
Mahasiswi-mahasiswi bergosip sambil memandang ke arah Celina, saat gadis itu menoleh mereka spontan mengalihkan pandangan. Bisik-bisik atau suara tawa sering terdengar oleh Celina beberapa hari belakangan ini.
Celina berusaha untuk tidak peduli, namun kadang mereka sengaja memancing, berbisik-bisik namun ucapannya terdengar jelas di telinga Celina.
"Liat cewek club itu, bangga bener udah di tolong CEO ganteng" ucap seorang gadis.
Di saat yang lain bahkan dengan sengaja menemuinya.
"Cewek club, berapa tarif loe sekarang hah, dasar nggak tahu malu, masih berani muncul di sini? " ucapnya lalu memandang teman-temannya seakan-akan bangga bisa melontarkan kata-kata seperti itu pada Celina.
Celina tidak perlu menjawab mereka, tidak ada sedikit pun hak mereka untuk mengusirnya dari kampus ini. Celina hanya berlalu dari hadapan mereka, tak lama kemudian terdengar tawa mereka bersama-sama.
Dan yang lebih menyakitkan hati Celina, seorang gadis dengan sengaja memperbincangkannya saat duduk bersama teman-temannya di bangku yang tak jauh dari Celina.
"Ternyata nggak hilang tapi lagi sibuk melayani" ucap gadis itu membuat semua orang disekitarnya tertawa.
Sampai di situ Celina tidak kuat lagi menahan rasa sakit dihatinya. Gadis itu berlari ke samping gedung dan menangis di sana. Dadanya terasa terhimpit, sangat sesak, menepuk dadanya berkali-kali tak mampu membuat dadanya menjadi lega.
Apapun yang diucapkan orang-orang itu, Celina berusaha untuk memaafkannya. Namun, kadang mereka mengungkapkan hal-hal yang justru ingin dilupakannya.
Apa yang harus kulakukan? sampai kapan ini akan berakhir? mampukah aku bertahan disini? apa yang mereka inginkan? jerit hati Celina.
Lama sendirian menangis hingga air matanya mengering. Tubuhnya letih, pandangannya sayu kepalanya terasa sakit.
Celina masuk ke dalam kelas yang masih sepi, gadis itu berusaha menjauh dari semua orang. Dari pandangan menghina mahasiswi-mahasiswi atau tatapan kurang ajar dari mahasiswa. Sehari-hari Celina harus bertahan mendengar ucapan-ucapan yang kejam dan melecehkan.
Saat kuliah berjalan pun kadang mereka sering mengungkapkan kata-kata yang menyindir, beruntung dosen selalu menghentikan mereka dan meminta untuk kembali fokus pada materi kuliah.
Para dosen bukannya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi pada dasarnya dosen-dosen tidak percaya pada isu yang berkembang di kalangan mahasiswa.
Celina justru menjadi mahasiswi favorit para dosen karena cukup jarang mahasiswa yang lulus persyaratan untuk mendapatkan beasiswa penuh di universitas itu. Prestasi dan kecerdasan Celina cukup membanggakan bagi pihak kampus.
Tidak banyak yang beruntung seperti Celina, paling banyak setiap angkatannya hanya dua orang mahasiswa yang bisa mendapatkan beasiswa seperti itu atau bahkan tidak ada sama sekali. Kampus sangat mendukung mahasiswa-mahasiswa yang mandiri. Bagi universitas tidak masalah jika bekerja di mana pun asalkan bisa menjaga nama baik almamater.
Pihak kampus meminta klarifikasi kejadian pada Celina, gadis itu tetap kukuh pada ceritanya. Di konfirmasi oleh pak John sang pengelola club, bahwa Celina selalu menolak tamu-tamu yang mengganggunya hingga akhirnya berhenti bekerja karena tidak sanggup lagi menghadapi isu yang terus berkembang.
Pihak kampus akhirnya mempercayai Celina dan tetap memberikan kesempatan pada gadis itu untuk melanjutkan kuliahnya di sana.
Dosen mengakhiri kuliahnya, para mahasiswa bergegas meninggalkan kelas. Celina membereskan buku-bukunya.
"Cewek club ada yang nyariin tuh" teriak seorang gadis yang berdiri di depan pintu.
Celina menatap gadis itu, ada perasaan tidak percaya.
"Malah bengong, sana lagi ditungguin" bentak gadis itu.
"Siapa sih?" tanya gadis lain yang masih berada di kelas.
"Nggak tau, langganannya kali" ucap gadis tadi sadis.
"Waduh udah kebelet tuh, sampai dicariin ke kampus" ucap yang lain, lalu mereka semua tertawa.
Celina menatap gadis-gadis itu dengan tatapan sayu, matanya berkaca-kaca. Semua teman-teman sekelasnya sekarang membencinya, menghinanya dan merendahkannya.
Celina segera berjalan keluar mencari orang yang di maksud. Seorang pria mengenakan jas segera datang menghampiri. Celina tidak mengenal pria bertubuh tegap itu, dia ragu untuk menemuinya. Namun, pria tegap itu mendatangi dan memberi pesan dari David untuk menemuinya di sebuah restoran.
Celina tidak percaya dan tidak ingin mengikutinya, gadis itu lebih protektif terhadap dirinya sekarang. Dikarenakan sikap kurang ajar dari orang-orang disekelilingnya membuat gadis itu tidak percaya pada siapa pun.
Utusan itu memberikan ponselnya, meminta Celina menerima telepon dari orang kepercayaan perusahaan itu, mahasiswa-mahasiswi berteriak riuh.
"Wow dapat banyak nih" teriak mahasiswa lalu tertawa.
__ADS_1
"Di hotel mana tuh?" teriak yang lainnya lalu kembali tertawa bersama.
Celina memandang mereka dengan tatapan nanar, dadanya terasa perih. Memandang mereka dengan air mata yang mengalir begitu saja, menangis di hadapan mereka sama sekali tidak menyurutkan mahasiswa itu untuk mengganggunya.
Tega sekali mereka berkata seperti itu, apa salahku pada mereka? bisik hati Celina.
Celina menerima telepon dari David, setelah berbincang sebentar gadis itu kembali menyerahkan ponselnya pada utusan itu lalu berjalan mengikutinya. Teriakan mahasiswa makin riuh terdengar .
"Waduh nggak kuat gue bayangin-nya, mainnya kelas atas cuy" teriak seorang mahasiswa diiringi siulan mahasiswa lain.
Celina melangkah dengan air mata yang bercucuran, masuk ke dalam mobil sedan mewah berwarna hitam. Duduk di kursi belakang setelah utusan itu membukakan pintu untuknya.
"Nona baik-baik saja?" tanya utusan itu menatap Celina dari spion tengah.
"Ya pak, saya baik-baik saja" ucap Celina berbohong.
Sesampai di restoran utusan itu mengantarkan Celina menemui David yang telah menunggunya. Laki-laki itu duduk bersandar sambil menyilangkan kaki menatap keluar jendela. Di hadapannya tersedia espresso yang masih mengepul, laki-laki itu menyeruput sedikit lalu kembali menatap keluar jendela.
Sedikit terkejut saat Celina sudah berada dihadapannya. David berdiri lalu memperkenalkan dirinya.
"Kita belum berkenalan secara resmi, saya David Personal Assistant tuan Raffa" ucapnya sambil menyalami Celina memperkenalkan diri dengan sopan.
Laki-laki berpendidikan itu selalu berlaku sopan pada siapa pun tak memandang derajat atau status sosial. Apalagi saat ini berhadapan dengan Celina, gadis yang menurutnya sekarang menjadi perhatian atasannya.
Bahkan ucapan Raffa yang ingin menikahi gadis itu telah terlontar langsung dari mulutnya. David sudah memahami bahwa gadis dihadapannya ini memiliki arti khusus bagi Raffa, pimpinan tertinggi di perusahaan tempat dia bekerja.
Celina menyambut jabat tangan David, gadis itu hanya diam tidak perlu menyebutkan namanya lagi karena jelas David telah mengenalnya. David tersenyum dan mempersilahkan Celina duduk.
David menawarkan memesan minuman namun Celina menolak. Gadis itu hanya ingin tahu untuk apa David ingin menemuinya.
"Bagaimana keadaan nona?" tanya David berbasa-basi.
"Tidak perlu memanggil nona, saya tidak pantas dengan panggilan seperti itu" ucap Celina tegas.
"Langsung saja, saya datang kesini atas permintaan Ny. Rowenna, ibunda tuan Raffa" ucap David mulai menjelaskan tujuannya menemui Celina.
Celina mendapat firasat buruk, sejak pertemuan pertama kali dengan wanita terhormat itu. Celina sudah merasa kalau Ny. Rowenna menganggap dirinya hama pengganggu yang harus dimusnahkan dari permukaan bumi ini.
Sejak awal Ny. Rowenna sudah menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada satu pun manusia dari level Celina yang boleh berhubungan dengan satu-satunya keturunan Saltano itu.
"Apa yang diinginkan Ny. Rowenna?" tanya Celina ingin segera mengetahui tujuan nyonya itu mengutus David menemuinya.
"Nyonya ingin anda melupakan kejadian yang menimpa diri anda di Villa" ucap David singkat.
"Tanpa di suruh pun saya juga ingin melupakannya, jadi tidak perlu mengkhawatirkan saya" jawab Celina lagi.
David menghembuskan nafas sambil mengangguk, laki-laki itu mulai memahami karakter Celina.
"Tapi Ny. Rowenna tidak ingin anda melupakan kejadian itu dengan percuma, Ny. Rowenna menawarkan kompensasi atas pengorbanan anda.
Silahkan sebutkan berapa pun nilainya, saya akan menuliskannya langsung di depan anda" ucap David sambil mengeluarkan buku cek dan bersiap menulis.
Air mata gadis itu mengucur namun tatapannya tetap tegar menatap David. David tercenung melihat pandangan dihadapannya.
"Tidak perlu memberikan apa pun untuk menutup mulut saya. Sampaikan saja pada Ny. Rowenna berapa pun kekayaannya tidak akan mampu membeli saya" ucap Celina hendak beranjak dari situ.
"Tapi nona..., maaf..., Celina, Ny. Rowenna bisa memberikan jumlah yang sangat besar. Anda bisa menggunakannya untuk menata kehidupan anda. Anda tidak perlu bekerja di tempat yang memberikan citra buruk bagi diri anda. Anda bisa memulai usaha yang lebih terhormat" ucap David menahan Celina untuk pergi.
"Citra buruk? hanya karena bisa menutupinya maka citra buruk itu akan hilang? Itu yang biasa dilakukan orang-orang dari kalangan atas. Melenyapkan segala sesuatu yang membawa citra buruk bagi mereka" ucap Celina memalingkan muka.
"Sudahlah Celina jangan menentang mereka, ini berbahaya. Menolak berarti menentang mereka, nyawamu bisa menjadi taruhannya" ucap David terselip kekhawatiran di situ.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya saya menerima, saya juga tidak akan sanggup menggunakannya" ucap Celina lagi.
Air mata Celina mengucur, memandang lurus ke mata David, gadis itu bisa merasakan ketulusan hati laki-laki itu.
"Jika anda berada di posisi saya, apakah anda akan menerima? atau saudara perempuan anda yang mengalaminya, apa anda tetap akan menerima?" tanya Celina masih menatap lurus ke mata David.
David tertunduk lalu mengangguk mengerti namun masih ada raut kekhawatiran di situ.
"Jangan khawatir, mereka ingin saya menutup mulut, bukankah saya sudah melakukannya? Tuan muda anda sudah menyelamatkan saya, jadi saya sudah menganggapnya impas. Saya tahu, orang seperti saya hanya debu di mata mereka. Saya pastikan, saya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan mereka" ucap Celina mengangguk hormat lalu berdiri dan beranjak dari tempat itu.
David hanya bisa memandangi punggung gadis yang berjalan pelan itu. Celina memasuki lift dan menangis dengan keras di situ. Gadis itu tidak tahu kenapa hatinya begitu sakit. Padahal menghadapi orang-orang seperti itu sudah biasa dilakukannya.
Orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan nama baik mereka sendiri. Merendahkan semua orang yang ada di depan mereka. Berpura-pura baik dan bersikap terhormat pada orang-orang sekelasnya.
Celina sering menghadapi orang-orang seperti itu saat masih tinggal di panti. Donatur-donatur yang menggoda, bersikap kurang ajar padanya lalu berusaha menutupinya di depan orang lain. Gadis itu tidak mengharapkan donatur yang seperti itu.
Dengan tegas gadis itu menolak, meskipun mereka harus kehilangan kesempatan mendapatkan bantuan untuk membiayai kehidupan panti. Beruntung bu Tina selalu mendukungnya, bagi ibu bijaksana itu rezeki tidak terletak di tangan orang-orang kaya yang angkuh dan bersikap seenaknya.
Bertemu dengan orang-orang seperti itu, dengan mudah Celina melupakannya. Tapi perasaannya kali ini berbeda, kali ini hatinya terasa pedih. Tatapan mata Raffa yang khawatir akan keselamatannya, selalu menghantuinya. Membuat gadis itu sulit melupakan laki-laki yang telah menyelamatkannya itu.
Aku harus bisa melupakannya, harus..., jerit hati Celina.
David melaporkan hasil pertemuannya dengan Celina, seperti yang telah diperkirakannya. Ny. Rowenna murka karena gadis itu menolak kompensasi darinya. Wanita kay itu merasa Celina masih ancaman bagi nama baik keluarganya.
David mencoba memberikan pengertian pada Ny. Rowenna bahwa Celina tidak berniat untuk memperpanjang masalah ini. Dan menganggap urusan ini impas karena Raffa juga telah menolongnya dari preman-preman yang mengganggunya.
Ucapan gadis itu terbukti dari pemberitaan di media yang sama sekali tidak menyinggung penyekapan dan pemerkosaan yang dilakukan Raffa terhadapnya. Ny. Rowenna tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi kita harus tetap waspada, jika gadis itu berubah pikiran habisi dia" ucapnya dengan tatapan kejam.
Duduk di meja kerja mewahnya, wanita cantik paruh baya dengan jabatan komisaris itu tidak percaya sepenuhnya pada ucapan Celina. Dia memang tidak percaya pada siapapun.
Beberapa hari di rumah sakit akhirnya Raffa diperbolehkan untuk rawat jalan. Namun, Rowenna membawa putra satu-satunya itu untuk tinggal di rumah megahnya.
Nyonya yang overprotektif itu ingin menjauhkan anaknya dari pengaruh luar untuk sementara waktu. Hingga pelaksanaan pesta pernikahan berhasil dilangsungkan.
Raffa sama sekali tidak mengetahui bahwa rencana ibunya terus berjalan, meskipun laki-laki itu menolak. Rowenna tidak pernah menerima penolakan apapun, sifat yang akhirnya diturunkan pada putranya.
Raffa diharuskan istirahat total dirumahnya. Ny. Rowenna menetapkan Raffa harus tetap berada di rumah selama sebulan penuh. Hal yang berlebihan menurut Raffa namun laki-laki itu tidak bisa berkutik, tak bisa menentang perintah ibunya.
Sementara Raffa dalam masa pemulihan di rumah. Ny. Rowenna memangku jabatan sebagai PLT di perusahaan. Kondisi kesehatan Tn. Robby Saltano tidak lagi memungkinkan untuk mengurus perusahaan, itupun atas perintah Ny. Rowenna.
Ny. Rowenna menjadi Pelaksana Tugas sementara untuk jabatan CEO, di bantu oleh Personal Assistant-nya, David.
Namun, yang dilakukan Ny. Rowenna tidak hanya mengurus perusahaan, nyonya itu sekaligus mempersiapkan pesta pernikahan mewah yang harus dipersiapkan dalam waktu singkat.
David menjadi andalan Ny. Rowenna, kesibukan David membuat laki-laki itu tidak punya kesempatan untuk menemui Raffa. Itulah yang diinginkan Rowenna, wanita itu sangat tahu kedekatan putranya dengan bawahannya itu.
Wanita paruh baya itu menutup akses komunikasi antara Raffa dan David. Mengancam David sangat mudah baginya namun melarang Raffa menemui David itu agak sulit dilakukannya. Karena itu Raffa di kurung tanpa fasilitas apapun termasuk ponsel, laptop dan kunci mobil.
"Hanya untuk satu bulan ini saja, sampai kamu benar-benar sembuh" ucapnya sambil mencium pipi putranya.
Selama rawat jalan Ny. Rowenna tidak pernah absen untuk mengawal putranya. Laki-laki itu benar-benar di perlakukan seperti tahanan. Dan semua persiapan pernikahan dengan lancar berjalan di belakang Raffa.
"Kita akan merayakan kesembuhanmu, ada jamuan makan malam dengan semua kolega dan kerabat dekat. Kamu harus hadir di situ tepat waktu, gunakan pakaian yang telah mommy siapkan" perintah Ny. Rowenna.
Raffa berjalan memasuki lobby hotel mewah yang telah di tunjuk ibunya sebagai lokasi acara. Diiringi David yang hanya diam membisu. Saat ini adalah saat pertama mereka bertemu setelah Raffa dikuasai ibunya.
Raffa tersenyum sambil menepuk bahu sahabatnya saat berada di dalam lift. Laki-laki itu ingin menghilangkan ketegangan di wajah sahabatnya. David hanya bisa tersenyum dengan hambar.
Keluar dari lift dan langsung mendapati suasana jamuan makan malam yang berbeda dari biasanya. Raffa menoleh pada David seolah-olah bertanya, apakah David juga merasakan perasaan yang sama dengannya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...