
Olivia mengetahui kenyataan tentang ibu kandungnya yang telah lama tiada. Begitu syok mendengar kabar itu hingga Olivia histeris dan membenci Celina. Menuduh wanita yang telah membesarkannya itu sengaja menutupi kematian ibunya.
Dengan perasaan sedih Celina berusaha mengungkapkan perasaannya yang tak tega menceritakan kejadian itu pada Olivia. Gadis remaja itu tak bisa menerima alasan Celina hingga akhirnya Ozora yang angkat bicara.
Olivia termangu saat Ozora menceritakan kalau Felicia menyerahkan Olivia pada Celina karena kekasih Felicia yang tak inginkan seorang anak. Olivia terguncang mengetahui ibunya lebih memilih kekasihnya dibanding memilihnya.Ozora bahkan memberikan alamat makam Felicia yang berdampingan dengan makam kekasih wanita itu.
Tak ingin ibunya disalahkan, Ozora tega mengeluarkan kata-kata keras terhadap Olivia. Celina menegur Ozora, tetapi Ozora tetap membela ibunya. Menyadarkan Olivia akan kasih sayang yang didapatnya dari wanita baik hati itu. Setelah gadis itu mengerti, Ozora membujuknya bahkan memeluknya untuk menenangkannya. Olivia membalas pelukan Ozora sambil menangis haru di dada bidang pemuda tampan itu.
"Rupanya kalian di sini? Apa yang kalian lakukan?" tanya Tita.
Gadis itu tiba-tiba berdiri di depan pintu dengan tatapan sinis. Ozora melepas pelukannya. Olivia pun kembali tertunduk. Tak menunggu lama Tita langsung mengajak Ozora turun ke lantai bawah.
"Kamu mau ikut?" tanya Ozora pada Olivia.
"Ya … sebentar lagi," jawabnya.
__ADS_1
Olivia tak mungkin langsung turun menemui para tamu dengan mata dan hidungnya yang masih memerah. Wajah yang masih basah, gaun dan rambut yang masih acak-acakan. Gadis itu terpaksa merelakan Ozora diajak oleh Tita. Tak lepas menatap tangan Tita yang menggandeng tangan Ozora melangkah sambil tertawa. Hati gadis itu sebenarnya tak rela.
Ingin berlari mengejar keduanya agar bisa turun ke lantai bawah bersama-sama. Namun, Olivia tak punya keberanian itu. Tak bisa berebut perhatian Ozora dari gadis lain. Dia akan langsung merasa tersisih oleh gadis mana pun bahkan tersisih oleh dirinya sendiri.
Dirinya sendiri pun akan menghentikannya. Olivia tak pantas mendapatkan perhatian Ozora. Tak pernah bisa bersaing dengan siapa pun, dalam hal apa pun. Apalagi dalam menarik perhatian seseorang. Setelah tercenung beberapa saat, gadis itupun merapikan gaun pestanya, lalu turun perlahan ke lantai bawah. Begitu menjejak anak tangga terbawah, tanpa sadar matanya langsung mencari-cari Ozora.
Gadis itu merasa sedih karena tak kunjung menemukan laki-laki yang menjadi panutan, idola dan idamannya itu. Apa pun yang diucapkan Ozora, akan selalu menjadi pegangan hidupnya. Olivia sangat patuh pada semua ucapan remaja tampan itu, selain karena pemikirannya yang dewasa, Ozora juga sangat cerdas sehingga Olivia sangat percaya pada pemikirannya.
Berjalan ke sana kemari tak membuat gadis itu menemukan Ozora. Tak peduli pesta yang sedang berlangsung. Tak peduli tamu-tamu pesta yang menatapnya kagum, Olivia masih saja mencari-cari Ozora.
"Kak Ozora, di mana ya, Aurora?" tanya Olivia dengan mata yang masih melirik-lirik mencari.
"Oh kayaknya ke pantai Kak, sama Kak Tita," jawab Aurora.
"Oh," jawab Olivia pelan dengan wajah yang langsung murung.
__ADS_1
Gadis itu akhirnya pasrah. Baru sebentar bertemu dengan Ozora. Remaja tampan itu langsung dikuasai oleh gadis lain. Olivia hanya bisa berharap Ozora lebih lama menginap di rumah mereka. Karena sibuknya remaja tampan itu hanya kembali sekejap-sekejap saja. Saat Papanya ulang tahun, Mamanya ulang tahun atau adiknya ulang tahun. Ozora hanya muncul sekejap lalu kembali ke New York.
Apa kali ini Ozora akan langsung pulang lagi? tanya Olivia dalam hati.
Jika pun begitu, Olivia sangat ingin menghabiskan waktu bersama Ozora. Gadis remaja itu takut, tak sempat berbincang dengannya lalu Ozora pergi lagi. Olivia akhirnya memutuskan untuk menyusul Ozora. Remaja tampan yang selalu jadi rebutan para gadis remaja itu.
Aku susul saja. Bagaimana kalau setelah acara ini selesai Kak Ozora langsung pulang, batin Olivia nekat mencari Ozora meskipun tahu saat ini sedang bersama Tita. Ah itu dia, batin Olivia melihat Ozora dan Tita duduk-duduk santai di ujung dermaga.
Olivia langsung mempercepat langkahnya, bahkan nyaris berlari di atas dermaga. Olivia kali ini nekat bergabung dengan keduanya. Merasa hari ini adalah hari ulang tahunnya dan Ozora seharusnya menjadi miliknya, khusus hari ini untuknya.
Sambil berlari Olivia melihat Ozora dan Tita yang asyik berbincang-bincang dengan kaki yang terjuntai ke bawah dermaga. Menggoyang-goyangkan kaki mereka sambil berbincang dan tertawa. Baru saja Olivia hendak memanggil mereka, gadis itu dikejutkan oleh Tita yang tiba-tiba meraih tengkuk Ozora. Menarik Ozora mendekat lalu menempelkan bibirnya ke bibir remaja tampan itu.
Olivia terpaku. Ozora pun terpaku. Langkah kaki Olivia langsung terhenti. Terlihat Tita yang sedang menempelkan bibirnya di bibir remaja tampan itu. Olivia hanya bisa menatap nanar pemandangan di hadapannya dengan dada yang tiba-tiba sesak. Bahkan suara nafasnya pun berhembus dengan kencang.
Tiba-tiba Olivia jatuh terduduk. Mendengar suara jatuh di dermaga kayu itu. Membuat Ozora langsung menoleh. Remaja tampan itu terdiam melihat Olivia yang jatuh terduduk dengan wajah yang tertunduk dalam.
__ADS_1
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...