Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 75 ~ Namanya Adalah... ~


__ADS_3

Raffa tercenung saat melihat Celina yang mengabaikannya bahkan menutup telinga dengan kedua tangannya. Laki-laki itu memilih untuk bersabar memberi penjelasan pada Celina saat gadis itu tidak marah lagi.


Raffa duduk di kursi samping ranjang rumah sakit, menatap punggung istrinya yang masih belum mau mendengarkan penjelasannya. Letih tubuh dan jiwanya karena semua masalah yang timbul dalam rumah tangganya membuat Raffa akhirnya tertidur.


Celina membalik badan dan melihat wajah tampan suaminya yang tertidur, gadis itu tersenyum.


"Kenapa kakak tidur di sini? kenapa tidak istirahat di rumah?" bisik Celina yang tak ingin membangunkan suaminya.


Sejak acara resepsi pernikahan Alyssa yang di adakan di malam hari hingga akhirnya Celina sadar menjelang pagi, laki-laki itu tidak tidur sama sekali. Semua itu membuat tubuh Raffa lelah dan matanya mengantuk.


"Kasihan, kakak pasti sangat letih, maafkan aku ya, aku selalu menyusahkan kakak" ucap Celina masih berbisik.


Kelopak mata Raffa bergerak, Celina terkejut dan segera memejamkan matanya, berpura-pura tidur. Raffa terbangun dan mendapati istrinya telah menghadap ke arahnya. Raffa menggenggam tangan istrinya mengecup telapak tangannya sambil menatap wajah wanita yang dicintainya itu dari dekat.


"Maafkan aku sayang, aku menyesal masa laluku selalu menyakitimu. Entah bagaimana laki-laki bejat sepertiku bisa menikahi gadis suci sepertimu. Maafkan aku, aku ingin berhenti menyakitimu tapi tidak tahu bagaimana caranya? apa aku harus meninggalkanmu?" ucap Raffa menitikkan air mata.


"Kenapa meninggalkanku? ingin mengejar cinta lama?" tanya Celina yang tiba-tiba membuka matanya.


Raffa terkejut, matanya terbelalak karena tidak menyangka Celina mendengar keluh kesahnya. Celina tersenyum sambil menghapus air mata Raffa dan menangkup wajah laki-laki yang dicintainya itu.


"Bukannya kakak ingin berhenti menyakitiku, meninggalkanku sama saja dengan menyakitiku seumur hidupku" ucap Celina.


Raffa tersenyum mendengar ucapan istrinya, Celina memang paling suka mengeluarkan kata-kata yang mengejutkannya. Perlahan laki-laki itu mendekat dan mengecup kening wanita yang dicintainya itu, lembut, lama dan hangat. Perlahan bibir Raffa bergerak menuruni hidung Celina, hingga berakhir di tempat favoritnya, bibir istrinya.


Berkali-kali mengecupnya hingga akhirnya membenamkannya bibir itu lebih dalam. Mereka menikmati permainan seru di mulut itu sambil sesekali tersenyum. Hingga tak sadar seseorang telah menghempaskan pintu hingga mengeluarkan suara keras.


Raffa dan Celina terkejut, reflek melepaskan ciuman mereka dan menoleh. Di depan pintu terlihat Alyssa yang datang dengan air matanya mengalir membasahi hingga ke lehernya.


"Kenapa nggak kasih tahu kalau kamu sudah melahirkan, aku jadi tidak bisa menungguimu" ucap Alyssa yang langsung mendorong Raffa menjauh.


Raffa minggir dengan wajah heran, Alyssa tidak peduli. Gadis itu langsung memeluk Celina masih yang terheran-heran melihat reaksi Alyssa.


"Kejadiannya mendadak, lagi pula pesta pernikahanmu belum selesai" ucap Celina sambil menepuk punggung Alyssa.


"Aku nggak peduli, aku sangat ingin menemanimu melahirkan. Dulu kamu datang saat Ozora telah lahir sekarang aku ketinggalan lagi" ucap Alyssa masih menangis.


Celina tersenyum sambil menoleh pada suaminya sambil mengangguk memberi kode. Raffa bertanya-tanya apa maksud Celina.


"Bagaimana mana cara menghentikan gadis ini menangis, bukannya setiap kali dia menangis kakak yang bisa menghentikannya, kakak ahlinya" ucap Celina.


"Itu kalau aku yang membuat dia menangis, jadi aku yang tanggung jawab" ucap Raffa.


David yang juga ikut datang bersama Alyssa tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Alyssa melirik dengan tatapan mata yang tajam.


"Ya, sekarang kak Raffa juga harus ikut tanggung jawab" ucap Alyssa.


"Loh kok aku yang di salahkan?" tanya Raffa.


"Ya, trus sama siapa lagi. Dalam waktu dekat kak Raffa harus bikin Celina hamil lagi, kali ini aku akan menemaninya saat melahirkan" ucap Alyssa sambil duduk di sofa dengan santainya.


Celina dan Raffa terpana, David tertawa. Tak lama kemudian Ny. Rowenna yang kondisinya telah membaik setelah jatuh pingsan semalam datang dan langsung memeluk Celina.


"Kenapa mommy nggak di kasih tahu kalau kamu mau melahirkan. Mommy ingin menemanimu, mommy ingin mendengar tangis pertama bayi itu" ucap Rowenna.


Mendengar itu Alyssa langsung berdiri menghampiri Ny. Rowenna. Seperti mendapat pendukung, Alyssa langsung ikut menyalahkan Celina dan Raffa.


"Benar Tante, saya juga ingin mendengar tangis pertama bayi itu tapi mereka justru menghalangi niat kita. Hukum mereka Tante, suruh Celina hamil lagi biar kita menunggu saat-saat Celina melahirkan lagi" ucap Alyssa semangat.


"Ya baiklah, begitu dokter bilang kondisi Celina aman kita suruh Celina hamil lagi anak ke tiga" ucap Rowenna sambil tertawa.


Alyssa pun tertawa, Ny. Rowenna mengusap lembut pipi Alyssa.


"Tapi kamu sendiri juga bisa melahirkan, sekarang kamu sudah menikah. Kamu juga bisa mendengar tangis pertama bayimu. Dengarkan David, istrimu ingin segera mendengar tangis bayi, jangan sampai gagal" ucap Rowenna tegas, masih seperti memerintah pada bawahannya.


Raffa tertawa, begitu juga Celina. Gadis itu hingga meringis sakit saat tertawanya terlalu kencang.


"Mommy, pak David itu sekarang menantu mommy bukan sekedar orang kepercayaan kak Raffa lagi" ucap Celina mengingatkan namun tawanya masih belum hilang.

__ADS_1


"Mommy tahu, tapi kalau nggak di perintah seperti itu nanti dia malas-malasan. Anak muda sekarang suka menunda-nunda memiliki anak, alasannya ingin pacaran dulu lah, ingin puas-puas menikmati masa muda lah dan banyak lagi alasan untuk menghindar" ucap Rowenna.


"Tapi pak David nggak mungkin menunda memiliki momongan mom, pak David pasti sangat ingin menyenangkan hati istrinya. Benarkan pak David?" tanya Celina.


David tersenyum malu-malu.


"Kamu ini bisanya cuma ngomongin mommy, masa bicara sama ipar panggil pak" kilah Rowenna.


Celina tertawa begitu juga dengan Raffa, kebiasaan Celina yang selalu memanggil dengan embel-embel pak pada David masih belum bisa hilang. Satu per satu orang yang mengenal Celina datang mengunjungi.


Keluarga besar Melviano, keluarga besar Cartwright, kedua orang tua Keira dan tentu saja keluarga besar Saltano lengkap dengan cucu-cucu mereka, Ozora dan Tita.


Semua berkumpul di ruangan Celina dan sangat ingin segera bisa melihat bayinya dari dekat, tak hanya melihat dari balik kaca pembatas ruangan neonatal intensive care unit atau NICU. Di tambah lagi bayi Celina yang masih harus di letakkan di dalam inkubator.


"Kita do'akan semoga bayi Celina bisa segera bergabung di ruangan ini bersama kita" ucap Robby.


Tak lama kemudian saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, seorang suster datang membawa bayi. Suster itu mempersilahkan Celina menggendong bayinya setelah beberapa hari berada di dalam inkubator.


Alat yang berbentuk persegi panjang dengan lapisan kaca di semua sisinya itu dibutuhkan bayi Celina karena saat persalinan melalui caesar itu mendapati bayi Celina mengalami komplikasi persalinan berupa asfiksia neonatorum, kondisi di mana bayi Celina berhenti bernapas.


Kondisi asfiksia pada bayi baru lahir atau neonatorum ini membuat bayi Celina harus mendapatkan perawatan dalam inkubator yang menyediakan oksigen bagi bayi.


Setelah suster menyerahkan bayi pada ibunya, si bayi hanya bertahan sebentar dengan Celina. Dalam waktu singkat Alyssa dan Keira saling bersaing berebut menggendong bayi cantik itu.


"Sini giliran aku yang menggendongnya" ucap Alyssa pada Keira yang asyik menimang bayi yang sudah membuka mata dan bahkan tersenyum itu.


"Baru tiga hari umurnya sudah bisa melihat dan tersenyum seperti ini? bukannya bayi baru lahir itu kesukaannya tidur mom?" tanya Keira pada mommy-nya yang juga datang mengunjungi Celina.


"Ya, perkembangan bayi ini memang cepat, baru lahir matanya sudah langsung mengamati bahkan bisa cepat berinteraksi dengan apa yang di lihat di sekitarnya" ucap mommy Keira juga mengagumi.


Alyssa kesal karena ucapannya di abaikan Keira. Keira justru pura-pura tidak mendengar Alyssa bicara, Keira sengaja asyik berbincang dengan mommy-nya.


"Kalau bayi Celina nggak di kasih ke aku sekarang, aku nggak akan cariin nama buat anak kak Keira" ucap Alyssa sewot.


Mendengar ancaman itu Keira langsung memberikan bayi Celina pada Alyssa, semua pengunjung di ruangan itu tertawa melihat tingkah dua gadis yang saling berebut bayi itu. Alyssa langsung tersenyum sambil membawa bayi itu mendekati Celina.


"Ya, sudah terpikirkan satu nama untuknya" ucap Alyssa sambil tersenyum.


"Apa itu?" tanya Celina.


Semua orang yang berada di ruangan itu penasaran ingin mendengar nama yang akan di berikan untuk bayi Celina. Semua diam, hening menunggu Alyssa membuka suara. Mereka telah tahu bahwa Alyssa lah yang memberi nama pada Ozora saat bayi. Dan sekarang giliran anak ke dua Celina dan Raffa itu yang akan di beri nama.


Melihat wajah serius semua orang, Alyssa justru tertawa.


"Serius amat sih, semuanya pada tegang gitu" ucap Alyssa sambil tertawa.


Semua menghembuskan napas yang tadinya di tahan. Lalu tertawa bersama-sama, entah mengapa mereka menjadi tegang. Karena mereka tahu Alyssa yang memberi nama pada Ozora yang akhirnya membuat anak itu terkenal dan di sayangi banyak orang seperti harapannya waktu memberi nama Ozora.


Giliran pemberian nama bayi kedua ini, tentu saja membuat orang yang mengetahui kisah Ozora jadi penasaran seperti apa nama yang akan di berikan Alyssa.


"Namanya adalah..., adalah..., adalah...,"


"Kok adalah melulu sih auntie?" tanya Ozora yang tak sabar.


"Biar seru" balas Alyssa.


Semua orang melengos mendengar alasan Alyssa. Gadis itu justru tertawa.


"Ayo, nama adek Ozora siapa auntie? masa nama adek Ozora adalah?" ucap Ozora bercanda.


Semua orang yang berada di situ tertawa mendengar ucapan polos Ozora.


"Ya.., ya.., cerewet amat sih. Namanya adalah..., Aurora" ucap Alyssa.


"Oooh.. Aurora" ucap Ozora sambil mengangguk.


"Gimana?" tanya Alyssa pada semua orang.

__ADS_1


"Apa artinya?" tanya Celina.


Alyssa baru akan memberikan penjelasan tapi Ozora telah lebih dulu menyampaikan makna dari nama itu.


"Aurora berasal dari bahasa latin yang berarti fajar. Dalam mitologi Yunani, nama Aurora adalah nama seorang Dewi yaitu Dewi Fajar" ucap Ozora.


"Dewi Fajar? kalau Ozora adalah langit yang luas, kalau Aurora adalah fajar. Alyssa suka segala sesuatu yang berhubungan dengan langit" ucap Keira.


"Betul auntie Kei, Dewi Fajar itu terbang melintasi langit untuk mengumumkan kedatangan matahari. Sementara dalam ilmu alam, Aurora adalah fenomena alam yang menghasilkan pancaran cahaya yang menyala-nyala dan bergerak indah di langit malam, sangat mempesona dan sangat cantik" jelas Ozora.


"Oh, benar, sejak lahir Aurora memang selalu bergerak, meski sedang tidur, hanya diam sesaat lalu bergerak lagi. Gerakan Aurora memang sangat cantik dan mempesona membuat kita selalu betah melihatnya" seru Keira ingat saat melihat Aurora di dalam inkubator.


"Arti lain dari Aurora dalam berbagai bahasa seperti Amerika dan Inggris bermakna tenggelam atau terbenam sementara bagi Eropa berarti fajar sesuai dengan Aurora yang lahir di saat matahari telah tenggelam. Anak perempuan yang bernama Aurora memiliki karakter pemimpin yang berambisi dan penuh visi. Kreatif dan penuh inspirasi. Lembut, baik dan pekerja keras. Memiliki bakat pembimbing dan penyembuh. Pengambil keputusan, berani dan agak keras kepala" jelas Alyssa sambil menyerahkan bayi Celina karena Ny. Rowenna juga ingin menggendongnya.


"Kok keras kepala?" tanya Celina.


"Kenapa? wajar saja jika anak ini mempunyai sifat keras kepala, karena kedua orang tuanya juga keras kepala" ucap Alyssa sambil menunjuk Celina dan Raffa.


"APA..!!!" teriak Celina dan Raffa serentak.


"Ya, kak Raffa sudah menikah dengan Jessica selama lebih dari tujuh tahun sementara Celina sudah dicintai kakakku selama lebih dari tujuh tahun tapi tetap saja kalian diam-diam saling mencintai. Tidak pedulikan orang lain, itu namanya apa kalau bukan keras kepala" ucap Alyssa.


"Itu namanya cinta sejati, sayang. Bukan keras kepala" ucap David.


"Kalau mereka tidak keras kepala pada pilihannya, mereka tidak akan setia, mereka akan mudah berpindah ke lain hati. Jadi, keras kepala mereka itu yang membuat cinta mereka sejati" sahut Alyssa.


"Ya, baiklah aku mengalah, dasar gadis keras kepala" ucap David yang tak mau lagi berdebat dengan istrinya.


"Tambah satu lagi orang keras kepala" ucap Ozora sambil tertawa.


Semua orang yang ada di ruangan itu juga ikut tertawa.


"Kak David, hari kelahiran Aurora sama dengan hari pernikahan kita. Kita akan selalu merayakannya bersama Aurora, cocoknya Aurora itu jadi anak kita. Ayo kita bawa pulang saja" ucap Alyssa.


"Jangan coba-coba ya" ucap Raffa.


"Tak peduli" ucap Alyssa.


"Tidak pedulikan orang lain, itu namanya apa kalau bukan keras kepala" ucap Ozora yang meniru ucapan Alyssa.


Semua orang yang berkumpul di situ kembali tertawa, Alyssa yang merasa terus mendapat perlawanan dari Ozora langsung gemas terhadap anak itu. Alyssa spontan mengejar Ozora.


Anak tampan itu langsung meminta perlindungan dari Keira.


"Jangan coba-coba lindungi dia, ayo kesini anak nakal" ucap Alyssa pada Keira dan Ozora.


"Nggak mau auntie yang keras kepala" sahut Ozora yang sembunyi di balik kaki Keira.


"Kembalikan dia padaku" ucap Alyssa karena melihat Keira yang memegangi Ozora.


"Nggak mau" balas Keira.


"Kalau kakak ikutan keras kepala aku akan memberikan nama yang berbeda buat anak kakak" ucap Alyssa.


"Berbeda gimana?" tanya Keira


"Kalau anak-anak Celina bernuansa langit kalau anak kak Keira bernuansa laut" ucap Alyssa.


"Wah itu malah bagus, aku suka dengan laut" ucap Keira.


"Baiklah anak laki-laki namanya Aquaman, anak perempuan namanya Little Mermaid" ucap Alyssa.


Ozora tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan yang lainnya. Semua orang tertawa melihat perdebatan dua gadis cantik itu termasuk Celina yang juga ikut tertawa.


Di saat semua orang tertawa melihat Alyssa dan Keira, Raffa justru memandangi wajah istrinya, tersenyum menatap wanita yang telah menguasai hatinya sejak pertama kali melihatnya.


Terima kasih Tuhan, karena begitu baik pada orang sepertiku, memberiku kesempatan berbahagia bersama wanita seperti dirinya dan anak-anak yang dilahirkannya, batin Raffa lalu menghapus air mata harunya.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2