Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 73 ~ Terlalu Benci dan Terlalu Cinta ~


__ADS_3

Celina menerima pesan dari nomor tak di kenal, menyuruhnya untuk menemui seseorang di rooftop gedung. Dia juga tidak boleh memberitahukan pada siapa pun. Satu hal yang membuatnya langsung panik adalah saat mendengar Ozora ada di tangan orang itu dan mengancam akan melempar dari atas gedung.


Celina berjalan cepat menuju toilet namun Celina tidak terlihat Keira begitu juga dengan Ozora. Mencoba mencari-cari mereka namun tetap tak ditemukannya.


Kembali ke ballroom berharap Keira dan Ozora telah kembali ke mejanya. Namun, Celina masih melihat bangku yang kosong. Sampai di titik itu Celina tidak bisa berpikir lagi, langsung meninggalkan aula pesta dan bergegas menuju rooftop. Tanpa memberitahu pada siapapun seperti yang diperintahkan orang itu.


Dengan nafas yang tersengal-sengal karena kandungannya yang tinggal menghitung hari. Celina menggunakan lift untuk mencapai lantai paling atas yang bisa di capai lift dan melanjutkannya dengan menaiki tangga menuju atap gedung.


Celina menatap tangga yang harus dinaikinya dengan napas yang tersengal. Namun, demi putranya Celina mulai menaiki tangga itu satu persatu hingga akhirnya mencapai rooftop. Celina segera membuka pintu untuk keluar dari gedung dan langsung mencari Ozora. Seorang wanita terlihat berdiri di sana sambil memandang kota dari ketinggian.


"Mana Ozora? di mana anakku?" tanya Celina dengan dengan napas yang masih tersengal-sengal.


Wanita itu membalik badan lalu tersenyum.


"Marissa? kenapa? apa tujuanmu melakukan ini? di mana putraku?" tanya Celina gemetar air matanya mulai mengalir.


Melihat wanita itu perasaan Celina langsung tidak tenang. Celina merasa wanita seperti Marissa bisa melakukan apa pun demi mencapai tujuannya.


"Mana aku tahu, aku hanya ingin memanggilmu kesini. Aku sama sekali tidak tahu di mana putramu" ucap Marissa sambil melangkah mendekati Celina.


"Bukankah tadi kamu bilang Ozora bersamamu?" tanya Celina.


Marissa tersenyum lalu berjalan mengelilingi Celina sambil menatap gadis itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Pandangan Celina mengikuti langkah wanita itu.


"Aku bohong, dia tidak bersamaku. Aku hanya penasaran ingin melihat seperti apa wanita yang disukai Raffa hingga membuatnya mengabaikanku" ucap Marissa.


"Ternyata itu tujuanmu? sekarang aku sudah di sini? lalu apa maumu sekarang?" tanya Celina.


"Menyingkirkanmu" ucap Marissa singkat.


Sementara itu di ballroom pesta pernikahan, Raffa bertanya pada Keira yang datang bersama Ozora.


"Keira, dimana Celina?" tanya Raffa.


"Bukannya tadi duduk di sini? aku menemani Ozora agar Celina tidak kemana-mana" ucap Keira.


"Aku pikir dia menyusul kalian" ucap Raffa mulai panik.


"Tidak, kami tidak melihatnya. Apa dia akan melahirkan? kemana dia? kenapa dia pergi tidak memberi tahu?" ucap Keira bertanya-tanya.


Raffa segera menelpon ponsel Celina namun ponsel gadis itu justru tertinggal di atas meja.


"Dia meninggalkan ponselnya" ucap Keira mendengar getaran panggilan ponsel di dalam tas tangan Celina.


Raffa langsung berlari ke arah Celina tadi menghilang, mencari-cari istrinya sambil terus memanggil namanya. Namun, Celina tak kunjung muncul. Raffa mulai bertanya-tanya pada orang yang ada di sekitar situ. Namun, tidak ada yang memperhatikannya.


Keira menyampaikan hilangnya Celina pada Kevin, setelah menitipkan Ozora pada Ny. Rowenna, mereka mencari di sekitar gedung bahkan hingga ke parkiran. Gadis itu kembali ke ruang pesta dan mengambil tas tangan Celina. Gadis itu menggeledah ponsel dan memeriksa telepon yang masuk.


Hanya telepon darinya yang muncul, Keira memeriksa pesan yang masuk dan sangat terkejut saat membaca pesan itu. Keira langsung memberitahukan pada Kevin, segera laki-laki itu mencari Raffa dan bergerak mencari di rooftop.


Sementara itu Celina yang telah tahu kalau Marissa membohonginya segera bergegas meninggalkan wanita itu, namun Marissa menghalangi.


"Aku belum selesai bicara" ucap wanita itu sambil berdiri di hadapan Celina.


"Lakukan apa maumu, kamu ingin mencoba mendapatkan suamiku usahakan sendiri. Jika dia menolakmu itu adalah hal yang wajar, wanita sepertimu mengejar laki-laki yang telah beristri memang wajar diabaikan" ucap Celina.


Marissa kesal hingga melayangkan tamparan ke wajah Celina.


"Sejak kuliah dia adalah milikku tapi sekarang tiba-tiba kamu menguasainya dan membuat dia mencampakkanku" ucap Marissa.

__ADS_1


"Bukannya sejak SMA kak Raffa hanya mencintai Jessica lalu kenapa tiba-tiba muncul dirimu?" tanya Celina.


"Ya, meski Raffa berpacaran dengan Jessica tapi dia juga berhubungan denganku. Akulah yang selalu menghiburnya saat dia kesal dengan perempuan itu. Aku yang selalu memuaskan hasratnya saat dia tidak mendapatkannya dari Jessica. Jadi aku tidak rela jika dia meninggalkan dan mengabaikanku begitu saja sejak menikah denganmu. Aku inginkan hakku, aku ingin dia membalas kembali apa yang telah didapatkannya dariku" jelas Marissa.


Celina tercenung, membayangkan apa yang telah suaminya dan Marissa lakukan selama ini. Meski itu adalah masa lalu meski itu tidak terjadi lagi. Tapi terbayang apa yang pernah mereka lakukan sedikit banyak membuat dada Celina terasa sesak.


Celina membuka pintu untuk menuruni tangga sambil menghapus air matanya yang mengalir tanpa bisa di tahan lagi. Celina ingat ucapan Raffa yang mengatakan Marissa hanyalah teman lama.


Teman lama? teman lama yang saling melepas hasrat? jerit hati Celina sambil menekan dadanya.


Gadis itu berjalan pelan hendak menuruni tangga, baru satu anak tangga dituruninya Celina melihat bayangan Marissa di kaca yang ada dihadapannya. Berdiri di belakang dengan gelagat ingin mendorongnya. Secepatnya Celina mengelak, membuat tubuh Marissa terdorong dan jatuh melewati pagar pembatas tangga.


Celina menangkap tangan gadis itu, beruntung dia masih sempat meraihnya. Tubuh Celina tertarik mendekati pagar pembatas. Sebelah tangannya menahan tubuh Marissa agar tidak jatuh dari lantai atas itu dan sebelah lagi menahan pagar agar tidak menekan perutnya yang tengah hamil besar.


Marissa menjerit panik, yang terbayang di pikirannya sekarang adalah jatuh dari lantai atas dengan ketinggian lebih dari 10 meter.


"Tolong, jangan lepaskan aku" ucap Marissa menangis memohon.


Celina menahan dengan sekuat tenaga, berusaha mengangkat tubuh Marissa dengan sebelah tangannya tapi tak kuasa. Sementara Marissa terus memohon agar jangan melepaskan tangannya.


Celina semakin tidak kuasa, tubuhnya gemetar menahan berat beban tubuh Marissa. Tangan Celina semakin lemah, tangan Marissa perlahan bergerak turun.


"Jangan, jangan, aku mohon jangan lepaskan tanganku" tangis Marissa semakin jadi.


Celina akhirnya menggunakan kedua tangannya untuk menahan tangan Marissa. Namun, itu membuat perutnya tertekan oleh pagar pembatas tangga. Celina merasakan sakit di perutnya, gadis itu menjerit kesakitan. Marissa bahkan melihat darah mengalir dari paha Celina.


Marissa menangis, panik hingga menggelengkan kepalanya.


"Jangan, jangan lepaskan aku" ucap Marissa yang melihat Celina tengah kesakitan.


"Cobalah meraih besi ini" ucap Celina mencoba menarik Marissa dengan kedua tangannya.


Usaha Celina untuk mengangkat tubuh Marissa membuat perutnya semakin tertekan ke pagar pembatas. Marissa mencoba menggapai besi pembatas namun tak cukup tinggi untuk dicapainya. Celina semakin kehabisan tenaga menahan tubuh Marissa di tambah lagi dengan perutnya yang semakin terasa sakit.


Marissa segera berteriak sekuat tenaga meminta tolong. Napas Celina sudah tersengal-sengal, pandangan matanya sudah mulai kabur. Namun, gadis itu masih tetap berusaha menahan tubuh Marissa meski dengan begitu perutnya semakin tertekan ke pagar pembatas tangga di depannya.


Raffa, Kevin dan Keira yang baru keluar dari lift mendengar teriakan itu dan langsung mengejar. Mereka melihat tangga dan langsung menoleh ke atas, sangat terkejut saat melihat tubuh Marissa yang bergantung memegangi tangan Celina.


Raffa, Kevin dan Keira segera berlari menaiki tangga dengan model melingkar itu untuk mencapai lantai rooftop dengan ketinggian lebih dari 10 meter. Saat sampai di posisi Celina, Raffa dan Kevin segera memegangi tangan Marissa dan mengangkat tubuh wanita itu. Sementara Keira menahan tubuh Celina yang terkulai pingsan.


"Raffa lihatlah Celina mengalami pendarahan" ucap Keira menangis melihat Celina yang pingsan dengan kakinya yang telah bersimbah darah.


Raffa, Kevin dan Marissa langsung mendekat.


"Cepat, kita harus membawanya ke rumah sakit" ucap Kevin.


Raffa terpaku melihat istrinya yang tak sadarkan diri, air matanya langsung mengalir.


"Raffa, sadarlah ayo cepat bawa Celina ke rumah sakit" jerit Keira sambil menangis.


Raffa segera menggendong tubuh istrinya dan menuruni anak tangga. Memasuki lift langsung menuju parkiran basement.


"Biar aku yang menyetir" ucap Kevin sambil menolong Raffa untuk duduk di kursi belakang.


Kevin segera memacu mobilnya ke rumah sakit terdekat. Kevin menatap Raffa dari kaca spion tengah, laki-laki itu terlihat sedang memandangi istrinya sambil menangis. Kevin semakin mempercepat laju mobilnya.


Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk, semoga tidak membahayakan Celina dan bayinya, batin Kevin dengan mata yang juga berkaca-kaca.


Kevin berhenti tepat di depan pintu instalasi gawat darurat. Tanpa aba-aba langsung berteriak meminta tolong pada paramedis. Raffa yang mencoba keluar dengan menggendong Celina langsung di sambut beberapa orang tenaga medis dengan brankar dan meletakkan Celina di sana.

__ADS_1


Paramedis berlari menuju ruang pemeriksaan, tak butuh waktu lama dokter langsung memutuskan untuk mengambil tindakan operasi Caesar.


"Kami harus melakukan bedah Caesar sekarang untuk mengeluarkan bayinya. Karena terjadi pendarahan dan si ibu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sangat berbahaya jika menunggu si ibu sadar untuk melahirkan secara normal apalagi dengan kondisinya yang sangat lemah. Ini tidak memungkinkan, sangat berbahaya bagi ibu dan bayinya" ucap dokter meminta izin Raffa selaku suaminya untuk mengambil tindakan bedah Caesar.


Mendapat penjelasan dari dokter Raffa menutup wajahnya yang menitikkan air mata. Kevin mengusap punggung laki-laki itu untuk menenangkannya agar Raffa segera memberi keputusan.


"Saya mohon lakukan apa saja yang terbaik untuk istri saya dokter" pinta Raffa akhirnya.


Dokter mengangguk dan segera mengutus tim bedah untuk mempersiapkan segalanya. Celina langsung di bawa ke ruang operasi.


Raffa dan Kevin berjalan cepat mengiringi brankar yang membawa Celina. Tak lepas-lepasnya Raffa memandangi wajah istrinya yang semakin lama semakin pucat. Raffa menghapus air matanya, Kevin memandang sahabatnya yang menunduk memandanginya wajah istrinya. Mereka berjalan cepat mengiringi paramedis. Raffa dan Kevin terus mengikuti kemanapun paramedis membawanya.


Seorang perawat mempersilahkan dokter bedah untuk memasuki ruang operasi.


"Silahkan menunggu disini" ucap perawat menghentikan langkah Raffa dan Kevin.


Dokter masuk kedalam ruangan operasi diiringi beberapa petugas medis yang menjadi anggota tim bedahnya. Lampu indikator ruang operasi pun menyala. Pertanda tindakan bedah sudah di mulai. Tinggal Raffa dan Kevin yang pasrah menunggu sambil berdo'a.


"Rasanya seperti dejavu, kejadian seperti ini pernah terjadi bukan? kita membawa Celina dengan kondisi yang.."


"Cukup, jangan teruskan, dia akan baik-baik saja. Istriku adalah seorang wanita yang kuat dia pasti bisa melewatinya. Dia melakukan apa saja untuk menyelamatkan siapa pun tentu dia juga akan menyelamatkan dirinya sendiri bukan?" ucap Raffa menghibur diri, namun air matanya tak berhenti mengalir.


Kevin mengangguk, apa yang diharapkan Raffa juga menjadi harapannya.


"Apa kita harus memberitahu yang lainnya kalau Celina masuk rumah sakit? mommy pasti sangat mengkhawatirkan Celina dan bayinya" tanya Kevin.


"Kita tunggu acara resepsi pernikahannya selesai, kasihan Alyssa jika tiba-tiba semua keluarganya menghilang dari pesta karena datang ke sini" ucap Raffa.


Kevin mengangguk, tak berapa lama kemudian Keira dan Marissa datang. Keira menangis bertanya pada Kevin sementara Marissa hanya bisa menangis mendengar penjelasan dari Kevin tentang keadaan Celina yang masih pingsan dan harus menjalani bedah Caesar untuk melahirkan bayinya.


"Kita hanya bisa berdo'a sayang, kondisi Celina sangat lemah, dia belum sadarkan diri sementara bayinya harus segera dilahirkan" cerita Kevin sambil menangkup wajah Keira.


"Ini semua salahku" ucap Marissa tiba-tiba.


Semua langsung menatap pada Marissa apalagi Keira yang mengetahui ancaman Marissa terhadap Celina. Selama perjalanan tadi Keira hanya sibuk berdo'a berharap keselamatan untuk Celina hingga tidak terpikirkan baginya tentang pesan yang dibacanya dari ponsel Celina.


"Jelaskan padaku apa maksud semua ini? kenapa kamu mengancam Celina?" tanya Keira dengan nada keras.


Keira tahu pasti kalau Marissa sengaja mengancam dengan menggunakan Ozora untuk memancing Celina menemuinya di rooftop.


"Ancaman? apa maksudmu Keira?" tanya Raffa.


"Benar sekali, kenapa Celina bisa bersamamu di sana?" tanya Kevin yang juga merasa aneh karena melihat Celina bersama dengan Marissa di tempat seperti itu.


"Apa yang kalian lakukan di sana?" ucap Raffa juga ikut bertanya pada Marissa dengan suara yang semakin keras.


"Wanita penggodamu ini telah mengancam, jika tidak menemuinya di rooftop, dia akan melempar Ozora dari atas gedung. Tentu saja ancamannya itu membuat Celina panik dan mengikuti kemauannya" cerita Keira.


"Bukankah Celina melihat Ozora pergi bersamamu, kenapa Celina bisa percaya dengan ancamannya?" tanya Raffa.


"Aku rasa Celina mencari kami di toilet tapi karena tidak menemukan kami akhirnya dia percaya dengan ancaman wanita ini" ucap Keira yang tiba-tiba menyesal sambil menangis.


"Harusnya kami segera kembali, harusnya aku tidak perlu mengajak Ozora jalan-jalan melihat-lihat gedung itu" lanjut Keira sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya menangis sesenggukan.


Kevin langsung memeluk Keira yang menyesal karena mengajak Ozora tanpa memberitahu ibunya. Saat bersama Ozora Keira memang sering lupa diri. Selalu ingin bermain-main dengan anak itu karena rasa sayangnya hingga ingin Ozora selalu bersamanya.


"Kenapa kamu melakukan itu Marissa? apa salah Celina padamu? jika kamu membenciku, hukum saja aku" ucap Raffa pelan hampir tak terdengar.


Laki-laki itu merasa letih bahkan terlalu letih untuk menyalahkan atau pun membela dirinya. Raffa hanya bisa membayangkan keadaan istri dan bayinya dan itu sangat membuatnya takut.

__ADS_1


Sementara Marissa hanya diam, tidak mungkin baginya menceritakan kebenciannya pada Celina yang telah merebut Raffa darinya. Raffa benar-benar telah menutup pintu hatinya untuk wanita mana pun demi cintanya pada Celina dan Marissa sangat membenci itu. Semua ini terjadi karena terlalu benci dan karena terlalu cinta.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2