
Ny. Rowenna menatap hasil tes DNA yang baru saja diterimanya. Tangannya bergetar menggenggam lembaran kertas itu.
Kau membohongiku Jessica, hah.. aku telah mendukung seorang pembohong untuk menggerogoti keluargaku sendiri, kurang ajar ! aku akan mencari cara untuk membalasmu ! jerit hati Rowenna sambil membanting semua yang ada diatas meja kerjanya.
"Grandma ? grandma kenapa ?" tanya Tita yang ternyata telah berdiri didepan pintu ruang kerja Rowenna.
Ny. Rowenna memandang gadis kecil yang telah dikira cucu kandungannya selama lebih dari lima tahun itu. Tita memandang dengan wajah khawatir pada Ny. Rowenna, membuat wanita itu tidak tega bersikap keras padanya.
"Mau apa Tita kesini ?" tanya Rowenna masih menahan kekesalannya.
"Tita ingin ajak grandma ke toko Ozora" ucapnya sambil menunduk.
Sejak kepulangan mereka dari acara pesta ulang tahun pernikahan kakek dan neneknya dua hari lalu, Tita sangat ingin mengunjungi Ozora di toko buku nya. Namun tak mungkin mengajak ibunya, sementara ayahnya masih belum kembali dari perjalanan bisnisnya.
"Menemui Ozora ?" tanya Rowenna memastikan.
Tita mengangguk, Rowenna yang mulai menyukai anak cerdas itu menjadi semakin penasaran dengan asal usulnya. Akhirnya Ny. Rowenna memutuskan untuk menemani Tita mengunjungi Ozora.
"Baiklah, ayo kita cari Ozora" ucap Rowenna yang disambut gembira oleh Tita.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai ditoko buku Ozora. Namun Tita tidak melihat Ozora, karena biasanya siapapun yang datang akan disambut oleh Ozora.
Tita langsung mengajak neneknya menemui Celina di lantai tiga. Gadis yang asyik menyusun buku-buku dirak lemari itu, tak menyadari kehadiran Tita. Langsung terkaget saat anak gadis itu tiba-tiba berdiri, menyusup dihadapannya.
Celina langsung jongkok mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu, menatap Tita yang tersenyum padanya.
"Tante pikir bidadari kecil dari mana tiba-tiba menyusup kesini" sapa Celina sambil merapikan rambut Tita.
Tita tertawa.
"Apa Tita mau ketemu Ozora ? tapi Ozora sedang keluar" ucap Celina sambil melihat-lihat dengan siapa gadis itu datang.
Namun tak ada yang mengikuti gadis kecil itu.
"Sambil menunggu Ozora Tita main disini dulu aja, tante punya banyak buku mewarnai, Tita mau coba ?" ucap Celina menawarkan Tita.
Celina mengambil buku-buku untuk mewarnai lengkap dengan crayon dan cat air.
"Tita mau mewarnai pake apa ?" tanya Celina sambil mengacungkan sekotak crayon, kuas dan cat air.
Tita memilih crayon, gadis kecil itu pun langsung mulai mewarnai. Hingga lupa terhadap neneknya yang berdiri diam-diam mengamati mereka.
Diakah ibunya Ozora, wajahnya terlihat familiar.
Dimana aku pernah melihatnya ?
Mungkinkah salah satu dari teman kencan Raffa ?
Tapi aku tidak pernah peduli pada teman kencan anakku.
Mungkin karena ibunya Ozora jadi ada kemiripannya, batin Rowenna, masih penasaran pada Celina.
Buku yang diwarnai gadis itu dalam waktu singkat telah penuh dengan warna-warna. Celina mengacungkan jempol terhadap hasil karya gadis kecil itu. Lalu memberikan sebuah cotton bud pada Tita, gadis kecil itu heran.
Celina memberi contoh cara meratakan crayon dengan menggunakan cotton bud. Tita tercengang mendapati hasil gambarnya yang terlihat rata dan halus. Gadis itu bertepuk tangan lalu meraih cotton bud yang diberikan Celina. Gadis kecil itupun merapikan gambarnya dengan semangat.
Celina memandangi wajah gadis kecil itu, dalam hatinya tak sanggup menjauhkan gadis kecil itu dari ayahnya. Rasa sayang Tita pada ayahnya, melebihi rasa sayangnya terhadap ibunya, Jessica. Karena beberapa kali gadis itu datang bersama ayahnya. Celina selalu merasa deg-degan setiap kali Tita mengajak Raffa ke toko.
Bagaimana jika keluarga tuan Raffa tau kalau dia menemuiku ?
Aku tidak sanggup melihat anak ini menderita, tuan Raffa jangan sampai meninggalkan anak ini, batin Celina sambil membelai rambut Tita.
Ny. Rowenna akhirnya memutuskan menemui Celina, gadis itu langsung terkejut mendapati nyonya itu ada dihadapannya. Sambil tersenyum wanita kaya raya itu menyapa Celina.
Celina berdiri tertunduk, tubuhnya gemetar. Gadis itu pernah bertemu sekali dengannya dirumah sakit saat Raffa terluka karena menolongnya. Nyonya itu berlaku sangat angkuh dan merendahkannya.
Ny. Rowenna mengamati gambar yang diwarnai cucunya. Melihat itu Celina langsung mempersilahkan Ny. Rowenna duduk disamping Tita. Ny. Rowenna tersenyum lalu berterima kasih. Celina kembali duduk disisi Tita yang lain. Memperhatikan tingkah laku Tita, sementara Ny. Rowenna memperhatikan Celina.
Gadis itu merasa gugup namun berusaha mengatasinya dengan berpura-pura mengajari Tita. Diperhatikan oleh seorang Rowenna, siapa yang tidak takut, melihat nyonya itu dari jauh saja mungkin Celina sudah gemetaran.
"Kamu ibunya Ozora ?" ucap Rowenna menyapa.
"Ya nyonya" jawab Celina singkat.
"Sangat cantik, pantas kalau Ozora memiliki wajah yang tampan" ucapnya sambil tersenyum,
"Terima kasih nyonya" balas Celina.
Ny. Rowenna memperkenalkan dirinya. Sikap Ny. Rowenna membuat Celina heran, meski masih terlihat angkuh namun tidak terlihat judes seperti dulu.
Sepertinya dia tidak mengenaliku, bisik hati Celina.
Dan memang wajar nyonya kaya itu tidak mengenali Celina. Mereka hanya bertemu sekali, saat itu Celina masih gadis berumur sembilan belas tahun. Dan lagi nyonya yang angkuh itu tidak mungkin memperhatikan orang-orang kelas bawah seperti Celina.
Apa kira-kira hubungan perempuan ini dengan anakku ? ah.. mungkin karena mengagumi Ozora aku jadi berharap bocah itu adalah cucuku, ditambah lagi sekarang aku mengetahui Tita bukanlah cucu kandungku, batin Rowenna sambil menatap Tita.
Ny. Rowenna tersenyum pada Celina lalu mengajaknya bicara.
"Kamu sudah kenal dengan ayahnya Tita ? beberapa kali dia datang kesini untuk mengantar Tita ?" tanya Rowenna.
"Saya tidak pernah menemuinya disini nyonya" ucap Celina berkilah.
Ny. Rowenna mengangguk.
Bagaimana cara mengetahui hubungan antara Raffa dan Ozora ? anak itu terlihat begitu mirip dengan Raffa.
__ADS_1
Apa harus melakukan tes DNA terhadap anak itu ? yah.. aku juga akan melakukannya terhadap Ozora untuk memastikannya, aku tidak ingin merasa ragu lagi, jerit hati Rowenna.
Rowenna tersenyum pada Celina, hendak melancarkan niatnya.
"Ozora pernah berjanji akan sering berkunjung kerumah kami, untuk menemani Tita, kapan dia berencana untuk datang ?" tanya Rowenna.
"Ozora belum membicarakan itu pada saya nyonya" jawab Celina.
"Tapi kamu membolehkannya bukan ?" tanya Rowenna bermanis-manis pada Celina.
Celina bingung menjawabnya, sejujurnya gadis itu merasa takut anaknya dekat dengan keluarga itu.
Bagaimana jika keluarga itu tau kalau Ozora adalah putra tuan Raffa ?
Apa yang akan mereka lakukan pada Ozora ? batin Celina bingung.
Sementara Ny. Rowenna masih menunggu jawabannya.
"Ya nyonya, saya membolehkannya" ucap Celina akhirnya.
Jawaban yang sedetik kemudian dia sesali. Kevin tergesa-gesa menaiki tangga, tercenung saat melihat apa ada dihadapannya. Nyonya Rowenna yang menoleh saat menyadari seseorang datang langsung menyapanya.
"Kevin.. kamu disini ?" sapanya ramah.
Ny. Rowenna langsung bangkit, mencium kedua pipi laki-laki tampan itu. Kevin melirik pada Celina, lalu tersenyum pada Ny. Rowenna.
"Bagaimana kabar orang tuamu ? sudah lama kami tidak bertemu. Kamu juga tidak datang ke pesta tante" ucap Rowenna begitu bersemangat.
"Ya tante saya sedang mempersiapkan sesuatu di perusahaan" jawab Kevin tertunduk.
"Oh ya.. kami dengar kamu menjadi CEO di sebuah perusahaan asing, kami membicarakanmu disana, Jessica sangat terkejut mendengar kabar itu.
Dia sepertinya menyesal karena telah meninggalkanmu" cerita Rowenna panjang lebar.
Berharap laki-laki itu kembali mengejar Jessica, Rowenna sudah berencana membuang wanita pembohong itu. Sementara Kevin hanya bisa melirik Celina, laki-laki itu khawatir Celina berpikiran lain terhadapnya.
Celina mengamati gambar Tita berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Itu hanya masa lalu tante, saya yakin, sekarang Jessica bahagia bersama Raffa" kilah Kevin.
Ny. Rowenna menghembuskan nafas berat.
"Saya dengar mereka juga telah memiliki seorang anak" ucap Kevin.
Ny. Rowenna hanya menoleh pada Tita. Kevin langsung mendekati Tita. Menyapa gadis kecil yang sibuk menunduk mewarnai itu. Lalu Kevin menatap Celina yang berada di sisi Tita.
"Om temannya daddy ya ?" tanya gadis itu.
"Ya, teman sejak kecil" jawab Kevin.
"Seperti Tita dan Ozora tapi tidak sekecil itu. Tita lanjutkan mewarnainya, om mau balik ke kantor dulu ya" ucap Kevin.
Tita mengangguk, Kevin pamit. Ny. Rowenna menawarkannya untuk mampir kerumahnya. Kevin mengangguk menyetujui lalu turun kelantai bawah.
"Dia adalah teman anak saya, mereka sangat akrab saat masih remaja, mereka sangat suka bersaing mendapatkan gadis-gadis saat itu.
Berantem, akur lagi, berantem lagi lalu akur lagi.
Hah... kami dua keluarga besar kadang-kadang tidak mempedulikan lagi kalau mereka sedang musuhan karena pasti akan akur lagi" cerita Rowenna sambil tertawa mengingat masa lalu.
Celina hanya senyum untuk menanggapinya. Kedekatan Raffa dan Kevin sudah pernah didengarnya, juga persaingan mereka merebut hati Jessica. Tapi berkali-kali musuhan karena rebutan gadis baru kali ini didengarnya.
"Kami tidak bisa lama menunggu, boleh minta nomor ponselmu ? jika kami ingin Ozora datang kerumah kami akan menelponmu terlebih dahulu" ucap Rowenna sambil memberikan ponselnya pada Celina.
Kalau kami ingin Ozora datang ? oh ya ampun benar-benar pengatur, batin Celina.
Meski tak suka dengan ucapan Ny. Rowenna, tapi tetap saja gadis itu memberikan nomor ponselnya.
"Saya harus tulis nama apa untuk nomor kontak ini ?" tanya Rowenna.
"Cel.. mm. ibunda Ozora saja nyonya" ucap Celina.
Ny. Rowenna mengangguk lalu menyimpan nomor Celina. Ny. Rowenna pun mengajak Tita pulang, gadis kecil itu memeluk Celina sekilas lalu berlari menyusul neneknya.
Celina membereskan buku dan alat-alat mewarnai itu, hatinya tenang Ny. Rowenna dan Tita sudah pulang. Sejak mulai datang hingga sekarang barulah dia bisa bernafas lega.
Menaruh peralatan mewarnai itu kedalam lemari khusus, lalu kembali membereskan dan menyusun buku-buku di rak lemari, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Kak.." ucap Celina terhenti, matanya terbelalak setelah mengetahui yang memeluknya adalah Raffa.
Laki-laki itu tersenyum.
"Kak apa ? siapa yang berani melakukan ini padamu selain aku" tanya Raffa
"Apa yang tuan lakukan disini ?" tanya Celina mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja ingin bertemu denganmu dan juga anakku" ucap Raffa.
"Kenapa begitu yakin kalau Ozora adalah anakmu tuan ?" tanya Celina mondar-mandir merapikan buku.
"Baiklah, kalau begitu aku tanyakan lagi, siapa yang berani melakukan itu padamu selain aku" tanya Raffa lagi.
Celina terdiam, berjalan kembali meletakkan buku yang tidak sesuai pada tempatnya, Raffa mengikuti.
"Begitu pulang dari urusan bisnisku aku langsung datang menemuimu, aku bahkan belum mampir kerumah, jangan lakukan ini padaku, jangan mengabaikanku" pinta Raffa melihat Celina yang hanya sibuk dengan urusannya.
__ADS_1
"Aku harus melakukannya, aku tidak mau menjadi perempuan perusak rumah tangga orang" ucap Celina tanpa menatap Raffa.
"Rumah tanggaku tidak seperti yang kamu kira, aku menikahinya hanya untuk melindungimu dari ancaman ibuku, aku bahkan tidak menyentuhnya sekalipun" jelas Raffa.
"Bohong, bagaimana tuan memiliki seorang putri jika.."
Raffa meraih tubuh Celina dan mendekapnya. Raffa menyumpal mulut Celina dengan bibirnya, laki-laki itu tidak bisa tidak melakukannya, Raffa tidak akan bisa tidur jika belum merasakan lembutnya bibir Celina.
Dan Celina tidak bisa mengelak dari keinginan Raffa, seperti yang pernah diucapkan Raffa 'aku tidak pernah gagal'. Laki-laki itu tidak pernah gagal menikmati manisnya bibir Celina.
"Jangan lakukan ini" ucap Celina dengan nafas memburu.
Gadis itu takut, lantai tiga memang lebih sepi pengunjung dibandingkan lantai dibawahnya, namun bukan berarti tidak ada yang akan datang ke lantai itu. Seperti saat ini mata Celina terbelalak saat melihat melalui jendela kaca lantai tiga.
Celina buru-buru mendorong Raffa, matanya menatap lurus kelantai bawah. Raffa bingung ikut melihat kearah pandangan Celina. Terlihat Kevin memasuki toko.
"Kamu mengenalnya ?" tanya Raffa.
"Dia.. dia.. tadi bicara dengan ibu dan putrimu disini tuan" ucap Celina panik, bingung cara menjelaskannya.
"Biarkan saja, kalau perlu aku memperkenalkanmu padanya" ucap Raffa.
"Nggak.. nggak, apa tuan tidak takut dia menceritakan hubungan kita pada keluarga tuan ? aku tidak ingin ada masalah, sekarang aku mohon pergilah" ucap Celina memohon.
Sudah pasti Kevin akan naik kelantai tiga. Raffa tidak setuju untuk pergi dari situ tapi Celina memohon padanya. Laki-laki itu terpaksa mengikuti keinginan gadis itu, melangkah menuruni tangga, dilantai dua Raffa dan Kevin bertemu.
"Apa yang kamu lakukan disini ?" tanya Kevin begitu melihat Raffa muncul dihadapannya.
"Aku mencari mommy dan Tita, putriku" jawab Raffa.
"Di lantai tiga ?" tanya Kevin.
Raffa mengangguk.
"Tapi tidak ada siapa-siapa, sepertinya mereka sudah pulang" ucap Raffa lagi.
"Gimana denganmu, ada keperluan apa disini ?" tanya Raffa.
"Aku ingin menemui tunanganku" jawab Kevin.
"Oh ya, kamu sudah bertunangan ? sepertinya kamu benar-benar mendapatkan apa yang kamu inginkan, kamu harus bergerak cepat kalau tidak, bisa disambar orang" ucap Raffa.
"Karena itu, aku tidak mau menunggu lagi" ucap Kevin.
"Siapa dia, pengunjung disini atau.."
"Bekerja disini" jawab Kevin langsung.
"Oh... kalau gitu kamu bisa mengenalkannya padaku sekarang" ucap Raffa.
"Belum saatnya, nanti pasti akan kuperkenalkan" jawab Kevin.
"Ok.. kalau gitu aku pergi dulu, datanglah kerumah kita bisa ngobrol panjang" ajak Raffa.
"Tentu, aku juga belum menyapa om Robby sejak menetap disini" jawab Kevin.
"Jangan lupa bawa Alyssa" ucap Raffa sambil tertawa, yang dibalas senyum oleh Kevin.
Raffa pergi meninggalkan toko dengan berat hati, perasaannya masih rindu pada gadis itu namun demi permintaan Celina laki-laki itu mengalah. Sementara Kevin lanjut menemui Celina.
Memeluk gadis itu dari belakang, gadis itu kaget meski tau Kevin akan datang. Namun setelah ditunggu-tunggu Kevin belum muncul juga, hingga gadis itu memilih melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa orang selalu melakukan ini padaku ?" ucap Celina reflek saat Kevin memeluknya tiba-tiba.
"Siapa orang yang melakukan ini padamu ? tanya Kevin.
"Tentu saja kakak, selalu mengagetkanku seperti ini" ucap Celina pelan.
"Itu karena kamu terlalu fokus bekerja, lagipula kenapa masih mengurusi buku-buku di lantai ini, kamu sudah menjadi supervisor ditoko ini" tanya Kevin.
"Lantai tiga ini yang paling berjasa untukku, karena untuk pertama kalinya aku diberi bertanggung jawab oleh manager toko ini" ucap Celina bangga.
"Ya baiklah, tapi aku rasa dengan gelarmu, kami bisa mendapat pekerjaan yang lebih dari pada disini" lanjut Kevin.
"Toko ini sudah memberiku kesempatan bekerja, toko ini sangat berjasa bagiku dan aku bahagia bekerja disini" lanjut Celina.
"Tapi kenapa kamu suka mengurusi buku-buku lama ini ?" tanya Kevin.
"Karena kurang diurus, dulu buku-buku disini lebih banyak lagi, karena sekarang lebih diurusi, lama-lama buku disini bisa dijual. Tapi selalu saja ada buku yang ditaruh kelantai ini, karena buku baru suatu saat akan menjadi buku lama" cerita Celina.
"Mama.., uncle Kev" teriak Ozora berlari menghampiri.
"Udah pulang ?" ucap Kevin.
Menyambar tubuh Ozora dan langsung menggendongnya tanpa membiarkan anak itu menghampiri ibunya terlebih dahulu. Padahal tangan Celina sudah terbuka untuk memeluk anaknya. Hasilnya Celina berkacak pinggang melihat tingkah Kevin.
Kevin tertawa akhirnya menurunkan Ozora, anak itu langsung lari kepelukan ibunya. Kevin meminta kunci mobil Celina, dia ingin menunggu mereka didepan toko.
Sudah menjadi kebiasaannya menjemput Ozora dan ibunya. Jika tidak ada keperluan penting diperusahaan. Menjelang Celina pulang, laki-laki itu sudah standby dimobil menunggu untuk pulang bersama.
"Dimana flashdisk nya, biasanya nyantol disini" ucap Kevin mencari flashdisk berisi MP3.
Kevin mencari-cari hingga dilantai, meraba-raba di laci dashboard. Kevin menyentuh sesuatu, lalu mengambilnya. Raut wajah laki-laki itu berubah, perasaannya bercampur aduk, sedih, kecewa dan marah.
Kevin menatap cincin berlian itu.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...