
Celina membuka matanya pelan, hanya untuk membuka kelopak matanya saja terasa berat bagi gadis itu. Hanya sedikit, sedikit saja dan itupun tidak jelas. Namun Celina bisa melihat orang-orang yang menunggunya.
Alyssa berdiri di depan kaca pembatas ruangan sambil menunduk. Keira mengusap punggung Alyssa untuk menenangkan gadis yang masih terlihat bersedih itu.
Kedua orang tua Kevin yang baru dua hari lalu dikenalnya hingga Ny. Rowenna yang bersandar pada suaminya menatap kosong dan lemah.
Sebulir bening jatuh dari sudut mata Celina, dulu dia hanyalah anak yang sebatang kara tanpa mengenal siapa orang tuanya. Namun sekarang menjadi seseorang yang dikhawatirkan begitu banyak orang. Gadis itu tersenyum meski masih lemah.
Alyssa jangan bersedih untukku, aku tidak pantas menerimanya. Kebaikanmu kubalas dengan kebohongan. Maafkan aku Alyssa, batin Celina
Raffa datang bersama David, laki-laki itu langsung duduk disamping ibunya. Mengusap wajahnya yang terlihat letih sementara David berjalan mendekati pembatas kaca.
"Tuan lihat !!! nona Celina, dia.. " teriak David yang kebetulan memandang mata Celina.
Semua orang langsung mendekat ke pembatas kaca, ingin mengetahui apa yang diteriakkan David. Mereka terkejut menyaksikan Celina yang telah membuka matanya.
Tangis haru kembali memecah ruangan itu, Raffa terpaku, tersenyum sambil menitikkan air mata. David segera berlari memanggil tenaga medis, menjelaskan keadaan Celina.
Paramedis langsung berlari menuju ruang intensif Celina, mereka langsung melakukan pemeriksaan fisik tanda vital yang merupakan pengukuran fungsi tubuh yang paling mendasar.
Mereka memeriksa empat tanda vital utama yang meliputi suhu tubuh, denyut nadi, laju pernapasan, dan tekanan darah.
Semua berkumpul menatap didepan pembatas kaca, tak sabar ingin segera menemui gadis itu. Ny. Rowenna menanti, nyonya kaya itu tidak sabar ingin segera mengucapkan terima kasih pada Celina.
Terima kasih Celina, akhirnya kamu bangun.
Aku tidak sabar ingin memelukmu, kamu juga harus minta maaf padaku karena telah membuatku ketakutan dan bersedih, batin Alyssa sambil tersenyum.
Petugas medis menyampaikan pada keluarga pasien bahwa kondisi Celina telah membaik, tinggal menjalani masa penyembuhan. Selama masa itu, Celina dituntut untuk mengurangi aktivitas agar luka bekas operasinya segera sembuh.
"Kemungkinan besok pasien bisa dipindahkan ke ruang rawat inap, pasien sudah melewati masa kritisnya" ucap dokter yang memeriksa.
"Terima kasih banyak dokter" ucap Tn. Robby Saltano.
"Sayang, kita pilih ruangan terbaik untuk Celina" ucap Ny. Rowenna yang langsung disetujui oleh Tn. Robby.
Raffa terharu melihat perubahan sikap ibunya terhadap Celina. Ibunya terlihat sangat mengkhawatirkan dan menyayangi gadis itu sekarang. Raffa tertunduk namun tersenyum, apapun akan disyukurinya saat ini.
Laki-laki itu melangkah menuju ruang perawatan Kevin, sambil berjalan berkali-kali Raffa mengerjapkan matanya demi menghilangkan air mata yang hendak bergulir. Laki-laki itu ingin menyampaikan kabar baik yang pasti ditunggu-tunggu Kevin.
Calon istrinya telah siuman dan kemungkinan besok sudah bisa dikunjungi.
Kevin pasti sangat senang mendengar berita ini, Celina telah sadar, mereka bisa bersatu kembali, batin Raffa.
Sampai disitu laki-laki itu tak mampu lagi menahan air matanya. Pemikiran yang diciptakannya sendiri membuat hati laki-laki itu terasa perih. Sampai di depan ruang rawat inap Kevin laki-laki itu berhenti, bersandar di samping pintu lalu terisak seorang diri.
Lama Raffa menenangkan dirinya, berusaha untuk segera menguasai hatinya. Namun laki-laki itu merasa belum cukup kuat membayangkan Kevin bersatu kembali dengan gadis yang dicintainya. Tubuhnya semakin terasa lemah, merosot hingga terduduk di lantai.
Keira diam-diam menatap iba pada Raffa, laki-laki itu ingin memberikan kabar yang ditunggu-tunggu Kevin. Namun kabar itu justru membuat dia harus menghadapi kenyataan bahwa Raffa harus kembali bersiap-siap kehilangan gadis yang dicintainya.
Keira berjalan mendekat sambil menitikkan air mata, berdiri dihadapan Raffa. Rasa sakit yang dirasakan Raffa saat ini entah kenapa bisa dirasakan Keira saat ini. Ingin membahagiakan Kevin dengan memberitahukan keadaan Celina, namun dada terasa perih karena harus merasakan sebuah kehilangan.
Kasih sayang Raffa terhadap Kevin tak pernah pudar meski mereka bersaing, meski Kevin merebut gadis yang dicintainya. Dengan menarik nafas dalam Raffa masuk kedalam ruangan Kevin. Terdengar suara riang Kevin mendengar kabar gembira itu.
Seperti yang dikatakan dokter keesokannya, Celina dipindahkan ke ruang rawat inap. Ny. Rowenna bersikeras memilihkan ruangan terbaik untuk gadis itu agar dia merasa nyaman menjalani masa pemulihannya.
Mereka berkumpul diruangan yang luas itu, Alyssa telah datang bersama kedua orang tuanya dan tentu saja dengan Ozora. Sementara Tn. Robby dan Ny. Rowenna datang bersama Tita. Keira hadir bersama Kevin yang duduk dikursi roda yang didorong oleh Raffa.
Celina menatap khawatir saat melihat Kevin yang duduk diatas kursi roda.
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Mereka yang memaksaku menggunakan fasilitas rumah sakit karena aku juga pasien" ucap Kevin, begitu sampai dihadapan Celina.
Celina tersenyum, gadis yang masih terlihat lemah itu telah sadar sepenuhnya. Namun belum boleh terlalu banyak bergerak. Keira langsung memeluk Celina erat, gadis itu sampai meringis menahan sakit.
"Maaf Celina, maaf" ucap Keira.
__ADS_1
"Jangan terlalu kencang peluknya, kamu memang hobi peluk-peluk orang yah" ucap Kevin sewot.
Keira langsung emosi, namun gadis itu berusaha menahannya hingga dadanya turun naik menahan kesal. Celina tertawa melihat tingkah kedua orang itu. Semua yang ada diruangan itu, yang tadinya khawatir melihat Celina kesakitan langsung lega saat melihat gadis itu tertawa.
Namun tak berapa lama gadis itu kembali meringis karena ketawanya membuat luka gadis itu terasa meregang.
"Jangan tertawa terlalu kencang, kamu jadi kesakitan kan" ucap Rowenna terlihat begitu khawatir pada Celina.
Langsung menatap pada kedua orang yang membuat Celina tertawa. Kevin terperangah, Celina tersenyum melihat kekhawatiran Ny. Rowenna. Terkurung bersama nyonya itu membuat Celina merasa kalau Ny. Rowenna tidaklah terlalu jahat.
Ny. Rowenna hanyalah seorang ibu yang terlalu menjaga keluarganya. Seorang ibu yang telah terdidik oleh keluarganya untuk selalu menjaga nama baik keluarga mereka. Sayangnya terlalu berlebihan dalam memandang status sosial.
Celina beralih menatap Alyssa. Gadis yang sejak tadi hanya diam memandangnya itu akhirnya maju memeluk Celina. Gadis itu bahkan mencium pipi Celina.
"Maafkan aku Celina" ucap Alyssa.
Celina menggeleng.
"Aku yang harusnya minta maaf, aku yang tidak jujur padamu" ucap Celina sambil memegang tangan Alyssa.
Alyssa langsung menggendong Ozora dan mendudukkannya disamping Celina. Celina langsung memeluk anak itu, sampai titik itu Celina langsung mengeluarkan air matanya. Betapa gadis itu sangat mengkhawatirkan anaknya jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Celina menciumi anak itu, tak puas-puas gadis itu memeluk dan menciumnya. Semua orang disana terharu menatap pemandangan itu. Selama terkurung hal yang paling disesali Celina adalah tak bisa bersama putranya. Selalu terbayang dalam pikirannya betapa anak itu akan mengkhawatirkannya.
"Mama masih sakit" tanya Ozora.
"Masih, tapi saat melihat Ozora, rasa sakitnya langsung hilang. Jika seperti ini, mama akan cepat sembuh" jawab Celina.
Ozora tertawa.
"Tita juga datang ma" ucap Ozora.
Tita tertunduk disamping ranjang rumah sakit. Celina tidak bisa melihatnya, Celina merentangkan tangannya, Tita menyentuh tangan Celina. Akhirnya Ny. Rowenna menggendong Tita dan mendudukkannya disamping Celina.
Tita tertunduk, Celina merasa kasihan melihat gadis kecil sekarang jadi pendiam itu. Anak sekecil itu mengalami peristiwa yang bisa mendatangkan trauma baginya. Terlihat dari sikap Tita yang selalu tertunduk merasa bersalah.
Tita masih tertunduk, tak menjawab sedikitpun. Celina menarik gadis kecil yang duduk disisi kanannya itu. Dia ingin gadis kecil itu tau kalau Celina tidak menyalahkannya dengan apa yang terjadi.
Tita menangis, Celina memeluknya sambil membelai rambut anak itu lalu mencium pipinya. Celina ingin Tita tau kalau dia menyayangi anak itu, terlebih lagi saat ini ibunya telah mengabaikannya.
Celina melirik pada Raffa, lalu mengalihkan pandangannya. Begitu juga Raffa yang hanya bisa menunduk saat gadis itu melihat padanya. Celina sekuat tenaga menghindarkan pandangannya dari laki-laki itu.
Celina merasa tidak memiliki harapan dengan hubungan mereka. Meneruskannya hanya akan membuat orang yang mereka sayangi terluka.
"Bagaimana perasaanmu saat ini, apa ada yang tidak nyaman ?" tanya Tn. Robby yang merasa sangat berterima kasih dan merasa sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada Celina.
"Saya baik-baik saja tuan, tak ada yang tidak nyaman" jawab Celina.
"Jika ada yang Celina inginkan, katakan saja pada kami" ucapnya lagi.
Celina hanya menggeleng sambil tersenyum.
Ny. Melviano pun datang mendekati Celina, menggenggam tangan gadis itu.
"Semoga lekas sembuh Celina" ucap Ny. Melviano.
"Terima kasih Bu, terima untuk do'anya. Maaf saya sudah merepotkan ibu" ucap Celina.
"Tidak, kami tidak repot sama sekali, dan juga kenapa masih memanggil ibu ?
Panggil saja mama, sama seperti Kevin, bukankah kamu akan menjadi menantu kami ?" ucap Ny. Melviano yang sejak awal bertemu dengan Celina, nyonya itu langsung menyukainya.
Raffa tertunduk mendengar pembicaraan itu, tidak hanya Raffa, Ny. Rowenna juga mengalihkan pandangannya saat mendengar percakapan mereka.
Baru dua hari yang lalu mereka datang. Saat Kevin mengenalkan Celina pada orang tuanya, kedua orang tua itu langsung menyukai Celina dan juga Ozora. Mereka langsung menyetujui pernikahan mereka, apalagi sejak dulu Kevin tidak pernah memperkenalkan seorang gadispun pada mereka.
__ADS_1
Sementara mereka sudah sangat ingin melihat putra dan putrinya menikah. Melihat Ozora pun mereka langsung jatuh cinta, langsung menganggap Ozora seperti cucu kandunganya sendiri. Namun mereka masih belum tau kalau sesungguhnya Ozora adalah cucu kandung dari sahabat mereka sendiri.
Kevin belum memberitahukan tentang hal itu, karena hubungan mereka yang terbilang rumit. Kevin berencana memberitahukan hal itu secara perlahan kepada orang tuanya nanti setelah mereka menikah.
"Tapi sepertinya pernikahan kalian akan ditunda, melihat kondisimu yang masih belum pulih. Maafkan kami sayang, kami tidak bisa lama-lama disini menemanimu karena kami memiliki urusan yang harus kami kerjakan" ucap Ny. Melviano.
Celina mengangguk dengan canggung, gadis itu bahkan lupa kalau dia masih memiliki suatu janji yang harus ditepatinya yaitu menikah dengan Kevin.
"Ya ma, begitu kesehatan Celina pulih, saya akan segera menghubungi wedding organizer yang mengatur pernikahan kami.
Karena ini sifatnya penundaan jadi tidak akan terlalu sulit melanjutkannya, karena konsepnya sudah jelas dan tidak akan berubah" jelas Kevin.
Semua tercenung mendengar percakapan itu, pedih hati Raffa saat mendengar rencana pernikahan mereka yang masih tetap berlanjut. Begitu juga dengan Keira, gadis itu langsung menoleh pada Raffa yang terlihat begitu murung saat mendengar obrolan itu.
"Tapi jangan terlalu memaksakan Celina. Tunggu dia benar-benar pulih dulu ya sayang" ucap Ny. Melviano.
Celina hanya tersenyum tipis.
"Tentu ma, saya pastikan Celina sehat dulu" ucap Kevin.
Dan memang seperti janjinya, Kevin menunggu Celina benar-benar pulih dari sakitnya. Laki-laki itu bahkan meminta Celina cuti bekerja. Gadis itu sama sekali tidak diperbolehkan bekerja.
Bahkan laki-laki itu rela menyiapkan sarapan dan makan malam untuk mereka. Kevin juga membantu membereskan pekerjaan rumah. Tentu saja itu membuat Celina mereka tidak enak
"Kamu duduk disini saja sambil menonton tv, biar aku dan Alyssa yang menyiapkan makan malam kita, Ok ! " ucap Kevin sambil mengecup bibir gadis itu.
Alyssa pun rela melakukan semua itu, membantu kakaknya menyiapkan makan malam untuk mereka. Kadang mereka mengerjakannya sambil bercanda hingga piring pecah menjadi suara yang mulai sering terdengar.
Jika sudah seperti itu, Celina akan segera menuju dapur, dan Kevin akan segera mendorong gadis itu untuk kembali ke ruang tengah.
"Tetap disini, aku ingin kamu cepat sembuh. Aku tidak sabar ingin segera membawamu ke hadapan penghulu" ucap Kevin.
Jika sudah menyinggung soal pernikahan, Celina akan terdiam. Entah mengapa, gadis itu akan terlihat murung. Kevin bukannya tidak tau mengenai perubahan ekspresinya itu, namun laki-laki itu selalu berkata bahwa itu adalah janji yang harus ditepatinya, membawa Celina ke hadapan penghulu.
Dua bulan masa pemulihan Celina dipergunakan Kevin untuk menyiapkan pesta pernikahan yang lebih mewah dari sebelumnya. Dua bulan masa pemulihan itu tak disia-siakannya sama sekali. Jika sebelumnya Kevin merencanakan pernikahan terkesan tidak peduli dan digunakannya untuk menyakiti perasaan Celina.
Tapi kali ini, laki-laki itu benar-benar menyiapkan semuanya dengan penuh perhatian. Tak ada satupun dari pilihan yang tidak ikut campur tangannya. Kevin memilih yang terbaik untuk Celina.
Teringat laki-laki itu pernah membentak Celina agar membantunya memilih konsep. Kali ini laki-laki itu memilih semuanya. Ballroom luas pesta pernikahan itupun disulap menjadi lokasi pesta yang megah.
Celina telah siap dengan gaun pengantin yang tak kalah cantiknya dibanding gaun pengantin para selebriti. Semuanya terlihat luar biasa, berbeda dengan persiapan pernikahan sebelumnya.
Kecuali ekspresi wajah Celina yang masih tetap sama. Gadis itu masih terlihat murung, dengan senyum yang selalu dipaksakan setiap kali dipuji orang-orang yang hadir.
Semua kenalan dekat dan keluarga telah datang terlebih dahulu. Orang tua Kevin, keluarga Saltano telah duduk dimeja tamu khusus untuk keluarga dan orang-orang penting.
Ozora duduk menunggu diruang rias bersama ibunya, bersama Tita yang sekarang menjadi lebih pemurung. Celina membelai dan mengajak gadis itu bercanda, kehadiran gadis kecil itu membuat perasaan tegangnya sedikit teralihkan.
"Tita datang bersama siapa sayang ?" tanya Celina saat gadis itu baru muncul diajak Ozora menyusulnya di ruang rias.
"Sama grandma, grandpa dan daddy" jawabnya.
Celina tercenung, harusnya gadis itu tidak menanyakan hal itu. Namun Celina merasa tenang, sekarang Tita kembali diasuh oleh keluarga Saltano.
Tamu undangan telah berdatangan dan Celina telah siap dengan gaun pengantin dan riasannya yang sangat cantik. Kali ini Keira tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari Celina. Gadis itu benar-benar trauma dengan kejadian penculikan waktu itu.
Tiba saatnya Celina memasuki ruang pernikahan, Keira dan Alyssa, berdua mereka mengawal Celina. Sebelah kiri Celina di pegang oleh Keira, sebelah kanan dipegang oleh Alyssa.
Perlahan mereka memasuki ruangan pesta, semua mata tertuju padanya, mengagumi kecantikan Celina. Celina memandang mengitari ruangan, terlihat Raffa yang menatapnya dengan wajah murung. Celina kembali mengalihkan pandangannya.
Kenapa harus mencarinya ? kenapa harus melihatnya ? Harusnya aku mengabaikan keinginan untuk menatapnya, harusnya fokus pada pernikahanku, pada kak Kevin yang akan segera menjadi suamiku, jerit hati Celina.
Ditengah ruangan Kevin menyongsong gadis itu, Alyssa menyerahkan tangan Celina pada kakaknya. Kevin tersenyum menerima uluran tangan Celina.
Perlahan mereka berjalan menuju meja yang telah disiapkan. Setitik bening jatuh di pipi gadis yang berjalan tertunduk itu. Penghulu telah berdiri menunggu, seperti janjinya, Kevin akhirnya mengantar gadis itu duduk di meja di hadapan penghulu.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...