
Malam itu Celina kembali kerumahnya dengan perasaan tak karuan. Berbohong pada Kevin membuat hatinya tak tenang. Duduk dibelakang kemudi mobil yang gelap di dalam garasi. Bingung, apa yang harus dilakukannya. Karena panik dan segera ingin menemui Raffa gadis itu memilih berbohong.
Semata-mata hanya ingin segera pergi dari situ untuk menemui Raffa ? tidak, rasanya tidak seperti itu, Celina berbohong pada Kevin karena tidak ingin membuat hati laki-laki itu bersedih. Tak ingin membuat laki-laki itu cemburu. Apapun yang terkait dengan Raffa akan membuat hati Kevin risau.
Berkata jujur padanya ingin menemui Raffa, apa yang akan dipikirkannya ? Celina masih ingin bersama Raffa, Celina masih mencintai Raffa, Celina tak mempedulikan perasaannya ?
Sejujurnya Celina sama sekali tidak ingin menyakitinya, laki-laki yang menerima dia apa adanya, laki-laki yang selalu menolongnya, menghiburnya, laki-laki yang selalu ingin membuatnya bahagia. Tapi selalu tersakiti olehnya, Celina selalu merasakan kesedihan Kevin.
Dan sekarang apa yang harus dilakukannya, setiap kali bertemu Raffa, Celina selalu merasa menjadi pendosa, pembohong, pengkhianat.
Bisakah aku jujur padanya ?
Aku berbohong hanya untuk menimbang perasaannya.
Kak, aku ini tidak pantas untukmu, aku selalu menyakiti perasaanmu.
Batin Celina menjerit, namun tak bisa diungkapkannya. Hampir satu jam Celina duduk dibelakang kemudi itu, akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Tanpa persiapan apa-apa untuk diucapkannya, tanpa alasan apa-apa untuk kebohongannya.
Celina hanya ingin masuk, dia hanya akan mengikuti hatinya, tetap berbohong atau mengaku serta apa yang akan terjadi nanti, gadis itu tidak peduli, gadis itu pasrah.
Namun saat melihat Kevin yang duduk disofa dengan tatapan yang kosong, membuat gadis itu akhirnya berbelok mendekatinya. Duduk di karpet dihadapannya, menggenggam kedua tangan laki-laki itu, lalu terisak didepannya.
"Maafkan aku kak, maafkan aku" lalu Celina tertunduk terisak.
"Aku telah berbohong, aku menemui tuan Raffa" ucapnya menangis hingga tubuhnya berguncang.
Kevin yang tadi diam membeku mengalihkan pandangannya, menatap Celina yang menangis sambil bersimpuh dihadapannya.
Aneh, perasaan Kevin yang tadinya membara, perasaan marah karena dikhianati, dibohongi, lenyap begitu saja. Celina mengakui dirinya berbohong, membuat laki-laki itu justru merasa bersalah.
Aku juga berbohong, aku tau Raffa mencintaimu.
Aku tau Raffa menginginkanmu.
Aku tau Raffa menderita karena kehilanganmu.
Tapi aku justru bersembunyi, tidak jujur pada Raffa tentang perasaanku.
Aku hanya memaksamu untuk peduli pada perasaanku.
Sementara apa yang diinginkan Raffa membuatmu sulit menimbang perasaanku.
Kenapa aku bersembunyi dari Raffa ?
Karena aku merasa bersalah padanya ?
Apa karena aku mencintai gadis yang dicintainya ?
Aku memaksa gadis yang dicintainya itu ada di sisiku ?
Kevin mengangkat dagu gadis yang tertunduk itu.
"Maafkan aku" lagi-lagi Kevin meminta maaf.
Lagi-lagi ucapan itu membuat Celina menangis tersedu-sedu. Kevin tersenyum menghapus air mata itu, kembali ingin mengungkapkan isi hatinya.
"Aku juga tidak jujur padamu, tidak jujur pada Raffa.
Aku bersembunyi, diam-diam mencintai gadis yang dicintainya.
Aku tau dia mencintaimu tapi aku justru memaksamu memilihku.
Maafkan keegoisanku, maafkan karena aku belum bisa merelakanmu" ungkap perasaan Kevin.
Laki-laki itu menarik tangan Celina, meminta gadis itu duduk disampingnya. Menghapus air matanya, lalu merangkul gadis itu.
Kevin memeluk Celina, hingga perasaan gadis itu kembali tenang. Mengecup puncak rambut gadis itu lalu menanyakan sesuatu padanya.
"Maukah kamu menemaniku ?" tanya Kevin.
"Ke apartemen la..gi ?" tanya Celina ragu-ragu.
"Ke hotel" ucap Kevin sambil tertawa, melihat ekspresi Celina.
"Menghadiri pembukaan sebuah club, harus datang bersama pasangan" lanjut Kevin.
"Terakhir menemani kakak aku langsung bertunangan, menemani kakak sekarang ini apa yang akan terjadi ?" ucap Celina seperti bicara pada diri sendiri.
"Nikah.. atau langsung kawin" ucap Kevin tertawa, Celina langsung mencubit pinggang Kevin.
"Aduh.. aduh.. lagi.. lagi.. " seru Kevin membuat Celina tertawa lepas.
Kevin menangkap gadis itu lalu menjatuhkannya di sofa.
"Apa yang ada di bibirmu ?" tanya Kevin yang berbaring disamping Celina.
__ADS_1
Gadis itu reflek menyeka bibirnya, tapi tidak mendapatkan apapun. Kevin tertawa, ingat saat pertama kali mencium Celina. Berpura-pura ada mayonnaise dibibirnya, seperti dejavu.
"Bukan begitu cara menghapusnya" ucap Kevin menurunkan tangan Celina.
"Begini" lanjutnya sambil menempelkan bibirnya lalu memainkan lidahnya.
Celina menerima ciuman Kevin sambil tertawa.
"Modus" ucap Celina, yang langsung membuat Kevin tertawa.
Mereka memutuskan sampai ke hotel sehari sebelum acara diselenggarakan. Kevin berenang di private pool, sementara Celina duduk dipinggir kolam sambil memandang laut yang indah.
Celina tertidur di sofa di balkon luar yang nyaman setelah menikmati indahnya pemandangan tropis laut dengan hamparan pulau-pulau kecil indah alami. Kevin keluar dari kolam duduk disamping Celina, memandang gadis yang tertidur damai. Angin sepoi-sepoi menerbangkan helaian rambutnya.
Bisakah secepatnya menjadi istriku ?
Apa kita bisa ditakdirkan untuk bersama ? batin Kevin.
Entah kenapa meski Celina telah menjadi tunangannya Kevin masih merasa ragu akan kelanjutan hubungan mereka. Memilih untuk segera menikah atau menunggu Celina yakin akan perasaannya.
Celina terbangun, langsung tersenyum memandang Kevin.
"Nanti malam acaranya, sore nanti kamu bisa siap-siap untuk perawatan kecantikan dan berhias" ucap Kevin.
"Harus dandan ?" tanya Celina bingung.
Gadis yang telah cantik secara natural itu hanya biasa menggunakan make up standar dan natural.
"Jangan khawatir soal itu, aku akan menemanimu" jawab Kevin.
Kevin suka kecantikan alami Celina tapi kali ini adalah acara yang istimewa, gadis itu tidak boleh terlihat biasa. Sore harinya Kevin dan Celina telah tiba di sebuah salon kecantikan, disana juga tersedia butik mewah menyediakan segala macam gaun yang indah.
Kevin meminta seorang fashion stylish untuk memilihkan gaun malam untuk Celina. Semuanya terlihat cantik saat gadis itu mencobanya, sampai-sampai Kevin ingin membeli semuanya jika Celina tidak melarangnya.
Akhirnya terpilih sebuah gaun yang indah namun nyaman dipakai Celina. Celina terlihat sangat cantik dan anggun hingga Kevin tak puas-puas memandangnya. Celina salah tingkah saat laki-laki itu memandanginya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, wajah gadis itu menyemburkan rona kemerahan. Menambah cantik wajah gadis yang pemalu itu.
Memasuki lokasi pesta yang telah terlihat ramai didatangi para tamu undangan. Kevin menggandeng tangan Celina berjalan sambil tersenyum menyapa para tamu undangan.
Variasi menu makanan dan minuman yang disediakan membuat tamu menikmati malam sambil bercengkrama dengan teman-teman atau kenalan-kenalan baru dari perusahaan-perusahaan besar di negeri ini.
Dibagian yang lain tersedia jamuan dengan konsep Sitdown Dinner. Pesta dengan nilai yang sangat eksklusif ini juga menyediakan anggur, tamu yang diundang dapat menikmati makan malam sekaligus menikmati hiburan live music.
Sebagian besar tamu undangan telah dikenal Kevin, baik yang dikenalnya saat masih bekerja di New York maupun saat telah bekerja di tanah air. Anggota club yang kebanyakan adalah para penerus perusahaan keluarga.
"Kevin Melviano ? apa ada artinya" tanya Celina.
"Kevin artinya terlahir mulia atau bangsawan" jawab Kevin.
"Waah.." sahut Celina kagum.
"Melviano artinya pemimpin yang terhormat"
"Waaah.." sahut Celina lebih kagum.
"Kamu jangan kayak gitu, gemesin tau nggak, kalau aku nggak tahan nyium kamu disini gimana ?" bisik Kevin, Celina langsung berwajah cemberut yang dibuat-buat.
Kevin menyambar pinggang Celina, lalu berjalan kembali menyapa para eksekutif-eksekutif muda disitu. Kevin sedang berbincang-bincang dengan seorang kenalannya saat terdengar namanya dipanggil.
Kevin pun menoleh, begitu juga dengan Celina. Terlihat Jessica yang menggandeng tangan Raffa. Mereka berempat diam terpaku. Jessica lalu mencium pipi Kevin. Celina menunduk, mengalihkan pandangannya kearah lain, sementara Raffa menatap Celina tajam.
"Kevin siapa ini ? wajahnya terlihat familiar, apakah dia seorang model " tanya Jessica sambil menatap Celina.
"Dia tunanganku" jawab Kevin singkat.
"Oh jadi kamu benar-benar akan menikah ?" jerit Jessica.
Kevin tersenyum, Raffa masih menatap Celina, gadis itu hanya menunduk mengelak dari tatapan Raffa. Kevin menyadari situasi, segera laki-laki itu menawarkan Celina minuman. Celina mengangguk setuju, Kevin pergi mengambil minuman.
"Siapa namamu tadi ?" tanya Jessica lagi.
"Celina" ucap Celina singkat.
Celina melirik pada Raffa, laki-laki itu masih menatapnya. Celina kembali memalingkan muka, terlihat Kevin yang sedang berjalan kearah mejanya, membawakan minuman untuk Celina. Tiba-tiba dari arah lain seorang wanita menabrak Kevin membuat minuman yang dibawanya tumpah mengenai gaun gadis itu.
Kontan gadis itu naik pitam, memaksa Kevin meminta maaf. Kevin yang tidak merasa bersalah tidak bersedia meminta maaf. Celina segera berdiri menghampiri.
"Jangan anggap remeh aku, karena aku datang sendiri disini" ucap gadis itu.
"Kamu bukan pasangan salah satu CEO disini ?" tanya Kevin.
"Heh, akulah CEO nya, aku tak perlu pasangan datang kesini" kata gadis itu lagi.
"Tak perlu atau tidak punya ?" tanya Kevin, tersenyum sinis.
"Pokoknya kamu harus minta maaf, karena merusak gaunku, atau aku akan meminta presiden club ini untuk memecatmu dari anggota" ancam gadis itu.
__ADS_1
Celina yang melihat perdebatan itu langsung mengajak gadis itu, menyambar botol berisi garam halus dimeja lalu menarik tangan gadis itu ke toilet. Gadis itu kaget namun mengikuti langkah Celina.
"Kalau tidak segera dibersihkan nodanya tidak akan hilang" ucap Celina.
Celina membasahi tisu yang telah dilipat dengan air bersih. Pada bagian belakang gaun gadis itu, ditempeli dengan tisu kering lalu pada bagian depan tempelkan dengan tisu yang telah dibasahi air. Cara ini membantu gadis itu melunturkan warna merah tanpa membuat pakaian semakin basah.
Bagian yang masih bersisa noda segera dituangkan garam olehnya lalu membilasnya dengan air dingin. Celina melakukan berulang kali hingga noda luntur dengan sendirinya. Sementara gadis itu hanya diam mengamati, kagum dengan cara Celina mengatasi masalah yang tiba-tiba muncul.
"Kamu siapanya ?" tanya gadis itu.
"Tunangannya" jawab Celina mulai mengeringkan bagian yang lembab.
"Kamu wise, tidak kayak tunanganmu, disuruh minta maaf saja nggak mau" ucap gadis itu.
"Karena dia tidak merasa bersalah, mm.. tidak juga ? biasanya saya yang salah tetap duluan dia yang minta maaf" cerita Celina.
"Bisa seperti itu ? kenapa sekarang tidak mau meminta maaf ? aku benar-benar akan mengadukan dia pada presiden club ini dan membuatnya dikeluarkan dari club ini" ucap gadis itu lagi.
"Sebaiknya jangan kamu lakukan" ucap Celina.
"Tidak apa-apa, begitu kenal sama presiden club ini akan kuadukan dia" ucap gadis itu.
"Kamu akan malu sendiri nanti, lagipula aku sudah membantumu, setidaknya bersikap lunaklah demi aku" ucap Celina lagi.
"Ini tak ada hubungannya denganmu ini masalah prinsip, aku tidak mau diremehkan" jawabnya lagi, Celina menggelengkan kepala
"Tapi tadi aku lihat kamu yang menabraknya" tanya Celina.
"Kamu berkata begitu karena kamu tunangannya, jadi kami pasti membelanya" ucap gadis bersikeras, namun tersirat keraguan diwajahnya.
Noda anggur merah berhasil dihilangkannya, gadis itu berterima kasih pada Celina.
"Aku Keira" ucap gadis itu memperkenalkan diri dan berterima kasih pada Celina.
Celina menjabat tangan gadis itu dan menyebutkan namanya. Mereka lalu tersenyum keluar dari toilet itu. Kevin langsung menghampiri Celina dan menatap tajam pada gadis itu, sebaliknya gadis itu juga balik menatap tajam pada Kevin.
Celina menyuruh Kevin untuk menyudahi pertengkaran mereka. Kevin patuh dan kebetulan acara segera dimulai.
Acara peresmian berdirinya club akhirnya dimulai, Kevin diminta memberikan sambutan.
Keira terperangah lalu menoleh pada Celina, tidak menyangka Kevin justru adalah presiden club kumpulan orang-orang top level management perusahaan itu. Gadis itu berencana meminta laki-laki yang sedang berpidato itu untuk memecat dirinya sendiri ? mana mungkin. Keira mengangkat bahunya menoleh pada Celina, Celina tertawa melihat tingkahnya.
Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama, Kevin, Celina, Jessica dan Raffa duduk dimeja yang sama. Mereka makan malam sambil berbincang-bincang. Raffa dan Celina lebih banyak diam. Pembicaraan hanya di dominasi oleh Jessica yang dibalas sesekali oleh Kevin.
Acara telah selesai, sebagian tamu masih berkumpul berbincang-bincang sambil tertawa. Terlebih mereka yang telah kenal lama, acara ini tak ubahnya seperti reuni khusus untuk orang-orang sukses.
Para pendamping sebagian telah kembali kekamar masing-masing, sebagian ada yang masih menikmati kebersamaan antar sesama istri atau kekasih para pimpinan perusahaan.
Para wanita pendamping itu berasal dari keluarga kaya, mereka adalah orang-orang yang berkelas dan sebagian juga sudah saling mengenal, mereka berbeda jauh dari Celina.
Dan sebagai calon istri presiden club itu tentu saja Celina diharapkan untuk bergabung dengan mereka. Tapi Celina hanya menanggapi dengan sikap yang biasa, tidak terlalu tertarik bergabung dengan wanita-wanita yang sibuk membicarakan merk-merk barang yang harganya selangit. Semakin tinggi harganya semakin bernafsu mereka membicarakannya.
Celina memilih menikmati suasana dengan berjalan-jalan dipinggir pantai. Gadis itu belum mengantuk dan Kevin masih di sandera teman-teman sesama lulusan Stanford university.
"Aku tidak rela" ucap Raffa tiba-tiba.
Celina menoleh, gadis itu kaget tidak menyangka Raffa ada disampingnya.
"Kenapa kamu tidak cerita kalau Kevin adalah tunanganmu ?" ucap Raffa keras.
"Untuk apa, tidak akan merubah apapun" jawab Celina.
"Aku tidak akan merestui kalian, aku tidak akan menyerahkanmu padanya" ucap Raffa.
Raffa menarik tangan Celina lalu memeluknya.
"Jangan tuan, nanti ada yang melihat, lepaskan aku" ucap Celina panik.
"Tidak.. tidak.. meski aku harus mati ditangan Kevin aku tidak peduli. Aku tidak akan melepaskanmu, aku mencintaimu, aku mencintaimu Celina" ucap Raffa, setitik bening menetes dari pelupuk matanya.
Sakit, mengetahui gadis yang dicintainya menjadi milik orang yang dikenalnya. Orang yang telah dianggap seperti saudara kandungnya.
"Jika kamu bertunangan dengan laki-laki lain aku tidak akan merasakan sakit seperti ini, aku tidak akan peduli. Aku tidak akan khawatir, kamu pasti bisa kurebut kembali. Tapi kenapa Kevin, dari sebanyak ini laki-laki didunia ini kenapa harus Kevin ?" ucap Raffa semakin mempererat pelukannya.
Jessica yang bosan sendirian dikamar, pergi mencari Raffa. Dan Kevin yang tak mendapati Celina dikamar bertanya-tanya pada wanita-wanita yang masih asik berkumpul, namun mereka tidak ada yang tau.
"AYO KITA PERGI SAJA"
Terdengar seseorang bicara keras dari arah pantai, Kevin turun meniti jembatan kayu. Jessica mengikuti.
"Kita pergi saja, menjauh dari mereka yang ingin memisahkan kita, aku, kamu dan Ozora. Kita pergi bersama" ucap Raffa panik.
Celina menangis, Raffa mempererat pelukannya, ******* bibir gadis itu sambil terus menitikkan air matanya. Kevin menghentikan langkahnya, tercenung menatap kearah mereka, Jessica terperangah.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1