yang merupakan seorang pengusaha kaya.


Melakukan perlombaan-perlombaan ekstrim tak membuat keluarga mereka lebih mengkhawatirkan putra-putranya. Satu-satunya pertarungan yang paling mudah adalah lomba bertahan tidak makan, mereka melakukannya dikamar Kevin. Hanya tidur terlentang hingga tiga hari dua malam tanpa makan tanpa minum.


Membuat kedua anak nakal itu harus menjalani perawatan dirumah sakit karena terancam dehidrasi. Itu juga bukan karena memperebutkan gadis karena Raffa ingin menemani Kevin yang protes karena motor kesayangannya disumbangkan untuk pendidikan anak-anak disekitar pabrik milik ayahnya.


Namun kali ini tidak ada sedikitpun perlawanan, Raffa menerima semua pukulan dari Kevin. Celina menangis karena usahanya menghentikan kemarahan Kevin tak membuahkan hasil.


Kevin menepis tangan Celina yang mencoba menenangkannya. Gadis itu hingga jatuh terhempas di pasir, kuatnya tenaga Kevin membuat gadis itu terdorong kebelakang.


Perlahan-lahan tamu-tamu yang masih berkumpul berdatangan. Saat itu lah Kevin menghentikan layangan tinjunya. Kevin merasa sangat kesal mendengar hasutan Raffa yang ingin mengajak Celina pergi menghilang bersamanya.


Laki-laki itu pergi meninggalkan begitu saja sahabatnya yang telah terkapar. Raffa mengerjapkan matanya yang terasa lebam. Duduk perlahan sambil meringis menahan sakit. Jessica menghampiri laki-laki itu, hanya memandanginya namun tidak melakukan apapun.


Celina segera menghampiri Raffa, namun tiba-tiba Celina merasakan tamparan diwajahnya.


"Semua gara-gara kamu, dasar perempuan murahan perusak rumah tangga orang" ujar Jessica menatap Celina dengan tatapan yang tajam.


Memandang Celina dan Raffa bergantian, lalu pergi meninggalkan mereka.


Celina terpaku, merasakan panas dipipinya, air mata gadis itu mengucur. Memandang Jessica yang melangkah pergi meninggalkan suaminya begitu saja. Segera gadis itu menghampiri Raffa yang duduk tertunduk.


"Aku pesankan kamar untuk mu, tapi mungkin bukan suite room atau presidential suite, aku dengar kedua tipe itu sudah habis dipesan untuk acara kita" ucap Keira tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


"Terima kasih Keira" sahut Celina.


Keira pergi memesan kamar hotel, dan memang Raffa ingin melakukan itu. Raffa tidak pernah ingin sekamar dengan Jessica. Keira yang bisa membaca situasi mengambil inisiatif untuk memesan kamar untuk Raffa karena melihat kondisi hubungan laki-laki itu dan istrinya sedang tidak baik.


Celina menatap Raffa dengan raut wajah yang sedih, air matanya belum berhenti mengalir, prihatin melihat luka-luka yang dialami Raffa. Laki-laki itu tersenyum melihat kekhawatiran Celina, lalu mengusap pipi gadis itu.


"Pasti terasa sakit, maafkan aku karena tak bisa melindungimu" ucap Raffa menyesal saat melihat istrinya melayangkan tangan pada Celina.


Raffa tak sempat mencegah itu terjadi dan laki-laki itu sangat menyesalinya. Keira kembali dan membantu Celina, berdua mereka memapah Raffa. Laki-laki itu meringis kesakitan setiap kali melangkah.


Celina menyembunyikan tangisnya, memalingkan wajah setiap kali Raffa meringis kesakitan.


"Sebaiknya kita kerumah sakit ?" tanya Celina khawatir.


"Tidak perlu, gunakan P3K saja" ucap Raffa.


Laki-laki itu tertatih menuju kamar hotel yang dipesan untuknya. Celina mengoleskan gel untuk mengobati memar agar mempercepat proses pemulihan luka, mengurangi gejala bengkak, kebiruan, dan nyeri yang dirasakan Raffa pada luka memarnya.

__ADS_1


Celina mengoleskan gel itu dengan air mata yang terus mengalir, Raffa meringis kesakitan setiap kali gadis itu menyentuh lukanya. Celina kembali terbayang kejadian yang sungguh membuatnya panik namun tidak bisa berbuat apa-apa.


Raffa menggenggam tangan Celina, meminta gadis itu untuk tenang. Berusaha menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Keira yang melihat Celina dan Raffa hanya bisa diam, gadis itu tidak tau apa yang terjadi tapi bisa dirasa bahwa telah terjadi cinta segitiga diantara mereka.


Keira meninggalkan kamar Raffa, berjalan perlahan menuju caffe yang ada di hotel itu. Kejadian itu cukup membuatnya kaget, di depan matanya terjadi penganiayaan yang justru terjadi pada orang-orang yang baru dikenalnya.


Keira menyukai kepribadian Celina yang sederhana. Celina sama sekali tidak tertarik bergabung dengan wanita-wanita sosialita yang menjadi pasangan dari anggota club yang baru dibentuk itu.


Sama seperti dirinya yang tidak suka membicarakan hal-hal yang tidak penting, bergaya seperti wanita-wanita kelas atas yang berlagak ramah dan low profile. Namun dalam setiap kesempatan selalu berusaha menampilkan harta yang mereka miliki.


Keira memasuki caffe, memandang mengitari ruangan. Terlihat Kevin yang tercenung seorang diri. Acara yang tadinya sukses dan penuh canda tawa berganti dengan kejadian yang bisa menimbulkan trauma bagi yang melihatnya.


Gadis itu duduk disamping Kevin yang menatap lurus dengan pandangan yang kosong. Ada penyesalan yang timbul di hati Kevin setelah semua itu terjadi. Laki-laki yang tadinya tidak ingin lagi mengambil langkah kekerasan dalam menghadapi masalah itu, tak sanggup menahan amarah saat mendengar perkataan Raffa.


Hal yang paling ditakutkannya, justru keluar dari mulut sahabatnya. Celina pergi meninggalkannya adalah hal yang paling tidak diinginkannya. Apalagi sekarang gadis itu telah memutuskan untuk menerima lamarannya.


"Apa kamu baik-baik saja ?" tanya Keira.


Kevin tak menjawab, pandangannya masih kosong.


"Halo.. apa kamu baik-baik saja ?" ulang Keira bertanya.


Kevin masih diam.


"Apa hebatnya memukuli orang yang tidak melawan" ucap Keira.


Kevin menggebrak meja, gadis itu tidak menyangka Kevin akan merespon kata-katanya. Kevin menatap tajam satu-satunya CEO wanita yang hadir dalam acara itu.


"Berisik" bentak Kevin.


Hanya itu kata yang keluar dari mulutnya, lalu kembali diam.


"Aku benar-benar tidak menyangka, seorang yang kasar sepertimu bisa terpilih sebagai presiden club ini ?


Oh... aku baru tau, karena kamu adalah penyumbang terbanyak dalam pengumpulan dana club philanthropist, kumpulan eksekutif-eksekutif muda yang dermawan" ucap Keira bernada meledek.


Kevin memandang Keira, gadis itu akhirnya bisa meraih perhatian Kevin.


"Aku tau sebabnya kamu tidak memiliki pasangan hadir di acara ini, itu karena kamu berisik" ucap Kevin.


"Kamu... " ucap Keira terputus, gadis itu sendiri tidak tau harus berkata apa.


Keira kembali berpikir.


Celina gadis yang cantik, lembut dan anggun, dia adalah tunangan tuan sombong ini, istri Raffa menuduh Celina perusak rumah tangga orang, pasti Raffa Saltano juga menyukainya, pikir Keira dalam hati.


Gadis itu berpikir-pikir apa yang telah terjadi, Keira menjadi penasaran. Baru saja mengenal orang-orang itu, langsung menyaksikan life drama yang menegangkan.


"Siapa sebenarnya yang dicintai Celina ?" ucap Keira pelan seperti bicara pada dirinya sendiri.


Kevin menoleh, langsung teringat pada gadis itu. Kevin menanyakan dimana Celina pada Keira. Gadis itu menjawab Celina sedang merawat luka Raffa disebuah kamar yang baru dipesannya. Kevin langsung panik dan menanyakan kamar Raffa pada gadis itu.


Bergegas Kevin mendatangi kamar Raffa, Kevin hampir saja akan mendobrak pintu kamar itu jika masih belum membukakan pintu untuknya.


Raffa muncul membukakan pintu, Kevin langsung masuk sambil memanggil nama Celina.


"Dia tidak disini" ucap Raffa yang melangkah pelan sambil menahan sakit.


Namun Kevin tidak percaya, memeriksa seluruh ruangan. Balkon, kamar mandi bahkan lemari. Raffa hanya duduk disofa melihat laki-laki yang sekarang sudah seperti musuhnya itu menggeledah kamarnya.


"Dia sudah kembali ke kamarnya" ucap Raffa pelan.


Kevin memang tidak menemukan Celina, laki-laki itu bergegas keluar. Namun langkahnya terhenti melihat kondisi Raffa yang hanya tertunduk diam di sofa dengan tangan yang masih memegangi perutnya.


"Bagaimana keadaanmu ?" tanya Kevin akhirnya.


"Masih hidup" jawab Raffa singkat.

__ADS_1


Kevin diam, jika dulu saat letih bertarung mereka akan langsung tertawa bersama. Menertawakan luka lawannya masing-masing, Raffa menertawakan bibir Kevin yang bengkak atau Kevin yang menertawakan pipi Raffa yang benjol.


Namun sekarang tidak bisa seperti itu lagi, kondisinya telah berbeda, ini bukanlah pertarungan namun penganiayaan karena Raffa sama sekali tidak melawan.


"Kenapa kamu tidak membalas ?" tanya Kevin sambil menatap Raffa yang hanya menunduk.


"Aku harap aku akan mati" jawab Raffa singkat.


"Kamu..!!" ucap Kevin terputus, tak mengerti apa maksud ucapan Raffa.


"Sahabatku merampas gadis yang aku cintai, gadis yang aku pertahankan dengan nyawaku sendiri. Menurutmu apa aku masih ingin hidup dengan kondisi seperti itu ?" jelas Raffa.


"Aku rela mengorbankan nyawaku untuk menolongnya, dan kamu tau itu.


Tapi keadaan, justru melihat aku sebagai orang berdosa yang ingin merampasnya darimu.


Seakan-akan aku adalah orang yang ingin merampas hak orang lain" ucap Raffa yang sekarang tak lagi menunduk.


Menatap Kevin dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kenapa tidak tuntaskan saja, kenapa tidak membunuhku sekalian ? karena selagi aku hidup, aku hanya akan menjadi orang yang akan mengganggu kebahagiaanmu" ucap Raffa, dengan air mata yang mengalir pelan disudut matanya.


Kevin menatap Raffa, memandang wajah sahabatnya.


"Aku mencintainya lebih dari lima tahun, saat kamu tidak ada disisinya. Saat kamu tidak ada untuk mengobati luka hatinya, saat dia harus hidup sendiri menanggung hasil perbuatanmu.


Menurutmu aku tidak berhak mempertahankannya ?" tanya Kevin.


Raffa membalas ucapan Kevin.


"Kamu tau aku mencintainya, aku menceritakan semuanya padamu.


Aku menyebut namanya, tapi kamu hanya diam menyembunyikan kenyataan bahwa gadis yang kita cintai adalah gadis yang sama.


Lalu muncul dia ditengah-tengah semua orang sebagai tunanganmu, menurutmu bagaimana perasaanku ?


Apa hanya kamu yang berhak mempertahankannya ? dan aku tidak berhak ?" ucap Raffa kembali tertunduk sambil meringis.


"Dimana dia ?" ucap Kevin pelan


"Aku bilang, dia sudah kembali ke kamarmu" ucap Raffa memalingkan wajahnya.


Kevin melangkah dengan cepat, setengah berlari laki-laki itu kembali ke kamarnya. Terlihat Celina yang duduk dilantai depan pintu kamar. Tertidur sambil menelungkupkan wajahnya, bertumpu pada kedua lututnya. Kevin membuka pintu kamar lalu menggendong Celina dan meletakkannya ranjang.


Kevin menyentuh pipi gadis yang tertidur kedinginan diluar karena menunggunya. Kevin berganti pakaian dengan piyama hotel lalu berbaring disamping Celina.


Laki-laki itu tidak peduli lagi, jika malam sebelumnya Kevin memilih tidur di sofa karena Celina yang keberatan tidur seranjang dengannya. Sekarang semua itu tidak dipedulikannya lagi. Bahkan Kevin tidur sambil memeluk gadis itu.


Terdengar ketukan pintu, Kevin melangkah dengan heran melihat apa yang terjadi.


"Maaf mengganggu tuan, tapi tuan Kevin diminta untuk datang ke bar. Nyonya Jessica meminta tuan menjemputnya, nyonya Jessica mabuk berat tuan" ucap seorang pelayan hotel.


Kevin berdecak kesal, Jessica adalah istri Raffa tapi justru dia yang harus mengurusinya. Tapi dengan kondisi Raffa yang seperti itu tidak mungkin mengharapkannya mengurus wanita itu. Sementara Jessica justru tidak peduli dengan kondisi suaminya yang sedang terluka.


Kevin akhirnya memutuskan untuk menjemput Jessica, terpaksa mengganti kembali piyama hotelnya dan langsung ke bar untuk menjemput Jessica.


Kevin membawa Jessica ke kamarnya, diperjalanan berkali-kali wanita itu merasa mual. Kevin segera mempercepat langkahnya agar segera sampai dikamar Jessica.


Ditengah malam Celina bangun, baru menyadari kalau dia telah berada dikamarnya namun tak terlihat Kevin disitu. Celina mencari di balkon maupun dikamar mandi namun tak menemukan Kevin. Celina mengganti gaun malamnya dengan piyama hotel, lalu duduk di sofa menunggu Kevin.


Namun Kevin tak kunjung datang, tak sabar Celina melongok keluar kamar, namun Kevin tetap tak terlihat. Bosan menunggu di kamar akhirnya gadis itu berniat menunggu diluar.


Mencabut cardlock dari kotak sensor listrik, dan memasukkannya kedalam saku piyama hotelnya. Berjalan keluar tanpa mengenakan alas kaki, melihat ke ujung lorong kanan dan ujung lorong kiri namun masih kosong. Tak terlihat Kevin muncul dari situ.


Celina berjalan mondar-mandir di depan kamarnya tertunduk sambil membenamkan kakinya di karpet hotel yang tebal. Tiba-tiba pintu kamar diseberang sana terbuka, Celina reflek menatap kearah datangnya suara.


Terlihat Kevin keluar dari sana dengan bertelanjang dada. Jessica bergelayut dibahu Kevin hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Jessica masih ingin Kevin tetap berada disampingnya.

__ADS_1


Celina terpaku memandang kearah mereka, Kevin yang baru menyadari terkejut melihat Celina yang tengah berdiri menatapnya.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2