Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 76 ~ Pengumuman ~


__ADS_3

Aurora di gendong bergiliran oleh para pengunjung Celina, semua kagum melihat bayi yang telah membuka mata meski usianya masih tiga hari. Setelah mendapat perawatan di dalam inkubator bayi Celina dinyatakan telah sehat dan kuat.


Namun, mengingat saat persalinan Aurora sempat mengalami henti bernapas. Hal itu cukup membuat hati Celina dan Raffa risau meski hanya mereka simpan di dalam hati. Ny. Rowenna yang sempat pingsan mendengar kemungkinan Aurora mengalami cedera otak bahkan lupa dengan penjelasan Raffa itu.


Melihat mata bening Aurora dengan gerakannya yang lincah bahkan tersenyum itu membuat Ny. Rowenna lupa pada kekhawatirannya. Tangan dan kakinya menerjang setiap saat membuat para pengunjung tak bosan-bosan melihatnya.


Setiap dua jam sekali Celina menyusui bayinya, di saat itu para pengunjung akan berjalan-jalan di sekitar rumah sakit atau duduk di kantin untuk menikmati makanan. Saat kembali bayi telah tertidur dalam bedongan. Dalam posisi seperti itu Keira dan Alyssa lah yang sebentar-sebentar mencium kedua pipi Aurora.


"Jangan di ganggu terus nanti bangun" ucap mommy Keira.


"Nanti di susui lagi biar tidur lagi" balas Keira.


"Mungkinkah itu? yang ada kamu ganggu lagi biar dia tetap bangun" ucap mommy Keira.


"Abis baunya enak banget mom, rasanya pengen di gigit" ucap Keira.


"Makanya dari dulu di suruh nikah malah kabur, kalau dari dulu udah nikah sekarang kamu sudah punya bayi" omelan mommy Keira.


"Jangan dong mom kalau dari dulu Keira sudah menikah sekarang udah jadi istri orang dong, trus saya nikah sama siapa?" tanya Kevin.


"Iya juga ya, ah sudahlah, ternyata apa yang terjadi sekarang ini adalah yang terbaik" ucap mommy Keira.


"Lagi pula sebentar lagi Keira juga punya bayi Tante, meski telat nikahnya tapi cepat dapat momongannya" ucap Celina.


"Ya benar, sekitar tujuh bulan lagi, Ozora punya adek lagi. Kira-kira yang lahir siapa ya? Aquaman atau little mermaid" ucap Alyssa pura-pura berpikir.


Ozora tertawa.


"Ya, nanti Ozora sering-sering ajak ke pantai biar jadi Putri duyung atau jadi Aquaman" ucap Ozora masih tertawa.


"Oh ya kita udah janji mau menginap di Villa pinggir pantai kak Raffa. Kapan ya bagusnya?" tanya Alyssa.


"Ya kak, aku sampai lupa saat itu aku ajak Alyssa dan pak David untuk menjodohkan mereka di villa. Rencana perjodohan belum jadi mereka sudah keburu menikah" ucap Celina sambil tertawa.


Semua ikut tertawa.


"Berarti gerakanmu kalah cepat sama David. Baru mau di jodohin taunya udah nikah. Motto David, aku lakukan sebelum kamu rencanakan" ucap Keira yang di ikuti tawa semua pengunjung.


"Benar Keira, David orang yang berpikir sigap. Kita belum terpikirkan dia sudah jalan duluan" sahut Raffa.


"Karena itu dia pantas jadi orang kepercayaan kita, kalau tidak hebat begitu udah mommy tolak jadi menantu" ucap Rowenna.


"Mommy nggak ada hak, mereka sudah saling mencintai, kita nggak berhak memisahkan mereka" ucap Robby.


"Semua yang mommy pisahkan hasilnya tidak bagus, yang mommy satukan itu baru bagus. Itu, itu lihat hasilnya" lanjut Robby sambil menunjuk Aurora yang tidur di ranjang bayi.


"Itu hasilnya ya?" tanya Rowenna.


"Tentu saja, jika Celina dan Raffa tidak bersatu mana mungkin lahir Aurora" ucap Robby lagi.


Ny. Rowenna tertawa sambil mengangguk, semua tersenyum. Keluarga mereka terasa semakin besar. Rencana berlibur di Villa pun lanjut direncanakan.


"Nanti saja mommy, setelah mereka kembali dari bulan madu. Kasihan karena kelahiran Aurora, mereka jadi terhambat bulan madunya" ucap Celina.


"Oh ya benar, kalau begitu silakan kalian bulan madu dulu setelah itu baru kita rencanakan lagi ke villa-nya" ucap Rowenna.


Semua setuju, setelah berbincang sebentar barulah keluarga besar pamit pulang setelah hampir seharian menemani Celina di rumah sakit. Sementara Raffa tetap tinggal untuk menemani istrinya.


"Istirahatlah sayang, kamu pasti lelah" ucap Raffa.


"Kakak juga pasti lelah, ayo tidur di sini" ucap Celina mengajak Raffa tidur bersamanya di ranjang rumah sakit yang besar itu.


Raffa mendekati istrinya dan berbaring di sebelah wanita yang dicintainya itu. Memeluknya sambil berbaring, tak lama kemudian mereka tertidur.


Raffa terbangun saat mendengar ketukan pintu, masuklah seorang suster dan seorang dokter yang hendak memeriksa bayi. Raffa menyapa dan mempersilakan dokter itu memeriksa Aurora. Suster mendorong ranjang bayi ke bagian tengah ruangan lalu membuka kain bedongan bayi.


Dokter berjalan mengikuti lalu menoleh pada Celina yang tengah tertidur. Raffa berniat membangunkan istrinya tapi dokter itu melarang.


"Tidak perlu pak, biarkan saja. Saya hanya ingin memeriksa bayi, cukup bapak saja yang menemani" ucap Dokter Neurologi Pediatri itu.


Dokter itu memperkenalkan diri pada Raffa.


"Saya Dino, Dokter Spesialis yang khusus menangani diagnosis dan pengelolaan kondisi neurologis pada neonatus atau bayi baru lahir, bayi, anak-anak dan remaja" ucap dokter itu memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kondisi putri saya Dokter?" tanya Raffa.


"Saya telah memeriksa bayi saat baru dilahirkan, 48 jam setelah dilahirkan dan sekarang ini. Saya belum mendapati kondisi yang mengkhawatirkan. Bayi tidak mengalami kejang dan juga tidak mengalami gangguan otot. Namun, kondisi bayi harus tetap di awasi, kondisi yang timbul bisa sangat bervariasi, dari gangguan yang relatif sederhana seperti migrain hingga kondisi yang lebih kompleks" jelas Dokter Dino.


Raffa mendengarkan dengan sangat cermat, terlihat kekhawatiran diwajahnya.


"Untuk itu diperlukan perawatan dan konsultasi rutin dalam menentukan kondisi-kondisi lain, saya akan membuat diagnosis dengan mendengar semua gejala yang timbul nanti, riwayat kesehatannya dan pemeriksaan fisik. Kita mencoba sedapat mungkin mencegah hal yang tidak diinginkan seperti gangguan perilaku antara lain hyperactivity, autisme, dan masalah tidur. Gangguan perkembangan anak seperti keterlambatan bicara dan kecacatan intelektual" lanjut Dokter Dino.


"Bagaimana cara kami berkonsultasi dengan dokter?" tanya Raffa.


"Saya akan memberikan jadwal konsultasi pada bapak, bapak atau ibu mungkin bisa menemui saya di tempat praktik atau di rumah sakit" ucap Dokter Dino.


Perawat memberikan kartu nama Dokter Dino yang berisikan nomor contact person dan tempat-tempat praktiknya.


"Terima kasih Dokter" ucap Raffa.


Dokter telah selesai memeriksa Aurora dan telah di tempatkan kembali di ranjang bayi. Dokter pamit meninggalkan ruangan, sekilas melihat pada Celina yang masih tertidur lalu keluar dari ruangan kelas VVIP itu


Raffa termenung menatap kartu nama itu, penjelasan dokter sejauh ini tidak mengkhawatirkan tapi Aurora masih harus diawasi tumbuh kembangnya.


Raffa menoleh pada Celina, ada perasaan heran atas sikap dokter itu tapi Raffa mencoba untuk menepis pikiran buruk.


Mungkin ada hal yang ingin di tanyakan pada Celina tapi karena masih tidur jadi dokter itu urung menanyakan, batin Raffa.


Raffa kembali mengamati putrinya lalu tersenyum.


Kamu cantik sekali dan sangat manis saat tidur begini, kakakmu pasti sangat menyayangimu. Jangan sakit ya nak, tetaplah sehat, batin Raffa.


Lalu berjalan mendekati ranjang Celina, menatap wanita yang dicintainya itu lalu mengecup bibirnya. Celina terbangun dan tersenyum mendapati wajah suaminya yang begitu dekat dengannya.


"Habis curi ciuman ya?" tanya Celina.


Raffa terkejut lalu tertawa.


"Kamu pura-pura tidur atau peramal, kenapa bisa tahu?" tanya Raffa.


"Tidak pura-pura tidur ataupun peramal tapi pelaku yang berpengalaman karena aku sering melakukannya" ucap Celina lalu tersenyum.


Raffa mencium Celina dengan begitu lembut, pelan dan dalam. Mereka melakukannya cukup lama hingga akhirnya Raffa menarik diri dari istrinya yang masih dalam posisi rebah di ranjang rumah sakit itu. Tapi Celina menarik leher suaminya untuk kembali mendekat.


"Kakak mengambilnya terlalu banyak, ayo kembali lagi" ucap Celina sambil mengecup bibir suaminya seakan-akan menyedot apa yang ada di mulut suaminya.


Raffa tertawa dan berlaku seolah-olah mengembalikan kembali, menyodorkan lidahnya dan memainkannya di dalam rongga mulut Celina, gadis itu tertawa.


"Jangan diberikan semuanya nanti ke buru habis, di cicil saja ya buat nanti-nanti" ucap Celina sambil tersenyum.


Raffa juga tersenyum.


"Untukmu berapa pun kamu inginkan, ciumanku tidak akan ada habis-habisnya" bisik Raffa.


Celina tersenyum lalu memeluk suaminya. Raffa mencium pipi istrinya, tak terkira betapa bahagia hati Raffa saat ini. Raffa mensyukuri apa yang dimilikinya, istri yang sangat mencintai dan dicintainya di tambah anak-anak yang luar biasa. Meskipun di hati ada kekhawatiran akan perkembangan Aurora tapi Raffa tetap bersyukur karena putrinya lahir selamat dan bertahan hidup.


Celina telah di rawat selama tiga hari begitu juga dengan Aurora. Keesokan harinya dokter memeriksa kondisi kesehatan Celina dan memperbolehkan gadis itu pulang. Semua menyambut kepulangan Celina dan bayinya. Ozora bahkan membuat dekorasi untuk menyambut kedatangan ibu dan adiknya.


"Selamat pulang" teriak Ozora dan juga semua yang menyambut kedatangan Celina dan Aurora.


Celina terharu hingga menitikkan air mata, yang menanti kedatangannya tidak hanya keluarga Saltano tapi juga keluarga Melviano, keluarga Keira, keluarga Cartwright, Jessica, Chicco dan Tita. Keluarga David bahkan Marissa.


Celina menyalami semua tamu satu per satu dengan rasa haru sambil memandang suaminya yang sama sekali tidak memberitahu. Celina merasa penyambutan ini adalah surprise yang luar biasa. Ny. Rowenna menyiapkan hidangan yang sangat banyak demi menyambut tamu-tamu yang berkumpul untuk menunggu pulangnya Celina.


"Masih ada surprise lain" bisik Raffa sambil memeluk pinggang istrinya.


"Apa itu?" tanya Celina yang juga berbisik.


"Mungkin sebentar lagi datang" ucap Raffa.


"Ini saja sudah surprise yang luar biasa, baru kali ini mantan pacar suami ikut menyambut kepulangan istri" ucap Celina dengan ekspresi yang pura-pura cemburu.


"Ayolah lupakan masa lalu, dia merasa bersalah padamu dan tulus ingin menyambutmu. Aku tidak bisa menolaknya sayang, aku tidak mungkin mengusirnya pulang, tolonglah jangan dipermasalahkan lagi" mohon Raffa.


Celina memalingkan wajah sambil tersenyum di tahan melihat ekspresi suaminya yang memelas.


"Aku tidak boleh cemburu?" tanya Celina.

__ADS_1


"Boleh tapi jangan marah dan jangan meragukan cintaku" ucap Raffa.


"Banyak sekali syaratnya" ucap Celina.


"Sebenarnya lebih banyak lagi, tidak boleh mencurigaiku, tidak boleh mengabaikanku, tidak boleh menghinaku, tidak boleh menyakiti hatiku, tidak boleh merendahkanku dan yang terpenting lagi tidak boleh meninggalkanku" ucap Raffa.


Celina terpana.


"Terlalu banyak syarat, aku tidak akan ingat tapi setahuku semua itu tidak pernah kulakukan padamu" ucap Celina.


"Terima kasih sayang atas pengertianmu" ucap Raffa sambil mengecup kening Celina.


Sementara itu tamu yang lain sibuk berbincang-bincang sambil menikmati makanan yang terhidang. Keira dan Alyssa sibuk bergantian mengendong Aurora. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi. Assisten rumah tangga membukakan pintu, terlihat Edward datang sambil mendorong kursi roda tuan Albert Miller.


Celina terharu dan langsung menyambut ayah dan kakak tirinya itu. Ozora juga ikut menyambut kedatangan Edward begitu juga Raffa yang telah mengenal Edward sebelumnya. Sementara Celina memperkenalkan ayahnya itu pada semua tamu, ini adalah pertama kalinya semua bertemu dengan keluarga asli Celina.


"Benar-benar surprise, terima kasih suamiku sayang" ucap Celina.


"Jangan berterima kasih padaku, aku hanya menyampaikan kabar tentangmu dan mereka langsung ingin datang" sahut Raffa.


Para orang tua langsung berkumpul di ruangan khusus menerima tamu-tamu penting dan berbincang dengan seru.


"Cuma aku bukan pebisnis" ucap tuan Albert Miller dengan bahasa Indonesia yang seadanya.


"Aku juga bukan pebisnis handal tuan" ucap tuan Cartwright.


Mereka tertawa dan mencari perbincangan yang tidak menyangkut bisnis. Namun, pembicaraan justru di dominasi oleh tuan Albert karena pengalamannya sebagai pilot pesawat tempur yang di kirim ke negara konflik sama sekali belum pernah mereka dengar secara langsung.


Tuan Albert menceritakan suka dukanya saat menjalani tugas negara hingga akhirnya pulang dengan selamat kembali ke Amerika.


"Celina mirip ibunya, melihat Celina seperti melihat istri" ucap Albert sambil melihat Celina.


"Pasti tuan tidak menyangka bisa bertemu dengan putri dari istri tuan" ucap Robby.


"Ya betul, sangat terkejut, Edward bilang putri ibunya ketemu" jelas Albert terbata-bata.


Ny. Rowenna dan lainnya tertawa saat mendengar Tn. Albert berbicara bahasa Indonesia. Pada kesempatan itu juga tuan Albert ingin bertemu dengan cucunya Ozora yang telah lebih dulu mengenal Edward.


Ny. Rowenna langsung memanggil Ozora, Ny. Rowenna mengenalkan Tn. Albert sebagai grandpa-nya, Ozora tersenyum langsung memeluk tuan Albert.


"Ozora mau tinggal dengan grandpa?" tanya Albert.


"Ya, grandpa" ucap Ozora.


Ny. Rowenna dan semua yang mendengar ucapan Ozora terkejut. Ozora tidak sembarangan dalam memberikan jawaban.


"Apa maksudnya sayang, Ozora kenapa tinggal bersama Grandpa Albert?" tanya Rowenna dengan wajah yang terlihat risau.


"Grandma, Ozora ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri. Mama mengizinkan kalau Ozora mau mengambil unversitas di New York agar bisa tinggal bersama Uncle Ed dan Grandpa Al. Ozora memilih kuliah jurusan bisnis di Columbia University" jelas Ozora.


"Baguskah kuliah di situ?" tanya Rowenna.


"Tentu, perguruan tinggi paling selektif ketiga di Amerika Serikat dan yang paling selektif kedua di Ivy League setelah Harvard. Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama adalah alumni universitas itu" jelas Edward yang tiba-tiba datang untuk menjelaskan.


"Ozora menghubungi saya dan meminta saya membujuk Celina untuk mengizinkannya kuliah di Amerika. Awalnya Celina keberatan tapi karena saya berjanji akan menjaganya, Celina dan Raffa akhirnya mengizinkan" jelas Edward.


Berita Ozora akan melanjutkan kuliah di luar negeri akhirnya diumumkan. Banyak yang sedih karena akan sulit bertemu dengan anak itu namun juga merasa senang dan bangga karena kecerdasan Ozora bisa tersalurkan dan bisa mendapatkan pengakuan jika telah lulus dari universitas bergengsi di New York itu.


Acara penyambutan Celina sekaligus menjadi acara pengumuman dan perpisahan dengan Ozora.


"Kalau liburan, harus pulang Ok.., kalau tidak, auntie susul ke sana" ucap Keira.


Begitu juga dengan Alyssa, mendengar Ozora akan pergi Alyssa menangis sedih.


"Aku benci New York, dulu kakakku Kevin juga betah tinggal di sana. Nanti Ozora juga nggak mau pulang kalau udah tinggal di sana" ucap Alyssa.


"Jangan takut Alyssa, Ozora itu tidak sama dengan Kevin, pertama Ozora itu pasti bisa menamatkan kuliahnya dengan cepat. Seperti yang dilakukan Child Prodigy lainya mereka telah diatur untuk menyelesaikan program kuliah tiga tahun hanya dalam waktu 10 bulan. Karena kapasitas sistem penyerapan ilmu pada otak anak-anak seperti itu sangat tinggi, yang berarti bahwa semuanya berjalan lebih cepat dan anak seperti Ozora dapat membahas lebih banyak materi dalam waktu yang singkat, benarkan sayang" ucap Raffa yang ingat akan penjelasan Ozora dulu.


"Kedua, Ozora itu tidak punya pacar di sana tidak seperti kakakmu yang malas pulang ke Indonesia karena telanjur jatuh cinta dengan gadis di New York" lanjut Raffa.


Penjelasan Raffa akhirnya membuat semua orang mengerti, hanya Keira yang sedikit merajuk karena teringat pada mantan pacar Kevin yang sekarang telah kembali ke Indonesia.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2